Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Murid Sekte Iblis Langit
Han chuan menggenggam pedangnya dengan kuat, lalu dalam sekejap melesat ke arah kawanan iblis serigala dengan sangat cepat.
Pedangnya menebas udara, diikuti suara dentuman keras saat dua iblis pertama terbelah menjadi dua bagian. Darah hitam pekat menyembur dari tubuh mereka, menodai tanah dan pepohonan.
Namun kawanan lain langsung menerjang dari sisi kanan. Han Chuan memutar tubuhnya cepat, menangkis dengan bagian datar pedang, lalu menendang dada seekor iblis, membuatnya terlempar menabrak pohon besar hingga batangnya patah.
Tubuh Han Chuan terus bergerak lincah di antara kawanan iblis, setiap ayunan pedangnya meninggalkan jejak cahaya biru yang berkilat di udara.
Teriakan dan raungan iblis bercampur dengan suara logam beradu dan daging robek, menciptakan pertempuran yang brutal.
Setelah beberapa saat pertarungan sengit, kawanan iblis serigala itu akhirnya tumbang satu per satu, meninggalkan aroma darah pekat yang memenuhi udara.
Han Chuan berdiri di tengah tumpukan mayat makhluk iblis itu, menghembuskan napas panjang sambil menyarungkan pedangnya.
“Bagus,” ucapnya pelan. “Inti mereka cukup banyak... sepertinya ini baru awal yang bagus untuk ku.”gumam nya yng langsung mengambil inti iblis yng ada dalam kepala Iblis serigala tersebut.
Sementara itu di tempat khusus di istana pedang matahari yng sudah di siapkan untuk para keluarga besar di sana ada keluarga Han keluarga yan dan keluarga Bai.
Merak Saling menatap ke arah balok balok di tengah tengah halaman istana yang masih belum ada pergerakan sama sekali ,"apakah ujian nya terlalu sulit susah berapa lama ini berlalu tapi belum ada pergerakan sama sekali"ucap Bai mo yng masih fokus melihat ke arah halaman istana.
Sementara itu, murid dari Penguasa Istana, Ling Shura, kini telah dikepung oleh segerombolan iblis terbang yang mirip dengan capung. Sayap-sayap mereka bergetar cepat, menimbulkan suara berdengung yang menusuk telinga.
“Sepertinya ini akan sedikit merepotkan,” ucapnya dengan tenang sambil tersenyum tipis. Dengan cepat, kedua tangannya membentuk segel rumit, dan dalam sekejap beberapa lembar kertas jimat muncul di tangannya.
“Teknik Rahasia, Jimat Peledak Beruntun!” teriak Ling Shura sambil melempar jimat-jimat itu ke udara. Begitu jimat menyentuh angin, ledakan berantai terdengar mengguncang hutan. Suara BOOM! BOOM! BOOM! terus bergema, diikuti semburan api yang melahap para iblis capung. Tubuh-tubuh mereka hancur menjadi abu, dan angin panas berhembus menyapu dedaunan di sekitarnya.
Sementara itu, Han Chuan yang berada lebih dalam di hutan juga dikepung oleh beberapa iblis capung yang melesat cepat ke arahnya. Dari sayap mereka, duri tajam dilepaskan seperti hujan panah beracun.
“Teknik Rahasia—Lukisan Dalam Pedang: Tebasan Musim Gugur!” serunya.
Pedangnya berkilat, dan dari bilahnya melesat gelombang biru bercampur bercak hitam yang berputar seperti pusaran angin. Dalam sekejap, lima iblis capung itu terbelah menjadi dua bagian, darah hitam mereka menyembur ke udara sebelum tubuhnya lenyap menjadi abu.
Han Chuan dengan cepat mengumpulkan semua inti iblis yang tersisa di tanah, lalu memasukkannya ke dalam kantong ruang miliknya.
“Ini masih belum cukup... Aku harus mengumpulkan lebih banyak lagi untuk memenuhi penilaian,” gumamnya pelan sambil melangkah maju.
Namun tiba-tiba SWIING! Sebuah pedang meluncur cepat dari arah semak-semak, hampir mengenai lehernya. Han Chuan segera memiringkan tubuhnya ke belakang dan menepisnya dengan kilatan pedang birunya.
“Diam di tempat, dan jadilah tumbal yang baik,” ucap seseorang yang kini berdiri di hadapannya dengan senyum dingin.
Han Chuan menatap tajam ke arah pria itu. “Siapa kau, dan apa maksudmu dengan tumbal?” tanyanya sambil bersiap siaga.
Pria itu terkekeh pelan. “Kami hanya membunuh beberapa manusia untuk persembahan kepada iblis pelindung sekte kami... Sekte Iblis Langit.”
Mata Han Chuan menyipit tajam. “Jadi kau dari Sekte Iblis Langit, huh... Kalau begitu, bersiaplah untuk aku habisi.”
Seketika itu juga, Han Chuan menggenggam pedangnya lebih erat. Kakinya menjejak tanah keras, dan tubuhnya melesat cepat seperti anak panah, meninggalkan jejak cahaya biru di belakangnya. Ia langsung mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi, tebasan nya memecah udara dan menimbulkan suara whooosshh! yang tajam.
Melihat serangan itu datang, sosok yang menghadang Han Chuan segera menarik kembali pedangnya dan menangkis serangan tersebut dengan presisi tinggi. CLANG! Suara benturan logam bergema keras, memunculkan percikan api di antara kedua bilah pedang mereka.
Pertarungan sengit pun kembali terjadi. Kedua pedang saling beradu dalam kecepatan luar biasa, menghasilkan gelombang angin tajam yang menyapu dedaunan di sekitar mereka.
Setelah lama beradu pedang, keduanya melompat mundur hampir bersamaan, menatap satu sama lain dengan napas teratur namun mata penuh kewaspadaan.
“Teknik Iblis, Tebasan Maut!” teriak sosok tersebut sambil mengayunkan pedangnya ke depan. Bilah energi berwarna merah kehitaman melesat deras menembus udara, meninggalkan jejak gelombang panas dan desingan tajam yang memecah keheningan hutan.
Melihat serangan itu datang, Han Chuan tak tinggal diam. Ia segera menggenggam pedangnya dengan kuat“Teknik Rahasia Lukisan Dalam Pedang, Tebasan Musim Gugur!”
Kedua tebasan itu bertabrakan di udara dengan ledakan energi besar, menciptakan gelombang kejut yang menyapu pepohonan di sekitar mereka hingga bergoyang hebat.
Tubuh Han Chuan dan lawannya sama-sama terpental ke belakang. Tanah di bawah pijakan mereka retak saat menahan diri agar tidak terpental terlalu jauh, dan menatap satu sama lain dengan aura membunuh masing masing.