Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Xerra hanya diam sepanjang perjalanan.
Tatapannya kosong, menembus kaca jendela. Tangannya memeluk koper kecil di pangkuan, seolah itu satu-satunya pelindung yang tersisa untuknya.
Evans melirik beberapa kali tanpa suara.
Dia tahu Xerra sedang tidak baik-baik saja.
Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu hari diusir, dikhianati,dan kehilangan rumah.
Saat mobil melewati sebuah supermarket 24 jam, Evans tiba-tiba menginjak rem pelan.
Tanpa berkata apa pun, ia turun dan masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa tiga kantong besar penuh makanan.
Bukan sekadar makanan…
Roti hangat yang masih mengeluarkan uap
Susu kotak aneka rasa
Ayam goreng panas
Cola dingin
Dan sekotak penuh permen warna-warni
Semua itu diletakkan Evans di pangkuan Xerra begitu saja.
Seolah berkata“Makanlah. Kau aman sekarang.”
Xerra menatap bingung… lalu tersenyum kecil.
Tanpa sungkan, dia membuka satu roti, dan dalam hitungan detik
Pipi Xerra menggembung bulat.
Isi roti penuh mengganjal mulutnya, membuat Evans mendengus pelan.
Bukan tawa… tapi sesuatu yang lebih hangat—senyum tipis, hampir tidak terlihat.
Namun itu sudah cukup untuk membuat mobil mewah itu terasa sedikit lebih hidup.
Butuh 45 menit sampai akhirnya mobil memasuki sebuah kawasan berbukit.
Gerbang besi tinggi terbuka otomatis.
Sebuah mansion megah, berdiri kokoh di puncak bukit, dikelilingi pagar batu dan kebun luas tanpa satu pun rumah tetangga.
Sunyi.
Jauh dari keramaian.
Seperti dunia lain.
Xerra turun, menatap sekeliling dengan rasa tak percaya… dan sedikit takut.
Tempat ini terlalu besar. Terlalu sepi. Terlalu… berbeda.
“Tempat ini…” gumamnya pelan.
Evans tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat itu.
Ia mengulurkan tangan, menggenggam tangan Xerra tanpa bertanya.
Genggamannya hangat.
Tenang.
Berbeda dari tatapan mata dinginnya.
“Kau bisa tinggal di sini.”
“Selama yang kau mau.”
Koper Xerra sudah diambil oleh seorang pelayan yang membungkuk sopan.
Dua pelayan lain membuka pintu besar mansion itu lebar-lebar.
Xerra masih diam.
Bukan karena takut.
Tapi karena baru sadar
Ada seseorang yang menolongnya tanpa meminta apa pun sebagai balasan.
Evans berdiri di sampingnya…
Tidak memaksa.
Tidak bertanya.
Hanya menggenggam tangan Xerra dan menuntunnya masuk.
Seolah berkata,
“Mulai malam ini, kau tidak berjalan sendirian lagi.”
Begitu masuk ke ruang tengah mansion, Xerra berhenti.
Matanya langsung tertuju pada dua pria dewasa yang sedang bermain catur di ruang santai.
Pria pertama berrambut cokelat gelap, tubuh atletis, wajah serius.
Pria kedua berrambut pirang gelap, tampak lebih ceria, tapi tatapannya tajam seperti binatang liar.
Ben dan Gerry.
Mereka tampak begitu santai, namun keduanya memancarkan aura berbahaya terlalu tenang untuk warga biasa.
Xerra memperhatikan mereka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Bahkan ia berjalan mengitari meja catur, memiringkan wajah kiri dan kanan, sampai Ben dan Gerry saling melirik gelisah.
Xerra kemudian menunjuk mereka bergantian.
“Aku pernah lihat kalian…”
Ben tersentak.
Gerry refleks hampir menjatuhkan bidak catur.
Xerra menyipitkan mata, lebih serius, lalu mendekat sampai wajahnya hanya berjarak beberapa inci.
“Bukankah kalian mahasiswa kampusku?”
Ben membeku.
Gerry terpaku.
Keduanya langsung melirik Evans seperti anak kecil ketahuan mencuri cokelat.
Seolah berkata tanpa suara
“Bos… ini bukan sesuai rencana, kan?”
Evans hanya menyandarkan tubuhnya ke meja marmer dan mengangkat alis.
Nada suaranya santai, tapi mengandung jebakan.
“Apakah mereka sering muncul di kampusmu?”
Xerra mengangguk pelan sambil mengambil Roti isi cokelat.
