NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Di Balik Tirai Indigo

Kesunyian yang menyelimuti kapsul Navigasi Langit setelah jatuhnya Martha terasa berat dan menyesakkan, seolah-olah seluruh molekul udara di dalam ruangan kristal itu telah berubah menjadi timah. Arlo mendekap tubuh Alana yang terkulai lemas di lantai kristal. Napas Alana terdengar dangkal, tersendat di kerongkongannya yang kering, dan pendaran cahaya yang biasanya mengelilingi kulitnya seperti aura suci kini meredup drastis, menyisakan warna kelabu pucat yang mencemaskan.

"Alana, tetaplah bersamaku. Jangan biarkan cahaya itu padam," bisik Arlo, suaranya parau oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan selama lima puluh tahun berada di dimensi ini. Bahkan saat pesawatnya hampir hancur menembus atmosfer tahun 1975, Arlo tidak pernah merasa seputus asa ini.

Arlo tahu persis apa yang baru saja terjadi. Alana tidak hanya mengirimkan pesan; ia melakukan Transmisi Jiwa Terlarang. Untuk mengalahkan dendam Martha yang sudah mengakar selama setengah abad, Alana harus menggunakan seluruh energi emosionalnya sebagai perisai dan senjata. Ia telah memberikan terlalu banyak. Jika jantung Alana berhenti di sini, jiwanya tidak akan kembali ke bumi, melainkan akan terurai menjadi debu bintang yang tak berpintu pulang sebuah eksistensi tanpa nama yang akan melayang selamanya di ruang hampa.

Arlo bangkit dengan susah payah, menggendong Alana menuju sebuah ranjang yang terbuat dari jalinan cahaya di sudut kapsul. Ia harus bertindak cepat. Navasari mungkin sudah aman dari Martha, tapi Sang Navigator sedang sekarat di pelukannya.

"Hanya ada satu cara, meski ini dilarang," gumam Arlo sambil menatap layar navigasi yang berkedip merah.

Ia harus membawa kapsul ini keluar dari orbit bumi, menembus batas-batas aman yang selama ini memisahkan dunia manusia dari inti kosmik. Ia mengarahkan kapsul menuju sebuah koordinat yang selama ini ia hindari karena risikonya yang mematikan: Titik Indigo. Itu adalah pusat dari segala frekuensi, tempat di mana "Embun Keabadian" terkumpul. Cairan itu bukan air, melainkan sari pati emosi murni yang bisa menambal jiwa yang retak akibat penggunaan kekuatan dimensi yang berlebihan.

Arlo menarik tuas akselerasi maksimal. Kapsul itu berguncang hebat, mengeluarkan suara lengkingan logam yang dipaksa menembus batas cahaya. Bumi di jendela belakang mengecil menjadi bintik biru yang hilang tertutup nebula, digantikan oleh pemandangan kosmik yang mengerikan sekaligus indah—spiral gas berwarna ungu tua dan petir-petir ruang hampa yang menyambar di sekitar mereka tanpa suara.

Di Bumi – Mercusuar Navasari

Sementara itu di bumi, Elian masih terduduk lemas di lantai mercusuar yang dingin. Di depannya, Martha bersandar pada dinding dengan mata terbuka lebar namun kosong. Wanita itu tidak lagi bicara; ia hanya menatap kehampaan, terjebak dalam labirin penyesalan yang dikirimkan Alana. Dunianya kini hanyalah sebuah rekaman masa lalu yang berulang-ulang tanpa akhir.

Elian meraih alat deodolitnya dengan tangan yang bergetar karena kelelahan. Ia melihat ke atas, ke arah langit malam yang biasanya dihiasi pola rasi Cygnus kiriman Alana. Namun, malam ini langit mendadak sepi. Pola-pola ungu itu menghilang. Bintang-bintang tampak jauh dan dingin, seolah-olah lampu di atas sana baru saja dipadamkan oleh tangan raksasa.

"Alana... apa yang terjadi padamu?" bisik Elian, air mata menetes di pipinya yang kotor oleh debu mercusuar.

Tiba-tiba, deodolit itu bergetar hebat. Bukan pesan visual dari Alana, melainkan sebuah sinyal statis yang kasar dan tajam. Elian menempelkan telinganya ke alat itu, mengabaikan sengatan listrik statis yang kecil. Di tengah derau frekuensi itu, ia mendengar suara Arlo yang terputus-putus, seolah berjuang melawan badai kosmik.

"...Elian... dengar aku... jaga... tetap jaga mercusuar... Alana dalam bahaya... jiwanya retak... aku membawanya ke pusat galaksi... Titik Indigo... jika suar emas di mercusuar padam... berarti kami tidak akan pernah kembali... jaga lampunya, Elian! Apapun taruhannya!"

Jantung Elian mencelos. Ia menoleh ke arah lensa Fresnel raksasa di tengah ruangan. Pilar cahaya emas yang biasanya tegak dan kokoh itu kini mulai berkedip-kedip lemah, cahayanya meredup setiap kali napas Alana di atas sana melemah. Elian tahu, ia tidak bisa hanya diam. Jika pilar itu padam, Alana dan Arlo akan kehilangan "jangkar" atau rumah kompas mereka untuk kembali ke bumi. Mereka akan tersesat di ruang hampa yang tak berujung selamanya.

