Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 7
Di setiap tengah malam, Pramudya pindah dari kamar Karina menuju kamar Zahra. Setiap malam Karina nyaris tidur sendirian. Awalnya Karina sama sekali tidak curiga, ia berpikir kalau Pramudya menonton tv atau pergi ke kamar mandi. Hingga suatu malam ia terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk dan membangunkan Pramudya.
"Mas..mas.." ucapnya pelan sambil meraba raba kasur di sebelahnya tempat biasa Pram tertidur. "Mas Pram kemana? tiap malam tidak ada tidur di sampingku." Batin Karina.
Bahkan setiap ia bangun pagi, Pramudya tidak ada di sampingnya. Karina menarik napas panjang dan berpikir mungkin Pramudya menonton tv. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Pramudya di ruang keluarga, kebetulan ia tidak bisa tidur lagi selepas mimpi buruk.
"Tuk, tuk, tuk."
Suara tongkat milik Karina mulai melangkahkan kakinya. Sesampainya di ruang tamu, ia tidak mendengar suara tv menyala.
"Di mana mas Pram?" tanya Karina dalam dirinya sendiri. "Ya sudah, aku tunggu di kamar saja."
Karina kembali melangkahkan kakinya dengan bantuan tongkat menuju kamar. Saat ia melintas di kamar Zahr, Karina mendengar suara wanita itu tertawa kecil. Padahal tadi pas ia lewati tidak terdengar suara apa apa.
"Sepertinya Zahra belum tidur, dia tertawa dengan siapa? ah mungkin menelpon suaminya."
Karina tersenyum lalu mengetuk pintu perlahan.
"Zahra." panggilnya pelan.
Karina terdiam, ia tidak mendengar suara tawa Zahra lagi. Tak lama suara pintu di buka dari dalam.
"Zahra!" Karina senang karena sahabatnya membuka pintu.
"Karina, kau sedang apa?" tanya Zahra menoleh ke arah Pramudya yang berada di dalam kamarnya tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Zahra, mas Pram tidak ada. Boleh aku tidur bersamamu sampai mas Pram datang?" tanya Karina.
Sesaat Zahra terdiam menatap ke arah Pramudya yang menganggukkan kepala.
"Baiklah Karina, ayo masuk."
"Terima kasih." Karina masuk ke dalam kamar di bantu Zahra.
"Aku di sofa saja, kau kan sedang hamil. Jadi butuk tempat yang luas."
"Baiklah terserah kau, Karina." Zahra membawa karina ke sofa dan memberikannya bantal. "Tidurlah."
"Terima kasih."
Zahra membaringkan Karina di sofa lalu menyelimutinya, setelah itu ia kembali ke tempat tidur. Pram dan Zahra terdiam tidak mengeluarkan suara takut terdengar oleh Karina. Setelah cukup lama dan memastikan Karina tertidur, Pram meletakkan satu jari pada Zahra lalu merebahkan tubuh wanita itu di atas tempat tidur. Zahra menggelengkan kepala menolak untuk berhubungan intim dengan Pramudya karena ada Karina di kamarnya. Namun hasrat Pramudya sudah terlanjur menggebu gebu, ia tidak perduli penolakan dari Zahra. Dan Zahra pun tidak bisa menolak keinginan Pram. Mereka pikir Karina sudah tertidur, karena Pram tahu kebiasaan Karina. Jika sudah nempel di bantal, Karina akan tertidur pulas.
Sementara Karina memang belum tidur, ia tengah berpikir keras tentang mimpi anehnya.
"Ibu bilang, jika mimpi baju kesayanganku di pinjam wanita lain. Itu tandanya suamiku di rebut wanita lain. Benarkah mitos mimpi itu?" tanya Karina dalam hati. "Aku jadi rindu Ibu, besok aku harus ke rumah bertanya mimpi itu dan kenapa ibu tidak datang menjenguk saat aku kecelakaan."
Tiba tiba lamunan Karina buyar, pendengarannya menangkap suara desahan panjang dari bibir Zahra. Karina mengangkat wajah dan menoleh ke arah suara, gelap!
"Zahra? kau baik baik saja?" tanya Karina pada Zahra lalu ia bangun dan duduk di sofa menatap buram ke arah suara.
Khawatir Karina mendekat, akhirnya Zahra menjawab dengan suara patah patah.
"Aku, ba-ik ba-ik saja."
Karina mengerutkan dahi, ia merasa aneh dengan jawaban Zahra. Ia seperti tengah tertekan, pikir Karina. Lalu ia berdiri hendak memastikan Zahra baik baik saja.
Zahra membuka mata menoleh ke arah Karina yang mulai mendekat.
"Karina, jangan mendekat!" Zahra panik. "Aku baik baik saja!"
Karina berhenti melangkah. Ia tertegun dan memastikan apa yang terjadi dengan Zahra lewat pendengarannya.
"Kenapa aku merasa ada orang lain di kamar ini selain aku?" tanya Karina dalam hati. "Apa hanya perasaanku saja? tapi rasanya aku tidak mungkin salah. Apakah mas Pram? tapi buat apa dia di kamar Zahra?" Pikiran Karina semakin kacau, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Siapa tahu Pram sudah ada di kamar.
"Zahra, sebaiknya aku kembali ke kamarku."
"Silahkan Karina, hati hati ya." Zahra menjawab.
Karina hanya mengangguk, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zahra tak lupa menutup pintunya kembali. Di balik pintu ia dekatkan telinganya untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Karina hanya mendengar suara desahan.
"Mas Pram kah?" tanyanya kembali melangkahkan kakinya kembali ke kamar pribadinya. Di dalam kamar, Karina sama sekali tidak dapat menejamkan mata. Ia memikirkan apa mungkin Zahra tengah bersama Pram?
moga tidak ya klu iya gk semangat lagi baca nya