Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketujuh
Anya memilih masuk lebih dulu, meninggalkan Arga yang sibuk dengan tas kecil yang sedari tadi dibawanya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Arga dengan polosnya, seolah tak mengerti apa pun.
Anya membisu, mengabaikan Arga dan tingkahnya yang memuakkan.
"Arga mau pulang, Arga nggak mau di sini," rengeknya seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Dengan kasar, Anya menjatuhkan diri ke atas kasur. Ia memejamkan mata, berusaha mengabaikan Arga yang terus mengoceh tak karuan.
"Arga mau pulang, Arga mau Ayah!," rengek Arga, semakin menjadi-jadi dengan tingkah kekanak-kanakannya.
Anya berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan rengekan Arga, namun semakin lama, rengekan itu semakin memekakkan telinga dan membuatnya semakin frustrasi. Ia merasa seperti sedang berada di dalam rumah sakit jiwa.
Dengan kasar, Anya bangkit dari tempat tidur dan menatap Arga dengan tatapan yang penuh dengan amarah. "Bisakah kamu diam?!" bentak Anya dengan suara yang lantang. "Aku sedang pusing! Bisakah kamu tidak bersikap seperti anak kecil?!"
Arga terkejut mendengar bentakan Anya. Ia menatap Anya dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Anya jahat..." ucap Arga dengan suara yang bergetar. "Anya tidak sayang Arga..."
Mendengar ucapan Arga, Anya merasa bersalah. Ia tahu, ia tidak seharusnya membentak Arga. Ia tahu, Arga tidak bersalah dalam situasi ini. Namun, ia tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Kita di sini dulu sampai besok. Kalau langsung pulang, nanti Ayah kamu marah," ucap Anya, berusaha berbicara dengan tenang demi menghadapi Arga.
"Nggak mau! Arga mau pulang! Arga mau susu!" rengek Arga tanpa terkendali.
Anya membelalakkan mata. Apa katanya tadi? "Susu"? Ia tidak salah dengar? Pria sebesar ini masih minum susu?
"Susu?" tanya Anya, memastikan pendengarannya.
Arga mengangguk sambil memanyunkan bibirnya. "Arga mau susu, Arga lapar."
Seketika itu Anya mengacak rambutnya dengan kasar, merasa frustrasi dan bingung dengan sikap Arga yang seperti anak kecil.
Anya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri yang sudah di ambang batas. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan anak kecil yang merengek meminta permen, bukan suaminya.
"Kamu sudah besar! Tidak pantas minum susu!" ucap Anya ketus, kelelahan akibat pernikahan tadi ditambah tingkah Arga yang seperti ini benar-benar menguras kesabarannya.
Seketika itu, mata Arga berkaca-kaca. Ia menjatuhkan diri ke lantai, meluruskan kedua kakinya, dan bersedekap dada dengan ekspresi merajuk.
Anya menghela napas kasar. Bagaimana ia bisa bertahan jika sikap Arga ternyata seaneh ini?
Anya memejamkan mata, mengumpulkan sisa kesabaran yang nyaris habis. Ia membuka mata dan menatap Arga yang masih merajuk di lantai. Ia merasa kasihan, marah, dan frustrasi bercampur aduk.
"Kamu mau susu apa? Nanti aku belikan," tanya Anya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Arga tersenyum lebar mendengar itu. "Arga mau minum susu yang biasanya Ayah buatkan untuk Arga," jawabnya riang.
"Ya sudah, sekarang tanyakan sama Ayah kamu bagaimana cara buatnya dan susunya apa," ujar Anya, mencoba bersabar.
"Gimana cara kasih tahu Ayah? Kan Ayah nggak ada di sini?" tanya Arga polos, tanpa menyadari ironi yang baru saja ia lontarkan.
Anya merasa amarahnya akan meledak saat itu juga, namun ia berusaha menahan diri, mengingat bahwa Arga, menurutnya, bukan hanya memiliki kelainan mental, tetapi otaknya nyaris tidak berfungsi.
"Apa gunanya smartphone kalau begitu, Arga! Tinggal hubungi Ayah kamu! Masa begitu saja kamu tidak mengerti?!" seru Anya dengan nada frustrasi yang mencapai puncak.
Arga menggelengkan kepalanya, menatap Anya dengan bingung. "Arga tidak tahu apa yang Anya bicarakan," jawabnya polos.
