‼️Harap bijak dalam memilih bacaan‼️
CEO tampan dan dingin itu ternyata seorang psikopat kejam yang telah banyak menghabisi orang-orang, pria itu bernama Leo Maximillian
Leo menjadikan seorang wanita sebagai tawanannya, wanita itu dia jadikan sebagai pemuas nafsu liarnya.
Bagaimana nasib sang wanita di tangan pria psikopat ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vebi Gusriyeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Bunuh Diri
Maureen Chulpan berhasil melarikan diri dari kejaran ayah tirinya, dia tidak ingin dijadikan sebagai budak nafsu oleh ayah tirinya yang gila itu. Maureen berlari sekuat mungkin, dia merasa kalau saat ini lututnya begitu sakit karena tadi sempat terbentur ke sudut meja.
Maureen Chulpan gadis 22 tahun blasteran Rusia, ibunya Indonesia sedangkan ayah kandungnya orang Rusia, semenjak ayahnya meninggal 6 tahun yang lalu, ibunya menikah lagi dengan seorang pengusaha cabul, karena setiap ada kesempatan, ayah tirinya itu pasti akan berusaha untuk melecehkan dia.
Maureen melihat ada sebuah mobil tengah berhenti di pinggir jalan dengan keadaan pintu terbuka, dengan cepat Maureen menaiki mobil itu lalu bersembunyi di bangku tengah, semua berkas yang ada di bangku tengah berserakan namun Maureen tidak peduli, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah berusaha kabur dari Herry, ayah tirinya.
Leo memasuki mobil, dia begitu kaget melihat semua berkas pentingnya hari ini rusak dan berserakan oleh Maureen.
“Sialan, kau merusak berkas ku,” geram Leo menatap nyalang Maureen.
“Tolong maafkan aku, aku sedang dalam bahaya tuan.”
“Brengsek, keluar dari mobilku.”
“Aku mohon biarkan aku di sini dulu,” mohon Maureen tapi Leo tidak peduli, dia segera keluar dari mobil dan membuka pintu tengah lalu menarik kuat Maureen.
“Wanita keparat,” umpat Leo lalu mengendarai mobilnya dengan cepat, Maureen kembali berlari mencari tempat persembunyian yang bagus.
Leo terpaku melihat semua berkasnya hancur dan rusak, padahal itu merupakan berkas yang sangat penting. Dengan ragu, Leo menemui klien nya, dia menjalani rapat hari ini dengan penuh kekecewaan, proyek besar yang akan dia garap harus hancur seketika.
Leo menggeram, dia begitu marah dengan Maureen yang telah merusak semua ini. Sepulangnya dari kantor, Leo terus ke club untuk menyegarkan pikirannya, ternyata di sana dia kembali bertemu dengan Maureen yang sedang dicumbu oleh seorang pria paruh baya.
Leo tak kuasa lagi menahan amarahnya, dia langsung menarik Maureen hingga gadis itu tersentak kaget, pria yang mencumbunya tadi ikutan marah karena kesenangannya terganggu.
“Berani sekali kau menggangguku.” Teriak pria itu pada Leo, karena saat ini Leo dikuasai oleh emosi, dia langsung menghajar wajah pria tua tersebut yang membuat Maureen tersenyum puas.
“Ikut aku!” Leo menarik kuat Maureen lalu memasukkan Maureen ke dalam mobil.
“Terima kasih tuan, kau sudah membantuku lepas dari pria tua itu.” Leo tidak menjawab, dia dengan cepat memacu mobilnya menuju rumah, dia akan mengakhir hidup Maureen malam ini juga, sedangkan Maureen merasa aman bersama Leo.
“Kau mau bawa aku ke mana?” tanya Maureen ketika Leo memasuki pekarangan rumah megahnya.
Leo kembali menarik Maureen namun gadis itu berontak, alhasil, Leo menampar Maureen berkali-kali hingga sudut bibirnya berdarah.
“Ikut secara suka rela atau kau aku seret.” Maureen bisa melihat kilatan amarah dalam sorot mata Leo.
“Apa salahku?” tanya Maureen.
“Kau sudah menghancurkan pekerjaanku, sekarang aku akan hancurkan dirimu.” Leo menarik kuat Maureen yang mau tidak mau ikut melangkahkan kaki bersama Leo.
Pria itu langsung membawa Maureen ke ruang bawah tanah untuk dia siksa, Maureen begitu ngeri dengan ruangan itu, dia terus menangis dan memohon agar Leo membebaskannya tapi Leo sama sekali tidak menggubris dirinya.
