Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Baik
*
*
"Kak Niko!!" gadis cilik berusia 8 tahun itu berlari mengejar mobil hitam yang melaju kencang menuju jalan raya. Beberapa orang di panti asuhan berusaha menahannya.
Sekuat tenaga dia meronta berusaha melepaskan diri namun apalah daya, tenaga gadis kecil ini tak sebanding dengan mereka.
Yang dilakukannya hanya menangisi kepergian pemuda tinggi itu. Hingga berhari-hari. Rasa kehilangan menancap begitu dalam dihatinya.
Hingga dihari ketujuh Fia berhenti menangis. Dia mempercayai satu hal, Kak Niko nya akan kembali suatu hari nanti seperti janjinya. Jika dia jadi anak yang baik.
"Aku harus pergi, Fia. Aku janji aku akan kembali untuk menjemput kamu." Niko sesaat sebelum dia menaiki mobil yang menjemputnya.
"Kakak janji?" Fia dengan mata yang berkaca-kaca.
Niko mengangguk, "Asal kamu juga janji akan jadi anak yang baik selama aku tidak ada."
Fia pun mengangguk, tetesan air lolos dari sudut matanya. Segera dia memeluk tubuh tinggi itu dengan posesif.
"Kak Niko!! Kak Niko!!"
Sofia mengigau dalam tidurnya. Dia bahkan berteriak sekarang, Ibunya langsung menerobos kekamar dimana putrinya tengah terlelap.
"Kak!! kamu mimpi lagi?" ibunya mengguncangkan tubuh Sofia yang meringkuk seperti bayi.
"Kak? Bangun!!" sekali lagi mencoba membangunkan putrinya, dan nampaknya berhasil.
Sofia terperanjat, menatap sekeliling. Dia ada disini, dikamarnya, dimasa kini.
"Hhhhhh ...." mengusap wajahnya kasar, "Aku mimpi lagi, Bu." katanya, raut kecewa terlihat begitu jelas.
"Makannya kalau pulang kerja langsung bersihin badan, jangan langsung tidur."
"Hhh ..." menghela napas lagi, menyugar rambut lurusnya yang terburai.
"Sudah, cepet mandi, abis itu makan. Dygta udah nunggu di bawah." perintah ibunya. Yang hanya dijawab dengan anggukkan.
Kenapa akhir-akhir ini aku memimpikan itu lagi?? setelah sekian tahun aku bisa melupakannya, tiba-tiba mimpi itu datang lagi? Ada apa denganku ini??
*
*
Ting!!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Sofia beberapa saat setelah dia selesai membersihkan dirinya.
Diraihnya ponsel, segera membuka aplikasi chat.
[Neng hari ini ada job karaoke, mau ikut nggak?] pesan dari Cece.
[Berapa orang?] jawab Sofia.
[Minta nya sepuluh orang. Gue udah ada sembilan. Kalo lu ikut berarti udah pas.] balasan Cece.
[Tamu nya?] balasan yang mengandung pertanyaan.
[Dari Pusdikajen.] balasan Cece.
[Maksudnya?]
[Ana-anak calon jendral, neng.] balasan Cece lagi.
[Waduh?] Sofia berpikir sejenak. Menimang apa dia akan ikut atau tidak, semenit kemudian dia memutuskan.
[Oke, Ce. Gue ikut.] jawabnya yang kemudian dibalas cepat oleh sahabatnya itu.
[Oke. Gue tunggu di parkiran Heaven's karaoke jam 8 ya]
[Siap]
*
*
Sekitar jam 7.30 malam Sofia sudah siap dengan stelan kerjanya, setidaknya itu alasan yang akan dia pakai kepada orang tuanya untuk bisa pergi malam itu.
Perempuan 28 tahun itu segera turun dari kamar dengan menenteng paperbag berisi pakaian yang biasa dia pakai ketika menemani tamu karaoke nya.
"Mau kemana?" sang Ayah yang tengah menemani cucunya menonton tivi.
