Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Terakhir
Jemari itu mencengkram erat roda kemudi di hadapannya. Mesin sudah menyala, namun tak satu senti pun rodanya bergulir. Seolah menyimpan ketakutan yang tak dapat dijelaskan.
Seorang pria lain yang duduk di kursi penumpang, menoleh ke arah Kinan. "Mau gue aja yang nyetir, Ki?" tanyanya.
Kinan membuka mata dan menatap lurus ke depan. Kakinya yang semula mengambang di atas pedal gas, lantas luruh ke samping. Cengkraman tangannya pun meregang bersama dengan peluh dingin yang menetes di pelipisnya.
"Lo ngga harus nyoba sekarang. Pelan-pelan aja," lanjut pria yang duduk di samping Kinan.
Kinan meraup oksigen di sekitarnya dengan rakus. Kepalanya menunduk dalam hingga dagunya hampir menyentuh dadanya. Benar, tak perlu buru-buru.
Terhitung satu minggu sudah Kinan menghirup udara luar. Tak ada lagi aroma obat-obatan atau cairan desinfektan yang menyapa penciumannya. Dia mulai menjalani hidup seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. Meski tentu dia merasakan kekosongan yang luar biasa dalam hidupnya.
Kinan menoleh ke arah sahabatnya yang duduk di sampingnya. "Lo beneran tahu di mana makam Olin kan, Do?"
Pria yang bernama Aldo itu lantas mengangguk mantap. "Gue sempat ikut proses pemakamannya walaupun nggak sampai selesai."
Sempat Kinan terdiam sesaat. Punggungnya bersandar pada bantalan empuk dengan pandangan kosong ke depan. Entah sudah berapa kali dia menghela nafas dalam-dalam.
"Gimana? Mau gue aja yang nyetir?" tanya Aldo lagi.
Kinan mengangguk pasrah. "Sorry ya, Do. Gue jadi ngerepotin lo," ucapnya.
Namun, Aldo malah tersenyum kecil. Dia tepuk bahu Kinan yang tampak layu itu sekali. Memberikan semangat agar pria itu kembali bangkit.
"Pelan-pelan aja, Ki. Nggak perlu dipaksain."
...****************...
Sebuah nisan dengan nama Olin di permukaannya membuat Kinan terdiam. Buket bunya lilly yang ada di tangannya semakin digenggam erat. Padahal niatnya dia akan memberikan buket cantik itu pada kekasihnya yang sudah tidur dengan damai.
Tak ada tangisan yang menguar darinya. Matanya kering, namun merah. Bibirnya bergetar, namun pucat. Alisnya berkerut samar, seolah menahan sesuatu yang bergelayut di sana.
Aldo menoleh ke arah Kinan. "Jangan terlalu ditangisin, Ki. Kasihan Olin, nanti langkahnya semakin berat."
"Gue tunggu di mobil, ya," pamit Aldo seraya menepuk pelan bahu Kinan.
Setelahnya, hanya ada suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Beberapa di antaranya menyelimuti pusara di depan tubuh Kinan. Seolah memberikan kehangatan bagi jasad yang tertidur di bawahnya. Menyapa sepasang kekasih yang sudah cukup lama tak bersua.
Kinan akhirnya berjongkok di samping nisan yang masih bersih. Nama Olin masih tertulis pekat. Sisa-sisa bunga kering waktu pemakaman pun masih belum sepenuhnya terurai oleh tanah. Kinan juga yakin, Olin masih berbentuk manusia di dalam sana.
"Hai, Sayang...," sapanya lirih.
Untuk pertama kalinya, panggilan itu tak mendapat jawaban. Biasanya, Kinan akan mendapat sahutan lembut, kecupan kecil di pipi atau bahkan pelukan hangat yang begitu menenangkan begitu dia menyapa dengan panggilan itu.
Namun, kini hanya ada embusan angin sore yang entah mengapa terasa lebih hangat dari biasanya. Membuat Kinan tersenyum kecil. Butiran tanah yang mengering pun ikut berterbangan tertiup angin, mengecup wajah Kinan dengan lembut.
Bagi Kinan, itulah jawaban yang dikirimkan Olin melalui alam.
Dia letakkan bunga lilly di atas pusara itu. "Ini bunga kesukaan kamu. Sengaja aku beli di jalan sebelum sampai sini. Di toko favorit kamu juga."
