Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Sudah dua babak Peno meladeni permainan catur mbahnya, dan skornya pun imbang satu satu, kini permainan memasuki babak ketiga dengan Peno kembali menjalankan bidak warna putih.
"ayo satu babak lagi, ternyata kamu makin sip main caturnya, kapan kapan kalo ada kejuaraan ikut No!" ucap mbah Patma sambil menggeser pionnya kedepan.
"kalau ada hadiahnya ya ikut mbah, tapi kalau kosongan ya nanti dulu!" jawab Peno dengan tetap fokus pada papan catur.
"tak!"
"kejuaraan ya pasti ada hadiahnya, mana ada kejuaraan kosong mlompong!" ucap mbah Patma dengan sekali lagi menjitak jidat Peno.
"aduh, ada mbah kejuaraan yang kosong, yang menang cuma dapat piagam sama piala!" jawab Peno sambil mengelus jidatnya.
"kalau itu panitianya yang nyari untung kebanyakan, wis cepat jalan!" kata mbah Patma lagi, sedangkan lik Wanto hanya menonton sambil ikut mikir diam diam.
"untung lagi macul disawah mbah ga usah dicari, skak!" ucap Peno sambil memindahkan gajahnya mengancam raja mbah Patma.
"ooh bocah gendeng, untung laba maksudnya, tutup kuda!" kata mbah Patma menggeser kudanya untuk menutup.
"laba laba ada yang namanya untung mbah, menterinya siap kena sepak kuda mbah!?" ucap Peno lagi sambil menjalankan kudanya mengancam menteri mbah Patma.
"eeehhh, malah ndadrah ini bocah, daging kudamu enak jadi dimakan sama gajahku!" kata mbah Patma menggerkan gajahnya memakan kuda Peno yang mengancam menteri tadi.
"lah, malah dimakan, padahal pahit lho mbah, ya wis lah gajahku ikut makan daging kuda juga dan skak lagi!" ucap Peno ikut memakan kuda mbah Patma yang menutup raja tadi dengan gajahnya.
"owalah kamu mengintai bentengku No, makan situ kalau kuat gigi menterimu, aku makan daging gajah saja!" kata mbah Patma sambil menggerakan menteri kedepan memakan gajah Peno.
Lik Wanto yang dari tadi menjadi penonton malah asik tertawa sendiri menyaksikan Peno dan mbah Patma bermain catur tapi dengan adu kata kata juga.
" ha ha ha ha......, ini main catur tapi mulutnya malah ikutan tanding!" ucap lik Wanto ditengah tawanya.
"diam lik, ini strategi biar fokus mbah kakung buyar!" kata Peno.
"kamu nonton saja Wan, daripada nanti disuruh main, belum tentu bisa menang lawan aku apa Peno!" ucap mbah Patma.
"iya wis, itu cepetan jalan No!" jawab Lik Wanto.
"skak mbah, aku makan bentengnya!" kata Peno menggerakan menterinya memakan benteng mbah Patma yang ada dipojok.
"tutup menteri, diadu sekalian!" jawab mbah Patma.
"oalah uka uka adu nyali, ya wis lah sama sama ga punya menteri!" ucap Peno memakan menteri mbah Patma dengan menterinya juga, dan mbah Patma pun memakan menteri milik Peno dengan rajanya.
Permainan pun berlanjut dengan sama sama tanpa menteri, Peno masih untung dengan bidak benteng yang masih utuh dua, sedangkan bidak mbah Patma sudah berkurang.
Setengah jam lamanya permainan baru selesai dengan Peno sebagai pemenangnya, ia berhasil memojokan raja mbah Patma setelah memreteli satu satu bidak milik mbah Patma.
"sah, aku yang menang ya mbah, sekarang aku mau pulang, mau cari rumput buat pakan ikan bawal, nanti kalau ga nyari rumput bapak bisa ngomel terus!" ucap Peno berpamitan pulang setelah menang tanding catur dengan mbahnya itu.
"ya wis, sana pulang, nanti malam kesini lagi, jangan lupa bawa singkong buat digoreng lilikmu!" jawab mbah Patma.
