NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Daren baru saja selesai mandi ketika suara ketukan terdengar dari depan pintu kamar nya.

Tok… tok…

“Masuk,” katanya sambil mengeringkan rambut.

Pintu terbuka, dan muncul sosok pria muda dengan kemeja rapi, rambut hitam klimis, dan wajah yang selalu tampak siap menghadapi krisis apa pun.

Rayhan.

Asisten pribadi yang sudah bersamanya hampir lima tahun.

“Pak Daren—akhirnya Anda balik juga,” sambut Rayhan, setengah lega, setengah kesal.

Daren menatapnya. “Kok kayaknya kamu yang lebih panik dari Mama.”

“Pak, HP Anda mati tiga hari. Tiga. Hari. Tiba-tiba Anda nelpon jam dua pagi bilang ‘Ray, siapin orang, kita sikat laki-laki hidung belang ini’. Lalu setelah itu Anda hilang lagi, nggak ada kabar!” Rayhan menghela napas panjang. “Saya nggak tau lagi harus percaya sama siapa.”

Daren duduk, mengusap wajah. “Iya, iya. Maaf.”

Rayhan mengaduk udara dengan tangannya. “Saya tanya satu hal dulu.

Setelah saya sekap laki-laki hidung belang itu… apa yang terjadi sama Anda?”

Daren terdiam.

Rayhan menyipitkan mata. “Pak?”

Daren memalingkan wajah. “Kamu yakin mau denger?”

Rayhan menegakkan badan. “Pak Daren, saya sudah lihat banyak hal. Anda mabuk di Jepang, Anda hampir masuk berita di Dubai, Anda ditinggal pramugari selingkuh dengan pilot… apalagi coba yang lebih parah?”

“…Ray.”

Daren mengembuskan napas berat.

“Aku… tidur sama gadis yang mau dijual itu.”

Rayhan langsung membeku.

“…Maaf pak, apa saya harus duduk dulu?”

“Duduk aja.”

Rayhan duduk pelan-pelan, seperti khawatir kursinya meledak. “Anda serius… tidur sama korban?”

Daren memejamkan mata. “Iya.”

“Dalam keadaan mabuk?”

“Yah… setengah sadar.”

Rayhan menutup wajah dengan kedua tangan. “Pak… Pak… saya nggak yakin ini bisa saya lapor ke akal sehat saya.”

Daren menatapnya tajam. “Dia sadar, Ray. Dan aku nggak nyentuh dia sampai dia sendiri narik aku. Dia bilang dia takut kalau kabur malam itu, mereka bakal bawa ‘pembeli’ lain. Aku… cuma menyelamatkan dia.”

Rayhan diam. Jelas masih berusaha mencerna.

Daren melanjutkan dengan suara rendah, “Tapi paginya… dia bangun. Dia marah. Dia bilang aku harus tanggung jawab. Dia minta aku menikahi dia.”

Rayhan langsung berdiri. “HaH?!”

“Tadi kan sudah aku bilang: duduk aja,” balas Daren malas.

Rayhan jatuh duduk lagi. “Nikah? Sama korban? Pak, itu plot film bukan kehidupan nyata.”

“Nyatanya aku udah nikah, Ray.”

Rayhan menggigit bibir bawah, shock level maksimal. “Oke… mungkin saya harus keluar sebentar buat teriak.”

“Jangan,” potong Daren cepat. “kamar ini kedap suara, jadi tidak kalau pun kamu teriak gak akan ada yang mendengar nya hanya aku aja yang denger.”

Rayhan menghela napas panjang. “Oke. Oke. Saya tenang. Cuma… bisa tolong jelasin dari awal? Saya harus catat ini nggak?”

“Jangan kamu catat. Aku nggak mau ada jejak dokumen apa pun,” jawab Daren tegas.

Rayhan mengangguk. “Baik. Silakan jelaskan.”

Daren menyandarkan tubuh. “Gadis itu… Nirmala. Dia dibawa ibu tiri dan saudara tirinya. Mereka mau jual dia. Aku ngikutin. Kamu datang menangkap Roy. Aku masuk gantiin. Setelah itu aku bawa Nirmala pergi.”

Rayhan mengangguk pelan. “Oke. Sampai situ saya paham.”

“Tapi… semuanya makin rumit ketika aku sadar ibu tiri dia itu manipulatif. Nirmala tinggal di rumah yang penuh tekanan. Dia nggak punya siapa-siapa. Ayahnya lemah.

Akhirnya dia minta aku jadi tameng.”

Rayhan menyipitkan mata. “Tameng? Atau suami darurat?”