Mulutnya masih penuh makanan, tapi tetap menjawab.
“Beberapa kali. Mereka suka jalan tanpa tujuan. Kadang duduk di taman, kadang pura-pura main HP...”
Xerra mengunyah lagi, lalu menambahkan polos
“Kupikir mereka sedang membuntuti seseorang.”
Ben "……"
Gerry "……"
Keduanya gemetar halus.
Evans menatap mereka dingin.
Tak ada senyum.
Tak ada ampun.
Cukup satu lirikan, dua pria mafia dewasa itu langsung menegakkan tubuh seperti tentara yang siap ditembak mati.
Xerra menatap mereka, lalu tiba-tiba tertawa pelan.
“Ternyata aku benar, ya?”
Ben dan Gerry langsung menunduk bukan karena malu.
Tapi karena Xerra baru saja menangkap mereka dengan cara yang lebih cerdik daripada dugaan mereka.
Evans menghela napas pelan.
“Kalau begitu… sepertinya kalian berdua sangat tidak pandai menyamar.”
Ben dan Gerry menunduk makin dalam.
Evans melanjutkan sambil menatap Xerra
“Mulai sekarang, mereka bukan lagi orang asing bagimu.”
“Mereka akan menjagamu.”
Kata-kata itu tidak keras.
Tapi maknanya lebih kuat daripada kontrak mafia.
Xerra hanya mengangguk pelan.
Lalu… kembali mengunyah Roti
Seolah semua itu bukan masalah besar.
Seolah dia sudah biasa hidup dikelilingi mafia.
Dan di belakangnya…
Ben dan Gerry hanya bisa menelan ludah, sadar satu hal
Gadis mungil bermata hazel itu jauh lebih berbahaya daripada yang mereka perkirakan.
*****
Xerra melangkah masuk ke kamar itu dengan gerakan pelan bahkan napasnya saja terasa tercekat.
Pintu tertutup di belakangnya.
Pelayan yang mendampinginya memberi salam kecil.
“Nona Xerra, ini kamar pribadi Anda. Tuan Evan mengatakan segalanya telah dipersiapkan khusus untuk Anda. Jika ada yang kurang, silakan panggil kami.”
Xerra hanya mengangguk kaku.
Pelayan kemudian pergi, meninggalkannya sendirian di ruangan yang begitu mewah.
Lampu gantung kristal menggantung anggun di langit-langit.
Ranjang king size dengan seprai satin putih bersih, terlihat seperti dari katalog hotel bintang tujuh.
Karpet bulu abu muda terasa lembut saat ia melangkah tanpa alas kaki.
Tapi yang membuatnya terdiam adalah walk in closet.
Pintunya transparan seperti kaca, dan ketika ia dorong perlahan
Deretan gaun kasual dan formal tersusun rapi menurut warna.
Puluhan atasan, celana, rok, jaket semuanya ukuran tubuhnya.
Rak khusus berisi tas mewah Dior, Chanel, Hermes, LV model terbaru, tidak satu pun bekas.
Baris sepatu high heels, sneaker branded, boots mahal.
Laci khusus jam tangan bukan satu, tapi BELASAN, semua limited edition.
“…ini… semua ukuran ku…” bisik Xerra lirih.
Ia memegang salah satu gaun putih sederhana.
Ukuran tepat.
Wangi baru.
Tag harga masih menempel.
Xerra menoleh, melihat meja rias.
Deretan skincare mewah lengkap Kr*** Dior, La Me**, Lanei**, hingga masker wajah premium.
Ada hairdryer, alat catok, parfum dengan segel belum terbuka.
Seolah-olah ruangan ini bukan kamar tamu.
Tapi kamar yang memang disiapkan untuk menjadi tempat tinggal tetapnya.
Xerra duduk di tepi ranjang.
Tangannya menggenggam seprai erat.
Kenapa Evans melakukan semua ini?
Padahal… ia hanya gadis biasa yang bahkan baru saja diusir dari rumah sendiri.
Air matanya menetes.
Bukan karena sedih.
Tapi karena kaget dan tidak mengerti.
Tidak ada satu pun orang yang pernah menyiapkan sesuatu untuknya…
Bahkan paman dan bibi nya yang notabene keluarganya sendiri.
Saat itulah
suara langkah sepatu berirama terdengar dari luar.
Pintu kamar diketuk dua kali.
Lalu suara dalam dan tenang itu terdengar…
“Xerra, boleh aku masuk?”
Evans.