"memang masih kuat makan singkong goreng mbah?" tanya Peno.
"ya kuat, asal direbus dulu biar empuk, he he he.....!" jawab mbah Patma pamer gigi yang tinggal tiga.
"ha ha ha......, ya nanti Peno bawakan yang besar besar, assalamualaikum!" kata Peno lalu meninggalkan rumah mbahnya.
"waalaikumsalam!" jawab mbah Patma dan lik Wanto bersamaan.
Sampai dirumah Peno langsung ganti baju dengan celana kolor pendek dan kaos partai gambar foto caleg yang Peno sendiri tidak kenal siap pergi mencari rumput disawah untuk pakan ikan bawal yang ia pelihara dibelakang rumah.
"sarapan dulu No, tuh ada lodeh daun singkong sama sambel!" ucap mamak dari sebelah sumur tempat cuci baju.
"pegangannya apa mak?" Peno balik bertanya.
"pegangannya ya sendok, kalu takut jatuh ya badanmu diikat kekursi, ha ha ha ha.......!" jawab mamak bercanda sambil mengucek baju yang sedang dicuci.
"oaalah, maksudnya lauk mak, kaya kerupuk apa tempe goreng gitu!" kata Peno sambil tepuk jidat, tak habis pikir mamaknya juga suka guyon dengan kata kata.
"ha ha ha....., ada itu dilemari, goreng lembutan mujaer!" jawab mamak masih dengan tawanya.
"siiiippp, mantap ini, terimakasih mak!" ucap Peno lalu segera menyendok nasi dan semua lauknya, lalu ia segera makan dengan lahapnya.
Setelah makan Peno pun langsung pergi kesawah mencari rumput untuk pakan ikan bawalnya.
Sampainya disawah ia bertemu lik Wanto yang juga sedang mencari rumput, ada juga disana Dimin dengan tujuan yang sama.
"baru ngarit kamu No?" tanya lik Wanto saat melihat Peno datang.
"iya lik, sarapan dulu, kata mamak boleh ngarit asal sarapan dulu, he he he......!" jawab Peno lalu segera bergabung membabat rumput dipetak sawah yang memang belum ditanami apa apa.
"halah gayamu No, paling kamu bangun kesiangan!" ucap Dimin mengomentari ucapan Peno.
"enak aja, aku udah dari sebelum subuh beraktifitas ya Min!" jawab Peno yang ga terima dibilang baru bangun oleh Dimin.
"halah paling aktifitas bikin pulau dibantal, ha ha ha ha.......!" kata Dimin lagi.
"salah Min, Peno itu pagi pagi sudah aktifitas angkat benteng, angon kuda sama gajah!" ha ha ha ha........!" sambung lik Wanto.
"nah lik Wanto betul itu Min, aku pagi pagi sudah menata benteng, angon kuda, sama gajah, ngurusi menteri dan jagain raja, ha ha ha ha..........!" ucap Peno yang malah menambahi ucapan lik Wanto.
"oalah angon kuda dipapan catur, dasar lilik sama keponakan sma saja ngawurnya kalau ngomong!" ucap Dimin da langsung meneruskan membabat rumputnya.
"ha ha ha ha....., yang penting kan beraktifitas Min, kata orang tua yang penting kita gerak nanti rejeki akan datang sendiri!" ucap Peno lalu ikut juga membabat rumput.
Baru dapat setengah karung tapi rumput dipetak itu sudah habis, tinggal tersisa rumput yang masih pendek pendek.
"kita pindah No, Min, kayaknya disawah sebelah sana kemarin masih tinggi rumputnya!" ucap lik Wanto.
"yang disana kemarin sudah aku babat lik, mending kita kebarat saja, disawahnya pak Somad masih ada, kan baru panen jagung dua hari yang lalu!" jawab Dimin.
"ooh malah sudah kamu babat, ya wis, ayo kita kesana!" ucap lik Wanto sambil mengangkat karung rumputnya disunggu dikepala.
Peno dan Dimin pun mengikuti Wanto menyusuri pematang sawah kearah barat menuju sawah milik pak Somad.