Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi
🦋
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Dan perubahan dalam diri Nadira mulai terlihat begitu jelas—setidaknya bagi orang-orang yang benar-benar memperhatikan. Sayangnya… tidak ada yang benar-benar melakukan hal itu.
Kakek Wiratama tetap bersikap biasa saja. Kadang dingin. Kadang pura-pura tidak melihat. Kadang hanya mengangguk ketika Fero atau Erwin memamerkan hal-hal sepele.
Tetapi ketika giliran Nadira menunjukkan sesuatu… kakek hanya menjawab dengan kata yang paling mematikan di dunia ini:
"Lumayan."
Dan itu cukup untuk merobek hati seorang anak. Namun bukannya menyerah, Nadira justru terpacu lebih jauh lagi.
Ada sesuatu yang tumbuh di dalam dirinya—sesuatu yang bukan lagi sekadar keinginan. Bukan hanya ambisi. Tapi obsesi yang melekat ke tulang.
Sudah tiga bulan sejak kenaikan kelas. Dan sejak itu pula, Nadira seperti tidak kenal istirahat.
Bangun sebelum ayam berkokok. Belajar sebelum sarapan. Belajar sepulang sekolah. Belajar setelah beres-beres dan memasak. Belajar lagi setelah mandi sore. Belajar sampai jam dua pagi, kadang lebih.
Kakek tidak pernah memuji—tapi Nadira selalu memastikan buku-bukunya terbuka di meja ruang tengah saat kakek lewat.
Kadang Fero mengejek, "Ih rajin banget, kayak nggak punya hidup."
Kadang Erwin menimpali, "Belajarnya lebay, Dir. Mau jadi juara umum se-Indonesia gitu?"
Tapi Nadira tidak peduli. Tidak peduli pada sindiran. Tidak peduli pada rasa lapar. Tidak peduli pada wajahnya yang semakin penuh jerawat.
Yang ia pedulikan hanya satu:
"Aku harus jadi nomor satu. Kakek harus liat aku."
***
Sekolah mengadakan banyak kegiatan untuk menambah nilai non-akademik: perkemahan, kegiatan Pramuka, LDK, bakti sosial.
Dan Nadira mengikuti semuanya.
Walaupun lelah. Walaupun kakinya lecet karena sepatu. Walaupun tubuhnya menggigil karena dinginnya malam. Walaupun ia satu-satunya cucu perempuan yang tidak pernah dijemput, sementara Fero dan Erwin sering pulang naik motor kakek.
Bahkan saat perkemahan terakhir, hujan deras mengguyur. Tenda bocor. Ransel Nadira basah. Ia menggigil sepanjang malam sambil menulis jurnal kegiatan di bawah cahaya senter redup.
Besok paginya, Izarra memarahi Nadira setengah mati.
"Dira, kamu beneran mau mati cuma buat nilai plus?!"
Nadira hanya tersenyum, tipis dan capek. "Aku harus dapat poin. Aku harus jadi nomor satu, Zarra."
Izarra mengusap wajahnya frustasi. "Kakek kamu nggak bakal tiba-tiba sayang cuma gara-gara kamu dapat piagam. Kamu sadar nggak sih?"
Nadira menatap tanah. Diam. Tidak menjawab.
Karena dalam hati kecilnya, ada suara yang berbisik:
"Kalau bukan lewat prestasi, lalu lewat apa lagi?"
***
Beberapa minggu setelahnya, sekolah mengadakan seleksi lomba LCC (Lomba Cerdas Cermat). Wali kelas 8A menunjuk tiga siswa untuk mewakili sekolah.
Dan salah satunya adalah Nadira.
Hari lomba tiba. Aula besar penuh dengan peserta dari berbagai sekolah. Lampu-lampu terang dipasang. Sorak-sorai memenuhi ruangan.
Nadira duduk gugup, memegang kertas kecil berisi catatan hafalannya.
Keenan duduk di belakang dan menepuk bahunya pelan. "Jangan tegang, Nadira. Kamu pasti bisa."
