Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dusun Plapah
Adipati Elang Ganendra sudah berhasil bergabung dengan Gerombolan Bandit Tengik.
Dalam penyamaran ini ia memakai nama Asep Subagja.
Logatnya pun diganti sedikit Sunda tanpa menghilangkan logat Djawi Wetannya.
Kumis dan jambangnya sudah mulai tumbuh, karena tidak ada Dewi Astjarjana yang biasa mengurusnya.
Tak seorang pun anggota Gerombolan Bandit Tengik yang curiga dengannya. Karena ketika menjabat sebagai Adipati, ia sudah sering berbaur dengan rakyatnya.
Adipati Elang Ganendra juga mempunyai banyak kawan di Kerajaan Djawa Dwipa dari berbagai kalangan dan suku yang berbeda, sehingga bergaul dengan orang banyak, atau menirukan logat bicara suku tertentu bukanlah merupakan hal yang sulit baginya.
“Asep, naha kamu tidak minum?” Salah seorang perampok bernama Ujang mendatangi Elang Ganendra yang lebih memilih duduk menyendiri di bawah pohon kelapa.
Sebenarnya ia tidak sekedar duduk, tapi sambil mengamati Gerombolan Bandit Tengik yang sedang pesta arak daripada ikut minum-minum bersama mereka.
“Abdi tidak pernah minum arak” Jawab Elang Ganendra dengan sedikit memakai logat Sunda.
Seumur hidupnya, memang Elang Ganendra belum pernah minum arak.
Ia lebih memilih cara hidup sehat dengan memperbanyak minum air putih, susu sapi, susu kambing ataupun susu kuda dan rusa.
Baginya, minum arak bisa merusak kesehatan baik fisik maupun mentalnya.
Orang mabok tidak akan bisa mengontrol kelakuannya, dan itu tidak baik untuk dirinya yang menjabat sebagai Adipati kesayangan rakyat dan raja.
“Hahaha… Lalaki mana yang tak pernah nginum arak? Apalagi kamu seorang pengembara? Hahaha…”
Ujang tertawa sambil menepuk bahu Elang Ganendra beberapa kali. Bau arak menyebar dari mulutnya membuat Elang Ganendra merasa mual.
Ujang pergi meninggalkan Elang Ganendra sendirian menuju Gerombolan Bandit Tengik yang sedang mabuk bersama di sekitar api unggun. Beberapa ekor kelinci dan tupai hasil buruan dipanggang di atasnya.
Sesaat kemudian Ujang kembali ke tempat Elang Ganendra dengan tangan kanannya menenteng kendi arak, sedangkan tangan kirinya membawa cawan yang terbuat dari batok kelapa.
Setelah sampai di depan Elang Ganendra, dituangkannya arak dari kendi ke batok kelapa tersebut dan disodorkannya ke arah Elang Ganendra
“Minumlah, tak usah malu!” Ujarnya.
“Abdi tidak biasa nginum…” tolak Elang Ganendra secara halus.
Tangannya mendorong cawan batok kelapa yang disodorkan Ujang dengan pelan, kembali kearah Ujang.
“Kurang ajar! Kamu pikir aku mau meracunimu?” Suara Ujang meninggi, ia membanting cawan araknya.
Gerombolan Bandit Tengik yang sedang tertawa terbahak karena mabok menjadi hening seketika.
Mereka serentak memalingkan wajah menatap Elang Ganendra dan Ujang dengan pandangan tidak suka karena merasa pestanya terganggu.
Karena tidak mau mencari masalah, dengan amat sangat terpaksa Elang Ganendra menerima batok kelapa berisi arak tersebut dari tangan Ujang.
“Baiklah… abdi cobian.” Diteguknya arak tersebut, tapi langsung disemburkannya kembali.
“Pait..!” Ucap Elang Ganendra menjulurkan lidahnya dengan wajah memercing.
Selain pahit, Elang Ganendra juga merasakan lidah dan mulutnya terbakar.
“Hahahaha…. Hahaha… Hahahaha…” Semua Gerombolan Bandit Tengik tertawa melihat mimik muka Elang Ganendra dengan lidah terjulurnya.
Ujang pun ikut tertawa. Dia baru percaya kalau memang Asep Subagja belum pernah merasakan arak sebelumnya.
“Asep, Kamu harus mencobanya lagi lain kali! Lama-lama kamu bakal suka! Hahaha…”
Seorang anggota perampok yang lain memberikan saran kepada Elang Ganendra untuk mencobanya lagi lain kali agar terbiasa.
Seluruh anggota Gerombolan Bandit Tengik menertawakan raut muka bodoh milik Asep Subagja.
‘Amaaaan..’ Batin Elang Ganendra lega sambil mengganggukkan kepala.
Ujang kembali meninggalkan Elang Ganendra untuk bergabung dengan anggota Gerombolan Bandit tengik meneruskan maboknya.
Hampir setiap malam setelah berhasil mendapatkan hasil rampokan yang besar, mereka selalu mengadakan pesta arak yang diikuti semua anggota Gerombolan Bandit Tengik.
Sambil diiringi Tembang Tarling mereka menari dan tertawa bahagia.
Para istri pun ikut menari menemani para suaminya mabok.
Hanya perampok yang belum punya istri yang memakai jasa penari keliling atau wanita penghibur.
Untuk perampok yang sudah menikah, mereka cukup ditemani istrinya saja.
Entah itu sudah peraturan atau memang para perampok tersebut adalah orang-orang yang setia kepada keluarganya.
Hanya keadaan saja yang menyebabkan mereka tidak bisa memperoleh pekerjaan layak, dan terjerumus ke kebiasaan jelek dengan merampok orang kaya.
Bila pagi tlah tiba, mereka akan turun ke dusun tetangga untuk membagi-bagikan sisa hasil rampokan mereka.
Tentunya mereka memakai tudung besar untuk menutupi wajah mereka agar tidak ada yang mengenalinya.
Warga dusun pun tidak ada yang memperdulikan siapa sosok di balik tudung hitam tersebut.
Mereka sudah sangat berterima kasih kepada sosok tersebut yang menurut mereka sudah banyak membantu mengatasi masalah perekonomian mereka.
Bagi warga dusun yang pernah merasakan bantuan Gerombolan Bandit Tengik, anggota mereka lebih seperti dewa penolong daripada sosok perampok.
**Bahasa Sundanya sudah di sadur ke Bahasa Indonesia ya Kakak... Semoga tidak mengurangi arti**🙏🙏
Haha, salam dari Clarissa ❣️