Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16: Pertanyaan Dingin Sang Suami
(Catatan: Cerita ini melanjutkan Episode 15 sebelumnya, membawa kita ke babak baru dinamika psikologis antara Gisella dan Adrian).
Waktu berputar dengan presisi yang menakutkan bagi seseorang yang mencoba mengulur waktu dari takdir.
Pukul empat lewat lima puluh lima menit sore.
Lima menit sebelum "Protokol Rutinitas Penenang Saraf"
yang tercantum dalam Poin Keempat aturan baru mereka harus dilaksanakan.
Gisella sudah duduk di depan piano besar berwajah hitam legam di ruang tengah yang menghadap ke taman mawar.
Gaun rumahannya yang berwarna krem berganti dengan gaun rajut santai berwarna abu-abu terang yang membungkus tubuhnya dengan pas.
Jemari lentiknya melayang di atas tuts-tuts gading putih, melakukan pemanasan tanpa suara.
Meskipun dia telah berhasil menguasai dapur pagi ini, ketegangan sore ini terasa berbeda.
Ini adalah pertama kalinya dia harus melaksanakan aturan bermain piano ini sebagai kewajiban resmi, bukan lagi ketidaksengajaan seperti malam itu.
"Cklek."
Tepat pukul lima sore.
Jarum jam bahkan belum bergeser satu milimeter pun dari angka dua belas ketika pintu utama kediaman Arthur terbuka.
Langkah kaki yang ritmis dan tegas menggema di koridor.
Adrian Arthur telah kembali.
Adrian melangkah masuk ke ruang tengah.
Jasnya sudah tersampir di lengan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang kotak bekal kosong berwarna biru pastel yang diberikan Gisella pagi tadi.
Kacamata peraknya sedikit turun di pangkal hidung, memproyeksikan bayangan lelah di sekeliling matanya yang tajam.
Beban riset di universitas tampaknya benar-benar menguras energinya hari ini.
Namun, begitu matanya menangkap sosok Gisella yang sudah bersiap di depan piano, ekspresi tegang di wajah sang profesor perlahan mengendur.
Gisella tidak menunggu Adrian mengeluarkan instruksi lisan.
Sesuai kesepakatan, dia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menekan tuts piano. Melodi klasik yang mengalir kali ini adalah Nocturne Op. 9 No. 2 karya Frédéric Chopin.
Nada-nada yang romantis, lembut, dan mengalir seperti aliran air di sungai yang tenang mulai memenuhi ruangan, menembus keheningan sore yang mulai jingga.
Adrian berjalan tanpa suara, meletakkan jas dan kotak bekalnya di atas sofa kulit.
Bukannya naik ke kamar untuk berganti pakaian atau duduk di kursi yang jauh, pria itu melangkah mendekat ke arah piano.
Dia berdiri tepat di sisi kanan Gisella, bersandar pada bodi kayu piano yang mengkilap, dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Mata elang Adrian tidak menatap tuts piano.
Dia menatap wajah Gisella dari samping.
Cahaya matahari senja yang menembus jendela kaca besar menerpa profil wajah wanita itu, menciptakan siluet keemasan yang menakjubkan.
Adrian memperhatikan bagaimana bulu mata Gisella yang lentik bergerak teratur,
bagaimana bibirnya yang kemerahan sedikit terbuka saat dia menghayati melodi, dan bagaimana leher jenjangnya bergerak anggun mengikuti ritme lagu.
Keheningan yang indah itu berlangsung selama empat menit penuh hingga bait terakhir lagu Nocturne memudar perlahan di udara malam.
Gisella menurunkan tangannya dari tuts piano, mengembuskan napas panjang, lalu mendongak menatap Adrian yang masih bergeming di sampingnya.
"Bagaimana, Profesor? Apakah gelombang suaranya berhasil menurunkan denyut nadi mu hari ini?"
Namun, tidak ada senyuman tipis atau sindiran sensual yang biasanya keluar dari bibir Adrian.
Ekspresi pria itu mendadak berubah menjadi sangat datar, sedingin es di laboratorium botani.
Tatapan matanya di balik kacamata perak tampak begitu mengintimidasi dan menusuk, seolah dia sedang membedah sebuah anomali yang tidak masuk akal.
"Permainan yang sempurna, Gisella,"
ucap Adrian, suaranya terdengar sangat rendah, kering, dan dingin—kembali ke mode interogasi awal mereka.
