Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Acara tahlilan kematian Tyas sangat ramai dipadati oleh kerabat dan sanak saudara. Termasuk warga desa suka warna yang datang khusus untuk memberikan semangat kepada Bagas dan keluarga.
Meskipun acara kematian Tyas sudah berlalu. Desa Suka Warna masih terlihat sedang berduka cita karena Bagas merupakan salah satu pemuda yang berpengaruh di desa itu, sehingga kesedihannya menjadi luka yang dalam di hati warga kecuali mereka yang iri kepada Bagas.
Program Tani unggulan terpaksa terhenti sejenak dan Yoga menjadi pengendali tunggal selama Bagas masih absen.
Waktu terus berlalu.
Yoga Hardian telah tiba di desa Suka Warna. Pria itu harus tetap menjalankan program perdana Tani unggulan walaupun tanpa keberadaan Bagas.
Kehadiran Yoga di Balai Desa menjadi kerumunan para petani. Tampak Yoga beserta tim sedang membagikan pupuk kedua secara gratis kepada seluruh petani serta petunjuk langkah kerja program yang lebih modern.
Dua bola mata Yoga tampak seperti sedang mencari seseorang. Kemudian ia memperhatikan daftar nama-nama petani yang ikut program Tani unggulan.
"Kenapa nama Wita atau Mila tidak terdaftar? Bukankah si tuan Takur Heru masih memiliki lahan di desa ini. Apa mereka tidak berminat dengan hasil yang lebih baik!" gumam Yoga.
Hari itu Mila juga absen bekerja di Puskesmas karena kepalanya terasa penat akibat kelelahan sudah berminggu-minggu mencari informasi pekerjaan sampingan baik di dunia online maupun nyata. Tetapi tidak menemukan pekerjaan yang cocok untuk dirinya.
Mila lebih memilih bermain masak-masak an bersama Alika di pelataran halaman. Sedangkan Wita pergi ke kilang padi di pematang sawah. Seperti biasa, dua minggu sekali. Wita bertanggung jawab membersihkan kilang peninggalan Bapaknya dari debu-debu sampah yang beterbangan.
Hari itu Yoga dan tim melakukan riset lapangan perdana di pematang sawah. Tidak disangka, perjalanan mereka terhenti di lokasi sekitar kilang Heru.
Secara kebetulan Wita yang bersiap hendak pulang melihat keberadaan Yoga.
Keduanya akhirnya saling menatap.
Yoga dan Wita Hampir 5 tahun tidak bertemu. Si pemuda miskin terhina kini berubah menjadi pria tampan dengan finansial yang sangat mapan.
Penampilan Yoga yang dulu lusuh dan kotor kini sudah berganti dengan pakaian-pakaian brand ternama lengkap dengan kacamata anti sinar matahari menambah pesona ketampanan lelaki itu.
Saat keduanya saling menatap seakan-akan semua aktivitas di desa terhenti sejenak.
Detak jantung Yoga bergetar hebat begitu juga dengan Wita.
Wita tersenyum tipis menyapa Yoga, pria itu langsung membalas senyuman sang pujaan hati. Sangking gregetnya, pulpen Yoga pun terjatuh.
Dengan cepat Yoga mengambilnya dan kembali menatap Wita. Namun sayang Wita sudah bergegas pergi dengan langkah terburu-buru.
"Aku pikir dia akan memberikan tatapan lebih setelah aku mapan. Ternyata dia tidak pernah berubah. Selalu saja membuat aku mati penasaran?" gumam Yoga masih menatap langkah Wita hingga berbelok arah.
Lamunan Yoga terhenti ketika seorang tim menyapanya dan ia kembali bekerja.
Hari berikutnya.
Peresmian rumah baru Yoga mengadakan syukuran dengan makan gratis dan doa bersama kepada seluruh warga.
Warga desa suka warna pun datang berduyun-duyun untuk memberikan bingkisan dan selamat atas rumah baru Yoga Hardian serta rasa terima kasih warga karena Yoga menjadi pelopor pertama akan kemakmuran Tani di desa itu.
(revisi kakak-mbak)
"Mbak!" Mila mendapati Wita yang sedang memasak.
"Hem?"
"Mas Yoga mengadakan acara syukuran masuk rumah baru?" bisik Mila.
"Terus, masalahnya apa?" tanya polos Wita.
"Mbak tidak datang? Kan sebagai tetangga yang baik. Kita sebenarnya wajib datang," ucap sumringah Mila.
"Kamu saja lah!" jawab santai Wita.
Wita merasa tidak percaya diri dan takut menjadi bahan olok-olokan perempuan desa dengan kehadirannya di rumah Yoga.
"Kenapa dia (Wita) tidak datang!" batin Yoga merasa ada yang kurang di acara peresmian rumah barunya.