“Keduanya.”

Rayhan menghela napas panjang. “Dan Anda… setuju?”

“Dia nggak punya pilihan, Ray. Dan aku… bertanggung jawab atas yang terjadi.”

Rayhan memijat pelipis seperti kena migrain. “Pak, saya bukan psikolog keluarga, tapi… ini rumit banget…”

“Itu baru bagian pertama,” balas Daren.

“MASIH ADA BAGIAN SELANJUTNYA?!”

Daren mengangguk. “Ayahnya serahkan semua aset keluarga ke Nirmala.

Perkebunan teh, sawah, kebun sawit, tanah.”

Rayhan langsung melebarkan mata.

“Sebentar. Itu besar banget, pak.”

“Iya.”

“Dan Anda baru nikah beberapa hari?!”

“Hmm.”

Rayhan menatapnya lama-lama. “…Pak Daren, mohon maaf sebelumnya. Anda itu magnet masalah atau apa?”

Daren menutup muka dengan tangan. “Aku juga bingung.”

Beberapa saat ruangan hening.

Lalu Rayhan tersadar sesuatu.

“Pak… ngomong-ngomong, Roy yang saya sekap itu… sekarang gimana?”

Daren menoleh cepat. “Nah itu. Aku mau nanya. Kamu bawa dia ke mana?”

Rayhan garuk-garuk kepala. “Saya… ehm… buang ke hutan.”

Daren berdiri. “APA?”

“Tapi hutan kecil! Nggak jauh! Dan dia masih hidup! Saya cuma ikat di pohon biar nggak kabur. Biar kapok.”

“Rayhan…” Daren memandangnya seperti memandang masalah baru. “…kamu tau dia bisa lapor polisi?”

Rayhan cengengesan lemah. “Bisa sih, tapi… dia cowok hidung belang. Mau ngaku apa? ‘Saya mau beli cewek di hotel, terus disekap asisten orang’? Siapa yang bakal percaya?”

Daren tidak bisa menyangkal itu.

Rayhan melanjutkan, “Lagian, Pak, kalau Anda nggak bilang apa-apa tadi, saya kira Anda cuma mabuk dan tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan. Ternyata Anda malah keluar dari hotel bawa istri baru.”

“Jangan bilang keras-keras!” tegur Daren panik.

Rayhan mengangkat tangan. “Tenang, saya orang paling bisa simpan rahasia di rumah ini. Tapi… Anda mau lanjut gimana?”

Daren menghela napas panjang. “Aku harus balik ke kota kecil itu. Aku harus bawa Nirmala ketemu Mama.”

Rayhan spontan memegangi dada. “Pak… persiapan jiwa dulu.”

“Aku tau.”

“Kalau Mama tau kamu nikah tanpa izin dia… tanpa pesta… tanpa restu keluarga… tanpa cincin mahal… tanpa tunangan… dan tanpa dia pilihkan calon…”

“Aku tau, Ray. Tolong jangan ulangi.”

Rayhan menarik kursi lebih dekat dan duduk menghadap Daren.

“Pak. Jujur.”

Ia menatap Daren serius.

“Ini pertama kalinya saya lihat Anda begini.”

“Begini gimana?”

“Kayak… Anda tahu apa yang Anda mau.

Biasanya Anda ngambang, bingung, atau menghindar dari masalah perempuan. Tapi sekarang…”

Rayhan tersenyum kecil. “Kayak Anda siap berantem demi perempuan itu.”

Daren terdiam.

Ia memikirkan Nirmala.

Tatapan tegas gadis itu. Cara ia menahan air mata. Cara ia menantang ibu tirinya. Cara ia meminta tolong tapi tetap mempertahankan harga dirinya.

“Ya,” jawab Daren pelan.

“Untuk pertama kalinya… mungkin aku memang siap.”

Rayhan berdiri sambil mengambil map kerja. “Baiklah. Kalau begitu, kapan kita balik ke kota kecil itu?”

“Secepatnya.”

“Dan Roy?”

“Biar dulu. Dia pasti sibuk mikirin cara pulang dari hutan.”

Rayhan mengangguk. “Baik, pak. Saya siap kapan pun.”

Daren tersenyum miring.

“Terima kasih, Ray.”

Rayhan saling mengangguk sambil berjalan keluar.

Begitu pintu tertutup, ia bergumam kecil,

“Ya Tuhan… bos saya nikah mendadak. Ini bakal panjang.”

Assalamualaikum selamat siang

Jangan lupa like dan komen nya ya

selamat membaca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!