Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.
Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.
Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syaheera part 6
Syaheera melongo, ia terlihat seperti orang dungu alih-alih berontak dan mengamuk atas keputusan itu.
"Ayah, bukankah Ayah bilang hanya berkenalan dengan calon teman?" Kepolosan Syaheera tak menggoyahkan wajah datar Kiv, berbeda dengan Raffan yang tertawa melihat wajah calon menantunya itu.
"Calon teman --- hidup," ujar Peter menjelaskan.
"Aku baru berusia 22 tahun. Lagi pula perjodohan di jaman modern apa tidak terdengar menggelikan?"
"Syaheera ...."
"Tidak apa-apa, Peter. Dia pasti terkejut," ujar Raffan.
"Kau putri terbaik Ayah. Tuan Raffan sahabat baik Ayah, saat dia membutuhkan menantu terbaik, tentu orang itu harus kau."
"Ta -- tapi ini tentang pernikahan, Ayah," cicit gadis ini. Kini dirinya dan Kiv berada pada meja yang sama dengan Peter dan Raffan.
"Justru karena ini pernikahan, Ayah harus menentukan jodoh terbaik untukmu. Syaheera ...." panggil Peter lembut sekali.
Wajah yang menunduk kini menatap Peter. Sepasang manik indah berwarna coklat itu nampak berkaca-kaca.
"Kau putri terbaik Ayah. Ayah ingin kau menikah dengan pria baik pula."
"Pria baik ... Dia bahkan bersikap dingin padaku!"
Melihat anak gadisnya mulai tenang, Peter mengambil udang dan meletakkannya pada piring di hadapan Syaheera. "Mari kita makan. Kita rayakan pertemuan kalian malam ini."
Kiv menatap calon istrinya, ia ingat betul gadis ini berkata akan makan apa saja asal bukan udang.
Senyum kecil nan hambar terlihat di wajah Heera. "Hem," ujarnya mengangguk, "jika ini yang terbaik bagi Ayah, mari kita rayakan pertemuan malam ini."
"Ini akan menjadi pilihan terbaik untuk kita semua," sambut Raffan. Ia mengambil gelas berisi anggur dan mengajak untuk bersulang.
Kebahagiaan terlihat jelas di wajah Raffan, juga Peter, suara denting gelas anggur mereka terdengar beberapa kali. Dua orang tua ini begitu menikmati keputusan yang mereka ambil sendiri.
Makan malam berjalan dengan baik. Dalam diam Kiv memerhatikan Syaheera, gadis ini terlihat murung. Ia juga tak memakan udang yang diambilkan Peter.
"Aku dengar perusahaanmu sedang mengembangkan teknologi informasi terbaru."
"Ya," sahut Peter, "setelah proyek situs web jual beli online sukses, kami sekarang sedang mengembangkan aplikasi medis dan kesehatan."
"Wah, itu menarik."
"Benar. Apa kau tertarik?"
"Siapa yang tidak tertarik dengan keuntungan berlipat, kita akan membahas masalah ini di lain waktu," sahut Raffan bersemangat.
"Cih, dasar mata duitan. Dia bahkan akan merambah dunia bisnis digital," cemooh Kiv dalam hati.
Raffan bukan tidak memahami sikap sang putra, ia terkekeh melihat wajah datar Kiv. "Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan."
"Oh, ya?" tanya Kiv, "aku baru tahu kalau Ayah seorang dukun."
Tertawa Peter mendengar ocehan Raffan dan calon menantunya.
"Meski datar, kalau urusan bisnis wajahmu seperti ada subtitlenya."
Kiv tertawa sekilas namun terkesan meremehkan.
"Kau sudah memegang kendali bisnis keluarga kita. Tidak ada salahnya jika aku berniat mencari pekerjaan baru," ucap Raffan pada Kiv.
"Iya, 'kan, Peter?" ujarnya lagi meminta dukungan dari sang sahabat.
"Ya, tentu saja." Sebuah jawaban yang sudah bisa Kiv tebak, Peter tentu memihak pada Raffan.
Pertemuan masih berlanjut hingga beberapa jam. Obrolan kerap diwarnai dengan urusan bisnis, bisnis dan bisnis! Syaheera dan Kiv seperti sepasang nyamuk, sedangkan Raffan dan Peter adalah pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta. Ya, itu benar. Raffa dan Peter memang sedang jatuh cinta, cinta pada uang, uang dan uang!
Kiv menatap arloji di tangan kirinya, sebentar lagi pukul 10 malam.
"Akan sampai kapan Ayah dan Tuan Peter bicara tentang uang?"
"Ini bukan hanya tentang uang, Anakku," terang Raffan.
Memiringkan kepalanya, Kiv menatap sang ayah sembari mengingatkan tentang waktu, "Sudah hampir pukul 10. Jika kalian masih ingin berbincang, setidaknya biarkan kami pulang lebih dulu."
Semringah Peter disambut keterkejutan Raffan. "Oh! Waktu berlalu sangat cepat."
"Cepat bagi kalian yang menikmati pertemuan ini, lambat bagiku yang kalian jebak!" batin Heera.
Sebelum mengakhiri pertemuan, Raffan dan Peter berpelukan, mereka merencanakan pertemuan selanjutnya. Tentu dengan agenda yang berbeda, yaitu rencana pernikahan anak-anak mereka.
"Ayah ...."
