NovelToon NovelToon
Mundur Atau Terus Mengejarnya?

Mundur Atau Terus Mengejarnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Malam itu, Gwen seorang gadis remaja tidak sengaja memergoki cowok yang dia kejar selama ini sedang melakukan pembunuhan.

Rasa takut tiba-tiba merayap dalam tubuhnya, sekaligus bimbang antara terus mengejarnya atau memilih menyerah, Karena jujur Gwen sangat takut mengetahui sosok yang dia puja selama ini ternyata seorang pria yang sangat berbahaya, yaitu Arsenio.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Tiga sekawan baru saja meninggalkan kampus dengan tawa dan gurau. Arsenio, agak terpisah, mendengarkan percakapan yang, menurutnya, menjengkelkan antara Danny dan Eliano.

Langkah mereka berhenti tiba-tiba saat melihat Agatha berdiri di samping kendaraan mereka, menyulut kejadian memalukan yang baru saja terjadi, terutama bagi Eliano yang mencoba menyembunyikan rasa malunya. Danny, tidak peduli, meledakkan tawanya kembali.

"Diem," ujar Arsenio dengan suara berat, yang seketika mendiamkan Danny.

"Boleh bicara bentar?" Agatha mendekati Arsenio, sambil melirik Eliano yang cemburu.

Eliano, dengan wajah datar, bersandar pada mobil sambil mengawasi mereka berdua dari dekat.

Agatha mengambil napas dalam sebelum melanjutkan, "Sebelumnya, gue benar-benar minta maaf sama lo, Arsen. Gue libatin lo ke masalah gue sama El." Matanya sekejap menangkap pandangan Eliano yang masih berwajah datar.

"Maaf ya, gue sebenarnya nggak bener-bener suka sama lo. Gue cuma ngelakuin itu karena ada alasan kuat dan gue pikir lo orang yang tepat. Gue nggak nyangka itu malah bikin hubungan persahabatan kalian jadi dingin," ujar Agatha dengan nada lesu.

"Apa alasan lo lakuin itu?" tanya Arsenio dengan suara berat.

"Nanti gue cerita lengkap sama El, karena ini menyangkut dengan El" jawab Agatha sambil berjalan mendekati Eliano yang sudah berdiri tegak. "Aku akan jelaskan semuanya, maafin aku ya, aku egois," kata Agatha sambil menggenggam tangan Eliano.

Wajah Eliano tanpa ekspresi, tapi dalam hatinya, dia merasa lega mendengar Agatha tidak benar-benar menyukai Arsenio.

"El, kenapa diem? Ga mau maafin aku? Aku janji bakal jelasin semuanya, detail," rayu Agatha dengan wajah memelas.

Eliano masih diam, menatap dalam ke mata Agatha, mencari keseriusan di sana, tapi yang dia lihat malah tatapan yang tertekan. "Gimana sikap lo nanti malam?" tanya Eliano dengan suara serak.

Tiba-tiba, Danny memegang bahu Eliano, menatapnya dengan rasa tidak percaya.

"Mesum banget sih lo!" Sentak Danny.

Arsenio hanya bisa tertawa melihat sahabatnya yang pikirannya melayang ke hal-hal yang kurang ajar. "Mikirin apa lo, hah!?" Eliano menatap Danny dengan tatapan tajam, jengkel dengan pikiran sahabatnya itu.

"Lo mau rusakin Atha, jangan kelewatan, lo mau jadi cowok brengsek apa?" Danny membalas.

"Lo pikir gue cowok apa, yang mau lakuin itu sebelum nikah? Otak lo makin enggak benar, ya!" Eliano balas menegur.

"Maaf, gue kira lo mau macem-macem sama Atha, makanya gue panik, takut lo tiba-tiba jadi brengsek," kata Danny sambil menggeser tubuhnya menjauh dari Eliano, khawatir kalau-kalau Eliano marah dan memukulnya.

Agatha hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku mereka yang acak-acakan. Dia tersenyum manis ke arah Eliano, tanpa mereka sadari tangan mereka masih saling bertautan.

"Jadi, gimana Arsen? Lo mau maafin gue kan?" tanya Agatha, tidak sabar menunggu jawaban dari Arsenio.

"Enggak gratis," sahut Arsenio.

"Gue harus bayar berapa? Tapi jangan mahal-mahal," kata Agatha.

"Lo pikir gue kekurangan duit apa? Ngada-ngada lo," ucap Arsenio kesal.

"Ya sudah, apa?" kata Agatha.

"Pikirkan yang menguntungkan gue," ujar Arsenio.

Agatha berpikir sejenak, lalu senyum miringnya muncul di sudut bibir. "Gimana kalau sebagai permintaan maaf, gue bantu lo deketin adek gue? Gue bakal kasih tahu semua yang disukai dia, makanan favoritnya, apa yang dia benci. Gue siap jadi intel hubungan lo sama dia," kata Agatha dengan tawaran yang menarik.

Arsenio mengangkat satu alis, tampak bingung. "Kayaknya Atha belum tahu pasal Gwen lagi menjauh dari gue. Dia benar-benar nggak cerita ke siapa-siapa soal kejadian malam itu. Biasanya dia selalu curhat ke Atha," batin Arsenio.

"Oke, gue setuju," jawab Arsenio cepat, membuat kedua sahabatnya terkejut, langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. "Demi kapal berlayar," celetuk Arsenio.

"Ya udah, setuju ya," kata Agatha sambil mengulurkan tangannya ke Arsenio.

"Ga usah salaman segala," ucap Eliano ketus, menurunkan tangan Agatha dengan cepat.

"Dasar posesif sinting," cibir Danny.

"Biarin, urusan lo apa," sahut Eliano.