"Fia harus gantiin Disty lagi, yah. Anaknya sakit. Jadi gak bisa masuk shift malam ini." jawabnya, tenang.
"Memangnya nggak ada orang lain yang bisa gantiin? kenapa harus kamu?" ayahnya heran.
"Tadi juga di grup udah tanya gitu. Dan nggak ada yang bisa." jawabnya lagi, santai sambil memakai sepatu kerjanya. Kemudian berjalan menghampiri putri kesayangannya yang tengah asyik menonton acara kartun kesukaannya.
"Dah sayang, mama kerja dulu ya, Dede jangan rewel." mencium kepala gadis kecil itu yang hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun. Dygta memang sudah terbiasa ditinggal kerja sejak kecil, membuatnya tak asing dengan kepergian sang Mama yang kadang tiba-tiba.
Sofia bergegas pergi setelah taksi online pesanannya tiba kemudian segera meluncur ke tempat yang di janjikan.
*
*
Heaven's karaoke, sebuah tempat yang lumayan terkenal di tengah kota yang sering jadi persinggahan bagi orang-orang yang butuh hiburan, terutama pada malam hari.
Terdiri dari tempat karaoke privat dan keluarga, juga diskotik di bagian belakangnya. Benar-benar akan memanjakan pengunjung yang butuh melepaskan penat dari kesehariannya di dunia kerja.
Sofia tiba di pelataran parkir sesaat setelah Cece, juga teman se profesi lainnya juga tiba. Mereka langsung berbaur begitu saja ketika bertemu.
Tempat karaoke ini terdiri dari beberapa ruangan berbeda, tidak hanya ruangan untuk privat karaoke, tapi juga tersedia ruangan untuk karaoke dengan jumlah peserta yang banyak seperti malam itu.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang lumayan besar, yang mungkin bisa menampung hingga tiga puluh orang lebih. Didalam sudah menunggu pria-pria gagah dengan stelan militer berwarna hijau tua. Sebagian nampak masih sangat muda.
Anak muda yang jenuh dengan proses pencapaian cita-cita mereka. Begitu pikir Sofia.
Segera, mereka disambut meriah oleh pemuda-pemuda tersebut. Segera saling berjabat tangan, berkenalan. Dan acara pun berlangsung hingga dua jam kedepan.
Mereka bergantian menyanyikan lagu yang liriknya terpampang di layar lcd di depan, entah dengan suara bagus ataupun seadanya mereka tak perduli. Yang pasti mereka dapat tertawa lepas melepaskan penat yang mendera seharian. Didampingi minuman dan camilan yang dipesan diawal, suasana terasa makin akrab. Bahkan beberapa pasangan ada yang mulai berani bermesraan.
Hingga dua jam berlalu mereka harus menyudahi kegiatan itu karena memang waktunya hanya di batas paling lama dua jam, tidak bisa lebih.
Merekapun saling berpamitan, entah ada yang melanjutkannya diluar kegiatan karaoke atau tidak. Karena biasanya memang begitu, ada yang kemudian melanjutkannya hingga ke hotel untuk beberapa jam.
"Lu mau langsung pulang?" Cece yang tengah merapikan makeup nya ditoilet.
"Nggak kayaknya." Sofia menatap jam dilayar ponselnya. hampir jam 11 malam.
"Kita dugem?" tawar Cece, dengan senyum jahil nya.
"Oke." dibalas senyuman pula oleh partner in crime nya. Kemudian mereka berdua segera keluar dari toilet, menuju diskotik di bagian belakang gedung karaoke tersebut.
*
*
Keadaan riuh memenuhi ruangan, kebisingan dari musik menghentak yang diputar oleh DJ membuat suasana makin meriah. Semua orang bergoyang di lantai dansa mengikuti alunan musik ceria. Sementara sebagian lainnya ada yang hanya menikmati dari kursi yang tersedia sambil menyesap minuman.
Sofia juga tengah bergoyang menikmati alunan musik di lantai dansa seperti pengunjung lainnya, ketika tiba-tiba ada seseorang menghampirinya, meransek di hadapannya.