Leo mengikat tangan Maureen dengan rantai lalu menarik rantai itu hingga tubuh Maureen menggantung. Dia mengambil sebuah cambuk lalu mendera Maureen hingga dirinya puas.
“Ampuuunn tolong ampuni akuu, aku mohon tuann sakiiiitt,” jerit Maureen karena Leo begitu kuat mencambuk dirinya.
“Dasar jalang sialan, karena kau aku kehilangan proyek besar dan kau malah bersenang-senang di club hah.” Leo kembali mencambuk Maureen dengan kuat sehingga Maureen tak kuasa lagi berteriak, tubuhnya begitu sakit.
“Kau ingin bersenang-senang bukan, aku akan memberikan kesenangan untukmu.” Leo melepaskan rantai itu yang membuat tubuh Maureen berdebam ke lantai, Maureen meringis karena sakit di sekujur tubuhnya.
Leo menarik kuat rambut cokelat milik Maureen lalu mendorongnya ke sofa, menarik kuat gaun yang digunakan Maureen lalu mengungkung gadis itu di bawahnya.
“Tolong tuan maafkan aku, tolong jangan lakukan ini, aku mohon.” Maureen masih terus memohon berharap mendapat belas kasihan dari Leo, tapi pria itu sama sekali tidak peduli, dia bahkan mencekik dan menampar kuat pipi Maureen.
Leo membuka bawahan Maureen sehingga tubuh Maureen terpampang pasrah menantang lawannya, Leo memasukkan miliknya ke milik Maureen yang masih kering.
“Aaarrggg sakiiittt,” jerit Maureen ketika Leo menusuknya begitu dalam sehingga merobek sesuatu miliknya di bawah sana.
Leo mendorong tubuh Maureen dengan kasar dan brutal, Maureen sama sekali tidak menikmati permainan ini, dia justru kesakitan luar biasa di bagian bawahnya.
Selama satu jam melakukan seks kasar dengan Maureen, Leo membiarkan gadis itu telentang pasrah di atas sofa dengan keadaan cukup mengenaskan, tubuhnya begitu banyak bekas luka akibat cambukan dari Leo tadi, pangkal paha Maureen ada bercak darah yang Leo yakini kalau itu darah keperawanan Maureen dan bagian punggung serta lengan Maureen ada bekas memar yang tampak sudah beberapa hari tapi Leo tidak peduli.
“Kau beruntung, karena malam ini aku sedang tidak ingin membunuh siapapun,” ujar Leo sambil menjambak rambut Maureen.
Leo meninggalkan Maureen begitu saja di ruang penyiksaan itu, namun dia berubah pikiran, Leo kembali menarik Maureen dan membawanya keluar rumah.
“Tolong tuan, beri aku kain untuk menutupi tubuhku, aku mohon,” pinta Maureen pada Leo karena tidak mungkin dia akan pergi tanpa busana seperti itu. Leo mengambil handuk di salah satu kamar dan memberikannya pada Maureen.
“Pergi kau dari sini, sebelum aku benar-benar membunuhmu.” Leo mendorong tubuh Maureen, dengan langkah gontai dan perih di bagian bawahnya, Maureen melangkahkan kaki keluar dari rumah Leo.
“Tadi siang disiksa ibu, sekarang malah diperkosa dan disiksa orang asing, kenapa nasib jadi seperti ini? Hiks.” Tangis Maureen sambil melangkahkan kakinya pergi, dia bingung harus ke mana, dia takut untuk pulang, nanti Herry pasti akan memukulinya karena tidak bisa melayani pria tua tadi.
Maureen membawa langkah kakinya ke sembarang arah, bahkan dia tidak tahu akan ke mana, saat melihat sebuah jembatan, Maureen terpikir untuk bunuh diri.
“Percuma juga aku hidup, tidak ada yang sayang padaku, kehormatanku juga sudah hilang,” gumam Maureen, dia berjalan ke arah jembatan dan siap untuk melompat, sambil memejamkan matanya, Maureen menjatuhkan diri ke bawah jembatan sehingga arus sungai di bawah yang begitu deras membuat tubuh gadis itu hanyut, Maureen begitu pasrah saat tubuhnya terbawa arus sungai, bayangan saat Leo memperkosa dan menyiksanya kembali berputar di kepalanya hingga dia tidak menyadari apapun lagi.
...•••BERSAMBUNG•••...
...
...
campur aduk, semua jadi satu 🥺🥺🥺
Kok malah adu mekanik mereka,,,,, panik kan kamu Leo... udah tau istrinya ounya trauma di masa lalu... malah dikasarin, keterlaluan inj si leo anjjj
leooo. kau bodoh sekali/Sob//Sob/