"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 22
Beberapa minggu setelah libur kemah, musim panas hampir berakhir. Mereka akan segera memasuki semester baru, dengan kelas yang lebih tinggi dan tanggung jawab yang lebih besar. Namun sebelum itu, mereka ingin membuat momen terakhir yang spesial bersama sebelum sekolah dimulai kembali.
Pada hari Minggu pagi, Yuki mengajak semua teman dan Ayase ke pantai yang pernah mereka kunjungi bersama. "Aku ingin kita mengakhiri musim panas ini dengan sesuatu yang spesial," ucap Yuki dengan senyum. "Pantai itu tempat kita membuat banyak kenangan, jadi aku rasa itu cocok."
Mereka tiba di pantai saat matahari baru mulai naik. Pantai masih sepi, hanya ada suara ombak yang menyapu pasir dan burung laut yang terbang di atas langit. Mereka menyebarkan tikar di pasir putih yang lembut dan duduk bersama.
Ayase membawa makanan yang sudah disiapkan nasi uduk, telur balado, dan buah-buahan segar. Mereka sarapan bersama sambil menikmati pemandangan laut yang biru dan jernih. Hana makan dengan lahap, membuat semua orang tertawa. "Aku selalu lapar kalau di pantai!" ucapnya dengan penuh senyum.
Setelah sarapan, mereka mulai bermain air. Kinta dan Yuki berjalan santai di tepi pantai, tangan saling terjalin. Omong kosong mereka tentang hal-hal kecil rencana untuk semester baru, buku yang ingin mereka baca, dan mimpi mereka yang ingin dicapai bersama.
"Kamu benar-benar ingin jadi guru ya, Yuki?" tanya Kinta dengan penuh perhatian. Yuki mengangguk. "Ya. Aku ingin mengajarkan anak-anak banyak hal, seperti bagaimana Bu Siti menginspirasi kita. Dan mungkin, aku bisa membantu anak-anak yang merasa sendirian seperti Rina dulu."
Kinta memegang tangannya lebih erat. "Aku tahu kamu akan menjadi guru yang luar biasa. Dan aku akan selalu mendukungmu, apa pun yang kamu lakukan."
Setelah bermain air, mereka pergi ke sebuah batu besar yang terletak di tepi pantai tempat mereka pernah duduk saat liburan pertama mereka bersama. Mereka duduk berbarengan di atas batu itu, melihat kapal-kapal kecil yang melintas di kejauhan.
"Kalian tahu nggak," ucap Rina dengan suara pelan, "sebelum aku bertemu kalian semua, aku merasa sangat sendirian. Aku takut untuk berbicara dengan orang lain dan selalu tinggal di belakang. Tapi sekarang... aku merasa seperti punya keluarga kedua."
Hana memeluknya erat. "Kamu memang bagian dari keluarga kita, Rina! Kita tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi." Yuki juga menambahkan. "Betul! Kita akan selalu bersama, baik sekarang maupun nanti."
Bu Siti yang datang bersama mereka duduk di sebelah Ayase. "Saya sangat bangga dengan kalian semua," ucap Bu Siti dengan suara penuh emosi. "Dari sekelompok anak yang hanya bermain bersama, kalian telah tumbuh menjadi orang-orang yang saling mencintai dan mendukung satu sama lain. Itu adalah hal yang paling berharga di dunia."
Malam menjelang, matahari mulai terbenam, menghiasi langit dengan warna-warni yang indah oranye, merah, ungu, dan emas. Mereka berdiri bersama di tepi pantai, menghadap laut yang mulai berwarna keemasan.
Kinta mengambil tangan Yuki dan berdiri di depan semua orang. "Kita telah melalui banyak hal bersama suka dan duka, kegembiraan dan kesedihan. Dan melalui semua itu, kita tetap bersama. Aku ingin membuat janji di sini, di hadapan semua orang yang kita cintai."
Dia melihat ke mata Yuki dengan cinta yang mendalam. "Yuki, kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupku. Aku berjanji akan selalu mencintaimu, melindungimu, dan mendukungmu dalam setiap langkah hidupmu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu."
Yuki menangis air mata senang, tapi wajahnya penuh dengan kebahagiaan. "Kinta... aku juga berjanji padamu. Aku akan selalu mencintaimu, memahamimu, dan berada di sisimu melalui segala sesuatu. Kamu adalah cinta hidupku."
Mereka saling memeluk erat, sementara teman-teman mereka bersorak senang dan melemparkan bunga ke udara. Hana menangis bahagia. "Ini yang paling romantis yang pernah aku lihat!" ucapnya sambil mengelap air mata.
Setelah momen romantis itu, mereka semua berkumpul dan membentuk lingkaran di pasir. Setiap orang mengambil sebuah batu kecil dan menuliskan harapan mereka untuk masa depan.
- Hana menuliskan: "Aku ingin menjadi juru masak yang bisa membuat orang bahagia dengan masakanku. Dan aku ingin selalu bisa bertemu dengan teman-teman terbaik ku ini setiap tahun."
