Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Dari rumah nya bu Nuri dan Hesti melihat bu Munah pulang dari ladang nya bersama Indah, setelah memukuli Mawar tadi Indah langsung menyusul ibu nya ke ladang.
Indah sengaja menceritakan cerita bohong pada Bu Munah tentang Mawar sehingga bu Munah menjadi sangat murka pada nya.
"Mawar,!!!" Teriak bu Munah di depan pintu rumah nya.
Mawar yang sedang memasak untuk makan malam pun bergegas keluar mendengar suara ibu nya, dia tahu pasti Indah sudah menghasut ibu nya dengan cerita bohong.
"Ada apa bu?" Tanya Mawar setelah dia keluar dari dalam rumah.
"Kenapa kau memukul Indah hah?" Bentak Bu Munah dengan wajah yang di penuhi oleh kemarahan.
"Aku gak pernah mukuli Indah bu, justru tadi Indah yang mukuli aku!" Mawar menjelaskan permasalahan sebenar nya pada sang ibu.
"Bohong bu, tadi setelah aku pulang ke rumah Mawar memukul kepala ku dengan buku yang tebal dan besar!" Indah dengan cepat menyela ucapan Mawar.
"Kamu semakin hari semakin keterlaluan Mawar, berani - berani nya kamu memukuli Indah!" Dengan cepat tangan bu Indah menjewer telinga Mawar dengan sangat kuat.
"Ampun bu, aku tidak pernah memukul Indah. Kalau ibu tidak percaya ibu bisa tanyakan pada Hesti!" Mawar meringis kesakitan.
"Aku percaya dengan apa yang di katakan oleh Indah, dia adalah anak ku. Untuk apa aku percaya pada Hesti, dia bukan siapa - siapa ku!" Dengan sekuat tenaga bu Munah mendorong tubuh Mawar hingga terjatuh.
"Jangan memarahi Mawar bu, Mawar memang tidak bersalah. Justru Indah lah yang bersalah!" Bu Nuri membantu Mawar untuk berdiri.
"Apa maksud bu Nuri? Bu Nuri mau bilang bahwa Indah berbohong gitu!" Bu Munah tidak terima jika ada orang yang menyalakan Indah.
"Bukan nya begitu bu, tadi Mawar dan Hesti sedang membuat tugas sekolah ketika Indah datang. Indah meminta Mawar mengambil air es untuk nya, tapi Mawar sedang sibuk sehingga Indah marah dan memukuli Mawar berkali - kali!" Bu Nuri menceritakan apa yang tadi dia dengar dari anak nya.
"Indah tidak akan mungkin memukul Mawar jika Mawar tidak membuat ulah! Pasti Mawar yang sudah memukuli Indah!" Bu Munah tetap membela Mawar.
"Benar bi memang Indah yang sudah memukuli Mawar hingga berkali - kali, bukan Mawar yang memukul Indah!" Hesti yang tadi ada di sana pasa kejadian menceritakan semua nya, dia kasihan melihat sahabat nya selalu di hukum atas segala sesuatu yang bukan kesalahan nya.
"Sudah lah bu Nuri, aku ibu nya dan aku tahu seperti apa kelakuan anak - anak ku. Aku sangat tahu dan paham bagai mana sifat dan kelakuan Mawar, dia adalah anak pemalas dan jahat, dia selalu memarahi Indah setiap kali aku sedang tidak ada di rumah!" Bu Munah kini malah menjelek - jelek kan Mawar di depan tetangga nya.
"Bu Munah, aku hanya menceritakan kebenaran nya, terserah kau mau percaya atau tidak. Ayo Hesti kita pulang!" Bu Buri segera mengajak Hesti pulang ke rumah nya.
Percuma saja bicara dengan bu Munah, karena mau apa pun itu kesalahan nya Indah, bu Munah pasti tetap akan membenarkan nya. Bu Munah pasti akan selalu menyalahkan Mawar atas apapun yang terjadi.
Setelah bu Buri dan Hesti pulang, Mawar bergegas masuk kembali ke dalam rumah. Masakan dia untuk makan malam nanti belum selesai.