Tak ada lagi senyuman ceria nan manis kala menerima buket itu. Kini Kinan hanya di hadapkan dengan sebuah batu yang bertuliskan nama kekasihnya. Benda yang tidak dapat merespon setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Kinan luruh, kedua lututnya bersimpuh di atas tanah. Kepalanya mendongak tajam bersama dengan helaan nafas yang begitu berat. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menangis di sana.
"Seharusnya, minggu depan kita menikah, Olin. Tinggal satu minggu lagi dan kita bisa ketemu tiap hari, nggak perlu nunggu weekend lagi buat sekedar beli mie ayam bareng."
Kinan tersenyum getir. "Harusnya begitu kan?" lanjutnya parau.
Kinan tak menangis, sama sekali tidak. Namun, bukan berarti dia tidak sedih akan kepergian separuh jiwanya. Bukan berarti Kinan sudah melepas begitu saja tanpa duka. Justru dari sini lah dia harus mulai bertarung.
Kejadian di mana kecelakaan itu terjadi masih sering kali menghampirinya setiap malam. Bayang-bayang Olin yang meminta tolong padanya masih terus terpatri dalam kepalanya. Dan Kinan masih selalu terbangun di setiap menjelang pagi hanya untuk menangis sampai tertidur lagi dengan sendirinya.
"Padahal penikahan ini sudah tertata sesuai keinginan kamu, kan?" ujar Kinan yang tentu tak memerlukan jawaban.
Dia masih ingat dengan jelas bagaimana Olin yang selalu memegang brosur vendor pernikahan dengan mata berbinar kala itu. Tentang bagaimana senyumnya merekah indah saat dia menemukan desain yang dia inginkan. Tentang bagaimana rona merah muda yang singgah di pipi perempuan itu saat mencoba baju pengantin di butik bersama Kinan.
Namun sayangnya, manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan memiliki kehendaknya sendiri. Olin harus pergi bahkan sebelum keinginannya tercapai sepenuhnya. Dia bahkan masih belum berdiri di pelaminan bersama Kinan yang merupakan salah satu dari deretan impian besar dalam hidupnya.
"Aku nggak akan pernah lupain kamu, Olin. Nggak akan," tekan Kinan.
Setelahnya, dia menunduk. Tubuhnya semakin condong pada batu nisan milik kekasihnya. Sejenak dia terpejam pelan, memanjatkan segala doa baik untuk mengantar Olin ke sisi Tuhan. Berharap agar perjalanannya lancar menuju tempat yang lebih indah.
Setelahnya, Kinan mengecup nisan itu. Tak ada lagi dahi lembut dengan helaian anak rambut yang sering kali membelai pipi Kinan saat dia mengecup kekasihnya. Kini, hanya ada batu nisan keras dan kasar bersama butiran debu yang membelai wajahnya.
"Maaf, karena aku lalai waktu jagain kamu malam itu. Maaf, karena aku nggak narik kamu malam itu. Maaf, karena aku nggak bisa ngelakuin apa-apa."
Ribuan kata maaf terus terucap dari bibir Kinan yang semakin mengering. Matanya masih terpejam, seolah ingin menemukan Olin di balik gelap yang dia ciptakan sendiri. Ingin sekali dia mengucapkannya sembari memeluk hangat tubuh kekasihnya.
Namun, hanya dingin yang menyapa Kinan. Dia kembali membuka mata saat tak menemukan perempuan yang dia damba di sana.
"Aku nggak akan lupain kesalahan aku malam itu, Olin. Nggak akan," ucap Kinan dengan memberikan tekanan di kalimat terakhir.
Setelahnya, daun kering berjatuhan dari inangnya. Rintik kecil air hujan mulai menyapa November yang hampir habis. Sementara, Kinan masih bernaung di bawahnya dengan pelukan hangat pada batu nisan milik kekasihnya.
Aldo yang melihat itu tak dapat berbuat apa-apa. Dia biarkan sahabatnya bergelut dengan duka sejenak. Dia yakin, Kinan sudah pasti menyesali segala yang terjadi, walau sebenarnya semua yang terjadi juga bukanlah kehendak Kinan.
"Gue harap lo bisa melepas dengan lebih mudah setelah ini, Ki. Mama lo juga masih butuh lo untuk bertahan," gumam Aldo seraya menghela nafas panjang.