Anya memijat pelipisnya, berusaha meredakan pening yang semakin menjadi-jadi. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan tembok. Percuma saja ia marah-marah pada Arga, karena Arga tidak akan pernah mengerti apa yang ia katakan.
"Arga, sini," ucap Anya dengan nada yang lebih lembut, mencoba bersabar. "Anya ajarkan cara menelepon Ayah."
Arga menatap Anya dengan tatapan polos. "Anya bisa?" tanyanya dengan nada yang penuh harapan.
Anya mengangguk lemah. Ia mengambil smartphone dari tangan Arga dan menunjukkan cara menelepon kepada ayahnya. Arga memperhatikan Anya dengan seksama, seperti anak kecil yang sedang belajar hal baru.
Setelah selesai menelepon, Anya memberikan smartphone itu kembali kepada Arga. "Sekarang Arga coba sendiri," ucap Anya.
Arga menerima smartphone itu dengan tangan yang gemetar. Ia mencoba mengikuti langkah-langkah yang diajarkan Anya, namun ia terlihat kesulitan.
Anya menghela napas panjang dan membimbing Arga dengan sabar. Akhirnya, Arga berhasil menelepon ayahnya.
"Ayah!" seru Arga dengan nada riang. "Arga mau susu!"
Anya memutar bola matanya. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Arga dengan ayahnya, namun ia bisa menebak bahwa itu pasti tentang susu.
Setelah selesai berbicara dengan ayahnya, Arga menyerahkan smartphone itu kembali kepada Anya. "Ayah bilang, Anya harus buatkan Arga susu yang ada di dalam tas Arga," ucapnya dengan polos tanpa dosa.
Sial, Arga benar-benar menguji kesabarannya. Kenapa dia tidak bilang dari tadi kalau susunya sudah disediakan oleh ayahnya?
Tanpa ingin memancing emosi lebih lanjut, Anya segera mengambil tas Arga dan membongkar isinya.
Ia menemukan sekotak susu formula, sebuah botol bayi, dan secarik kertas berisi instruksi detail cara membuat susu untuk Arga.
Menjijikkan! Pikir Anya. Sangat menjijikkan bahwa ia tidak menikah dengan seorang pria dewasa, melainkan seorang bayi besar yang membutuhkan perawatan.
Anya menggeram frustrasi. Ia ingin membanting semua barang itu ke lantai, namun ia berusaha menahan diri. Ia tidak ingin membuat Arga semakin merengek dan merepotkannya.
Dengan enggan, Anya mengikuti instruksi yang tertulis di kertas itu dan membuatkan susu untuk Arga. Ia merasa jijik saat menuangkan susu bubuk ke dalam botol bayi dan mencampurnya dengan air hangat. Ia merasa seperti sedang melakukan pekerjaan yang paling hina dalam hidupnya.
Setelah selesai membuat susu, Anya memberikan botol itu kepada Arga dengan perasaan mual. Arga menerima botol itu dengan senang hati dan langsung menyeDotnya dengan lahap.
Sekarang Arga tidak hanya membuatnya jijik, tapi juga merasa mual dan bertanya-tanya apakah pria ini pantas disebut manusia normal.
"Anya ini terlalu manis," ucap Arga setelah meneguk sedikit susunya, membuat Anya semakin muak.
"Kalau kamu tidak mau minum, kubuang saja susunya! Dan jangan harap aku mau membuatkan lagi!" ancam Anya, kesabarannya sudah habis terkuras oleh Arga yang semakin kekanak-kanakan.
Mata Arga kembali berkaca-kaca mendengar ancaman Anya. Ia memeluk botol susu itu dengan erat dan meminumnya dengan cepat, seolah takut Anya akan merebutnya kembali.
Anya hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah Arga. Ia merasa seperti sedang berurusan dengan anak kecil yang takut kehilangan mainannya.
Setelah selesai minum susu, Arga memberikan botol itu kembali kepada Anya. "Sudah habis," ucap Arga dengan nada yang polos.
Arga menyodorkan botol susu kosong itu pada Anya, namun alih-alih menerimanya, Anya justru berkata ketus,
"Taruh sendiri di dapur! Jangan manja!" ucap Anya tanpa belas kasihan. Ia kemudian membaringkan diri di tempat tidur, memejamkan mata, dan mengabaikan Arga sepenuhnya.