NovelToon NovelToon
Greta Oto: Glasswing Butterfly

Greta Oto: Glasswing Butterfly

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Greta Ela

Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.

Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.

Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Rindu Ladang

"Akhirnya aku bisa melihat ladangku lagi."

Pagi itu Grace pergi ke ladangnya bersama putranya, Hugo. Embun masih menempel di ujung daun jagung, berkilau seperti kaca tipis yang seakan pecah jika disentuh cahaya matahari terlalu lama.

Hampir satu tahun, Grace tidak pernah ke ladangnya lagi dan itu semua karena perbuatannya sendiri.

Satu tahun lebih Ia menjaga ratu, memasang wajah profesional, dan kini Ia mengurungkan niatnya.

Hugo berjalan di sampingnya, memegang ember kecil. Ia tidak lagi sekecil dulu, sekarang Hugo sudah termasuk kategori anak remaja.

Grace berlutut di dekat barisan jagung, menyentuh tanah dengan tangannya. Tanah itu masih dingin dan lembab.

"Aku kira Ibu tak akan kembali ke sini lagi," kata Hugo pelan.

Grace tidak langsung menjawab. Ia meremas segenggam tanah, membiarkannya jatuh perlahan dari sela-sela jarinya.

"Ini ladang kita, ibu tak akan melupakannya." ucapnya.

Mereka mulai menyiram tanaman. Untuk beberapa saat, semuanya terasa normal.

Lalu Hugo berhenti menyiram.

"Ibu, ratu udah benar-benar sembuh?" tanya Hugo penasaran.

Grace berdiri, menatap jagung di depannya.

"Sudah." Jawabnya singkat.

Hugo kembali menyirami jagungnya.

"Aku pikir... Ibu ingin melanjutkan rencana Ibu."

Grace menoleh perlahan. "Rencana apa?"

Hugo tidak mundur. "Rencana membalas dendam."

Anak itu mengatakannya tanpa gemetar. Itu yang membuat Grace semakin tidak nyaman.

Grace memalingkan wajahnya. "Ibu hanya mengulur waktu," katanya.

"Tidak semua hal harus dilakukan dengan tergesa."

Hugo kembali menatap ibunya.

"Balas dendam tetap salah, Bu. Meskipun dilakukan pelan-pelan."

Kata-kata itu sederhana, mungkin Hugo tidak mengerti bagaimana sakitnya perasaan ibunya.

"Kadang, orang perlu merasakan kehilangan agar tahu rasanya." ucap Grace lirih

Hugo menunduk. "Tapi itu bukan tugas kita."

Grace tidak menjawab. Jika ia membalas, ia takut yang keluar bukan lagi kata-kata.

Mereka kembali menyiram tanaman. Ada sesuatu yang mengambang di antara mereka.

Dan saat itulah Grace melihatnya. Dua ekor kupu-kupu kaca.

Sayapnya berkilau, transparan, memantulkan cahaya matahari seperti pecahan kristal. Mereka berputar pelan di atas ladang jagung.

Grace mengernyit.

Kupu-kupu kaca tidak pernah datang ke ladang. Mereka hanya terlihat di sekitar castle atau hutan dalam. Itu sudah menjadi semacam kepercayaan turun-temurun. Makhluk itu dianggap pertanda dan simbol bagi mereka yang terlahir dengan mata berbeda.

Siapa lagi kalau bukan Raja Arion dan putrinya, Greta

Grace merasakan sesuatu yang aneh

"Ibu lihat?" bisik Hugo.

"Tentu saja Ibu lihat," jawab Grace

Kupu-kupu itu terbang semakin rendah, lalu salah satunya hinggap di batang jagung. Satu lagi melayang dekat bahu Hugo sebelum akhirnya kembali terbang.

Grace melangkah mundur satu langkah.

"Aneh," gumamnya.

Hugo justru tersenyum kecil. "Mereka indah sekali."

Grace menatap anaknya

"Mereka bukan hiasan, bisa jadi kupu-kupu itu pertanda."