"Bahkan terlalu sempurna untuk seseorang yang menurut catatan akademisnya di masa lalu tidak pernah lulus ujian tingkat dasar sekolah musik klasik di kota asalnya."
Jantung Gisella mendadak berhenti berdetak selama satu ketukan penuh. Rasa dingin yang familier kembali merayapi tengkuknya. Alarm bahaya di kepalanya berbunyi keras.
"Apa maksudmu, Adrian?" tanya Gisella,
berusaha menjaga intonasi suaranya agar tetap tenang dan tidak memperlihatkan kepanikan batinnya.
Adrian menegakkan tubuhnya dari bodi piano.
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah map kertas tipis berlogo Universitas Aethelgard, lalu meletakkannya di atas papan penutup tuts piano, tepat di depan mata Gisella.
"Hari ini, selain melakukan presentasi riset, aku meminta departemen administrasi untuk menarik kembali seluruh berkas latar belakang medis dan rekam jejak pribadimu sebelum kita menikah,"
kata Adrian, nadanya se datar robot pengolah data.
"Dalam berkas itu, guru privat pianomu menyatakan bahwa Gisella Von Arthur memiliki kebiasaan menekan tuts dengan terlalu kasar, tidak memiliki kepekaan ritme, dan membenci karya Chopin karena dianggapnya terlalu lambat. Tetapi wanita yang berdiri di hadapanku sekarang baru saja memainkan salah satu karya tersulit Chopin dengan teknik rubato dan kontrol pedal yang hanya bisa dikuasai oleh seorang pianis yang berlatih minimal sepuluh tahun dengan disiplin tinggi."
Adrian memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas bodi piano, mengurung posisi Gisella yang masih terduduk di kursi piano.
Jarak mereka kembali terkikis, namun kali ini tidak ada kehangatan yang intim—yang ada hanyalah tekanan psikologis yang mencekik.
"Lalu, mari kita bicara tentang kotak bekal ini," lanjut Adrian, melirik kotak biru di sofa.
"Menu salad ayam dengan potongan yang begitu simetris, kalkulasi kalori yang tepat, dan pengetahuan tentang air detoks timun mint untuk menetralisir kafein. Gisella yang asli bahkan tidak tahu cara membedakan garam dan gula di dapur."
"Manusia bisa berubah setelah mengalami trauma kepala, Adrian! Aku sudah mengatakannya berulang kali!"
potong Gisella, suaranya sedikit meninggi karena defensif.
"Trauma kepala bisa mengubah kepribadian, bisa menghilangkan ingatan, dan bisa memicu sindrom savant dalam kasus yang sangat langka," bantah Adrian dengan argumen ilmiah yang mutlak patah.
"Tetapi trauma kepala tidak bisa secara ajaib mentransfer memori motorik tingkat tinggi ke dalam otot jemarimu. Otak tidak bisa memainkan piano jika otot tangan tidak pernah dilatih untuk itu sebelumnya. Logika biologi tidak mendukung ceritamu, Gisella."
Sepasang mata elang Adrian menatap lurus, mengunci manik mata cokelat Gisella dengan intensitas yang mengerikan.
Pertanyaan dingin yang selama ini dia simpan di balik dadanya akhirnya keluar dengan ketajaman yang bisa menguliti seluruh kebohongan.
"Jadi, aku bertanya sekali lagi kepadamu dengan kapasitasku sebagai suamimu dan seorang ilmuwan..."
bisik Adrian, suaranya bergetar oleh rasa penasaran yang teramat sangat.
"Siapa kau sebenarnya? Jiwa siapa yang sekarang sedang menempati tubuh istriku?"
Gisella terpaku di kursinya, tangannya yang berada di atas pangkuan meremas gaun rajutnya dengan kuat hingga memutih.
Kebohongan ilmiah tentang
"analisis data bawah sadar" yang dia gunakan di kamar nomor dua semalam telah dihancurkan berkeping-keping oleh data empiris yang dibawa Adrian hari ini.
Dia berada di ujung tanduk.
Menghadapi seorang Adrian Arthur yang dingin dan analitis berarti dia harus membuat pilihan ekstrem:
terus berbohong dengan risiko kehilangan seluruh kepercayaan pria itu, atau memberikan sebagian kebenaran yang terdengar gila namun merupakan satu-satunya jawaban logis atas ketidaklogisan ini.
Atmosfer di ruang tengah kediaman Arthur mendadak berubah menjadi medan pertempuran tak terlihat, di mana detak jantung yang salah arah kini harus berhadapan dengan kebenaran yang menuntut untuk diungkap.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...