Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Seminggu telah berlalu setelah Dimas dan Melia membeli cincin yang membuat Melia cemberut seharian.
"Lia.." sapa Emelin pada Melia yang duduk santai di sofa ruang keluarga sembari menonton tv.
Melia mendongak dan tersenyum. "Kenapa Tante?" tanya Melia segera mengecilkan volume tv nya agar suara Emelin dapat di dengar dengan jelas.
"Bantu Tante pilihin jas dong Sayang, Dimas lagi ikut ke kantor sama Papa nya dan Papa kamu juga" jawab Emelin membuat Melia terdiam sejenak.
"Kenapa nggak langsung sama orang nya aja Tante? Tunggu Kak Dimas nya pulang" tanya Melia, ia merasa tak berhak dalam memilih pakaian yang akan digunakan oleh orang lain.
"Kelamaan, Tante udah harus kirim jawaban ke pihak butik nya Sayang" jawab Emelin di angguki Melia.
"Tante udah kirim pesan ke Kak Dimas?" tanya Melia lagi, di angguki Emelin yang segera menunjukkan pesan nya yang belum di balas atau di baca sejak 2 jam yang lalu.
"Jadi kamu bantu pilihin ya Sayang, Mama kamu tadi di tanya malah jawab dua-dua nya" pinta Emelin membuat Melia mengangguk dengan ragu.
Emelin pun menunjukkan gambar kemeja beserta jas yang warna begitu berbeda tipis.
"Coklat yang ini bagus, Tante" ujar Melia mata nya langsung tertuju pada jas coklat itu di tambah dasi berwarna hitam dan di padukan kemeja putih, ia juga langsung membayangkan Dimas memakai jas itu dengan gagah.
Melia menghela napas berat dan menepis lamunan nya.
"Kalau gitu, Tante minta pilihin gaun juga Sayang" pinta Emelin segera menggeser gambar menjadi gaun untuk wanita.
"Ini ada 4 pilihan, bagusan yang mana?" tanya Emelin membuat Melia ragu untuk memilih.
"Kenapa nggak tanya sama yang mau nikah aja Tante, kalau Lia yang pilih takut nggak sesuai sama selera nya, kan selera orang beda-beda" Melia enggan memberi pilihan untuk gaun calon pasangan Dimas.
Emelin tersenyum. "Udah Sayang, tapi dia juga bingung dan minta pilihin yang bagus, awalnya itu ada 6 pilihan dia pilih 4 ini terus bingung karena semua nya bagus menurut nya" jawab Emelin dengan panjang lebar.
Melia kembali manggut-manggut. Rasanya ia ingin memilihkan gaun yang paling sederhana saja untuk pasangan Dimas.
"Yang nggak terlalu heboh aja Tante, inti nya" usul Melia tanpa berminat melirik ke arah gambar.
"Iya Lia, ini semua nggak heboh kok, tapi Tante juga bingung pilih yang mana, makanya Tante minta saran dari kamu" sahut Emelin membuat Melia akhirnya melirik ke arah gambar.
Mata nya pun langsung tertuju pada gaun A-line yang terbuat dari satin lembut dengan lapisan tulle halus, memiliki korset illusion berhias sulaman bunga dan manik-manik yang menjalar ke rok. Warnanya gading klasik, dengan ekor chapel yang anggun.
"Ini tema pernikahan nya pedesaan ya Tante? Berarti acara nya outdoor dong" tebak Melia di angguki Emelin.
"Kamu suka yang tema nya pedesaan ya Sayang sampai setau itu sama pilihan nya tadi?" tanya Emelin di angguki Melia.
"Pernikahan tema rustic itu impian Lia, Tante. Tema di luar gedung terus pemandangan nya di taman kayak di drama-drama, pasti fresh banget rasanya" jawab Melia sembari membayangkan dekorasi pernikahan impian nya.
Emelin tersenyum dan mengelus rambut Melia. "Pantas Dimas memilih tema outdoor" gumam nya sembari tersenyum melihat Melia yang juga tersenyum lebar.
Drrt drrt
Melia mendengar dering telepon hp nya yang berbunyi. "Tante, Lia angkat telepon dulu ya" pamit Melia saat melihat nama kontak yang tertera nama teman sekelas nya.
...****************...
