NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Di Medan Perang

Lahir Kembali Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Tak lama kemudian Surya menyadari bahwa persoalan yang dihadapinya jauh lebih pelik daripada sekadar serangan musuh.

Malam itu, jatah makan hanya berupa ubi rebus yang porsinya bahkan lebih sedikit dibanding siang hari. Sebagai tambahan, tiap orang hanya mendapat sepotong kecil biskuit lapangan, selebar tiga jari. Kalau mulutnya besar, sekali lahap pun habis.

“Masih ada makanan lain?” Surya akhirnya tak kuasa menahan diri. “Kita semua kelaparan!”

Saat baku tembak berlangsung, mungkin tubuh masih kuat ditopang adrenalin, lapar seakan tak terasa. Namun, ketika suasana sedikit mereda dan otot-ototnya mulai rileks, rasa perih di perut langsung menyerang.

Surya bahkan tak peduli soal rasa. Seandainya juru masak sanggup memberinya segentong ubi rebus hambar sekalipun, ia rela menghabiskannya.

“Kalau ada tambahan bahan makanan, tentu saya bisa memasak lebih banyak,” jawab si juru masak sambil mengangkat bahu.

Para prajurit menanggapinya dengan tawa getir. Ada yang menyahut, “Kalau nggak ada makanan, ya kita minum tuak saja!”

“Tapi coba saja cari ke reruntuhan gudang di belakang,” kata si juru masak sembari menunjuk ke arah puing-puing bangunan bekas markas. “Kalau beruntung, mungkin ada karung beras yang belum hangus.”

“Paling juga cuma mayat dan tikus!” seru seorang prajurit dengan nada muak.

Keadaan memang seperti itu. Pasukan republik di garis depan banyak menyimpan logistik di gudang-gudang desa. Namun, begitu pesawat Belanda menjatuhkan bom, gudang-gudang itu hangus terbakar. Persediaan makanan, amunisi, bahkan obat-obatan lenyap dalam sekejap.

Yang paling menyiksa justru masalah air. Ironisnya, meskipun garis pertahanan berada di pinggir sungai, nyatanya para prajurit sering kehausan. Pipa air yang menghubungkan parit dengan sumur sudah hancur. Sungai di sisi seberang sudah dikuasai Belanda. Jadi, untuk sekadar menimba air pun, para prajurit harus merangkak dalam gelap, membawa helm atau ember seadanya.

Awalnya Belanda belum menyadari krisis air ini. Mereka mengira benteng pertahanan republik akan runtuh dalam beberapa hari saja, sehingga tidak langsung memperketat blokade. Namun, begitu ada mata-mata yang tertangkap dan buka mulut, Belanda segera memasang senapan mesin di tepi sungai. Sejak itu, tiap tegukan air harus ditebus dengan darah.

Tiba-tiba, suara peluit pendek terdengar. Pemimpin peleton, Perwira Purwanto, berteriak dari parit sebelah, “Peleton Dua, kumpul!”

Lebih dari tiga puluh prajurit segera bangkit dari tanah, membentuk barisan seadanya.

“Misi kita jelas!” seru Purwanto sambil menunjuk ke tumpukan ember di pinggir parit. “Kita harus mengambil air dari sungai. Yang luka, juga regu senapan mesin, sudah kehabisan. Hati-hati, Belanda mengawasi dari seberang. Kalau kalian ceroboh, peluru atau granat akan menghujani kalian. Siapkan ember besi!”

“Siap, Komandan!” jawab para prajurit serempak.

Setelah barisan bubar, setiap orang menerima ember besi dari wakil peleton. Sebenarnya, ember kayu atau bambu lebih cocok karena tidak berisik, tapi persiapan pasukan begitu terbatas. Industri dalam negeri belum mampu memproduksi perlengkapan ringan secara massal.

Surya merasa cemas. Setiap kali ia melangkah, ember besi itu menimbulkan bunyi “klang-klang”, seakan menjadi penanda bagi musuh di seberang.

Sebelum berangkat, Purwanto memanggil para komandan regu untuk rapat singkat.

“Belanda kemungkinan memasang penjaga di tepi sungai, jadi kita bergerak terpencar!” perintah Pak Purwanto dengan suara tegas. “Regu pertama menuju reruntuhan asrama, regu kedua lewat puing gudang makanan, regu ketiga bergerak ke arah bekas gedung senjata!”

Keputusan itu memang benar. Jika mereka bergerombol di satu titik untuk mengambil air, berarti bunuh diri.

