NovelToon NovelToon
Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO Amnesia / Bertani / Romansa pedesaan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.

Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.

Namun Wijaya bukan lelaki biasa.

Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.

Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Pemulihan

Sudah hari keempat sejak Krisna sadar.

Buket-buket bunga berganti, dokter datang-pergi, berita tentang “Krisna Kusuma kembali” sudah menyebar ke kalangan bisnis dan media. Namun di sela semua keramaian itu, ada satu hal yang tak pernah benar-benar dipikirkan siapa pun.

Hingga pagi itu.

Ana sedang melipatkan selimut di kaki ranjang Krisna ketika sesuatu menohok dadanya begitu saja — seperti benang yang tiba-tiba ditarik kencang.

Ia menoleh pada Ardian.

“Yan,” ujarnya pelan, “Lia ke mana?”

Ardian terdiam sesaat. “Lia?”

Ana mengangguk. “Gadis yang merawat Krisna di desa. Yang meneleponku malam itu. Yang ikut ke rumah sakit. Yang… selalu duduk di kursi dekat jendela.”

Ardian mengerutkan dahi. Ia mencoba mengingat, lalu baru menyadari betapa ingatan itu kosong.

Mereka berdua saling pandang.

“Sejak Krisna sadar…” bisik Ana, “kita tidak pernah melihatnya lagi.”

Tak ada jejak. Tak ada kabar. Tak ada nama lengkap yang sempat mereka tanyakan.

Hening panjang jatuh.

Ana tiba-tiba merasa sangat bersalah.

“Dia pergi begitu saja,” suaranya bergetar. “Berhari-hari kita di sini, sibuk dengan dokter, laporan, rapat keluarga… tapi tidak satu pun dari kita bertanya ke mana dia pulang. Padahal…”

Padahal dialah yang merawat Krisna saat semua orang menyerah.

Padahal dialah yang pertama menemukan, menjaga, dan menangis paling diam.

Ana menutup mulutnya. “Tuhan… anak itu pulang sendiri. Tanpa uang, tanpa keluarga di sini… dan tanpa satu pun dari kita menahannya.”

Ardian menarik napas panjang, wajahnya mengeras — bukan marah pada orang lain, tetapi pada dirinya sendiri.

“Aku akan minta Natan melacaknya,” katanya pelan.

Ana menggeleng lemah. “Untuk apa sekarang, Yan? Dia sudah memilih pergi. Dan kita… terlambat menyadarinya.”

Mata Ana memanas.

Bukan hanya karena Krisna kehilangan sebagian ingatan, tetapi karena mereka sendiri, tanpa sadar, telah membiarkan seorang gadis yang diam-diam mengorbankan seluruh hidupnya, menghilang dari sisi mereka seolah ia tak pernah ada.

.

Krisna duduk bersandar di ranjang rumah sakit, selang infus masih menempel di tangannya. Setiap kali ia membuka mata, dunia terasa asing setengah, akrab setengah.

Ana mengulurkan sendok bubur. “Pelan-pelan, Nak,” suaranya lembut, tapi matanya sembab karena kurang tidur.

Krisna menurut. Namun di tengah kunyahan, ia tiba-tiba berhenti. Ada potongan bayangan dalam kepalanya.

Sawah. Hujan. Seseorang tertawa. Sebuah suara perempuan memanggil namanya.

Namun wajah itu kabur… selalu kabur.

Krisna memijat pelipisnya.

Ana langsung panik.

“Masih pusing? Sakit di kepalanya?”

Krisna menggeleng pelan.

“Aku… merasa seperti melupakan sesuatu.”

Ana tersenyum, senyum terlatih seorang ibu yang berusaha kuat.

“Dokter bilang itu normal. Jangan dipaksa ingat.”

Bubur di mangkuk putih itu sudah hampir habis. Uapnya masih tipis, aroma kaldu ayam samar-samar mengambang di udara kamar rawat. Ana dengan telaten meniup sendok terakhir sebelum menyuapkannya ke mulut Krisna.

“Pelan-pelan, Nak,” ucapnya lembut.

Krisna mengangguk kecil. Gerakannya hati-hati, seperti orang yang baru belajar merasakan tubuhnya lagi. Di lehernya masih tergantung identitas pasien, dan bekas infus meninggalkan titik merah di kulit lengan.

Ardian memperhatikan mereka, tangan bertaut, ekspresi tenang namun sorot matanya penuh perhitungan. Ada lega karena anaknya sadar, ada cemas karena masa depan masih kabur.

Ana menurunkan mangkuk kosong ke nakas. “Sudah cukup. Nanti siang baru makan lagi.”

Ketukan pelan terdengar di pintu.

Seorang perawat muda masuk, tersenyum sopan. “Bu, Pak… pasien atas nama Krisna Kusuma dijadwalkan konsultasi dengan dokter rehabilitasi dan psikolog klinis pagi ini.”

