Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari Terbit di Atas Arena
Fajar menyingsing dengan warna merah darah di ufuk timur, seolah olah langit sendiri ikut bersiap untuk pertumpahan darah hari itu. Namun, suasana di sekitar kompleks Sarang Naga Patah sudah seperti pasar raya di hari perayaan. Bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit, ribuan orang sudah memadati jalan jalan menuju arena. Pedagang asongan berteriak menjual kacang rebus, daging panggang, dan minuman keras. Penjual tiket gelap berbisik bisik menawarkan tempat duduk dengan harga yang menggila. Suara ribut itu membentuk sebuah simfoni kekacauan yang terus meningkat nadanya.
Di dalam kamarnya, Xu Hao sudah siap. Dia mengenakan pakaian latihan sederhana berwarna hitam, tanpa perlindungan tambahan apapun. Tangannya memeriksa ikatan sabuknya untuk ketiga kalinya, sebuah gerakan kecil yang mengungkapkan ketegangan yang dia rasakan. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, mencoba mengusir bayangan bayangan yang masih menari nari di kepalanya.
Ada ketukan di pintu. Keras dan berirama.
"Waktunya, Hei Feng!" suara Gor dari balik kayu. "Mereka sudah mulai masuk! Borong sudah ada di ruang tunggunya!"
Xu Hao tidak segera menjawab. Dia memandang ke cermin kecil di atas wastafel. Wajah Hei Feng menatap balik, tapi di balik mata itu, tekad Xu Hao membara. "Aku siap," katanya, suaranya tenang namun memotong.
Dia membuka pintu. Gor berdiri di sana, mengenakan jubah sutra hijau dengan sulaman emas yang berlebihan, tapi wajahnya tegang. Di belakangnya, dua petugas arena dengan senjata berdiri dengan hormat.
"Semua sudah diatur. Jalur khusus untukmu menuju arena. Penonton tidak akan bisa mendekat." Gor melangkah mendekat, menurunkan suaranya. "Mereka ada di sana. Di tribun khusus paling tinggi. Dua pria. Jubah abu abu. Hati hati."
Xu Hao hanya mengangguk. "Ayo."
Mereka berjalan menyusuri koridor batu yang sepi, jauh berbeda dengan keriuhan di luar. Suara langkah mereka bergema. Setelah beberapa belokan, mereka tiba di sebuah pintu besi yang dijaga oleh empat petugas tegap.
"Di sini. Masuk, dan kau akan langsung ke area tunggu di pinggir arena. Tunggu pengumumanku." Gor menepuk bahu Xu Hao, kali ini lebih keras. "Selamat bertarung. Jangan buat aku bangkrut dengan kekalahan terlalu cepat."
Xu Hao memasuki pintu itu. Dia melihat sebuah ruangan kecil tanpa atap, dengan sebuah pintu besi lain di seberangnya. Di sanalah arena. Dia bisa mendengar gemuruh suara penonton yang sudah memenuhi tribun, seperti suara gelombang lautan yang tak henti henti.
Dia duduk di bangku batu, menutup matanya, mengumpulkan pikirannya untuk terakhir kali.
Di tribun khusus tertinggi, dengan tirai tipis yang memberikan privasi sekaligus pandangan jelas ke arena, Xu Li dan Xu Jian duduk di kursi empuk. Sebuah meja rendah di depan mereka berisi buah buahan dan teh wangi, tapi tidak disentuh.
"Kerumunannya gila," kata Xu Jian, matanya menyapu lautan kepala di bawah. "Sepertinya seluruh Wilayah Seribu Pulau datang."
"Manusia selalu tertarik pada kekerasan dan taruhan," gumam Xu Li tanpa emosi. Dia memegang sebuah benda bundar sebesar telapak tangan, terbuat dari perunggu kusam dengan pola pola rumit. Itu adalah cermin silsilah darah versi kecil, terhubung lemah dengan artefak utama di markas klan. "Benda ini akan bereaksi jika ada darah klan kita di dekatnya, atau jika ada penggunaan hukum ruang dan waktu yang tidak wajar. Pantau terus."
Xu Jian mengangguk, matanya tertuju pada arena kosong di bawah. "Apakah Penatua berpikir si Hei Feng ini benar benar keturunan liar kita?"
"Tidak tahu. Tapi jika iya, dan dia sudah mencapai Soul Transformation akhir sendirian, maka bakatnya luar biasa. Layak dibawa pulang... atau dimusnahkan, jika dia keras kepala."
Di sisi lain arena, di ruang tunggu yang jauh lebih luas dan dipenuhi senjata senjata yang tergantung di dinding, Borong sedang melakukan peregangan. Suara sendi sendinya yang berderak seperti petasan kecil. Seorang pelayan tua membawakan segelas minuman kental berwarna merah.
