Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Markas
...Nurhalina...
...────୨ৎ────...
Pintu mobil terbuka, tangan si Kekar masih lengket di rambutku, sedang si Bos membersihkan air liurnya yang berserakan di sekujur wajahku. Malam ini tubuhku habis menjadi santapan dua pria gila. Kebaya yang kukenakan ludes disobeknya begitu pula jarik yang menyembunyikan tubuh bagian bawahku. Hanya selendang ini satu-satunya penutup yang tersisa.
"Tahu gitu tadi kita muter-muter dulu lewat jalan yang lebih jauh. Kamu cantik juga ternyata," ucap si Bos sambil menyeka bibirnya dengan sapu tangan.
Kami pun turun dari mobil, si Bos dengan leluasa melompat dari pintu dengan wajah puas. Senyumnya membuatku jijik, "Besok lagi, ya cantik!"
Aku sudah tak bisa lagi berekspresi, menyadari rasa sakitnya di seluruh badan, leher, pipi hingga pangkal kakiku. Aku yakin, apa yang mereka lakukan kepadaku tadi meninggalkan memar atau luka.
"Bawa dia masuk, eh... Jangan..." ucap si Bos, dia kelihatan bingung. "Tunggu-tunggu, mumpung Papa belum pulang, bagaimana kalau kita selesaiin permainan tadi?"
Si kekar hanya mengangguk sambil menjepit kepalaku di antara ketiaknya. Tentu saja ada bau terasi rebus yang menyerang hidungku.
"Kita selesaikan di sini aja Bos, main cepat!" usul si Kekar. Memposisikanku jongkok seperti peliharaan, sambil menarik rambutku ke belakang.
"Ide bagus," balas si Bos sambil melepas sabuk yang melilit pinggangnya.
...Splaasshh Splaaassshhhh...
Dua pecutan singkat mendarat di atas punggungku. Aku balas dengan berteriak sekuat-kuatnya untuk menahan rasa sakit yang menjalar sampai ke ubun-ubun.
Si bos tak menyerah, ia menurunkan celananya dan memaksaku membuka mulut. Sedangkan si kekar masih sibuk menahan belakang kepalaku dengan lututnya dan kedua tangannya kini ada di kanan kiri pipiku.
"Hisap cantik!" paksanya.
"Arrghhhh." Rasanya percuma aku memekik, walau sampai habis suaraku mana mungkin ada yang mendengar. Jarak antara rumah satu dengan lainnya di sini cukuplah jauh mengingat ada ladang yang memisahkan. Tapi di kejauhan, tampak sorot lampu kendaraan yang menuju ke sini.
"Sial! Cepet hisap bodoh!" bentak si Kekar sambil memajukan kepalaku ke arah batang Bosnya yang telah tegak mengacung. Untungnya benda kenyal itu hanya menyerempet hidungku. Meski baunya cukup membuatku ingin muntah, tapi aku bersyukur benda itu gagal memasuki mulut.
"Ahh lama! Berengsek!" timpal si Bos akhirnya menyerah dan menutup celananya. Tapi sempat mencolek jahil sebentar dadaku sebelum dia berpura-bura berdiri tegap saat mobil berpelat merah datang memasuki halaman rumah.
Seseorang turun dari mobil itu, tampak seragam cokelat muda dengan topi hitam berlogo gapura menghiasi tubuhnya yang teramat buncit. Tak lupa puji syukur serta salam dipanjatkan olehnya, "Alhamdulillah, sampai rumah juga!"
"Mana oleh-olehnya Pa?" sambut si Bos tanpa basa basi.
"Di kursi belakang, Nak." balas seseorang bernama Bahlil itu. Tampak namanya terbordir timbul di atas sakunya. "Kesukaan kamu itu!"
Si Bos buru-buru membuka pintu belakang dan mengeluarkan satu kantong keresek merah besar. Setelah dibuka isinya membuatku mual.
"Pembalut?" kejut si Bos. Sebenarnya aku pun tak kalah terkejut, tapi rasa sakit yang menempel di punggung membuatku tak memberikan ekspresi itu. "Pa, yang benar saja!"
"Bocah ganteng, itu titipan Bundamu, Nak! Punyamu di keresek putih!" jelas sang Ayah.
Tak lama kemudian ia berhasil mendapatkannya. Dia mundur ke luar dari mobil dengan senyum lebar.
Saat keresek itu dibuka...