Ana refleks meremas tangan putranya.

“Kris, kuat jalan?” suaranya pelan, seolah takut melukai.

Krisna mencoba tersenyum. “Aku… bisa. Jangan khawatir terus begitu, Ma.”

Namun ketika ia menurunkan kakinya dari ranjang, ada jeda, rasa ringan di kepala, dunia sedikit berputar. Perawat sigap mendorong kursi roda ke dekat kaki ranjang.

“Kita pakai kursi dulu, ya, Mas. Biar tidak memaksa,” ujarnya ramah.

Krisna tidak membantah. Ia duduk perlahan, Ana mengatur letak selimut di pangkuannya seakan takut anaknya kedinginan hanya karena angin.

Lorong rumah sakit menyambut mereka dengan bau antiseptik dan langkah-langkah tergesa orang asing. Lampu neon putih membuat semuanya terasa terlalu jelas, terlalu nyata. Roda kursi berdecit halus, mengikuti dorongan perawat.

Krisna diam.

Bukan karena tak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena kepalanya terasa seperti ruangan luas yang lampunya belum semua menyala. Ada bagian terang, masa kecilnya, rumah besar, suara Papa yang tegas, tawa Mama. Ada bagian redup — wajah samar seorang perempuan… yang setiap kali hampir jelas, kabut menariknya kembali.

“Kamu tidak pusing?” tanya Ardian sambil berjalan di sampingnya.

“Sedikit,” jawab Krisna jujur. “Tapi… bukan badan. Lebih ke… di sini.” Ia mengetuk pelan pelipisnya.

Ana dan Ardian saling pandang singkat.

Lift terbuka dengan bunyi ding. Mereka masuk. Cermin besar di dalam lift memantulkan sosok Krisna — pucat, kurus, tapi hidup. Ia menatap pantulan itu lama, seolah melihat orang asing yang mengenakan wajahnya.

“Ruang konsultasi sudah dekat,” kata perawat ketika mereka keluar di lantai berikutnya.

Di depan pintu bertuliskan Konsultasi Psikologi & Rehabilitasi Kognitif, langkah mereka otomatis melambat.

 Ada perasaan aneh menyelinap — seperti hendak membuka buku lama yang halaman-halamannya mungkin tidak ingin ia baca.

Perawat mengetuk pintu.

“Silakan masuk,” terdengar suara lembut dari dalam.

Krisna menarik napas pelan.

Ana menyentuh bahu anaknya. “Apa pun yang kamu ingat… atau belum ingat… kamu tetap anak Mama.”

Krisna mengangguk.

Tapi jauh di dalam dirinya, ia tahu — hari itu mungkin hari di mana ia akan mengetahui berapa banyak yang hilang… dan siapa saja yang tak lagi sanggup ia ingat.

.

Koridor VIP rumah sakit itu sepi. Bau disinfektan menusuk hidung, lampu putih terasa terlalu terang untuk pagi yang masih lelah.

Ana duduk di bangku panjang, kedua tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ardian berdiri tak jauh darinya, menatap lantai yang mengilap tanpa benar-benar melihat pantulannya.

Pintu ruang konsultasi terbuka. Dokter keluar tadi, membicarakan istilah yang masih bergema di telinga mereka: amnesia parsial, stres harus dihindari, memori baru tidak stabil.

Pintu menutup lagi. Hening jatuh.

“Aku… merasa jahat,” bisiknya. “Gadis itu merawat Krisna selama berbulan-bulan. Menjaganya saat kita bahkan tidak tahu dia masih hidup. Tapi begitu Krisna sadar… seakan-akan dia tak pernah ada.”

Ardian mengusap wajahnya. “Ana, dengar.” Suaranya pelan tapi tegas. “Kondisi Krisna belum stabil. Dokter bilang, jangan dulu diberi informasi berat. Jangan memaksa dia mengingat hal yang otaknya tolak.”

Ia menoleh, menatap istrinya. “Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ia menghilang. Kita harus hati-hati.”

Ana menggigit bibirnya. “Tapi apa adil… untuk gadis itu?”

Pertanyaan itu menggantung.

Bukan tentang hukum. Tentang hati.

1
Kam1la
nggak janji yah......
Erna Wati
smga smuanya CPT trbongkar . smga Riri gk jdi nikah sama Krisna Riri sama Kevin aja
Eka Yuniar
semngat thor💪
Eka Yuniar
semangat up nya Thor yg banyak ya💪🤭
Kam1la: ok siap ! yang penting dukungannya ya Kak ... 😄😍
total 1 replies
Eka Yuniar
semangat kak up nya💪
Eka Yuniar
ditunggu up nya kak💪
Kam1la
ok, Siap ...!!
Eka Yuniar
cepet up kak eps selanjutnya 🙏😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!