"Tuan Borong, minuman penguat seperti biasa."
Borong mengambilnya, meneguk sekaligus. "Terima kasih, Lao Jin."
"Tuan... tentang lawan hari ini. Dia tidak biasa."
"Ya, aku tahu." Borong tersenyum, sebuah ekspresi langka yang membuat wajahnya yang keras sedikit melunak. "Lima puluh kemenangan berturut turut. Bahkan aku tidak melakukannya di awal. Dia punya sesuatu."
"Haruskah Tuan berhati hati?"
"Selalu." Borong mengangkat tangannya, mengepalkannya. "Tapi hari ini, aku ingin bertarung dengan serius. Sudah lama aku tidak merasakan tantangan."
Di tribun depan, Minlie duduk di antara para bangsawan kaya dan pemimpin sekte sekte kecil. Dia memakai pakaian yang lebih rapi dari biasanya, tapi ekspresinya tidak sabar. Tangannya memegang kupon taruhan dengan erat. Dia melirik ke arah tribun khusus tinggi, melihat dua bayangan di balik tirai. Matanya berkerut.
"Semoga kau cukup pintar untuk menyembunyikan dirimu, Hei Feng," bisiknya pada dirinya sendiri.
Tiba tiba, suara gemuruh meningkat. Gor muncul di tengah arena, berdiri di atas sebuah platform yang diangkat oleh formasi. Dia mengenakan jubah yang bahkan lebih berlebihan dari sebelumnya, berwarna merah dan emas, dengan sebuah topi tinggi yang lucu.
"SAUDARA-SAUDARA! SELAMAT DATANG DI SARANG NAGA PATAH!"
Suaranya diperkuat oleh formasi suara, menggema ke seluruh penjuru. Kerumunan menjerit histeris.
"HARI INI, KITA AKAN MENYAKSIKAN SEJARAH! PERTARUNGAN YANG TIDAK AKAN PERNAH KALIAN LUPAKAN!"
Sorak sorai semakin menjadi.
"DI SUDUT KANAN KITA! SI RAJA TAK TERSENTUH! TELAH MENGHANCURKAN SEMUA LAWANNYA DENGAN TANGAN KOSONG! PANGGIL NAMANYA!"
"BORONG! BORONG! BORONG!" teriak penonton berirama.
Dari pintu besi di sisi kanan arena, Borong muncul. Langkahnya membuat tanah bergetar. Dia tidak mengenakan baju, hanya celana panjang kulit yang kuat. Otot ototnya yang seperti batu terpahat jelas di bawah cahaya matahari pagi. Dia mengangkat tangannya, dan sorak sorai meledak seperti gunung berapi.
"BORONG! BORONG!"
Gor menunggu sampai suara sedikit mereda. "DAN DI SUDUT KIRI KITA! SANG PENDATANG MISTERIUS! SANG PENCETUS LIMA PULUH KEMENANGAN BERUNTUN! SI BADAI HITAM! PANGGIL NAMANYA!"
Ada desahan, lalu teriakan yang lebih bercampur. Banyak yang masih ragu.
"HEI FENG! HEI FENG! HEI FENG!"
Xu Hao berjalan keluar dari pintu besi kiri. Langkahnya tenang, mantap. Dia tidak mengangkat tangan atau menunjukkan emosi. Matanya langsung tertuju pada Borong yang berdiri di seberang arena. Udara di antara mereka seakan menjadi padat.
"DUA PEMBAWA BADAI! SATU ARENA! HANYA SATU YANG AKAN BERDIRI!" Gor berteriak, wajahnya merah. "DENGAN INI, PERTARUNGAN DIMULAI!"
Gor melompat dari platform, dan platform itu turun dengan cepat ke bawah tanah. Sebuah lonceng besar berdenting tiga kali.
DING... DING... DING...
Suara lonceng itu menandai dimulainya segalanya.
Arena menjadi sunyi sejenak. Penonton menahan napas.
Borong dan Xu Hao saling mendekat, langkah mereka pelan dan terukur. Jarak seratus langkah perlahan lahan berkurang.
Pada jarak lima puluh langkah, Borong berhenti. Suaranya bergema di keheningan.
"Hei Feng. Aku sudah menunggumu."
Xu Hao juga berhenti. "Borong. Aku datang."
"Kau berbeda dari yang lain. Aku bisa merasakannya." Borong menekuk lututnya sedikit, mengambil posisi. "Tunjukkan padaku apa yang kau punya."
"Kau juga."
Mereka tidak langsung menyerang. Mereka saling mengitari, mata mereka mengunci, membaca setiap kedipan, setiap pergeseran berat badan. Tekanan aura mereka mulai berbenturan, menciptakan angin kecil yang mengangkat debu di antara mereka.
