Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.
Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya
Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.
Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman Darren
Detik kemudian..
"Sial! Itu kan mobil yang ditumpangi oleh Mama dan Oma!"
Darren masih terus menyaksikan adegan di dalam video tersebut hingga dia melihat beberapa mobil itu berhasil menghadang mobil di depan.
Video berakhir...
Darren beralih ke Video 2. Kemudian Darren menekan klik di tengah video tersebut.
VIDEO 2 :
Video tersebut berlahan berputar. Di dalam video itu terlihat beberapa orang berpakaian hitam keluar dari dalam mobil yang berbeda. Setelah itu, orang-orang tersebut menghampiri mobil di depannya.
Dug..
Dug..
Dug..
Dua dari beberapa orang itu memukul dengan kasar pintu jendela mobil tersebut.
Tidak membuahkan hasil, dua dari mereka kemudian memecahkan kaca mobil tersebut sebanyak 5 kali sehingga kaca tersebut pecah.
Setelah itu, dua diantaranya membuka pintu mobil tersebut. Setelah terbuka, mereka langsung menarik kasar dua orang wanita beda usia dan satu pria yang ada di dalam mobil.
[Tidak! Lepaskan kami]
[Siapa kalian?]
Itulah kata-kata yang diucapkan oleh salah satu wanita yang dipaksa keluar.
"Mama! Oma! Paman Bima!" Darren mengepal kuat tangannya ketika melihat adegan dimana Ibunya, neneknya dan sopir ibunya yang disakiti.
"Brengsek."
[Bawa mereka!]
[Tidak! Lepaskan kami!]
[Nyonya besar! Nyonya! Lepaskan mereka!]
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Tiga orang tersebut memukul dan menendang pria yang berstatus sopir tersebut hingga pria tersebut tersungkur di aspal.
[Bawa mereka]
Setelah itu, mereka semua pergi membawa dua wanita tersebut.
[Tidak! Nyonya besar! Nyonya!]
Beberapa detik kemudian, datang sebuah mobil sedan. Mobil itu seketika berhenti tepat di dekat sang sopir.
Kemudian si pemilik mobil sedan itu langsung keluar dan berlari menghampiri sang sopir.
"Tuan Bima!"
Darren seketika membelalakkan matanya saat melihat pria yang sedang membantu Bima, sopir ibunya. Darren mengenali pria itu.
Pria itu adalah salah satu orang kepercayaan sekaligus bodyguard keluarga Garcia yang memang ditugaskan oleh mendiang sang kakek untuk melindungi anggota keluarga Garcia.
"Paman Dave!"
[Ini ambil]
[Apa ini, tuan Dave?]
[Ini flashdisk. Tolong kamu simpan baik-baik flashdisk ini]
[Apa yang harus saya lakukan terhadap flashdisk ini?]
[Sebelum keadaannya aman, tuan harus menyimpan flashdisk ini. Jangan sampai jatuh ke tangan siapa pun]
[Setelah semua aman, maka flashdisk ini harus anda serahkan kepada tuan muda Darren]
[Baik! Tapi tuan mau kemana?]
[Saya harus pergi untuk menyelamatkan Nyonya Belva dan Nyonya Vidya]
[Tapi tuan hanya sendirian]
[Tidak perlu khawatir. Beberapa anak buah saya sudah menyebar di beberapa lokasi terutama lokasi yang akan mereka jadikan untuk menyekap Nyonya Belva dan Nyonya Vidya]
[Tugas anda hanya satu, pergi dari sini dalam keadaan hidup. Jika semuanya aman. Berikan flashdisk itu kepada tuan muda Darren]
[Baiklah!]
[Ingat! Hanya kepada tuan muda Darren. Tidak dengan yang lainnya]
[Saya mengerti!]
[Pergilah]
Tuan Dave menyuruh pergi sang sopir bersamaan dengan dia memberikan kunci mobilnya kepada sopir tersebut.
Sementara tuan Dave sendiri akan menggunakan mobil yang ditumpangi oleh Belva dan ibu mertuanya yaitu nyonya Vidya.
Video berakhir...
Darren mengepal kuat tangannya dengan sorot matanya yang tajam.
Darren kembali beralih menuju video terakhir yaitu video ketiga. Di video ketiga ini berdurasi sangat panjang dari video 1 dan video 2.
VIDEO 3 :
Darren mengklik video ketiga.