"Pertanda apa?"

Grace tak segera menjawab. Ia hanya tahu ia tidak menyukai kehadiran mereka. Seolah-olah castle mengirim mata-mata untuk mengawasinya.

Langkah kaki terdengar dari arah samping ladang.

Seorang perempuan tetangga muncul, membawa ember kosong dengan wajahnya ramah seperti biasa.

"Grace! Kau kembali juga."

Grace segera memasang senyum profesionalnya. Senyum yang sama yang ia gunakan di castle.

"Hanya sebentar," katanya

Perempuan itu mendekat, matanya berbinar.

"Kami dengar ratu sudah sembuh. Hebat sekali kau, Grace. Semua orang membicarakanmu."

Grace menunduk sopan. "Itu sudah menjadi tugasku."

"Tugas yang tak semua orang bisa lakukan," sahut perempuan itu.

"Kalau bukan karena kau, entah bagaimana keadaan ratu sekarang."

Hugo memperhatikan percakapan itu dalam diam.

Perempuan itu melanjutkan, nadanya berubah sedikit lebih pelan.

"Tapi memang ya... sejak anak perempuan itu lahir, ratu jadi sering sakit. Aneh juga."

Grace sedikit menegang, tapi wajahnya tetap tenang.

"Anak-anak tak pernah salah atas nasib siapa pun." ucapnya, seolah-olah ia tidak membenci Greta.

Perempuan itu terkekeh kecil.

"Mungkin. Tapi orang-orang bicara begitu, kau tahu sendiri, aturan kerajaan itu jelas. Dua puluh keturunan terakhir selalu laki-laki dengan mata heterochromia. Sekarang tiba-tiba anak perempuan. Bagaimana nanti nasib kerajaan?"

Hugo berhenti menyiram.

"Thaddeus tidak mewarisi dua warna mata," lanjut perempuan itu.

"Kalau Greta yang mewarisi, bukankah itu melanggar aturan?"

Nada bicaranya bukan jahat. Hanya penasaran. Seperti membicarakan panen yang gagal.

Grace menatap lurus ke depan.

"Itu urusan mereka." ujar Grace.

"Aku mau kembali ke ladangku. Aku hari ini panen singkong. Grace, kalau kau mau, ambil saja nanti diladangku." ujar perempuan itu

"Tentu saja." balas Grace.

Perempuan itu mengangguk, lalu pamit pergi

Hugo menatap tanah. "Sebenci itu mereka pada anak perempuan?"

Grace tidak menjawab.

"Ibu tahu? Aku pernah mencari tahu tentang heterochromia bersama Thaddeus. Kami ingin tahu kenapa hanya itu yang dianggap layak memimpin."

Grace terkejut. "Kapan?"

"Beberapa bulan lalu. Sebelum semua kekacauan ini."

Grace menghela napas. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang dipikirkan anaknya.

"Dan?" tanyanya singkat.

"Tak ada alasan yang masuk akal," jawab Hugo.

"Hanya tradisi dan kebiasaan yang diulang oleh pihak kerajaan."

Grace menatap kupu-kupu kaca yang masih bertebangan di jagungnya.

"Kalau begitu kau ingin mengubah tradisi kerajaan?" sindirnya.

Hugo menggeleng. "Aku hanya tidak ingin ikut membenci seseorang karena hal yang tak ia pilih."

Kalimat itu terasa seperti cermin yang dipaksa menghadap tepat ke wajah Grace.

Ia membalikkan tubuhnya, pura-pura memeriksa tanaman yang lain.

Grace tidak menyangka putranya akan pintar berbicara seperti ini.

...****************...

Beberapa bulan terakhir Hugo berhenti mencari tentang heterochromia. Masalah datang bertubi-tubi. Ratu yang sakit dan dendam ibunya yang tumbuh seperti tanaman liar.

Namun kini, melihat pembicaraan orang-orang, melihat kupu-kupu kaca muncul di ladang mereka, sesuatu kembali bergerak dalam pikirannya.