- Rina menuliskan: "Aku ingin menjadi seniman yang bisa menggambarkan keindahan dunia dengan lukisanku. Dan aku ingin selalu memiliki teman-teman yang selalu mendukungku."
- Kinta menuliskan: "Aku ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan orang sakit. Dan aku ingin selalu bisa bersama Yuki, mencintainya dan merawatnya."
- Yuki menuliskan: "Aku ingin menjadi guru yang bisa menginspirasi anak-anak. Dan aku ingin selalu bersama Kinta, membangun masa depan yang indah bersama-sama."
- Ayase menuliskan: "Aku ingin selalu sehat dan bisa melihat Yuki tumbuh menjadi orang yang bahagia. Dan aku ingin menjadi orang yang bisa membantu teman-teman Yuki kapan saja mereka butuh."
- Bu Siti menuliskan: "Saya ingin melihat semua murid saya sukses dan bahagia. Dan saya berjanji akan selalu menjadi tempat berteduh bagi mereka yang membutuhkan bantuan."
Mereka kemudian melemparkan batu-batu itu ke laut, sebagai persembahan untuk masa depan yang mereka impikan. "Semoga semua harapan kita terkabul!" teriak mereka bersama, suara mereka bergema di sepanjang pantai.
Malam tiba, dan mereka menyalakan lilin kecil di tikar mereka. Cahaya lilin berkilauan di bawah langit yang penuh bintang. Mereka makan makanan yang tersisa, bercanda, dan menyanyi lagu-lagu kenangan.
Hana mengambil gitar yang Bu Siti bawa dan mencoba memainkan lagu sederhana meskipun nadanya sering salah, tapi semua orang tetap menikmatinya. Kinta dan Yuki berdiri dan menari lambat di atas pasir, menyusuri irama musik yang lembut. Rina mengambil foto setiap momen indah yang terjadi.
"Aku tidak akan pernah melupakan hari ini," ucap Yuki dengan suara pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Kinta. "Ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku." Kinta mencium kepalanya dengan lembut. "Aku juga tidak akan pernah melupakannya, sayangku. Kita akan selalu memiliki momen-momen seperti ini."
Waktu sudah larut malam, mereka mulai bersiap untuk pulang. Mereka membersihkan semua bekas makan dan memastikan tidak ada sampah yang tertinggal di pantai. "Kita harus menjaga tempat yang memberi kita banyak kenangan indah," ucap Rina dengan serius.
Di jalan pulang, mereka semua merasa lelah tapi sangat bahagia. Hana sudah tertidur di kursi belakang, kepalanya menempel di bahu Rina. Kinta dan Yuki duduk di depan, tangan saling terjalin, sambil melihat pemandangan kota yang mulai redup.
Saat sampai di rumah Yuki, mereka berpisah dengan janji untuk selalu menjaga hubungan mereka. "Kita akan selalu bertemu setiap akhir pekan ya!" ucap Hana dengan mata yang masih mengantuk. "Tentu saja! Kita tidak akan pernah terpisahkan!" jawab mereka semua.
Ayase memeluk Yuki dengan erat setelah teman-temannya pergi. "Aku sangat bahagia melihatmu begitu bahagia, Yuki," ucap Ayase dengan suara penuh cinta. "Kamu telah menemukan cinta sejati dan teman-teman yang sesungguhnya. Aku tidak bisa lebih bangga darimu."
Yuki menangis bahagia. "Terima kasih, Kakak. Tanpamu, aku tidak akan pernah menjadi orang yang seperti sekarang. Aku sayang kamu."
Beberapa hari kemudian, hari pertama sekolah semester baru tiba. Mereka berkumpul di gerbang sekolah dengan wajah yang ceria dan penuh semangat. Yuki mengenakan seragam sekolah yang rapi, Kinta membawa buku baru yang tebal, Hana membawa tas yang penuh dengan camilan, dan Rina membawa kamera untuk mengambil foto kenangan baru.
Bu Siti datang dengan senyum lebar. "Selamat datang kembali, anak-anak! Semoga semester baru ini membawa banyak kebaikan dan kesuksesan bagi kalian semua." Mereka semua mengangguk dengan semangat.
Di kelas, mereka duduk di tempat duduk yang sama seperti sebelumnya Yuki dan Kinta berdampingan, Hana di sebelah mereka, dan Rina di depan. Mereka melihat papan tulis yang baru dengan jadwal pelajaran yang baru, merasa penuh harapan untuk hari-hari yang akan datang.
"Apakah kamu siap untuk semester baru ini?" tanya Kinta kepada Yuki dengan senyum. Yuki tersenyum dan menggenggam tangannya. "Ya, aku siap. Karena aku tahu aku tidak akan pernah sendirian, aku punya kamu, teman-teman ku, Kakak Ayase, dan Bu Siti yang selalu ada di sisiku."
Mereka melihat satu sama lain dengan senyum penuh kebahagiaan. Mereka tahu bahwa hidup akan selalu memiliki tantangan dan rintangan, tapi mereka juga tahu bahwa dengan cinta dan persahabatan yang mereka miliki, mereka bisa mengatasi segala sesuatu.
Dan seperti itu, Nantikan kisah mereka semua