Saat video ketiga telah berputar, Darren seketika terkejut. Di dalam video tersebut ada dirinya disana. Dengan kata lain, dia datang untuk menyelamatkan ibu dan neneknya.
[Mama! Oma!]
Di dalam video tersebut Darren berlari memasuki ruangan tersebut, diikuti oleh beberapa anggotanya di belakang plus tiga sahabat yaitu Willy, Axel dan Darel.
[Tuan muda!]
Terdengar suara Dave yang memanggil nama Darren saat sedang bertarung melawan laki-laki berpakaian hitam itu.
[Fokus, Paman!]
Dave langsung memberikan menatap kearah musuh-musuhnya.
Di dalam video tersebut tampak terlihat Darren, ketiga sahabatnya, beberapa anggotanya, sang bodyguard yaitu Dave serta anak buahnya sedang bertarung melawan orang-orang yang sudah menyulik dan menyekap Belva dan Nyonya Vidya.
Kondisi Belva dan Nyonya Vidya tampak tak baik-baik saja. Mereka beberapa kali mendapatkan penyiksaan. Bahkan tubuh keduanya diberikan dua suntikan yang mana efeknya adalah membuat keduanya langsung meninggal dunia.
Darren menghentikan menonton video itu. Dia sudah tidak sanggup harus kembali mengingat kejadian tersebut dimana dia gagal menyelamatkan ibu dan neneknya sehingga orang-orang itu berhasil melukai dan membunuh ibunya.
Darren hanya menonton tiga video saja. Sementara satu video lagi, Darren belum melihatnya.
Darren menyalin empat video itu, lalu membuatnya menjadi 1 video. Kemudian Darren mengkopinya menjadi vcd.
Selesai dengan tugasnya, Darren seketika menyandarkan punggungnya di punggung kursi kerjanya. Seketika dia tersenyum di sudut bibirnya.
"Waktunya pembalasan. Tuan Erland, tuan Davin, tuan Andra, tuan Dzaky, tuan Adnan. Waktunya kita bermain-main. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian setelah kalian melihat video ini," ucap Darren dengan tersenyum bak iblis.
Ketika Darren sedang sibuk dengan pekerjaannya sembari melihat video tentang kecelakaan ibu dan neneknya di layar laptopnya, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan ketukan pintu dari luar.
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk!"
Cklek..
Orang tersebut langsung membuka pintu ruang kerja atasannya setelah mendapatkan izin.
Setelah pintu terbuka, orang itu masuk ke dalam. Dan kini dia berdiri di depan meja kerja sang atasan.
Darren melirik sekilas kearah orang yang berdiri di depannya. Di tangannya memegang bekal makanan.
"Ada apa?" tanya Darren dengan tatapan dinginnya.
"Ini, saya membawakan makan siang untuk Bos. Saya tahu kalau Bos belum makan siang," ucap wanita itu.
"Aku sudah memesan makanan untuk makan siangku. Jadi kamu tidak perlu repot-repot. Bawa kembali makanan itu," jawab Darren yang pandangannya langsung kembali menatap layar laptopnya.
Wanita itu seketika terkejut mendengar jawaban sekaligus penolakan dari sang atasannya. Dia tidak menyangka jika atasannya itu menolak terang-terangan bekal darinya.
Darren kembali melirik kearah wanita di depannya itu. "Apa ada lagi?"
Wanita itu seketika terkejut. "Ach! Tidak ada, Bos!"
"Kalau begitu, silahkan pergi!"
Dan pada akhirnya, wanita itu pun pergi meninggalkan ruang kerja atasannya.
Setibanya diluar, wanita itu seketika marah. Terlihat tangannya yang mengepal kuat.
"Sialan! Masih saja gagal untuk mendapatkan perhatiannya. Sudah berbagai macam cara aku lakukan, tapi tidak ada yang satu pun berhasil," ucap wanita itu.
Wanita yang memberikan bekal kepada Darren adalah sekretarisnya. Wanita itu sudah sejak lama menyukai atasannya. Berulang kali dia mencoba untuk menarik perhatian atasannya, namun berulang kali pula usahanya selalu gagal.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sora. Erland saat ini berada di ruang tengah. Dia tidak sendirian, melainkan bersama adik laki-lakinya yaitu Marco Diaz Smith dan keempat putranya.
"Kak."
"Hm."
"Mau sampai kapan kakak seperti ini? Sudah 1 tahun kak Erland mengabaikan Darren dan sudah 1 tahun juga kakak tidak anggap Darren putra kakak lagi. Apa memang kakak sudah tidak peduli lagi terhadap Darren." ucap dan tanya Marco.
