Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Di tempat lain
Raka tersenyum melihat kantong makanan di tangannya. Ia sengaja membeli makanan kesukaan Laras. Sebenarnya tidak ada pesanan khusus, namun saat pulang ia melihat makanan itu dan langsung membelinya demi membuat istrinya senang.
Segera ia melaju lebih cepat karena ingin segera sampai ke apartemen. Ia tak sabar melihat wajah gembira Laras. Kadang ia merasa lucu, karena wanita itu berbeda dari wanita lain. Kebanyakan wanita mungkin senang jika diberi barang mewah, tetapi Laras cukup bahagia hanya dengan makanan sederhana atau diajak jalan‑jalan saja. Raka berpendapat, mungkin karena selama ini kebebasan dan keinginannya sering dibatasi oleh orang tua, sehingga hal‑hal kecil pun terasa berharga baginya.
Akhirnya Raka tiba di apartemennya. Ia masuk dan tidak menemukan istrinya di ruang tamu atau dapur seperti biasanya.
“Kemana dia? Biasanya jam segini sudah sibuk di dapur atau duduk menungguku disini,” gumam Raka dengan rasa penasaran.
Karena tidak bertemu di ruang depan, ia melangkah menuju kamar tidur. Yakin istrinya pasti ada di dalam, ia membuka pintu perlahan. Benar saja, Laras terlihat tertidur lelap di atas ranjang.
Raka tersenyum dan mendekat. Wajah istrinya terlihat damai dan tenang saat tidur. Tangannya terulur menyentuh lembut pipi Laras, lalu ia tersenyum sendiri melihat wajah cantik itu.
“Cantik,” bisiknya pelan.
Ia pun mengecup kening istrinya. Sentuhan itu membuat Laras tergerak dan perlahan membuka matanya.
“Kak Raka,” ucap Laras dengan suara masih serak karena baru bangun tidur.
“Tumben sekali jam segini kamu sudah tidur. Apa kelelahan? Padahal aku tadi pulang dengan semangat, berharap disambut seperti biasa,” kata Raka sambil pura‑pura merajuk.
“Maaf Kak, tadi Laras bingung mau ngapain. Terus bosan, jadi berbaring sambil main ponsel, eh ...malah ketiduran,” jawab Laras berbohong, padahal sebenarnya ia merasa badannya tidak enak sejak tadi.
“Ya sudah, tidak apa‑apa. Kalau begitu aku mandi dulu, nanti kita makan malam. Oh iya, tadi aku beli makanan kesukaanmu, sudah kutaruh di meja makan,” kata Raka.
Setelah itu Laras segera menyiapkan hidangan untuk makan malam. Ia duduk termenung menunggu suaminya datang. Tiba‑tiba ia terkejut saat Raka menepuk pundaknya perlahan.
“Kenapa melamun terus? Sedang memikirkan apa?” tanya Raka sambil mencium pipi istrinya.
Laras hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
“Jangan cuma senyum saja, jawab. Kalau ada yang mengganjal hati, ceritakan saja. Mungkin aku bisa membantu,” bujuk Raka.
“Yakin mau bantu apa pun yang aku minta?” tanya Laras menatap suaminya.
“Tentu saja. Kamu istriku, mana mungkin aku biarkan kamu kesulitan sendirian,” jawab Raka sambil duduk di sampingnya.
“Bantu aku masuk ke hatimu. Aku ingin Kak Raka mencintaiku dan membuatku bahagia, meski hanya untuk sebentar saja,” ucap Laras yang membuat Raka menatapnya dengan pandangan bingung.
“Kenapa hanya sebentar? Harusnya selamanya. Kamu ini bicara apa sih, aneh sekali,” kata Raka sambil menyodorkan piring kosong ke hadapan Laras.
Laras segera mengambil piring itu dan mengisinya dengan nasi serta lauk.
“Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Kak. Bisa saja suatu saat kita berpisah, entah karena takdir atau karena campur tangan orang lain,” jawab Laras pelan.
Raka terkejut mendengar ucapan Laras. Ia tidak menyangka istrinya berpikir sejauh itu. Entah kenapa dadanya terasa sesak dan sakit saat kata‑kata itu keluar. Meskipun ia belum yakin sudah benar‑benar jatuh cinta, tapi ia tetap tidak suka mendengar pembicaraan tentang perpisahan.
“Sudah tidak usah dibahas. Nikmati saja apa yang ada dan jalani dengan baik. Jangan terlalu memikirkan hal‑hal yang belum pasti. Ingat, ucapan itu bisa menjadi doa, jadi hati‑hati dalam berbicara,” pesan Raka.
Laras hanya mengangguk. Dalam hatinya ia berkata lain, bahwa apa yang dikatakannya memang bisa saja terjadi. Bisa jadi mereka berpisah karena penyakit yang dideritanya, atau karena masa lalu Raka yang suatu hari bisa kembali mengganggu. Ia hanya bisa berdoa agar Tuhan berkenan memberikan kebahagiaan padanya.
“Tuhan, Jika nanti masa lalu suamiku datang merebutnya kembali, tolong biarkan itu terjadi sesudah aku tidak ada di dunia nanti. Izinkan aku merasakan kebahagiaan ini sebentar saja,” gumamnya dalam hati.