Nadira tersenyum kaku. "Semoga aja gitu."
Begitu lomba dimulai, Nadira langsung berubah. Wajahnya tajam. Fokusnya penuh. Jawabannya cepat.
Seolah semua begadang, semua malam tanpa tidur, semua ambisi yang ia bakar dalam diam… keluar semua di panggung itu.
Dan ketika pengumuman pemenang diumumkan:
"Juara tiga… SMP Swasta DAMARA!"
Semua riuh. Teman-teman memeluknya. Guru-guru bersorak bangga. Nadira bisa melihat wajah Keenan yang ikut tepuk tangan, seakan bangga padanya.
Dan ketika piala itu diserahkan ke tangannya… Nadira gemetar. Bukan karena senang. Tapi karena membayangkan:
"Kakek pasti bangga. Pasti bangga… kan?"
***
Sore itu, Nadira pulang dengan langkah ringan. Hampir berlari. Piala dibungkus kain agar tidak jatuh. Piagam dimasukkan di map plastik biru.
Saat masuk halaman, ia langsung memanggil.
"Kek! Kek lihat! Nadira dapat—"
Suara itu terhenti.
Kakek Wiratama sedang duduk di teras, menonton Fero bermain handphone yang baru ia beli satu minggu lalu. Erwin duduk di dekatnya sambil membuka tas snack yang dibelikan kakek.
Kakek menoleh sekilas. "Hah? Ada apa?"
Nadira mengulurkan piala itu. "Tadi di sekolah diadakan lomba LCC, Kek. Nadira… juara tiga."
Kakek mendekatkan muka. Melihat piala itu. Menatap piagamnya.
Lalu ia berkata "Oh. Ya syukur. Taruh di lemari belakang ya."
Tanpa senyum. Tanpa bangga. Tanpa tepukan tangan. Tanpa memanggil orang lain untuk melihat prestasi cucunya.
Fero malah menyengir sinis. "Juara tiga? Halah, paling gampang itu mah."
Erwin ikut menimpali. "Ya iyalah. Sekolah swasta."
Nadira mematung. Tangannya gemetar. Dunia yang tadi terasa besar… tiba-tiba mengecil. Menghimpit. Menyempit di sekitar dadanya.
Ia tidak menangis. Tidak boleh menangis. Ia menelan ludah.
"Baik, Kek," jawabnya lirih.
Ia memutar badan. Masuk ke rumah. Membuka lemari tua di belakang dapur.
Dan ia meletakkan piala pertamanya di sana... di tempat gelap, pengap, dan penuh debu.
Bukan di ruang tamu. Bukan di lemari pajangan. Bukan di tempat orang-orang yang dapat melihatnya dengan mudah.
Hanya di sana. Tempat yang sama seperti nilai dirinya di mata kakek: Tidak dianggap.
***
Malam itu, Nadira diam-diam menelpon ibunya dari kamar mandi, satu-satunya tempat ia bisa bicara tanpa dicuri dengar.
"Bu, Nadira menang lomba," ucapnya pelan.
Suara ibunya terdengar gemas dan bangga. "Aduh anak ibu pinter banget! Ibu bangga. Ayah juga pasti bangga, nanti ibu kasih tau ayah dan mas Arzan!"
Nadira hampir menangis hanya hampir.
Tapi suara kakek yang memanggil Fero dari luar membuatnya ingat realita.
"Apa kakek kamu liat?"
"…Iya Bu."
"Terus?"
Nadira menggigit bibirnya. "Bilangnya cuma syukur."
Ibunya terdiam. Lalu menghela napas panjang.
"Bertahan ya, Nak. Nanti Ibu jemput kalau tugas Ayah udah selesai."
Nadira mengangguk walaupun ibunya tidak bisa melihat.
"Iya Bu…"
Ketika telepon ditutup, Nadira berdiri lama di depan cermin retak di kamar mandi.
Matanya merah. Pipinya tirus. Jerawatnya makin banyak.