"Sudahlah Marco. Jangan bahas anak tidak tahu diri itu lagi. Kakak tidak ingin menambah beban pikiran, apalagi memikirkan dia."
"Lalu kalian bagaimana?" tanya Marco dengan tatapan matanya menatap kearah Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.
"Sama seperti papa. Kami tidak peduli dengan anak itu," jawab Davin dan Andra bersamaan.
"Kami tidak ingin membahas masalah itu," ucap Dzaky dan Adnan dengan tatapan matanya menatap layar ponselnya.
Mendengar jawaban yang tak menyenangkan dari keempat keponakannya itu membuat Marco hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku penasaran dengan status Darren yang sesungguhnya." Marco sengaja berbicara seperti itu untuk membuat kakaknya dan keempat keponakannya itu sadar akan ucapannya barusan.
"Maksud kamu?"
"Apa benar Darren itu putra kandung kakak dan kak Belva?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aneh saja."
"Apanya yang aneh, Paman?" tanya Davin.
"Ya, aku curiga kalau Darren bukan putra kandungnya kakak dan kak Belva."
"Jangan asal kamu."
"Paman Marco!"
"Jadi...?"
"Dia putra kandungku, Marco!"
"Jika Darren putra kandungnya kakak. Kenapa kakak bersikap seolah-olah Darren bukan putra kandungnya kakak. Bahkan kakak tidak mempercayainya. Kakak lebih mempercayai Riyo dan orang-orang itu," jawab Marco.
"Atau jangan-jangan...." Marco menatap intens wajah kakaknya itu.
Erland dan keempat putra tertuanya langsung melihat kearah adiknya/pamannya ketika mendengar ucapannya.
"Jangan-jangan apa, Marco/Paman Marco?"
"Darren bukan anak kandungnya kakak dan kak Belva," tuduh Marco.
"Tutup mulutmu, Marco!" bentak Erland. "Darren putra kandungku dan Belva. Kamu jangan asal bicara dengan mengatakan bahwa Darren bukan putra kandungku dan Belva!"
"Oh, ternyata benar dugaanku!" seru seseorang melangkah masuk menuju ruang tengah.
Deg..
Erland, keempat putranya dan Marco seketika terkejut ketika mendengar seruan seseorang. Dan dengan kompak mereka melihat keasal suara.
"Darren!"
Yah! Darren melangkah masuk ke rumah tanpa diketahui oleh ayahnya, keempat kakaknya dan pamannya. Dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Setelah selesai berbicara, Darren langsung mendengar ucapan terakhir ayahnya yang mengatakan bahwa dia bukan putra kandung dari ayahnya dan ibunya.
Mereka semua berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.
"Sekarang aku sudah tahu alasan kalian membenciku selama 1 tahun ini. Ternyata kebencian kalian bukan karena kematian Mama dan Oma, melainkan kalian memang membenciku selama ini. Kalian tidak pernah bersungguh-sungguh menyayangiku. Semua yang kalian berikan selama ini hanyalah kepalsuan!" teriak Darren.
Erland dan keempat putranya langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa apa yang dikatakan oleh Darren tidaklah benar.
"Kalian menutupi semuanya selama ini. Dan sejak kejadian itu sehingga membuat Mama dan Oma meninggal, barulah kalian memperlihatkan sifat asli kalian kepadaku. Wah... Wah! Aku benar-benar salut terhadap kalian." Darren berbicara sembari tersenyum miris dengan tatapan matanya menatap wajah ayahnya dan wajah keempat kakaknya.
Erland dan keempat putra tertuanya menggelengkan kepalanya. Mereka ingin mengatakan bahwa itu tidak benar, namun karena rencana mereka ingin menyelidiki kebenaran tentang Riyo dengan masih membenci Darren sehingga mereka tidak mengatakan apapun.
"Sudah seperti ini, kalian masih saja bungkam dan tidak ada niat sama sekali untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada Darren. Kalian tidak pantas disebut manusia," batin Marco menatap kecewa kakaknya dan keempat keponakannya.
Darren menatap tajam kearah ayah dan keempat kakaknya itu. Dia begitu marah bahkan dendam terhadap mereka.
Setelah puas menatap ayah dan keempat kakaknya, Darren memutuskan untuk pergi menuju kamarnya di lantai dua.
penasaran kelanjutannya
semangat
up lagi ya
kasian Darren
semangat trus kak