Penonton di tribun mulai gelisah. Beberapa berteriak, "Serang! Jangan hanya lihat-liatan! Apa kalian sedang melakukan tarian cinta!"
Tapi di tribun khusus, Xu Li bersandar ke depan, matanya tajam. "Kendali yang bagus. Keduanya tidak terburu buru."
Xu Jian memegang cermin kecil. "Tidak ada reaksi. Sama sekali."
Di arena, Borong akhirnya membuat langkah pertama. Bukan sebuah serangan, tapi sebuah uji coba. Dia menginjakkan kakinya dengan kuat ke tanah.
BUM!
Tanah di depan Xu Hao retak dan meledak ke atas, menghalangi pandangannya. Saat itu, Borong melesat, tubuh besarnya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukurannya. Dia muncul di samping Xu Hao, tangannya yang seperti palu menyapu horizontal untuk menghancurkan rusuk kirinya.
Xu Hao tidak mundur. Dia berputar, lengannya yang kiri menangkis pukulan itu dari dalam ke luar, sementara tangan kanannya meninju langsung ke siku Borong.
TUM!
Suara benturan seperti batu besar bertabrakan. Xu Hao terpeleset mundur dua langkah, lengan kirinya terasa kebas. Borong hanya goyah sedikit, tapi matanya berbinar.
"Bagus!" Raksasa itu memuji. "Kekuatanmu solid Hei Feng!"
Dia tidak memberi waktu. Kaki kirinya menyapu rendah, berusaha menjatuhkan Xu Hao. Xu Hao melompat, menghindari sapuan itu, dan di udara, dia menendang berkali kali ke arah kepala Borong.
Borong mengangkat lengan kanannya, menahan setiap tendangan.
BAM! BAM! BAM!
Suaranya seperti genderang perang.
Begitu kaki Xu Hao menyentuh tanah, Borong sudah mengepalkan kedua tangannya dan menghempaskannya ke bawah, seperti sebuah palu dewa yang jatuh dari langit.
Xu Hao tidak bisa menghindar. Dia mengangkat kedua lengannya bersilang di atas kepala.
BAMMM!!!
Dia terpukul hingga lututnya membungkuk, kaki kakinya masuk beberapa inci ke dalam tanah yang keras. Rasa sakit tajam menyebar dari lengan ke seluruh tubuhnya.
"ARGHH!" teriak Xu Hao, mendorong dengan seluruh kekuatannya untuk melemparkan Borong mundur. Dia menggunakan momentum itu untuk menarik kakinya dari tanah dan mundur cepat, menjaga jarak.
Napasnya sudah sedikit tersengal. Pertukaran pertama, dan dia sudah merasakan kekuatan mutlak Borong. Ini akan sangat berat.
Borong tidak mengejar. Dia berdiri, memandang Xu Hao yang sedang menggosok lengannya. "Kau tangguh. Kebanyakan orang, lengan mereka akan remuk dari pukulan itu."
Xu Hao tidak menjawab. Dia fokus pada aliran Qi di tubuhnya, memperbaiki pembuluh pembuluh kecil yang rusak di lengan. Regenerasi alaminya bekerja, tapi dia sengaja memperlambatnya agar terlihat wajar.
"Tunjukkan teknikmu yang lain," tantang Borong. "Jangan buat aku kecewa."
Xu Hao mengangguk. Kali ini, dia yang menyerang. Dia melesat ke depan, bukan garis lurus, tapi zig zag, meninggalkan bayangan bayangan samar. Ini adalah teknik langkah angin yang pernah di pelajari Haoran.
Borong mengikuti gerakannya dengan mata, tubuhnya berputar pelan. Saat Xu Hao muncul di samping kanannya, meninju ke arah pinggang, Borong menangkis dengan lengan bawah. Tapi tinju Xu Hao tiba tiba berubah menjadi cengkeraman. Dia mencengkeram pergelangan tangan Borong dan berusaha memutar, menggunakan momentum lawan sendiri.
Borong terkejut sebentar, lalu tersenyum. "Teknik bantingan? Berani sekali!"
Dengan kekuatan yang membuat Xu Hao terpana, Borong justru menarik tangannya ke belakang, menarik Xu Hao mendekat, lalu kepala besarnya maju untuk melakukan sundulan.
Xu Hao melepas cengkraman dan membungkuk dengan cepat. Kepala Borong melewati rambutnya. Xu Hao lalu melancarkan serangan empat jari ke titik tepat di bawah tulang rusuk kiri Borong, titik yang dia curigai sebagai titik lemah.
JAR!
Borong mendengus, langkahnya mundur setengah langkah untuk pertama kalinya. Wajahnya berkerut, bukan karena sakit parah, tapi karena terkejut.
