NovelToon NovelToon
Imam Dalam Sujudku

Imam Dalam Sujudku

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Romansa / Tamat
Popularitas:128k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Pernikahan yang batal membuat Namira harus menikah dengan sepupunya. Untuk menjaga nama baik keluarganya dan juga pesantren Namira tidak punya pilihan lain.
Bian, yang merupakan sepupu Namira dan juga teman masa kecilnya harus mengikuti kemauan ibunya yang memang sangat menginginkan Namira sebagai calon menantunya sejak dulu.

Karena sudah lama tidak bertemu membuat pertemuan mereka sedikit canggung dan apalagi dihadapkan pada pernikahan. Tetapi bagaimanapun keduanya pernah menghabiskan waktu di masa kecil.

Namira dan Bian sama-sama memiliki pasangan di masa lalu. Bian memiliki kekasih yang tidak direstui oleh ibunya dan sementara Namira yang memiliki calon suami dan seharusnya menikah tetapi digantikan oleh Bian. Karena perzinaan yang dilakukan calon suaminya menjelang 1 hari pernikahannya.

Bagaimana Namira menjalani pernikahannya bersama Bian yang tidak dia cintai dan sebaliknya dengan Bian.

Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai bab akhir dan jangan suka menabung Bab....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 Masih Mencoba Menyesuaikan diri

"Farah kamu ajak menantu kita untuk melihat kamarnya. Aku harus pergi sebentar," ucap Andika.

"Iya. Mas hati-hati," ucap Farah yang membuat Andika menganggukkan kepala setelah berpamitan dengan istrinya itu.

"Ayo Namira!" ajak Farah membuat Namira menganggukkan kepala dengan mereka berdua menaiki anak tangga.

Tidak lama akhirnya mereka berdua sudah membuka pintu kamar Bian.

"Tante tidak apa-apa kita masuk ke kamar Kak Bian tanpa sepengetahuannya?" tanya Namira yang terlihat ragu ketika sudah memasuki kamar itu.

"Kamu adalah istrinya Bian dan kamar ini juga menjadi kamar kamu," sahut Farah.

"Begitu!" sahut Namira.

Kepalanya berkeliling melihat isi kamar tersebut dengan bangunan klasik Eropa yang pasti sangat modern berbeda dengan tempat tinggalnya yang masih berpadu dengan bahan kayu.

Tempat tidur yang sangat besar dengan seprai berwarna putih, terlihat juga lemari yang begitu panjang, ada sofa televisi kamar mandi dan juga ada teras kamar.

"Bagaimana apa menurut kamu kamar ini cocok untuk kamu?" tanya Farah yang membuat Namira menganggukkan kepala.

"Namira akan mencoba menyesuaikan diri dengan kamar ini," jawabnya.

"Bukan hanya dengan kamar ini Namira, tetapi juga dengan suami kamu," ucap Farah.

"Maksud Tante?" tanya Namira.

"Namira kamu sudah menikah dengan anak saya, kamu sudah menjadi istri, kamu menjadi menantu saya yang artinya kamu harus mengetahui apa tugas dan kewajiban kamu sebagai seorang istri,"

"Saya memaklumi jika semua ini terlalu cepat untuk kamu dan apalagi usia kamu masih sangat mudah dengan rencana pernikahan dan tiba-tiba saja batal dan menikah dengan orang lain, tetapi Bian juga tidak mudah untuk menerima pernikahan ini dan maka dari itu kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan suami kamu sendiri!"

"Saat dirumah orang tua kamu. Kamu masih terlalu sering membahas mantan calon suami kamu dan hal itu sebenarnya sangat tidak pantas harus kamu bahas di depan suami kamu. Jika kamu belum move on maka cobalah untuk belajar pelan-pelan," ucap Farah mencoba memberi nasehat secara halus tetapi ada ketegasan dari kata-katanya itu.

"Saya tahu ini tidak mudah bagi kamu, tetapi ini sudah menjadi takdir dan kamu harus belajar menjalani kehidupan kami yang baru," ucap Farah.

Namira hanya tersenyum mengangguk, walau dari wajahnya terlihat tidak bisa semudah seperti apa yang dikatakan Farah.

"Satu lagi, karena kamu sudah menjadi istri Bian. Jadi kamu jangan memanggil dengan sebutan Tante lagi. Kami adalah ibu kamu dan panggillah dengan sebutan Mama seperti Bian memanggil saya.

"Baik. Ma," jawab Namira.

"Kalau begitu kamu istirahatlah, Mama juga mau istirahat sangat lelah melakukan perjalanan," ucap Farah memegang belakang lehernya.

"Ma tunggu!" Namira menghentikan dengan memegang lengan parah yang membuat para heran.

"Kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Farah.

