Aleta merasa dunia tidak berpihak padanya. Banyak masalah terus menimpanya, dari kehilangan sang Ayah tercinta hingga kehilangan tunangannya , yang direbut oleh orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wahyoeni"23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Keraguan Bastian
" Assalamu'alaikum Ma.......". ucap Elang dengan senyum mengembang.
" Wa'alaikumussalam, kamu sudah pulang nak?". Elang memeluk Mama Kamila , tak lupa ia juga mencium kedua pipi Mamanya itu.
" Sudah dong Ma , kan Elang nya sudah ada di hadapan Mama sekarang ".
" Ah iya , Mama suka lupa , Mama selalu kalah kalau bicara sama kamu, terus gimana hari pertama kamu kerja di kantor Papa ?".
" Ya gitu...biasa saja ." Elang mengangkat kedua bahunya
" Gitu gimana sih EL , eh tapi tunggu , sedari tadi Mama lihat kamu senyum - senyum terus , senang banget kayaknya nih , baru ketemu cewek cakep pasti nih ?" tebak Mama Kamila.
" Mama sok tua ...eh salah , Mama sok tau ". Elang terkekeh.
Hubungan Elang dan kedua orang tuanya memang sehangat itu.
" Jelas Mama tua , eh tau maksudnya , kamu kan putra Mama El ". " Ngaku saja deh , dari muka kamu juga sudah kelihatan, iya kan ?".
" Ra...ha...si...a....". Elang berdiri meninggalkan Mama Kamila .
" Hei El ....jangan kabur dulu kamu, beritahu Mama ?". teriak Mama Kamila.
" Aku mau mandi Ma.....". jawab El .
" Ada apa sih Ma , teriak - teriak gitu ?" Pak Gunawan keluar dari ruang kerjanya setelah mendengar suara kencang dari istrinya itu.
" Biasalah , putra mu itu Pa , bikin Mama penasaran ".jelas Mama Kamila.
" Memangnya kenapa?".
" Pulang kerja senyum - senyum enggak jelas ". " Kayaknya ketemu cewek yang bisa buat dia jatuh cinta kali Pa ".
" Mungkin Ma ".
" Menurut Papa siapa ?".
" Yang terlihat cantik dan anggun ya menurut Papa cuma Aleta , sekertaris Papa , udah gitu sopan lagi anaknya , enggak neko - neko juga ".
" Aleta......Aleta......". Mama Kamila mencoba mengingatnya, sudah lama ia tidak pergi ke kantor suaminya.
" Masa Mama lupa sih , yang waktu itu ketemu Papa dan Mama di rumah sakit ".
" Ah iya , itu mah bukan cantik lagi Pa , Mama setuju kalau Elang sama dia , tapi Aleta nya sudah punya suami belum Pa ?".
" Belum Ma , dia masih sangat muda, lulus langsung kerja di perusahaan Papa anaknya sangat pintar , Papa juga setuju kalau benar suka sama Aleta ".
" Semoga saja Elang dan Aleta berjodoh ya Pa , Mama sudah enggak sabar kepingin punya mantu ".
" Aamiin, semoga ya Ma ".
Di kamarnya , setelah membersihkan diri , Elang berbaring di kasurnya, matanya menerawang seakan menembus langit - langit kamarnya
Pikiranya melanglang buana kembali ke kantor di mana ia bertemu dengan Aleta tadi.
" Aleta.....". ucapnya sambil senyum mengembang di bibirnya.
" Kok aku seperti tidak asing dengan wajahnya ya , seperti pernah ketemu di mana gitu ".
" Aku sangat penasaran, aku harus mencari informasi tentangnya ..."..
Tak lama perut Elang berbunyi tanda minta di isi. Ia pun bergegas bangun dari tempat tidur, menuju dapur untuk makan.
*
*
Kartika meminta Bastian untuk menjemputnya di rumah Aleta. Ketika Bastian berangkat kerja , Kartika juga langsung ikut keluar dari rumah milik mertuanya. Dengan alasan mengunjungi Mama Nurma.
Bu Erna membiarkannya, ia memaklumi Kartika yang mungkin masih canggung hidup bersama dirinya. Padahal dia dan Pak Arpan sudah ikhlas , Kartika lah yang akhirnya menjadi istri putranya.