Danny, dengan suara tinggi penuh drama, mengeluh, "Sakit hati gue, Mak. Punya teman laktat kayak dia."

Eliano, dengan nada ambigu, melontarkan saran, "Cari pasangan sana, jangan jomblo terus. Nanti orang mikir punya lo tidur melulu."

Komentar itu membuat Agatha refleks memukul lengan Eliano lembut sebagai peringatan, sambil tersenyum sinis.

"Emang, teman gue ga punya adab. Bisa-bisanya punya gue di bilang tidur melulu" ujar Danny, menghela nafas berat, raut mukanya memperlihatkan kekesalan.

"Gak usah di perjelas juga anjir! " kesal Arsenio.

"Tunggu aja, Rafa bakal balik selamatin gue dari dua teman butol ini. Gue ga sendirian jomblo lagi," ejek Danny, menantang.

"Semoga berhasil, Bro," kata Arsenio, seraya merangkul bahu Danny erat, memberikan semangat.

"Tunggu, tunggu," potong Agatha tiba-tiba, rasa penasaran terpancar dari matanya. "Rafa bakal balik ke sini lagi?"

Eliano mengangguk, "Iya, nanti sore dia bakal tiba."

"Maudy ikut pulang nggak?" tanya Agatha, mencari kepastian.

Eliano hanya mengangguk kaku. "Seharusnya iya, karena mulai sekarang mereka semua bakal tinggal di sini," jawabnya.

Danny menghela napas, "Ngomongin Maudy, gue enek deh liat dia pura-pura polos dan manja gitu. Kayaknya dia ada maunya deh, terutama sama lo, Arsenio."

Eliano menimpali, "Iya, kayak dia pengen dapet perhatian dari lo. Mungkin dia suka sama lo, Arsen."

Danny mengangkat bahu, "Entahlah, kayak iya tapi kayak enggak juga."

Tiba-tiba Agatha terkejut, "Gawat! Kayaknya bakal ada perang dunia lagi nih," ucapnya, membuat ketiga cowok itu menoleh ke arahnya.

"Kenapa?" tanya Eliano penasaran.

Agatha ragu, "Arsen, lo gak suka kan sama Maudy?"

Arsenio menjawab singkat, "Gak, ngapain juga gue suka sama cewek kayak dia."

Agatha menegaskan, "Bagus, lo gak usah suka sama cewek PPB kayak dia. Pokoknya lo gak boleh suka sama dia, oke?"

Danny bertanya, "Tapi kenapa emangnya?"

"Kalau mau dapetin hati adik gue, lo harus jauhin Maudy. Dia itu musuh nomor satu adik gue sekarang," ujar Agatha serius. "Jangan sampe deket-deket sama Maudy, kalau nggak mau adik gue menjauh dari lo."

Arsenio cuma mengangguk, meski dalam hati masih bingung. "Sejak kapan gue deket sama Maudy? Tenang aja, adik lo itu nomor satu di hati gue," balas Arsenio dengan nada meyakinkan.

Danny, yang mendengarkan, tidak bisa menahan tawa. "Wah, bisa juga nih si Arsenio ngomong gitu. Gue pikir selamanya bakal jadi cowok kaku" goda Danny.

"Diem!" sentak Arsenio.

Eliano penasaran, "Emang kenapa sih Maudy sama Gwen? Mereka ada masalah apa?"

"Lebih tepatnya, Maudy yang selalu nyari masalah sama adik gue. Kalau penasaran, tanya aja sama Rafa. Dia pasti tau detailnya," jelas Agatha.

Danny menambahkan, "Gue juga ngerasa Rafa nggak pernah suka sama sikap adiknya. Kayaknya dia tertekan tiap kali dekat sama dia."

Agatha hanya tersenyum pahit, matanya teralih ke gedung sekolah. Di sana, sepupunya keluar sambil bercanda ria dengan Selly.

"Semoga kejadian itu nggak keulang lagi," gumam Agatha sambil tersenyum, melihat Gwen melambaikan tangan ke arahnya. "Kakak!" seru Gwen ceria.

Suara Agatha terdengar jelas oleh Arsenio, yang langsung menatap Gwen dengan tatapan penuh tanya. "Kak, yuk pulang. Papi udah nungguin di mobil," teriak Gwen sambil menunjuk ke arah mobil hitam yang pintu belakangnya dibukakan oleh sopir.

Agatha tersadar dari lamunannya, mengangguk mantap, lalu menoleh ke tiga cowok yang berdiri di belakangnya. "Aku duluan ya, Om udah jemput," pamit Agatha ke Eliano.

Eliano cuma mengangguk. "Sampai ketemu nanti malam," balasnya dibalas anggukan dari Agatha.

"Cepetan, Kak! Aku udah laper, Papi ajak makan siang di luar," teriak Gwen lagi.

"Iya, iya, cerewet banget sih," canda Agatha sambil menghampiri nya masuk ke bangku depan mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sopir.

"Gue denger Atha bilang 'semoga kejadian itu nggak keulang lagi'. Kira-kira maksudnya apa ya?"tanya Danny penasaran.

Eliano hanya menggeleng pelan, ekspresi wajahnya tak terbaca. Sementara itu, Arsenio terus menatap mobil yang dinaiki Gwen, matanya tak berkedip saat mobil itu perlahan menghilang di balik gerbang sekolah.

Ketika bisikan Agatha kembali bergema di telinganya—peringatan tentang sesuatu yang akan terjadi—bibirnya bergerak-gerak tanpa suara, seakan menyusun puzzle dari keping-keping kata yang belum lengkap.

"Sesuatu akan terjadi," gumam Arsenio perlahan, berusaha meredakan gejolak di dalam hatinya.

1
Gebi Tompul
lanjut
Myra Myra
kasihan Gwen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!