"Puas kamu Mawar sudah menceritakan hal yang tidak - tidak pada bu Nuri, kamu sudah membuat ku malu!" Bu Munah yang langsung menyusul Mawar ke dapur langsung memarahi nya.
"Aku tidak menceritakan apapun pada bu Nuri bu, tadi memang Hesti ada di rumah bersama ku sedang mengerjakan tugas sekolah!" Mawar menjelaskan pada ibu nya.
"Mawar bohong bu, aku tidak memukul nya tapi dia yang memukul ku. Setelah aku pergi tadi dia pasti menceritakan hal buruk tentang ibu pada ibu nya Hesti!" Indah menghasut ibu nya agar semakin benci dengan Mawar.
"Demi Allah bu, Mawar bahkan belum keluar dari rumah sejak pulang sekolah tadi!" Mawar tampak ketakutan dan menunduk kan kepalanya.
Mawar tidak berani menatap mata ibu nya, setiap kali berbicara dengan sang ibu Mahar selalu menunduk kan kepala nya.
"Dasar anak kurang ajar, tidak tahu diri. Sudah ku besar kan kau hingga seperti ini, tapi kau berani nya menjelek kan ku di depan banyak orang!" Bu Munah menjambak rambut Mawar dengan keras.
Mawar hanya bisa meringis kesakitan dan dia menangis dalam diam, percuma saja dia membela diri karena sang ibu tidak akan pernah percaya dengan apa yang di katakan oleh nya.
"Dengar Mawar, aku hanya punya sepasang anak laki - laki dan perempuan. Anak ku cuma Farhan dan Indah, jadi sebaiknya kau tahu diri di rumah ini!" Bu Munah dengan sekuat mendorong tubuh Mawar hingga kepalanya membentur dinding.
Air mata terus mengalir tanpa bisa Mawar tahan lagi, dia menangis tanpa suara. Hati nya begitu perih mendengar setiap kata yang keluar dari mulut sang ibu.
"Cepat selesai kan pekerjaan mu jangan sampai ada yang ketinggalan, dan satu lagi jika kau berani mengadukan semua nya pada Farhan dan bapak mu. Dan sampai aku dan bapak mu bertengkar gara - gara kamu, maka lihat saja aku akan menyiksa mu lebih dari ini!" Bu Munah mengancam Mawar yang sekarang terduduk di lantai.
Setelah berkata seperti itu, ibu dan anak itu segera keluar meninggal kan Mawar yang masih terduduk di lantai dapur.
"Ya Allah, siapa sebenar nya aku? Kenapa ibu bicara seperti itu? Apakah aku memang bukan anak nya?" Air mata semakin deras mengalir di pipi Mawar.
Dengan langkah tertatih dan kepala yang masih terasa sangat perih, Mawar segera menerus kan masakan nya yang sempat tertunda. Sepanjang memasak Air mata Mawar terus tumpah tanpa bisa dia tahan lagi.
Setelah selesai memasak Mawar mengangkat jemuran yang ada di belakang dan melipat serta menyusun nya. Setelah itu dia langsung membersih kan diri.
Mawar berada di dalam kamar nya dan dia hanya keluar untuk mengambil wudhu saja untuk sholat magrib, setelah itu dia kembali ke kamar nya dan tidak keluar lagi.
"Ya Allah, siapa sebenar nya aku? Apakah aku bukan anak kandung di sini? Siapa orang tua ku Ya Allah?" Mawar menangis terisak di atas sajalah nya.
Mawar rasa nya sudah tidak kuat untuk tetap tinggal di rumah ini, dia ingin pergi jauh dari tempat ini. Tapi bayangan wajah bapak dan kakak nya yang melintas di pelupuk mata nya membuat dia memikirkan semua nya kembali.
"Jika aku pergi dari sini, kemana aku harus pergi? Aku bahkan tidak punya uang sama sekali!" Mawar teringat uang pemberian bapak nya sudah hilang di curi orang di dalam kamar nya ketika dia tinggal sekolah tadi.