Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI PASAR
Keesokan harinya Kakek Darma kembali mengajak Vina untuk pergi ke puskesmas sekaligus ke pasar. Perjalanan mereka sangat lancar.
Kakek Darma membawa Vina ke pasar terlebih dahulu untuk menjual barang yang sudah mereka persiapkan sejak kemarin.
Tidak seperti pasar di tahun 2026 , pasar disaat ini jauh lebih sederhana dan barang yang diperjual belikan pun tidak selengkap tahun 2026.
Disepanjang jalan banyak pedagang kaki lima yang menjual dagangannya. Ada yang menjual buah-buahan sayur-sayuran, perabotan rumah tangga dan masih banyak lagi.
Kakek Darma langsung membawa hasil keterampilannya ke tempat langganannya.
"Datang juga Kau Darma. Berapa banyak tampah yang Kau bawa kali ini?" tanya seorang lelaki yang seumuran dengannya.
"Ada sepuluh buah seperti biasanya."
"Harga tetap sama kan?"
"Kalau mau dinaikin juga Aku malah lebih senang,' jawab Kakek Darma dengan nada bercanda.
"Tidak bisa lah. Kalau dinaikin nggak dapatkan untung lah Aku."
"Ya sudag harganya seperti biasa saja."
"Tumben cucu Kau ikut. Bagaimana kabarnya Pin?" Kakek Aji menatap Vina yang ada di belakang Kakek Darma.
Sebenarnya Kakek Aji tidak terlalu suka pada Vina.
Ia menyapa Vina juga hanya sekedar berbasa basi untuk menghormati Kakek Darma.
Jika saat ini yang ada dihadapan Kakek Aji ada Vina yang asli sudah pasti Ia tidak akan repot-repot menjawab sapaan Kakek Aji. Namun tidak dengan Vina yang sekarang . Vina menjawabnya dengan lembut sambil tersenyum.
"Baik Kek. Kakek sendiri bagaimana?" jawab Vina dengan ramah. Kakek Aji terkejut mendengar jawaban Vina. Beliau pun menoleh ke arah Kakek Darma yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
"Seperti yang Kamu lihat. Kamu bawa keranjang itu isinya apa?"
"Telur Kek. Kakek mau beli?"
"Ada berapa biji?"
"Ada dua puluh biji. Kamu mau?" sahut Kakek Darma sebelum Vina sempat menjawab.
"Kamu mau jual berapa perkilonya? Kalau harganya bagus akan Aku beli semuanya."
"Dua ribu rupiah bagaimana?"
"Lah....kalau Aku jual lagi nggak dapat untung dong."
"Gini aja deh , ini kalau dihitung bisa satu kilo seper empat kan. Jadi semuanya Aku beri harga dua ribu.Kamu sudah dapat untuk lima ratus . Bagaimana?"
"Nggak mau ngurangin lagi?"
"Itu juga sudah bagus. Gimana ...sudah siang nih, Aku mau bawa Vina ke Puskesmas buat periksa."
"Loh...Kamu sedang sakit Pin?"
"Sudah baikan kok Kek. Cuma Kakek saja yang Khawatir."
"Baiklah kalau begitu. Telurnya Aku ambil. Uang tampahnya empat ribu, ditambah uang telurnya dua ribu jadinya enam ribu."
Kakek Ali memberikan uang sejumlah enam ribu rupiah pada Kakek Darma. Setelah itu beliau membawa Vina untuk membeli beras dan kebutuhan lain di penjual sembako.
"Mau beli apa Kang Darma?" tanya penjual dengan ramah.
"Berasnya lima kilo, minyak seper empat liter, gula putihnya setengah kilo ."
"Sebentar ya Kang."
Penjual itu segera menyiapkan semua pesanan yang disebutkan oleh Kakek Darma. Setelah semuanya siap ia memberikannya pada Kakek Darma sekaligus memberitahukan harganya.
"Berasnya lima kilo dua ribu lima ratus , minyak sembilan ratus, gula putihnya tujuh ratus lima puluh. Jadi totalnya empat ribu seratus lima puluh."
Kakek Darma memberikan uang hasil penjualannya tadi. Vina mengambil belanjaan itu dari tangan penjual.
"Biar Kakek saja yang bawa," kata kakek Darma setelah membayar .
"Tidak perlu. Aku juga kuat kok," kata Vina sambil meletakkan barang belanjaanya itu ke dalam keranjang yang ia bawa. Ia tidak memberi kesempatan Kakek Darma untuk merebut.
"Baiklah. Sekarang Kamu mau beli apa?"
"Bagaimana kalau beli nasi terus dibungkus, " kata Vina dengan mata berbinar. Pagi tadi mereka hanya sarapan Ubi rebus sedikit. Karena berasnya habis jadi tidak masak nasi.
"Boleh juga. Mau beli nasi apa?"
"Terserah Kakek yang penting enak."
"Nasi rames saja kalau gitu, " ucap Kakek Darma yang langsung disetujui oleh Vina. Baginya yang penting makan. Lagi pula ia belum mengenal makanan apa saja yang dijual.
Kakek Darma membawa Vina warung langganannya. Kakek Darma memang sering membeli nasi di warung ini setiap pergi ke pasar.
"Nasi ramesnya dia bungkus Yu, " kata Kakek Darma.
"Mau dimakan sini atau dibawa pulang. "
"Dibungkus saja."
"Pakai lauknya apa? "
"Seperti biasa tambah telur sama dendengnya jangan. "
"Baik.Tunggu sebentar ya. "
Selain menjual nasi warung itu juga menjual aneka kue basah dan gorengan. Vina mengambil bakwan empat, dadar gulung empat sama pisang goreng empat.
"Berapa Yu? "
"Nasinya delapan ratus dan kuenya tiga ratus . Jadi totalnya seribu seratus. "
Kakek melihat kantong uangnya yang tinggal sedikit. Kemudian membayar makanan yang ia beli.
Setelah itu keduanya pergi ke puskesmas yang tidak jauh dari pasar. Karena suasanyanya sepi, Vina tidak perlu mengantri.
"Cucunya baik-baik saja kok Pak. Cuma kecapean saja. Tidak perlu ada yang di khawatirkan. "
cie jaka ngambek gk di sapa😁
semangat nulis bab nya😘😘❤️❤️❤️