Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunuh Diri
Perlahan Aera turunkan pandangan, melihat gemerlap lampu kota dari atas sana, tubuhnya bergetar, gedung-gedung pencakar langit terasa dekat dalam pandangannya. Air mata Aera seketika menetes merasakan sesak yang tidak bisa di deskripsikan lewat kata.
Aera berdiri di pembatas rooftop dengan mata terpejam, perlahan tapi pasti, Aera mulai menjatuhkan diri sampai tiba-tiba ada sebuah tangan menarik tangannya, Aera tidak jatuh ke depan melainkan ke belakang. Menindih tubuh seseorang yang merintih di bawahnya.
Dengan cepat Aera berdiri dan melihat ke arahnya.
"LO—" bentak Aera kepada sosok pemuda tersebut.
Ia pemuda tersebut adalah Leonar.
"Dasar wanita bodoh, apa yang kamu lakukan " balasnya.
"Aku ingin mengakhiri hidupku.” saut Aera.
"Untuk apa kamu melakukan seperti itu? " tanya Leo lagi.
"Mengapa Lo ikut campur?" tanya Aera sembari terisak.
"Apa kamu pikir hanya duniamu saja yang hancur Apa kamu tidak tahu ada jutaan manusia yang ingin hidup ketika takdirnya tidak mengizinkan ? Apa kamu sesombong itu dengan memilih mengakhiri hidupmu di saat banyak orang memimpikannya? " ucapnya.
Aera terdiam...
"Aku tidak tahu apa masalahmu, bukan masalahku juga untuk ikut campur perihal itu. Tapi, apakah kamu percaya bahwa kematian dapat menyelesaikan segalanya? Apa kamu tidak tahu bahwa ada kehidupan setelah kematian di mana segala perbuatanmu akan di pertanggungjawabkan? " lanjutnya.
"Lo nggak bakal ngerasain apa yang gue rasain. Hidup gue banyak sekali masalah. Gue nggak bisa menerima takdir ini. GUE BENCI TAKDIR INI.” keluh Aera.
"Aku manusia yang punya masalah juga. Aku manusia yang hancur juga. " balas Leo.
"Asal lo tau, jika gue mati, gue pasti bisa lepas dari segala jeratan rasa sakit ini. " balas Aera sambil terisak.
"Apa kamu yakin? " tanya balik Leo.
"Padahal banyak orang mati yang di doakan agar mereka tenang di sana.” lalu Leo menarik nafasnya pelan-pelan.
"Lantas, kamu masih berkata bahwa mati akan memberimu kebahagiaan? " lanjutnya sambil tersenyum remeh.
"Berhenti sok bijak di hadapan gue!" ucap Aera ia mulai merasa kesal karena dirinya gagal untuk mengakhiri hidupnya karena kedatangan sosok pemuda asing yang sempat ia kenali sekali.
"Bukan sok Bijak!!! Aku realistis!!! Masalah ada untuk di hadapi, bukan di jadikan alasan untuk berhenti." Ucap Leo.
"Jangan jadi pengecut untuk hidupmu yang tidak seindah hidup orang lain." Lanjutnya.
Aera terdiam menatap pemuda itu yang berjalan meninggalkannya.
"Terserah jika sekarang kamu mau melanjutkan aksimu. Tetapi ketahuilah, meski kamu merasa dirimu mati adalah hal terbaik, kamu akan melukai hati orang-orang yang menginginkanmu untuk tetap hidup menemani mereka." ucap Leo, sampai ia bener-bener hilang dari pandangannya.
Aera terduduk lemas mengisi segala hal yang terjadi, yang Aera tau sekarang adalah mati bukan lagi pilihan satu-satunya yang dia punya.
...----------------...
Di kamar yang bernuansa Orange ada seorang gadis yang sedang duduk sebari menulis di atas meja belajar ia adalah Aera Jelita, ia sedang menuliskan sebuah catatan di buku diary nya.