Masalahnya…

“Eh, Komandan, asrama itu yang mana ya?” tanya Surya polos.

Purwanto menatap kosong, lalu mendengus. Dua pengawas di sampingnya langsung terpingkal menahan tawa.

“Ya ampun, Surya!” omel Purwanto. “Kepalamu mungkin kebal peluru, tapi masa kau lupa tempat kita tidur? Walau tinggal puing, itu tetap bekas asrama. Jangan-jangan gegar otakmu makin parah!”

“Oh iya, aku tahu kok!” Surya buru-buru menyahut, berbohong demi gengsinya.

“Kalau begitu, bergerak sekarang!” perintah Purwanto.

“Siap!” seru para komandan regu serentak.

Mereka lalu memimpin anak buah masing-masing menyusuri parit yang gelap, merunduk sambil menyeret ember besi. Namun, Surya justru salah arah hanya beberapa langkah dari titik kumpul.

“Heh! Mau ke mana kau, Surya?!” bentak Purwanto dari belakang.

“Ambil air, Komandan!” jawab Surya dengan mantap.

“Tapi asrama ada di sebelah sini!” Purwanto menunjuk arah berbeda, wajahnya campur aduk antara jengkel dan tak habis pikir.

“Oh, iya! Lewat sini, kawan-kawan!” Surya buru-buru membelokkan rombongannya.

Purwanto hanya bisa menggeleng, berbisik lirih, “Aneh, orang ini pernah meledakkan panser Belanda dengan bom molotov… Untung saja waktu itu dia nggak salah lempar ke arah kita.”

Sadar pemimpinnya agak linglung, Surya diam-diam meminta Okta, rekannya yang lebih tenang, untuk menuntun jalan. Okta sudah terbiasa ia bahkan yakin Surya memang menderita gegar otak ringan sejak baku tembak terakhir.

Sesampainya di dekat reruntuhan asrama, Surya dan regunya berhenti. Lampu sorot Belanda dari seberang sungai menyapu ke kiri dan kanan, sesekali terdengar suara tentara Belanda bercakap-cakap.

“Bahaya! Ada orang Belanda di seberang!” bisik Malik, veteran tua yang selalu awas. “Kalau kita ambil air di sini, tamatlah kita.”

“Kita harus pindah lokasi,” sahut Okta setuju. “Tempat ini terlalu terbuka.”

Semua mata tertuju pada Surya, tapi ia justru bengong, tatapannya kosong ke arah lampu sorot.

“Kawan Ketua Regu… kawan Ketua Regu!” Okta menyikut lengannya.

“Apa?!” Surya baru tersadar.

“Kita lagi bahas apakah perlu pindah tempat mencari air,” bisik Okta.

“Oh, ya! Tentu saja pindah tempat!” Surya buru-buru menyahut.

“Kalau begitu,” timpal Malik, “kita harus menyusuri tepi sungai, cari celah di blokade Belanda.”

“Saya setuju!” sahut beberapa prajurit lain.

Sebagai veteran, kata-kata Malik memang punya bobot.

Namun ia tetap menoleh ke Surya, “Lalu, perintahmu bagaimana, Ketua Regu?”

Surya termenung sebentar, lalu bertanya, “Ada di antara kalian yang tahu lokasi tempat perlindungan bawah tanah Jurangjati?”

“Aku tahu,” jawab Malik mantap.

“Kalau begitu, kita menuju ke sana,” ujar Surya penuh keyakinan.

Malik melongo. “Jurangjati? Itu kan bunker tua peninggalan jepang, di tengah benteng. Mana ada air di sana?”

“Tidak,” jawab Surya pelan, tapi mantap. “Di sana ada sumber air.”

1
RUD
terima kasih kak sudah membaca, Jiwanya Bima raganya surya...
Bagaskara Manjer Kawuryan
jadi bingung karena kadang bima kadang surya
Nani Kurniasih
ngopi dulu Thor biar crazy up.
Nani Kurniasih
mudah mudahan crazy up ya
Nani Kurniasih
ya iya atuh, Surya adalah bima dari masa depan gitu loh
Nani Kurniasih
bacanya sampe deg degan
ITADORI YUJI
oii thor up nya jgm.cumam.1 doang ya thor 3 bab kekkk biar bacamya tmbah seru gt thor ok gasssss
RUD: terima kasih kak sudah membaca....kontrak belum turun /Sob/
total 1 replies
Cha Sumuk
bagus ceritanya...
ADYER 07
uppppp thorr 🔥☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!