Mereka hanya bisa berdo'a semoga Kartika adalah istri yang terbaik yang Allah jodohkan dengan Bastian.
Kartika masih kesal dengan Bastian , ia mengira Bastian akan membawanya ke rumah impiannya . Untuk tinggal berdua saja , hanya dirinya dan Bastian, suaminya.
Tapi ternyata , suaminya itu membawanya pindah ke rumah kedua orang tua Bastian , alias mertua Kartika . Mau tidak mau Kartika menurut meski tidak ikhlas sama sekali.
Niat hati ingin pamer pada Aleta bahwa dia dan suaminya bisa hidup lebih baik setelah keluar dari rumah saudara tirinya itu , tapi semuanya ambyar.
Kartika sudah duduk manis di teras , tadi Bastian menelpon sudah ada di jalan .
Suara deru mobil terdengar , Kartika langsung bangun menyambut kedatangan suaminya.
" Mas.....".
" Ayo pulang !".
" Tidak minum dulu Mas ".
" Tidak usah ". Bastian jelas menghindari bertemu dengan Aleta , namun ia sepertinya bernasib sial , Aleta masuk dengan motor matiknya.
" Eh ada tamu rupanya, sudah mau pulang ya , pulang gih , rumahku tidak menerima tamu para penghianat soalnya ".
" Aleta , mulut kamu pedas sekali ". Kartika meradang , Bastian....tentu saja diam seribu bahasa. makin hari ucapan Aleta makin terdengar menyakitkan di telinganya.
" Itu belum terlalu pedas di banding dengan perbuatan kalian ". Aleta masuk tak lupa menyenggol bahu Kartika dengan keras hingga Kartika bergeser.
" Aauhhhh...". Kartika mendramatisir agar Bastian perduli padanya. Ia terlihat sangat kesakitan, tak lupa ia juga menegangi perutnya.
" Aku lagi hamil, Aleta......". Bastian ikut maju , ia memegangi Kartika , khawatir pada calon anaknya yang ada di kandungan istrinya.
" Opppsss , sorry.....sengaja ". Aleta menutup mulutnya.
" Kamu ya , kalau terjadi apa - apa dengan kandunganku bagaimana hah , kamu harus tanggung jawab Ta ?". Kartika pura - pura meringis.
" Aleta , kenapa kamu jadi begini , calon anakku tidak bersalah apa - apa , tidak seharusnya kamu melampiaskan kemarahan kamu padanya ".
" Oh ya , ahhh apa aku sekejam itu .....keguguran apa cuma buang air besar Mbak ??....yakin tuh perut isinya bayi , bukan nasi padang?". Aleta tersenyum miring melihat wajah pucat Kakak tirinya itu.
" Apa maksud kamu Ta ?". tanya Bastian.
" Tanyakan saja pada istri tercinta kamu itu Bas , semoga saja dia mau jujur ". Aleta melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya.
" Tika .....?" Bastian kini menatap pada Kartika , ia mulai mempertanyakan kehamilan istrinya itu , benar atau palsu.
" Kita pulang saja yuk Mas , kamu tidak usah dengarkan omongan Aleta, ia hanya iri padaku saja , mungkin masih belum rela kamu jadi suamiku ".
" Baik , kita pulang ". Kartika lega , ia kira Bastian percaya padanya.
" Kita akan membahasnya nanti di rumah , jangan harap kamu akan lolos dariku!". Wajah Kartika kembali tegang.
Sialan Aleta.....awas saja nanti....aku akan buat perhitungan denganya...
Bastian masuk ke dalam mobilnya tanpa membukakan pintu mobil buat Kartika.
" Isshhh enggak peka ". Kartika menutup pintunya dengan keras.
Mobil melaju pulang, tak ada pembicaraan apapun. Kepala Bastian di penuhi pertanyaan tentang kebenaran ucapan Aleta.
Apa aku sudah di bohongi oleh Kartika......
" Arrrgggghhhh ". ucap Bastian sambil memukul kemudi...Kartika menegang.
" Mas , kamu tidak apa - apa ?".
Bastian diam saja , ia makin menambah kecepatan laju mobilnya .
" Mas , hati - hati.....aku takut ".
Bastian tersadar , ia kembali menurunkan kecepatannya, jangan sampai karena emosi, ia mencelakakan dirinya sendiri dan juga orang lain
Bersambung ....
*******