"Mau kemana Li?" tanya Gina saat melihat Melia turun dengan pakaian rapi setelah sarapan.
"Mau ke sekolah bentar Ma, ada rapat sama wali kelas perihal kelulusan" jawab Melia di angguki Gina.
"Kamu lulus berapa bulan lagi?" tanya Emelin yang juga menguping, begitu juga Dimas yang anteng duduk sembari mengunyah nasi goreng.
"Satu bulan lagi Tante, setelah nya aku baru fokus ke pendaftaran di kampus" jawab nya sembari meminum segelas air putih.
"Lia mau kuliah dimana kira-kira?" tanya Emelin lagi membuat Melia berpikir sejenak.
"Mau nya sih luar negeri di National University of Singapore tapi kalau nggak dapat ya ke Erasmus University Rotterdam, kalau takdir nya di dalam negeri mau di Universitas Airlangga" jawab Melia dengan panjang lebar.
"Erasmus University Rotterdam? Dimas lulusan sana, kamu bisa masuk ke kampus itu jalur orang dalam Sayang, jangan ragu buat bilang ke Dimas ya" ucap Emelin sembari menepuk pundak Dimas.
"Dimas ini mahasiswa terbaik di angkatan nya, jadi sampai sudah lulus pun masih di cari kadang sama pihak kampus" lanjut nya dengan tersenyum bangga.
"Ambil jurusan apa?" timpal Dimas mendongak menatap Melia yang nampak berpikir.
"Kedokteran atau Hukum yang lebih worth it?" tanya Melia menatap ke arah Gina meminta saran.
"Hukum, kamu kalau Kedokteran ngeliat darah bisa kambuh lagi, yang ada nggak selesai-selesai kuliah mu" bukan Gina yang menjawab tapi Dimas.
Melia menghela napas. "Kan kalau nggak di lawan, nggak akan sembuh" bantah Melia.
"Tapi harus tiap hari ngelawan nya, sedangkan kamu ngeliat sekilas atau sedikit aja udah pusing" ejek Dimas membuat Melia berdecak.
"Nggak harus darah terus kan yang di liat, bisa aja cuma ngeracik obat" perdebatan pun di mulai, yang membuat Gina dan Emelin hanya bisa menyimak.
"Kamu aja nggak suka bau obat, apalagi buat ngeracik kandungan obat bisa-bisa racikan nya salah" ucap Dimas dengan alis sedikit menekuk.
Melia menghela napas kesal. "Kan guna nya belajar tu ya biar nggak salah ngeracik obat nya, kalau nggak di perdalam, nggak di pelajari gimana tau kandungan yang baik dan jahat dalam obat" ketus nya kemudian kembali menyomot roti yang sudah olesi nanas.
"Jangan gigit bagian selai nya nanti alergi kamu kambuh.. Emang kamu kuat pelajarin rumus-rumus nya?" tegur Dimas membuat Melia tersadar dan hanya mengigit bagian pinggir.
Gina dan Emelin tersenyum saat melihat Dimas yang masih tetap peduli di sela perdebatan mereka.
Melia menaruh kembali roti yang ia gigit ke piring milik Dimas. "Kuat lah, selama ini aku juga memperdalam pengetahuan soal kimia" Melia tersenyum karena Dimas tak lagi bisa menjawab perdebatan nya.
Dimas menghela napas berat. "Itu nggak seberapa, buat jadi dokter kamu perlu banyak syarat dan itu susah buat di penuhi" balas nya kemudian berdiri setelah menghabiskan roti yang di gigit Melia.
"Udah selesai debat nya, katanya mau ke sekolah. Ayo, ku antar" ujar Dimas menghentikan perdebatan mereka.
"Ah iya, kalian nih keasikan debat jadi lupa waktu" ucap Gina yang juga baru tersadar kalau Melia sudah berdiri lebih dari 30 menit meladeni perdebatan.
Melia cemberut. "Aku bisa memenuhi semua syarat dan tugas buat jadi dokter nanti nya kok" Melia masih tidak mau kalah debat.
"Iya-iya, bawel" sahut Dimas segera merangkul pinggang Melia dan membawa nya keluar dari ruang makan.
Gina dan Emelin kembali saling pandang dan tersenyum. "Ternyata perdebatan mereka manis juga ya" cetus Emelin dengan cekikikan. Gina mengangguk dengan senyum bahagia.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