Elian berdiri, menatap tangannya yang melepuh. Ia harus menjaga agar mercusuar ini tetap menyala dengan cara apa pun. Ia mulai menyentuh panel kontrol mercusuar, mencoba mengalirkan energi cadangan, namun generatornya sudah habis. Dalam keputusasaannya, Elian meletakkan kedua telapak tangannya pada kaca lensa Fresnel. Ia mulai membayangkan Alana, membayangkan senyumnya, dan membayangkan semua surat yang belum sempat ia balas. Ia mencoba memberikan energinya sendiri keinginannya untuk melihat Alana kembali sebagai bahan bakar bagi cahaya itu.

Di Dalam Navigasi Langit – Titik Indigo

Kapsul berhenti di depan sebuah fenomena yang melampaui imajinasi manusia: sebuah nebula raksasa yang berbentuk seperti air terjun terbalik yang mengalir menuju sebuah lubang cahaya. Cahayanya berwarna indigo pekat, sangat kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Ini adalah tempat di mana "Penjaga yang Lebih Tua" bersemayam entitas yang mengawasi keseimbangan antara cinta dan hukum fisika.

Arlo keluar dari kapsul menggunakan setelan pelindung cahaya yang berpendar. Di tangannya, ia membawa sebuah botol kecil berbahan kristal. Ia melayang menuju inti nebula, menghadapi tekanan gravitasi yang bisa menghancurkan molekul manusia dalam sekejap.

Di sana, di tengah badai indigo, ia dihadang oleh entitas cahaya tanpa wajah. Mereka tidak memiliki tubuh, hanya suara yang bergema di dalam kesadaran Arlo seperti guntur yang tak henti-henti.

"Kenapa kau datang ke sini, Sang Navigator yang Tersesat? Kau telah melanggar perjanjian tertinggi dengan membawa manusia bumi ke dalam rahim semesta ini," suara mereka membuat Arlo tersungkur di udara.

"Dia bukan sekadar manusia bumi!" Arlo berteriak, menantang badai indigo dengan sisa kekuatannya. "Dia adalah pewaris frekuensi ini! Dia menyelamatkan bumi dari kehancuran yang diciptakan oleh dendam yang kalian biarkan tumbuh! Berikan aku Embun itu, atau biarkan aku membusuk di sini bersamanya sebagai bukti kegagalan kalian menjaga keadilan!"

Para Penjaga terdiam. Ruang angkasa di sekitar mereka bergetar, seolah-olah semesta sedang berpikir. Mereka mengalihkan pandangan mereka ke dalam kapsul, menembus dinding kristal ke arah Alana yang terbaring lemah. Mereka melihat pengorbanan yang dilakukan gadis itu seorang manusia yang rela menghancurkan batinnya sendiri demi melindungi seorang sahabat.

"Cinta manusia memang sebuah anomali yang paling berbahaya bagi hukum kami," sahut para Penjaga dengan nada yang sedikit melunak. "Tapi ia juga merupakan satu-satunya frekuensi yang membuat semesta ini tetap layak untuk kami amati."

Sebuah tetesan cairan berwarna biru bening, yang berpendar seperti bimasakti kecil, keluar dari inti nebula dan masuk ke dalam botol kristal Arlo.

Arlo segera kembali ke kapsul dengan sisa tenaga yang ada. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meneteskan satu tetes embun itu ke bibir Alana yang sudah membiru. Seketika, sebuah ledakan cahaya lembut terpancar dari tubuh Alana. Warna kelabu di kulitnya menghilang, digantikan oleh rona kehidupan yang bahkan lebih cerah dari sebelumnya.

Mata Alana terbuka perlahan. Pupil matanya kini tidak lagi hitam sepenuhnya; ada kilatan warna indigo yang tertinggal di sana tanda bahwa ia kini telah menyatu sepenuhnya dengan substansi langit. Ia tidak lagi sepenuhnya manusia, tapi ia hidup.

"Arlo?" bisiknya, suaranya terdengar seperti simfoni yang jernih.

"Aku di sini, Alana. Kita berhasil. Kita akan pulang."

Alana melihat ke luar jendela kapsul. Ia melihat betapa jauhnya mereka telah berkelana. Namun, di kejauhan yang amat sangat jauh, ia melihat sebuah titik emas kecil yang berkedip dengan penuh perjuangan di antara kegelapan.

"Elian," kata Alana, suaranya kini kembali kuat dan penuh otoritas. "Dia sedang memanggil kita pulang. Dia memberikan nyawanya untuk lampu itu."

Arlo tersenyum, menyeka air mata yang membeku di pipi Alana. "Kalau begitu, mari kita kirimkan surat balasan tercepat dalam sejarah manusia. Katakan padanya untuk tetap bertahan, karena Sang Navigator sedang menuju rumah."

kapsul yang melesat kembali menuju orbit bumi, mengejar cahaya emas mercusuar yang hampir padam. Alana menyadari bahwa meski ia hampir kehilangan eksistensinya, ia kini memiliki kekuatan baru yang jauh lebih besar. Ia bukan lagi sekadar gadis yang menerima surat; ia adalah bagian dari langit itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!