NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuduhan

#6 New

“Ay-Ayu, dengar Abang dulu,” kata Restu mencoba membujuk dan menenangkan istrinya, mulai sadar bahwa sikap dan perbuatannya memang salah.

“Apalagi yang harus kudengar dari perkataan suami macam Abang?! Sementara Abang sendiri tak bisa menjaga kesucian diri Abang.” Ayu kembali menaikkan nada suaranya, dadanya kembang kempis karena hembusan nafasnya berlomba dengan irama denyut jantungnya.

“Selama menjadi istrimu, aku selalu patuh pada mamak kau, Bang, aku tak pernah membantah ucapan beliau yang menjadi surga bagi Abang, aku tunjukkan baktiku pada Abang, aku ikhlas berapapun jumlah nafkah yang kau berikan. Tapi, bicara jujur padaku saja Abang tak bisa, hingga berbuat zina dengan wanita yang bukan istri Abang!” jerit Ayu, nada suaranya pun yang semakin tinggi.

Restu mundur beberapa langkah ke belakang, jerit suara Ayu sejenak mengembalikan kesadarannya, “Apa susahnya Abang bilang padaku, aku akan pergi dari hidupmu, bila memang kau tak menghendaki diriku lagi, Bang. Tapi ini— ini terlalu menyakitkan, jika sedari awal Abang bicara jujur, tentu tak akan sesakit ini rasanya.” 

Restu tiba-tiba berlutut sambil memeluk kedua kaki istrinya, “Ayu, maafkan Abang, Abang khilaf, Abang berdosa padamu dan anak kita.”

“Abang tega padaku, Abang jahat! Abang tak sayang anak kita, padahal Abang yang paling menantikan kehadiran anak ini,” isak Ayu, ia tak lagi memperdulikan kalung di genggaman Anjani, karena pengkhianatan Restu lebih menyakitkan dibanding sakit karena kehilangan benda pemberian Mamaknya. 

“Tidak, itu tak benar, aku menyayangimu dan anak kita. Aku khilaf, dan aku janji akan berubah, bila Kau mau memaafkan Abang,” mohon Restu. 

Ucapan maaf Restu membuat dada Anjani memanas, kepalanya kembali mengatur siasat jahat untuk menghalangi pasutri tersebut berbaikan. 

Lalu tiba-tiba, “Bang Restu! Bila abang tetap. Kembali padanya, biar aku dan anak kita yang pergi!” ancam Jani, dengan sebilah pisau yang kini berada di dekat nadi lehernya. 

Restu terbelalak, lantas berdiri dengan maksud mencegah perbuatan nekat Anjani. “Jani! Jangan nekat kau!”

“Apalagi yang aku harapkan, Bang. Ternyata Abang lebih cinta Ayu dibanding aku.” 

Restu menggenggam tangan Anjani yang masih erat menggenggam pisau, salah sedikit saja leher wanita itu akan teriris karena kecerobohannya. “Kita akan cari solusi nanti.”

“Solusi? Perut ini akan semakin besar, Bang! Mereka akan memberi julukan anakmu sebagai anak haram,” raung Anjani. 

Ayu mendengar semuanya dengan perasaan campur aduk, kesal, benci, marah, tapi tak berdaya karena keadaan. 

“Lepaskan, Bang! Lebih baik aku mati sekarang, daripada menanggung aib di masa mendatang.” 

“Kamu gila! Istighfar, Jani! Istighfar!” Restu terus membujuk Jani, bahkan tarik menarik senjata tajam sepanjang 25 centi itu berlangsung alot karena keduanya sama-sama tak mau mengalah. 

Jani tak mau dikalahkan oleh Ayu, dan Restu berusaha mencegah sang mantan kekasih mengakhiri hidupnya. 

Para tetangga berdatangan, namun hanya di pagar depan tak sampai mengintip ke dalam ruangan yang tertutup rapat pintu dan jendelanya. 

Ayu berdiri gemetaran, mengeratkan genggaman tangannya sambil terus beristighfar, semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi. 

Tapi ternyata—

Sreet! 

Jani berhasil melukai lengannya, Restu menarik pisau sekuat tenaga namun Anjani masih berusaha mempertahankan benda itu, entah apa tujuannya. Lama kelamaan, Anjani kalah tenaga, ditambah lengannya yang terluka semakin berkurang pula tenaganya. 

Akhirnya—

Brug! 

Jleb! 