"Kau menemukannya," gumam Borong, mengusap titik yang ditinju. "Tepat. Ada luka lama di sana. Tapi kau perlu lebih dari itu."
Dia tidak marah. Malah, semangatnya semakin membara. "Sekarang, giliranku untuk serius."
Borong merenggangkan bahunya, dan aura di sekelilingnya berubah. Udara mulai berputar pelan di sekelilingnya. Tangan kanannya mengangkat, telapaknya terbuka menghadap Xu Hao.
Xu Hao tahu apa yang akan datang. Teknik gelombang kejut.
Dia bersiap, kakinya menguat di tanah, Qi-nya berkumpul di telapak kakinya untuk mengakar.
Borong mendorong tangannya ke depan.
Tidak ada suara ledakan. Hanya sebuah tekanan tak terlihat yang meremukkan udara dan melesat seperti naga tak kasat mata menuju Xu Hao.
Xu Hao tidak mencoba menahan. Dia melompat ke samping dengan kecepatan penuh.
WHOOSH!
Gelombang kejut itu melewati tempat dia berdiri dan menghantam pagar batu arena di belakangnya. Pagar setebal tiga kaki itu retak dengan suara mengerikan, dan sebagian darinya hancur menjadi debu.
Penonton ternganga, lalu bersorak gila.
"LUAR BIASA!"
Xu Hao mendarat dengan kasar. Dia tidak punya waktu. Borong sudah melancarkan gelombang kejut kedua, kali ini lebih lebar, sulit dihindari.
Xu Hao memutar tubuhnya, kedua tangannya bergerak memutar di depan dadanya. Dia mencoba teknik "Aliran Pusaran Air" yang sudah dia latih. Qi-nya membentuk pusaran kecil, mencoba membelokkan serangan itu.
Dia tidak sepenuhnya berhasil. Sebagian kekuatan masih menerpanya, melemparkannya ke udara dan membuatnya jatuh terguling. Darah terasa di mulutnya. Tapi, sebagian lain dari gelombang kejut itu terbelokkan dan menghancurkan tanah di sampingnya, bukan tepat mengenainya.
Dia bangkit dengan cepat, meludahkan darah. Tapi matanya berbinar. Itu bekerja! Tidak sempurna, tapi bekerja!
Borong, yang melihat serangannya tidak berdampak maksimal, mengernyit. "Teknik membelokkan? Menarik."
Dia mulai berjalan mendekat, setiap langkahnya menggetarkan tanah. "Tapi bisakah kau membelokkan ini?"
Kali ini, dia tidak menggunakan gelombang kejut dari jauh. Dia langsung menyerang dengan fisik, tapi dengan pola yang lebih rumit. Pukulan, tendangan, sapuan, semuanya berurutan dengan presisi yang mengerikan, menciptakan sangkar maut di sekeliling Xu Hao.
Xu Hao menggerakkan tubuhnya dengan batas maksimal. Dia menangkis, menghindar, mengelak. Setiap benturan membuat tulang tulangnya bergetar. Tapi dia tidak panik. Matanya terus menganalisis, mencari pola, mencari celah.
Di tribun, Minlie menggigit bibirnya. "Ayo, kau bisa..."
Di tribun khusus, Xu Li masih tenang. "Bakat bertarung yang luar biasa. Dia seperti belajar dan beradaptasi di tengah pertarungan."
"Masih tidak ada reaksi dari cermin," laporkan Xu Jian.
"Lanjut pantau."
Di arena, setelah menahan sekitar dua puluh serangan berturut turut, Xu Hao melihat sebuah celah. Saat Borong mengayunkan pukulan kanan yang lebar, bahu kirinya terbuka untuk sepersekian detik.
Itu adalah momen yang dia tunggu.
Xu Hao, alih alih mundur, malah maju. Dia menekuk tubuhnya sangat rendah, menghindari pukulan itu, dan tangannya yang seperti tombak menancap tepat ke titik lemah di dada kiri Borong, kali ini dengan seluruh kekuatan dan Qi Soul Transformation-nya yang terkonsentrasi di ujung jarinya.
JOT!
Borong mendesah keras, tubuhnya terhuyung mundur. Wajahnya memucat sejenak. Itu adalah pukulan yang benar benar melukainya.
"SIAP!" teriak penonton, terbagi antara kaget dan gembira.
Borong mengusap dadanya, melihat noda darah di tangannya. Dia menatap Xu Hao, dan untuk pertama kalinya, ada api kemarahan yang sesungguhnya di matanya.
"Baik," kata Borong, suaranya lebih rendah dan lebih berbahaya. "Sekarang pertarungan yang sebenarnya dimulai."
up up up