Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma yang terlepas
Hari-hari sesi terapi berikutnya adalah perjalanan naik-turun yang menguras emosi. Perkembangan Kanara tidak seperti garis lurus yang naik ke atas, melainkan lebih seperti gelombang.
Ada hari-hari di mana Kanara terlihat ‘up’. Suatu Pagi, Nura membawa kotak berisi pasir kinetik.
“Mau coba?” tanya Nura.
Kanara tidak menjawab, tapi dia duduk mendekat. Tangan kecilnya langsung meraup pasir itu, meremasnya kemudian dibiarkan jatuh di sela-sela jarinya. Tidak ada keraguan, tidak banyak berpikir. Bahkan Nura mendengar suara tawa kecil yang sangat tipis.
Namun, di hari lain, semua bisa kembali ke titik ‘nol’.
Sore itu, mendung membuat ruangan terapi menjadi agak gelap. Nura sedang mencoba mengajak Kanara bermain dengan bayangan di dinding. Siangnya, Kanara tanpa sengaja melihat pantulan matanya di layar televisi yang mati, dan dia tidak apa-apa.
Tapi, ketika bayangan dirinya mulai terbentuk di dinding, tubuh Kanara menegang. Sedetik kemudian, ia menjerit. Pasir kinetik yang kemarin ia sukai, dilempar ke dinding. Kanara meringkuk di sudut ruangan, menutup telinga, gemetar hebat.
“Kanara, Kak Nura di sini,” Nura perlahan mendekat, tidak langsung menyentuh. Ia mulai menggumamkan melodi lembut tanpa lirik.
Nura duduk di lantai, satu meter dari Kanara. Ia terus menggumamkan melodi itu hingga napas Kanara yang tadinya memburu mulai teratur. Butuh waktu hampir tiga puluh menit, sampai akhirnya Kanara menurunkan tangannya dan merangkak mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nura.
Itu adalah ‘down’ yang berat, tapi hasil akhirnya adalah sebuah kemajuan. Kanara memilih sebuah perlindungan pada Nura, bukan hanya meringkuk sendirian.
Siang ini, Nura tersenyum menatap layar laptop. Laporan perkembangan Kanara menunjukkan grafik memuaskan. Laporan ini akan diberikan pada bu Maya dan Elang.
Ia teringat sesi terakhir kemarin, Kanara duduk sangat dekat dengannya, bahkan menyuguhkan ‘steak mainan’ dengan seulas senyum tulus yang tipis.
“Ini buat Kak Nura?” tanya Nura dengan senyum ceria.
Kanara tidak menoleh tapi ia mengangguk kecil, rambutnya tergerai menutupi wajah sebagian.
“Kelihatannya enak banget,” seru Nura lagi. “Terima kasih, ya.”
“Nyam, nyam, nyam…,” Nura berpura-pura makan dengan senyum lebar. Bagi Nura, ini adalah kemenangan besar.
Senyum kembali mengembang di wajah Nura saat ia mengetikkan kesimpulan di akhir laporannya, Perkembangan Kanara menunjukkan perkembangan di atas harapan.
Namun, ketenangan itu pecah saat mbak Tita muncul dengan wajah pucat.
“Kak Nura…,” suaranya gemetar.
“Apa, Mba?” jari Nura masih lincah di atas keyboard.
“Barusan Ayah Kanara telepon. Ia tanya kak Nura ada di klinik atau tidak…,” jelas Mbak Tita. “Dia minta kakak segera ke sekolah Kanara. Dia breakdown parah, mengunci diri di dalam ruangan sudah lebih dari tiga puluh menit.”
Senyum Nura luntur seketika. Jantung berpacu. Tanpa mematikan laptop, ia menyambar tas dan berlari keluar sambil memesan ojek online.
“Kirim alamatnya sekarang!” serunya panik.
Laporan sukses di layar laptop itu mendadak terasa jauh. Kini, yang ada dalam pikiran Nura hanyalah ketakutan Kanara.
**********
Satu jam sebelumnya
Jam istirahat kedua.
Halaman sekolah terlihat ramai. Suara tawa, sepatu berlari dan teriakan kecil bercampur jadi satu.
Kanara berdiri di pinggir lapangan, menunduk menatap ujung sepatunya tanpa gerakan.
“Eh, Kanara!” Seorang anak perempuan memanggil dengan wajah riang. “Lihat nih! aku punya tempat pensil baru.”
Ia menyodorkan tempat pensil berwarna pink ke hadapan Kanara.
Kanara tidak begerak.
“Kalau dibuka begini…,” ucapnya sambil menarik tutup tempat pensil ke atas. “Ada kacanya.”
Kanara membeku. Pantulan itu muncul terlalu dekat, terlalu menakutkan.
Ia menjerit. Teriakan yang terdengar putus asa.
Kanara mendorong anak perempuan itu, lalu berlari tanpa arah. Dadanya terasa sesak, napasnya tersenggal.
“Kanara!” guru piket berteriak, berlari mengejarnya.
Tanpa melihat jalan, Kanara menemukan pintu kecil di ujung lorong belakang. Ruang janitor yang gelap, sempit, dan bau cairan pembersih.
Ia masuk dan mengunci pintu dari dalam. Tangis bercampur teriakan pun pecah tanpa bisa dibendung.