Perebutan benda tajam itu berakhir ketika untuk terakhir kalinya Restu menarik dengan kuat pisau di tangan Anjani. Naasnya, tubuh Anjani ikut maju mendorong tubuh Restu yang sempoyongan, hingga pisau itu pun berakhir menancap di perut Restu. 

“Akh!” 

Tubuh Restu ambruk persis di dekat kaki Ayu, wanita itu terbelalak, belum percaya dengan apa yang ia lihat. 

Anjani bangun perlahan, tangannya gemetaran, karena tak menyangka bila perbuatan isengnya berujung petaka sungguhan. 

“Abang!” jerit Ayu kala melihat darah merembes perlahan dari perut Restu, “Tolong! Tolong!” 

Ayu menjerit bermaksud meminta tolong pada siapa saja yang mendengar suaranya. 

Mendengar teriakan Ayu, Anjani pun panik, masih dalam posisi duduk ia mundur cepat, menatap nanar kedua tangannya yang masih bergetar. 

Sementara Ayu, menangis sesenggukan, “Bertahanlah, Bang! Aku akan cari bantuan,” ucap Ayu yang menangis sesenggukan, sesekali ia memegang tangkai pisau dengan tangannya yang bersimbah darah milik suaminya. Ragu, apakah harus dicabut atau dibiarkan saja. 

Namun, Restu menghalanginya, “M-ma-af-kan, A-a-ba-ng,” ucap Restu terbata, Di sisa ujung nafasnya restu menatap wajah sedih istri yang sedang menangisinya. 

Sesalnya terlambat, kebahagiaan menimang anak kebanggaan tak akan bisa ia lakukan, karena semua telah sirna bersama kebodohan serta kecerobohannya menentukan pilihan. 

Dengan sisa tenaganya, Restu mengusap pipi Ayu, nafasnya mulai tersengal, lalu tangannya jatuh ke lantai bersama dengan tarikan nafas terakhirnya. 

“Abang! Bang Restu!” raung Ayu, sejalan dengan tangisnya yang semakin pilu. 

Anjani semakin panik, hingga ia mengambil langkah seribu, tapi ketika membuka pintu, tatapan para tetangga menghunus seolah menghakiminya. 

“Bukan aku, tapi dia pembunuhnya!” 

Pada awalnya Ayu tak menghiraukan ucapan Anjani, karena Ayu pikir tak mungkin. Ia menjadi tertuduh, tapi kepolosan Ayu menjadi boomerang baginya. 

Pisau itu sehari-hari dipakai olehnya, mengupas buah, menyiangi sayuran, atau apa saja. Kini bertambah parah karena sidik jarinya berada di pisau tersebut, setelah benda tajam itu menusuk tubuh suaminya hingga tak bernyawa. 

Tak ada saksi, dan satu-satunya barang bukti membuat Ayu berada di posisi terjepit. 

“T-ta-di mereka bertengkar, lalu Ayu mengamuk, mengayunkan pisau kesana kemari, hingga aku pun terluka,” ucap Anjani membumbui kebohongannya dengan kebohongan lainnya. 

Dengan luka di lengannya, hingga tangis palsu penuh sandiwara, serta rambut dan wajah yang berantakan. Wanita itu berhasil mempengaruhi para tetangga, memutar balikkan fakta seolah benar Ayu adalah tersangkanya. 

“Bohong!” tampik Ayu tak terima dengan semua kalimat palsu penuh sandiwara tersebut. 

“Aku tidak melakukan apa-apa! Wanita itulah pelakunya, dia— dia—” Ayu kebingungan menyusun kalimatnya, ia masih terkejut dengan situasinya saat ini, hingga tak tahu harus berkata apa, dan mulai darimana. 

“Tuh, apa kubilang, dia tak bisa bicara, bukan. Pasti takut, perbuatan jahatnya terbongkar. 

Karena ucapan Anjani, bara itu bukan meredup, melainkan bertambah panas dan terus menyalakan kobaran api kemarahan. 

Ayu yang tengah bersimpuh di depan tubuh suaminya, dipaksa berdiri, lalu menjauh dari jasad Restu yang telah terbujur kaku. 

“Sebaiknya, nanti jelaskan saja di depan polisi.” Salah seorang tetua yang tinggal di dekat rumah Ayu dan Restu pun menengahi. Karna para warga mulai menghakimi Ayu dengan prasangka mereka masing-masing. 

Tak ada yang tahu jeritan di hati Ayu, yang jelas tangis kesedihannya hanya dianggap kamuflase semata. Dalam sekejap saja, wanita lemah lembut dan ramah itu menjadi tersangka utama pembunuhan Restu Singgih, suaminya sendiri. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!