Ia mengusap wajahnya. Seolah ingin menghapus lelah yang bertahun-tahun menempel.
Lalu ia berkata pada dirinya sendiri:
"Oke. Kalau juara tiga aja nggak cukup… aku harus jadi lebih baik lagi."
***
Dalam dua bulan berikutnya, Nadira mengikuti berbagai lomba kecil:
– lomba membaca puisi
– lomba menulis cerpen
– lomba menari
– lomba kebersihan kelas
– lomba cerdas tangkas
– kegiatan pramuka intensif
– sampai lomba poster
Ia pulang membawa banyak piagam.
Guru-guru mulai mengenali namanya.
Bahkan kepala sekolah memuji di depan guru lain.
"Anak ini tekunnya luar biasa," katanya bangga.
Beberapa guru mulai berkata, "Kamu bisa masuk sekolah favorit nanti, Dira!"
Teman-temannya pun iri campur kagum.
Dan Keenan?
Ia selalu menatap Nadira dengan campuran kagum dan heran.
"Dira, kamu tuh manusia atau robot sih?" tanyanya suatu hari.
Nadira terkekeh kecil. "Robot nggak bakal tumbuh jerawat segini banyak."
Keenan menatap wajahnya lama. Sangat lama.
Sampai Nadira merasa risih.
"Kamu ngapain?"
"Bukan apa-apa… cuma… kamu kelihatan capek banget. Serius."
Nadira menghindar, pura-pura merapikan buku. "Capek nggak apa-apa. Yang penting nilai ku semakin naik."
Keenan mendecak pelan. "Yang kamu kejar tuh nilai atau pengakuan?"
Pertanyaan itu menghantam dadanya. Tapi Nadira hanya menjawab "Keduanya."
Lama-kelamaan, Nadira tidak lagi mengikuti lomba karena ingin berkembang.
Ia mengikutinya karena butuh bukti. Butuh angka. Butuh medali. Butuh piagam. Dan butuh pengakuan.
Tapi setiap kali pulang dengan pencapaian baru… kakek selalu memberi respons yang sama:
"Oh."
"Ya bagus."
"Syukur."
"Taruh saja di belakang."
Piala dan piagam menumpuk di lemari gelap itu.
Piagam yang harusnya jadi kebanggaan. Piala yang harusnya dipajang. Prestasi yang harusnya jadi cerita.
Tapi semua hanya menjadi saksi bisu dari perjuangan seorang anak yang tidak pernah dianggap cukup.
Di sekolah, ia dipuja. Di lomba, ia disanjung. Di setiap kegiatan, ia dijadikan contoh.
Namun di rumah… Ia hanyalah bayangan. Dan semakin hari, Nadira makin tenggelam dalam ambisinya sendiri.
Tidur tinggal dua jam. Makan seadanya. Belajar sampai gemetar. Kegiatan penuh dari pagi sampai malam.
Tubuhnya mulai goyah. Rambutnya rontok. Kantung matanya menghitam. Jerawatnya makin menyebar.
Tapi ketika melihat Fero dipuji karena hal sepele… Dan melihat Erwin dibanggakan karena sekolah di SMP negeri…
Dada Nadira terasa terbakar. Lalu muncul satu kalimat yang terus berputar dalam kepalanya:
"Aku harus jadi nomor satu.
Aku harus jadi alasan Kakek bangga.
Harus."
Ia tidak sadar… Bahwa perlahan-lahan, dirinya berubah menjadi mesin. Yang makan ambisi. Hidup dari validasi. Dan bernyawa dari luka batin masa kecil.
Dan bab ini berakhir di satu titik menyakitkan:
Nadira berdiri di depan lemari gelap itu. Memandang piala-pialanya yang berdebu. Ia tersenyum kecil, hambar. Lalu bergumam:
"Lihat, Kek… aku sudah sejauh ini."
Tapi lemari tidak menjawab. Dan rumah itu tetap sunyi.
Seperti biasanya.