"Hmmm, setahu Namira jika Kak Bian tinggal di Amerika dan kemarin baru pulang karena ada urusan di Jakarta. Lalu apa Namira juga akan ikut ke Amerika?" tanya Namira.

Farah tersenyum mendengarnya dengan memegang tangan Namira.

"Tidak! Bian sudah memutuskan untuk mengurus Perusahaan di Jakarta dan mungkin sesekali akan ke Amerika untuk mengecek saja. Kamu lihatlah bagaimana putra saya telah berkorban untuk pernikahannya jadi kamu jangan sia-siakan ya," ucap Farah.

Namira hanya menganggukkan kepala, Farah tersenyum yang tidak berkata apa-apa lagi yang langsung keluar dari kamar itu.

"Apa secara tidak langsung aku sudah menyakiti hati Kak Bian. Padahal dia sudah baik kepadaku yang mau menikah denganku dan juga menjaga nama baik pesantren," batin Namira yang merasa tidak enak dengan Bian.

****

"Nona bisa mengisi pakaian di lemari ini!" ucap Bibi yang mendapat perintah dari majikannya untuk memberikan lemari kepada Namira.

"Baik kalau begitu," jawab Namira.

"Kalau begitu biar saya bantu," ucap Bibi.

"Tidak usah. Bi! Saya saja melakukan sendiri," ucap Namira menolak.

"Nona yakin?" tanya Bibi yang membuat Namira menganggukkan kepala.

"Baiklah! kalau begitu saya keluar dulu untuk melanjutkan pekerjaan, kalau Nona butuh apa-apa, nanti tinggal katakan saja kepada saya," ucap Bibi dan Namira hanya menganggukkan kepala, pelayan tersebut langsung meninggalkan kamar Namira.

Namira menghela nafas yang membuka dua pintu lemari tersebut.

"Aku pikir lemarinya kosong," ucap Namira yang memang melihat bagian atas ada tumpukan seprai yang mungkin lemari itu memang tempat barang-barang yang tidak dipakai untuk setiap hari.

Ada juga beberapa kotak-kotak yang pelan-pelan diturunkan Namira.

Pranggg.

Salah satu barang dari lemari tersebut tidak sengaja tersenggol oleh Namira yang akhirnya jatuh.

"Astagfirullah....." Namira panik yang langsung berjongkok dengan menutup mulutnya saat melihat pecahan kaca dari benda tersebut yang sepertinya bentuknya petak seperti.

"Namira!" Namira kaget mendengar suara itu yang membuatnya menoleh ke arah pintu.

"Kak. Maafkan Namira. Namira tidak sengaja menjatuhkannya," ucap Namira merasa bersalah yang terlihat panik.

Bian menghampiri Namira dan melihat pecahan kaca tersebut, matanya juga melihat ke dalam lemari dan di atas tempat tidur banyak kotak-kotak yang diturunkan Namira.

"Ini pokoknya kamu simpan saja. Jadi kalau merindukanku kamu bisa melihat ini," tiba-tiba saja Bian terbayang dengan benda tersebut yang ternyata pemberian seseorang.

"Jangan di sentuh!" Namira kaget dengan perkataan Bian tiba-tiba.

Bian yang langsung berjongkok, "nanti tangan kamu terluka ini kaca," ucap Bian.

"Maaf, Kak," ucap Namira yang merasa tidak enak.

"Sudah tidak apa-apa, geserlah sedikit biar aku yang membereskannya," ucap Bian. Namira mengangguk yang langsung berdiri.

Bian mengutip pecahan kaca tersebut dan akhirnya setelah itu mengambil sapu yang memasukkan pecahan kaca itu ke dalam tong sampah.

"Siapa yang menyuruh kamu membuka lemari ini?" tanya Bian dengan sangat lembut yang tidak ada rasa marah sedikitpun dari wajahnya.

"Mama menyuruh Bibi untuk membantu Namira memindahkan pakaian ke dalam lemari ini," jawab Namira.

"Begitu!" sahut Bian.

"Apa tidak boleh?" tanya Namira.

"Aku tidak mengatakan apapun. Kamu pindahkanlah," ucap Bian yang membuat Namira menganggukkan kepala.

Bian mengumpulkan kotak-kotak tersebut yang tidak tahu apa isinya dan kemudian dia keluar dari kamar.

"Namira kenapa kamu begitu ceroboh sekali dan untung saja Kak Bian tidak marah kepadamu," batin Namira dengan menepuk jidatnya yang benar-benar seperti anak kecil yang tidak bisa mengkondisikan di mana tempatnya berada.

Bian menuruni anak tangga dengan membawa kotak-kotak itu dan sementara Farah berada di ruang tamu yang melihat apa yang dilakukan putranya itu yang sekarang sedang memasuki gudang.