"Ya? Akh! Apa kau ingin memesan gaun pengantin sesuai keinginanmu? Selain pintar mendesain ruangan, kau pasti juga pandai merancang busana pengantin."
"Itu dua hal berbeda, Ayah. Sangat berbeda," ucap sang putri.
"Ayah terlalu bersemangat, Ayah sangat senang malam ini. Apa yang ingin kau katakan tadi?"
Syaheera menggeleng pelan. "Aku lupa akan bicara apa tadi."
Seperti bunga yang layu, wajah Syaheera tertekuk sejak motif asli pertemuan ini terungkap. Pantas saja Kiv menanyainya begitu detail, rupanya hanya Syaheera yang tidak tahu tujuan awal pertemuan malam ini.
Teringat ucapan Celia yang menyuruhnya untuk berdandan cantik, Syaheera merasa sangat tertipu. Kenyataannya semua telah diatur begitu apik.
Syaheera menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Tak bersemangat ia mengekor langkah Tuan Raffan dan ayahnya keluar dari restoran Gulzar.
"Berikan aku nomor ponselmu," pinta Kiv sebelum Syaheera masuk ke dalam mobil.
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Kau bahkan tanpa bertanya ketika memberikan nomor ponsel pada pria lain," desis Kiv. Begitu dingin tatapan pria ini, ia gusar setelah mengetahui interaksi Heera dan Vier dari Alvin, sang pengawal.
Syaheera menatap pada pria yang sejak tadi ada bersama mereka namun tanpa bicara, ia pria yang mendorong Kiv dalam kursi roda. Sepertinya pria ini membuntutinya ketika pergi ke toilet.
Penuh percaya diri Syaheera melenggang masuk ke dalam mobil. "Aku akan memberikannya nanti."
Ash! Kiv berdecak, berani sekali wanita ini menolak keinginannya.
Alis tebal itu terlihat berkerut. Kiv masih menunggu dengan tatapan tajam.
Pintu mobil yang tidak langsung ditutup, menarik atensi sang ayah. "Ada apa?" tanya Peter. Ia baru memasuki mobil usai berpamitan dengan Raffan.
"Tidak ada apa-apa, Ayah. Tuan Kiv, sampai jumpa dipertemukan selanjutnya." Heera menutup pintu mobil, sedangkan Kiv masih menatapnya.
"Selamat malam, Kiv. Pertemuan selanjutnya akan kita atur lebih baik lagi," ujar Peter membuka kaca mobil.
"Ya. Selamat malam Tuan Peter."
Kepergian mobil keluarga Jason menyisakan amarah dalam hati Kiv. Jika tidak karena perintah Raffan, ia tidak akan mencoba mendekati Syaheera.
Terdengar Tuan Raffan berdehem sebelum bicara. "Sikapmu cukup baik. Tapi kuharap akan lebih baik lagi pada pertemuan selanjutnya."
"Ayah, kenapa harus menikah?"
"Sebab kau butuh menikah. Ayah sudah mengatakan hal ini sejak awal pernikahanmu direncakan."
"Kenapa?"
"Karena kau pewaris tunggal keluarga Alistair, kau harus memiliki pendamping, dengan begitu posisi sosialmu akan terjaga. Sebagai pewaris kau harus memiliki keturunan. Pernikahan juga akan memperkuat perekonomian keluarga kita di mata masyarakat. Ingat, keluarga Jason adalah keluarga mapan dan terpandang, pikirkan timbal balik apa yang akan kita dapatkan jika Red Space memiliki hubungan dengan Alistair Property, betapa kokoh status kita di mata dunia."
"Jadi, semua ini demi gengsi? Demi sebuah kejayaan? Ayah bahkan tidak peduli apakah aku menyukai Syaheera atau tidak!" Lagi-lagi Kiv merasa menjadi boneka, yang dengan bebas diatur dan dipermainkan sesuka hatinya.
"Syaheera gadis yang sangat cantik, siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya. Lagi pula Kiv, semua ini bukan sekadar demi gengsi. Ayah melakukannya demi keluarga kita."
"Kenapa tidak menyerahkan tanggung jawab ini pada Kak Camila?"
Raffan berjongkok di hadapan Kiv. "Kita semua tahu, Camila bukan darah daging keluarga Alistair."
Kiv menggeleng, haruskah kebenaran itu terus dibahas? Camila adalah kakak perempuannya, wanita lemah lembut yang selalu bersamanya meski kerap mendapat perlakuan buruk dari keluarga Alistair.
Kiv menatap datar pada Raffan. "Dia tidak datang sendiri, kalian yang membawanya masuk dalam keluarga Alistair."
"Tetap saja tanggung jawab itu tidak bisa diserahkan padanya!" Raffan menegaskan. Setiap kali membahas posisi Camila dalam keluarga mereka, Kiv selalu emosional, "Lagi pula, dia wanita. Akan jadi apa jika posisi pewaris keluarga diserahkan padanya?" ujar Raffan lagi.
"Kivandra, kita sudahi membasah Camila. Ia akan tetap menjadi bagian dari keluarga kita, namun, tidak akan menduduki posisi tinggi," ujar Raffan penuh penekanan. Ia menatap Alvin, "Bantu Kiv masuk ke dalam mobil."
"Siap, Tuan," sahut Alvin segera.
...To be continued .......
Nangis aja Xavier, lagian aneh2 aja Syaheera malah ditinggal di vill. Keadaan lg genting jg ah. Ngomel kan jdinya 😂🤣
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..