"Aku mungkin akan mulai membaca lagi," kata Hugo.

"Mencari tahu lebih banyak. Bersama Thaddeus." lanjutnya

Grace menoleh. "Untuk apa?"

"Mungkin untuk memastikan mitos kerajaan."

Grace mendengus pelan. "Kau terlalu banyak berpikir, Hugo."

Hugo tersenyum tipis. "Lebih baik daripada terlalu banyak membenci."

Kata-kata itu menusuk lagi, tapi Grace tak membalas.

Ia hanya menatap jagungnya. Tanah ini menyimpan kenangan. Tawa suaminya, keluh kerja keras. Janji hidup sederhana yang tak pernah meminta apa-apa dari kerajaan.

Lalu satu hari, semuanya runtuh dan kerajaan hanya menyebutnya sebagai takdir.

Kupu-kupu kaca akhirnya terbang menjauh, menghilang ke arah hutan.

Grace merasa lega sekaligus gelisah.

"Ibu," kata Hugo lagi

"Jangan biarkan dendam mengubah Ibu jadi orang yang Ayah tak kenal."

Grace terdiam.

Angin kembali berhembus, menggerakkan daun jagung hingga terdengar seperti gesekan.

Ia menatap anaknya. Di mata Hugo, tidak ada kebencian hanya harapan agar ibunya tidak bertindak terlalu jauh.

Grace tersenyum tipis. Senyum yang tak sepenuhnya jujur.

"Kau terlalu khawatir," katanya.

Hugo menatap arah hutan tempat kupu-kupu kaca menghilang. Dalam hatinya tumbuh tekad kecil. Ia tidak akan membiarkan ibunya hidup dalam dendam dan kebencian

Dan semoga saja, Hugo tidak terseret ikut seperti ibunya.

1
MARDONI
Greta cuma mau main sama Chelyne tapi malah jadi bahan omongan, itu bikin kesel banget. Arion kelihatan tenang tapi jelas dia khawatir, dan Grace… entah kenapa tiap dia muncul rasanya nggak nyaman. Thaddeus semoga insting kamu nggak salah.
Indira Mr
Thadeuss masih menebak motip grace.
Indira Mr
pelayannya kok gitu ya..
Indira Mr
Greta itu putri yang sopan banget.., pelayannya yg arogan..😂
Wida_Ast Jcy
jahat ya grace thor pasti diletak racun lagi
Wida_Ast Jcy
wah.... selamat ya hugoo
Wida_Ast Jcy
semoga kamu lulus ya hugoo
Serena Khanza
hayoloh grace ketahuan kan sama greta dan kupu kupu dan kumbang nya 🤭
CACASTAR
mmmm begitu,,
MARDONI
Hugo lulus harusnya jadi momen bahagia, tapi kok malah deg-degan ya bacanya 😭 pas Grace ambil botol ungu itu langsung sadar badai bakal datang… tenang sebelum hancur banget ini rasanya 💔
izmie kim
sebenarnya kasihan juga tapi niat orang tuanya mau melindungi greta
izmie kim
untung orang yang menemukan greta itu Grace buka orang jahat ataupun orang dari luar istana
Wida_Ast Jcy
benar coba saja dulu gpp lho semoga berhasil
Wida_Ast Jcy
sudah dewasa 15 tahun lho. pasti sudah balig kan
Serena Khanza
🤣🤣 hewan aja tau mana yang baik mana yg kek iblis 🤣🤣
Ebit S
walaupun hanya sekedar capung.. itu namanya menghargai pemberian dan bentuk kasih sayang😓😓🙏🙏💪💪
izmie kim
bisa jadi gak sih hugo itu jodoh putri
izmie kim
emang beda dari segi pendirian juga udah terarah dari masih kecil tidak bisa semaunya
izmie kim
jadi pengen liat wajah visual mereka deh
izmie kim
udah 2 tahun, kita semua se novel toon menemani greta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!