Seorang pria yang usianya ditaksir tak jauh dengannya, mencoba menyapanya.
"Hey!!" katanya, berteriak.
"Ya?" Sofia menjawab
"Boleh kenalan?" kata pria tersebut, berteriak di telinga Sofia.
Perempuan itu tersenyum sambil mengangkat jempolnya tanda setuju.
"Aku Raldo." katanya.
"Fia."
"Apa?"
"Aku Fia." Sofia berteriak,
"Bisa ngobrol sebentar?" Raldo berteriak lagi.
"Ada yang penting?" Sofia balik bertanya.
"Aku ada bisnis." sambung Raldo. Menggerakkan kepalanya, menunjuk sofa di sudut ruangan.
Sofia terdiam sebentar, "Oke." mengikuti langkah pria tersebut.
Merekapun sampai di sofa, Raldo mempersilahkan duduk.
"Mau pesan minum?" Raldo menawarkan.
"Orange jus." jawab Sofia, menjatuhkan bokongnya keatas sofa.
"Orange jus?" Raldo tampak heran, "Serius?" tanya nya lagi.
Sofia mengangguk. "Aku nggak minum alkohol." jelasnya, membuat Raldo manggut-manggut.
Pria itu memanggil waiter dengan lambaian tangan, segera waiter itu menghampiri mereka.
"Dua orange jus ya," katanya. Segera dibalas anggukan oleh waiter tersebut.
"Kamu juga nggak minum?" kini Sofia yang heran.
"Aku sudah banyak minum tadi, aku bawa mobil," jawab Raldo, membuat Sofia pun mengangguk.
Tak berapa lama, minuman pun datang dan langsung di sesap keduanya tak lama setelah diserahkan waiter.
"So, ada apa?" Sofia langsung ke intinya.
Raldo terdiam sebentar, agak ragu mengutarakan maksudnya, namun dia sudah tak bisa menahannya lagi sejak pertama kali melihat Sofia di pintu masuk, kemudian akhirnya menatap perempuan berblazer hitam itu meliuk liukan tubuhnya di lantai dansa.
"Kamu open BO?" tanya nya, tanpa basa-basi.
Tubuh Sofia menegang. Matanya mengerjap berkali-kali.
"Tergantung," kemudian satu kata lolos dari mulutnya.
"Tergantung apa?" Raldo mulai penasaran.
"Tawaran kamu sepadan atau nggak." jawab Sofia, santai, kembali menyesap minuman miliknya.
Raldo tersenyum, "Aku suka perempuan to the points seperti kamu." ikut menyesap minumannya, "Kamu dibayar perjam atau permalam?" tanya nya lagi.
"Aku per jam. Satu juta sejam." Sofia tanpa Tedeng aling-aling.
"Wow!!" Raldo agak terkejut, tapi kemudian tersenyum lagi. "Sekarang bisa?" katanya, memiringkan kepalanya.
"Oke." Sofia tanpa pikir panjang. Membuat pria itu tersenyum. Kemudian menyentakkan kepalanya, mengajak keluar dari sana.
Sofia mengikuti langkah Raldo setelah sebelumnya mengambil tas yang dibawanya di tempat penitipan barang. Kemudian mengirimkan pesan kepada Cece,
[Ce, gue ambil BO an dulu sebentar.]
tanpa menunggu balasan.
*
*
"Kamu terima BO an di hotel mana biasanya?" Raldo memulai percakapan saat mereka sudah berada di mobil.
"Aku sih terserah," jawab Sofia, sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Kita ke ... Banana Inn?" tawar Raldo.
Sofia berpikir sebentar, mengingat nama hotel tersebut, dan sepertinya dia pernah kesana beberapa kali dengan tamu nya. Hotel itu lumayan nyaman walau bukan hotel bintang lima. Cukup untuk sekedar bermain-main.
"Oke." jawabnya, singkat.
Raldo segera memacu mobilnya membelah jalanan kota tengah malam itu, menuju ke arah hotel yang disebutkan, yang tak memakan waktu lama, dalam sepuluh menit saja mereka sudah sampai.