"Jadi dia memindahkan sendiri barang-barang itu," batin Farah sepertinya mengetahui sesuatu.

"Bian!" panggil Farah ketika Bian sudah kembali keluar dari gudang.

"Iya," jawab Bian.

"Kamu tidak marah pada Namira yang mengambil lemari kamu?" tanya Farah.

"Mama sengaja menyuruhnya menempatkan pakaiannya di lemari itu?" tanya Bian.

"Sudah memiliki istri dan memang seharusnya masa lalu tidak ada di kamar kamu. Kamu juga harus menjaga perasaan istri kamu sebelum dia bertanya," ucap Farah.

"Jika Mama menginginkan aku sejak dulu menikah dengan Namira dan semua sudah sesuai dengan keinginan Mama. Maka dari itu aku minta kepada Mama untuk tidak mencampuri rumah tangga kami. Aku yang punya kewajiban untuk mengarahkan ke mana rumah tangga ini," ucap Bian dengan tegas.

"Selagi kamu bisa membuat Mama percaya dan Mama tidak akan ikut campur, justru Mama juga akan membantu kamu untuk membuat Namira menyukai kamu secara pelan-pelan dan melupakan masa lalunya, jika kamu juga bisa berdamai dengan masa lalu kamu," jawab Farah.

"Aku tidak membutuhkan bantuan siapa-siapa dalam hal ini," jawab Bian yang kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.

Bersambung......

1
nanik sriharyuniati
Luar biasa
Teh Euis Tea
thor yg novel teruntuk lafal imam cinta di hapus ya, ko aku cari ga ada ya?
aku baca udah bab 12 klu ga salah?
🌷💚SITI.R💚🌷
baru baca lg
Angga Gati
❤❤❤❤❤❤❤❤❤👍👍👍👍👍
Teh Euis Tea
wahhh tamat dan happy ending, makasih thor atas ceritanya yg luar biasa ada gemesnya, aku jg terbawa baper sm emosi sm namira pojoknya ceritanya keren
sehat selalu untuk othor
aku sudah baca novel othor baru
Teh Euis Tea
alhamdulilah nayra sudah ada jodohnya dan persahabatan mereka tetap terjalin, saling memaafkan, semoga bersahabatan mereka langeng punya anak sama2
Teh Euis Tea
syukurlah klu zahra udah ga panik lg, sudah iklas karna si ferdi jg sudah meninggal jd ga usah takut lg
Teh Euis Tea
innalilahiwainnailaihirojiun, turut berduka cita, ferdi yg tenang ya disana skrng aku jg sudah lega km punya anak wlu anak itu lahir karna kebodohanmu
Teh Euis Tea
si ferdy di bikin meninggal aj dari pd menganggu zahra sm rafa trs
zahra sudahi traumamu, kasihan suamimu beri dia hakmu sebagai suami dgn berhak nafkah bathin darimu
Teh Euis Tea
othor sayang, namanya suka ketuker tuker ya, ada beberapa dialog yg ketukar nama
Rieya Yanie
zahra harusnya diajak ke psikolog biar traumanya hilang
Endang 💖
udahlah pulangkan aja nayra tu ke tmpat orang tua nya tingkahnya udh kelewatan batas
Teh Euis Tea
nah hrs di bongkar semua bian, biar si nayra kapok
Oma Gavin
nah bener itu bian kuliti nayra didepan keluarga nya biar tau rasa dasar pelakor berkedok muslimah iri hati kok dipelihara bukannya tobat minta maaf malah sengaja jadi kompor buat pernikahan namira dan bian ricuh dan kamu dgn bangga nya akan nyusul sebagai penengah sambil menyelam mau bunuh namira sayang nya bian tetap kekeh mencintai Namira, sadar ngga loe pelakor malu tau ditolak mentah-mentah
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok nama pemeran sering ketukar ya
Endang 💖
aduh baik bgt Ilham,
Oma Gavin
bisa ngga nayra dijodohkan sama ferdi saja dua orang dgn kelakuan yg sama, gedeg banget lihat kelakuan nayra kok bisa namira dan zahra punya sahabat yg iri hati nya kelihatan banget
Teh Euis Tea
ilham suami yg sangat sabar dan mencintaimu zahra udahlah tutup masa lalumu hilangkan masa lalumu perlahan km pasti bisa zahra
nayra ngapain km nanya namira datang sm bian ga sopan bgt km
Teh Euis Tea
zahra jujur sm ilham biar ilham cari solusinya jgn biarkan ferdi menganggumu lg
Teh Euis Tea
mudah2an namira hamil ya kali ini
duhhh jgn sampe rafa anaknya ferdy ga iklas bgt klu sampe itu terjadi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!