Kanara menutup telinga, menutup mata dan wajah, seolah dengan begitu bisa membuat dunia menghilang.
Pihak sekolah panik. Guru memanggil kepala sekolah. Satpam pun datang mendekat. Pintu digedor perlahan.
“Kanara, buka pintunya,” bujuk seorang guru.
Tidak ada jawaban. Hanya suara jeritan yang kian memilukan.
Di kantor, ponsel Elang bergetar hebat. Melihat nama sekolah Kanara di layar, ia langsung meninggalkan rapat tanpa sepatah katapun.
“Jangan dibuka, tunggu saya dulu!” ujarnya setelah menjawab panggilan itu. Ia masuk ke dalam mobil, melemparkan ponselnya ke kursi penumpang, lalu melesat dengan kecepatan maksimal ke arah sekolah Kanara.
“Kanara… ini Ayah,” ujar Elang setibanya di depan pintu janitor yang lembab itu. “Ayah di sini… Kanara tenang dulu, ya.”
Suara jeritan mereda tapi tangisannya masih terdengar kencang.
“Kanara, boleh buka pintunya untuk Ayah?” bujuknya. Suaranya bergetar berusaha tetap lembut, meski hatinya hancur mendengar tangisan dari dalam.
Tidak ada respon.
Lima belas menit berlalu tanpa hasil. Pintu itu tetap terkunci rapat, seolah Kanara telah munutup diri sepenuhnya dari dunia. Dalam keputusasaan, hanya satu nama yang muncul di kepala Elang. Nura.
**********
Ketika Nura tiba di sekolah, suasana di depan ruang janitor sudah berubah menjadi kekacauan.
“Gimana ini, Pak?” tanya seorang guru dengan suara gemetar. “Sudah hampir satu jam Kanara di dalam. Ini tidak bisa dibiarkan, bisa aja di dalam ada bahaya.”
Dari balik pintu yang kusam itu, suara tangis yang tersenggal dan napas masih memburu masih terdengar di dalam ruangan.
“Bagaimana kalau kita buka paksa aja, Pak?” usul kepala sekolah, berusaha terdengar tenang, meski garis kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Elang menggeleng. “Jangan! Itu bisa memperburuk keadaan. Tolong… tunggu sebentar lagi.”
Di tengah napas berat orang-orang yang menunggu, Nura melangkah mendekat. Tatapan Elang yang semula kosong seketika berubah menjadi penuh harap saat melihat wanita itu.
“Tolong…,” ucap Elang dengan suara putus asa.
Nura mengangguk.
Ia duduk di lantai koridor, menyandarkan punggung ke dinding, tepat di sisi pintu.
“Kanara…,” sapanya pelan, tidak meninggikan suara. “Aku Kak Nura.”
Tangis di balik pintu tiba-tiba tersendat.
Nura menunggu.
“Kak Nura duduk di sini, ya,” lanjutnya memberi kepastian. “Kak Nura tidak masuk. Kamu aman di sana.”
Beberapa menit yang terasa lama itu berlalu. Perlahan, ritme napas Kanara mulai melambat, menjadi lebih teratur. Elang, yang sejak tadi berdiri kaku, perlahan mulai melepaskan kepalan tangannya yang memutih.
Klik.
Suara kunci pintu diputar terdengar pelan. Pintu itu tidak dibuka, tapi tidak lagi terkunci.
“Terima kasih Kanara,” bisik Nura lembut. “Kamu hebat.”
Pintu berderit sedikit, terbuka. Di dalam, Kanara meringkuk di lantai, menyembunyikan wajah di balik kedua lengan. Tubuhnya masih bergetar hebat.
Nura berdiri di ambang pintu, tidak masuk.
Elang berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya merah. Ia bergerak impulsif ingin meringsek masuk. Namun, tangan Nura terulur menahan dadanya.
Nura menggeleng tegas, memberi isyarat agar Elang tetap di tempatnya.
Ia kembali berlutut di ambang pintu. “Kanara… Kak Nura di sini,” ucapnya pelan.
Kanara mengangkat wajahnya yang sembab dan memerah. Dengan gerakan ragu, ia merangkak keluar lalu berhenti tepat di hadapan Nura.
Grep.
Tanpa aba-aba, Kanara menghambur ke pelukan Nura, mendekapnya erat seolah Nura adalah satu-satunya penyelamat. Nura membalas pelukan itu, dengan mengusap punggung kecil itu dengan penuh kasih.
Elang memalingkan wajah, hatinya remuk. Ia sadar, ini bukan sekadar ledakan emosi biasa. Ini adalah luka lama yang kembali terbuka.
Tiba-tiba, tubuh Kanara kecil itu melemas. Dekapan Kanara mengendur dan ia merosot dalam pelukan Nura.
Kanara pingsan.
“Kanara?!” Suara tenang Nura pecah seketika. Ia mengguncang bahu Kanara dengan panik. “Kanara, bangun!”
Melihat itu, Elang tidak lagi tertahan. Ia menyambar tubuh mungil putrinya, mendekapnya erat, dan berlari sekencang mungkin menuju mobil. Di belakangnya, Nura mengikuti dengan langkah terburu-buru, dan napas yang yang ikut memburu.
kasian kl tiba2 histeris