Mereka berdua turun, kemudian masuk. Sofia menunggu di sofa di depan lobby, sementara Raldo menuju meja resepsionis untuk memesan kamar. Lima menit kemudian mereka segera naik ke lantai dua tempat kamar yang telah dipesan.
Raldo membuka pintu, dan mempersilahkan Sofia untuk masuk terlebih dahulu. Perempuan itu menurut.
Pria itu segera mengunci pintu rapat-rapat setelah mereka berdua berada di dalam kamar hotel tersebut. Raldo menyandarkan tubuhnya di pintu dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya, sementara matanya tak lepas dari tubuh semampai perempuan di depannya yang berjalan pelan menuju tempat tidur. Yang tengah melepaskan blazer hitam dari tubuhnya.
Raldo meneguk ludahnya kasar. Hasrat sudah di ubun-ubun. Dengan langkah lebar, dia segera menghampiri Sofia, dan mendorong tubuh ramping perempuan itu ke tempat tidur.
"Hey,.. bisa santai sedikit?" Sofia setengah berteriak.
"Aku sudah menunggu ini dari tadi, aku rasa aku sudah tidak bisa menahannya lagi." gumamnya, dengan napas yang menderu.
Bayangan tubuh Sofia yang meliuk-liuk di lantai dansa tadi terus memenuhi otaknya, membuat hasratnya semakin meningkat. Dan tanpa peringatan sedikitpun, pria itu melucuti pakaian mereka berdua, dan langsung menuju ke intinya, menyetubuhi Sofia yang begitu menggoda kelelakiannya.
Sofia hanya terdiam, menerima perlakuan tergesa pria diatasnya. Percuma juga dia bergerak mengimbangi, karena orang semacam ini tak mungkin bertahan lama. Setidaknya itu di ketahui nya dari pengalaman yang sudah lalu. Pria-pria yang terburu-buru semacam Raldo takkan mungkin bisa bertahan lebih dari sepuluh menit, bahkan pernah ada beberapa dari mereka yang hanya mampu bermain selama lima menit, setelah itu ambruk.
Dan benar saja, setelah kira-kira sepuluh menit berlalu, tubuh Raldo menegang, hentakannya lebih cepat dan beberapa detik kemudian, lenguhan panjang lolos dari mulut pria itu, yang kemudian ambruk ke sisi kanan Sofia dengan lemah. Raldo terlelap begitu saja dengan napas yang masih memburu.
Huh, dasar ... masih muda sudah lemah! kebanyakan main perempuan nih orang.
Sofia segera bangkit, memungut pakaiannya, dan berlari ke kamar mandi membersihkan dirinya. Bahkan acara mandinya pun lebih lama dari permainan pria itu. Sofia terkekeh geli.
*
*
Sofia sudah rapi ketika Raldo membuka matanya, membuat pria itu mengerutkan dahinya.
"Kamu mau pergi sekarang?" tanyanya, heran.
Sofia menoleh, "Udah selesai kan? Aku nggak punya banyak waktu, ada yang lagi nunggu." katanya, bangkit setelah berhasil memasangkan sepatu hak tinggi miliknya.
"Shit!! kamu ngerjain aku!!" umpatnya, namun sambil terkekeh.
"Aku nggak ngerjain, kan kamu nya udahan. Mau apalagi disini.?" Sofia tergelak.
"Jadi mau sekarang nih?" Raldo bertanya lagi.
"Iya lah, aku buru-buru." jawab Sofia.
"Hmm. ." Raldo menggumam. Merogoh dompet di celana panjangnya, dan mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah dari sana.
"Terimakasih," Sofia menyambar nya kemudian langsung memasukkannya kedalam tas yang dibawanya. Kemudian memutuskan untuk segera keluar dari sana.
"Hey, ... tidak mau tukeran nomer telfon??" Raldo berteriak.
Sofia hanya melambaikan tangannya sambil berlari keluar ruangan.
"Sialan!!" umpat Raldo,
*
*
Bersambung....
**like
koment**
vote