Menulis di buku catatan harian adalah kebiasaannya sejak kecil, ia selalu menulis semua keluh kesahnya di dalam buku.
Buku ? Buku adalah sahabatnya sedari kecil, apapun masalah kehidupannya ia selalu curahkan ke dalam buku catatan harian atau dear diary.
... - Dear Diary - ...
Ibu...
Awalnya, anakmu ini merasa amat terbebani oleh harapan-harapan yang di letakan dengan sengaja di kedua bahunya tanpa tahu bahwa sejatinya ialah yang telah menjadi beban luar biasa beratnya di pundak renta dan rapuhmu.
Aku melihat ayah tertawa bahagia dengan istri barunya. Tetapi kenapa aku sangat membencinya ketika mereka bercanda tawa, aku merasa terkucilkan.
Ibu...
Maafkan anakmu ini sebab hanya lihai merangkai kata bak bujangga berhati luhur padahal asa yang terajut tidak cukup untuk memamerkan eksistensi nya selama hidup, buktinya pun bukanlah apa-apa yang mampu menunjukkan kemurnian jiwa yang aku miliki.
Ibu...
Berterimakasihlah anakmu ini kepadamu karena garis tipis nan teduh yang melekat indah di bibirmu. Aku merindukanmu ibu tolong datang lah ke mimpi Aera.
Tok - Tok - Tok...
Aera yang sedang menulis deary seketika langsung terkejut mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.
"Siapa? " tanya Aera.
"Ini abang..." Balasnya.
Ternyata yang mengetuk pintu kamar nya adalah Alfino kakak tiri Aera. Semenjak kehilangan Anetha Oma Aera, Alfino sengaja menginap di rumah Alm Oma nya itu bersama sang adik yaitu Aera, dengan paksaan dari Alfino akhirnya mau tidak mau Aera pun mengizinkan Alfino untuk menginap bersama.
Aera yang mengetahui siapa orang tersebut ia pun langsung menghampiri nya dan membukakan pintunya.
Cekrekkk...
"Ada Apa?" Tanya Aera dengan tatapan kosongnya.
"Nih abang bawa makanan. Di makan dulu dari tadi kamu belum makan dek." Ucap Alfino, sambil menyodorkan makanan nya kepada Aera
Aera langsung mengambil makan tersebut, "Terimakasih banyak, aku masuk kamar lagi."
Alfino menarik nafasnya pelan lalu ia menganggukkan kepalanya.
...----------------...
Aera meletakkan makanannya di atas meja dan ia pun melanjutkan tulisannya kembali.
...Diary ke-2...
Saat itu aku adalah seorang yang penuh goresan luka yang cukup dalam
Seorang penuh duka yang merasa dicabik-cabik inti hatinya hingga akhirnya aku memutuskan untuk menahan-nahan segala sesuatu yang akan memasuki ruangan itu
Aku terdiam sendiri diruang gelap
Didekap sunyi dan enggan di usik
Kubangun dinding yang begitu tinggi nan kokoh
Setelah sekian banyak uluran tangan yang aku abaikan saat itu pula kau datang
Kau datang dengan tatap dan senyum yang tidak pernah aku dapat
Sempat terbuai tapi aku tetap enggan untuk melangkah saat tangan itu kau ulurkan
Namun dengan tenang kau tersenyum dan tetap menunggu hingga aku mampu
Ketika itu aku sangat merasa di lihat dan saat itu pula kau ku temukan
Ternyata kau orangnya
Ternyata kau lah jawabannya
Terimakasih sempat yang kau ambil untuk menyelamatkanku dari ruang itu, menarikku dari keadaan yang kacau
Terimakasih atas genggaman erat yang kau beri saat takut itu kembali menyerang
Maka saat ini aku memutuskan kembali hidup membiarkan diriku untuk jatuh sejatuh jatuhnya.