Hampir setiap hari. Rumah Yoga terlihat sering kedatangan tamu mulai dari camat, wartawan, kepala desa, warga desa. Bahkan para Ibu-ibu dan Bapak-bapak tanpa rasa malu sibuk menawarkan anak gadis mereka kepada Yoga untuk dijadikan istri.
Yoga hanya tersenyum menanggapi hal itu.
Suatu pagi yang cerah di hari libur.
"Uuh!" Yoga menarik panjang tubuh pegalnya dan melirik ke arah jam baker yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Pemuda itu tertidur sehabis sholat subuh.
Yoga bangkit lalu membuka pintu kamarnya menuju teras kamar di lantai dua. View yang indah dapat melihat ke arah pekarangan rumah Heru Susanto.
Yoga tersenyum-senyum sambil memegangi tengkuknya. Ia melihat Wita sedang menjemur pakaian sambil bermain bersama putrinya.
Kurang puas. Yoga mengambil teropong dari kamarnya.
"Wah!" senyuman pria itu semakin lebar dan cute.
"Sudah menjadi janda, pesonanya justru semakin meresahkan!" gumam bucin Yoga.
Puas memandang aktivitas Wita dari teras kamar. Yoga pun bergegas mandi. Setelah mandi, ia melangkah ke balkon untuk menjemur handuk.
Yoga terkejut saat melihat Wita dan Mila melangkah menuju rumahnya.
"Mau kemana mereka?" batin kepo Yoga semakin gugup saat kedua perempuan itu mendekati pagar rumahnya.
"Alika tidak diajak mbak?" tanya Mila.
"Tidak usah lah, Nanti dia pecicilan, kita kan sebentar saja?" Jawab Wita.
Wirda mendesak Wita dan Mila agar datang memberikan sapaan selamat kepada Yoga atas rumahnya.
Seketika Yoga panik mendengar suara bel. Ia pun sibuk tergesa-gesa membuka lemari mencari pakaian terbaik.
"Aduh pakai baju apa yah?" gerutu Yoga menggaruk-garuk rambut basahnya. Ia ingin menunjukkan penampilan terbaiknya.
Sudah lebih dari 3 kali Mila memencet bel dan keduanya sudah serentak mengucapkan Assalamualaikum namun tidak jawaban atau sautan dari si pemilik rumah.
"Mas Yoga kemana yah Mbak?"
"Apa mungkin dia sedang tidak di rumah?" tebak Wita.
Sudah merasa terlalu lama. Yoga berlari turun dengan cepat bahkan ia hampir tersungkur di tangga. Pria itu meninggalkan suasana kamar berantakan dengan kaos-kaos yang gagal terpakai. Sampai cicak pun gelang-gelang kepala melihat tingkah konyol Yoga.
Yoga buru-buru membuka pintunya dan hampir saja Mila sudah melangkah pergi meninggalkan Rumah Yoga.
"Maaf-maaf!" ucap Yoga dalam nafas sedikit terengah-engah.
"Sa..saya baru bangun!" jawab gugup Yoga.
"Oh maaf yah Mas. Kami mengganggu!" senyum Mila.
"Oh, tidak masalah, mari masuk?" Yoga membuka pintu rumahnya dan melangkah menuju sofa.
Rumah minimalis Yoga dibangun berlantai dua. Menggunakan ruang kaca dengan sirkulasi udara yang lebar. Tidak terlalu besar. Tetapi memiliki pekarangan cukup luas. Garasi mobil dan motor. Mini garden hijau. kolam renang dan lapangan multifungsi bisa digunakan untuk bermain basket, badminton, tenis dan futsal dengan berukuran tidak terlalu besar.
"Wah, dalamnya sangat keren!" ucap kagum Mila dalam hati.
"Silahkan duduk, mau minum apa?" tanya Yoga berusaha menguasai diri.
"Tidak perlu repot-repot Mas. Kedatangan Mila dan Mbak Wita mau mengucapkan selamat atas rumah barunya. Maafkan kami, acara peresmian kemarin tidak bisa hadir. Dan kami hanya membawa manisan buah untuk Mas Yoga agar semakin betah tinggal di rumah barunya!" ucap Mila. Wita lebih memilih tersenyum.
"Ini Mas!" Wita menyerahkan manisan buah itu kepada Yoga.
Sudah menjadi tradisi di desa itu. Warga wajib membawa buah tangan kepada warga yang sedang berbahagia seperti pernikahan, memasuki rumah baru, kelahiran anak.
"Wah, terima kasih banyak yah?" ucap bahagia Yoga langsung menerima bingkisan itu dari tangan Wita.
"Itu yang buat Mbak Wita lo!" ucap malu-malu Mila tersenyum lebar.
"Ooh...Iya...iya pasti nanti Mas akan habiskan!" Jawab Yoga sedikit merasa grogi.
"Ini minum dulu!" dengan cepat Yoga mengeluarkan minuman kaleng istimewa.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