Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Surya melangkah penuh semangat menuju ruang makan, dari kejauhan ia melihat istrinya tengah berdiri di dekat bufet. Kedatangan Surya tentu membuat Bening terkejut dan terlihat gugup, ia tersentak dan hampir menabrak bufet, saat ia berbalik menghadap surya.
Surya memperhatikan tangan istrinya yang ramping dan anggun, ia membayangkan ia bisa mengelus tangan indah itu dengan jemarinya, namun dengan cepat Surya menghalau pikiran kotornya ketika Bening menyapanya.
"Selamat malam Tuan Surya Magenta," Bening berusaha terlihat riang.
Suara merdu Bening menembus hati Surya, ia menahan napasnya sesaat kemudian membalas sapaan istrinya. "Selamat malam, Nyonya Magenta."
"Ah.. Panggil saja aku Bening," sahut Bening kecewa karena menganggap Surya tak ingat namanya padahal saat menandatangani catatan pernikahan pagi tadi namanya BENING EMBUN PAGI, berada tepat di bawah nama suaminya.
"Maafkan aku, karena belum akrab dengan nama kecilmu," ucap Surya, padahal dalam batinnya ia ingin menekankan jika sekarang Bening adalah istrinya, tapi sepertinya wanita itu enggan menggunakan nama belakangnya.
Surya menghela napasnya, ia mengulurkan tangannya memberi pertanda agar istrinya duduk. Seorang pelayan segera memundurkan kursi untuk Bening, kemudian wanita itu duduk dengan anggun, tangannya diletakan di pangkuan, matanya tertuju pada peralatan makan di hadapannya.
Surya terus memperhatikan istrinya, ia begitu mengagumi leher istrinya, juga untaian-untaian kecil rambut yang terlepas dari gelungannya. Surya juga memperhatikan dada istrinya yang naik ketika menarik napas dan turun ketika menghembuskan napasnya.
Perlahan Surya duduk, ia tak sanggup memikirkan malam pertamanya dengan istrinya, ia takut dengan reaksi tubuhnya yang ia sendiri tidak tahu apakah nantinya dia akan lepas kendali atau justru gemetar. Selama ini ia tak pernah menyentuh wanita, dan tak pernah berhubungan dengan wanita. Wanita yang pertama kali ia sentuh adalah wanita yang kini ada di hadapannya.
"Rumahmu indah," ucap Bening kemudian meneguk anggur dan meletakannya di meja.
Suara merdu Bening kembali menerpa diri Surya, hingga membuatnya menatap mata indah istrinya yang berwarna biru, sebiru air laut membuat Surya benar-benar tenggelam dalam pesona istrinya. "Terima kasih," sahutnya mengalihkan pandangan.
"Apa kau dari dulu tinggal disini?"
Sial, Surya tak bisa menghindar dari melakukan percakapan. Ia kembali menatap istrinya, kali ini tatapannya tertuju pada kalung mutiara yang di kenakannya. Surya membayangkan jika dirinya melepas kalung itu dari leher Bening, kemudian tangannya meluncur di bahu mulus wanita itu, terus turun ke sela payud*ranya yang terlihat padat berisi. Tidak bisa di jelaskan dan dihindarkan, bayangan liar Surya kian menjadi, bibirnya mengecup mesra dua payud*ra istrinya secara bergantian.
"Tuan."
Surya tersentak, ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya ketika Bening membuyarkan lamunannya. "Apa?"
"Aku bertanya, apakah keluargamu tinggal di sini juga?"
"Ya, sebelum orang tuaku meninggal dunia," sahut Surya.
"Apa kau anak tunggal?" tanya Bening lebih dalam, sebab sepengetahuannya ia tak pernah mendengar berita mengenai anak keluarga Magenta yang lainnya.
Surya beringsut dari kursinya. "Aku punya satu saudara perempuan, tapi dia tinggal di New York mengejar karirnya sebagai seorang designer. Dia juga sudah menikah dan pindah kewarganegaaran, tapi sesekali saat libur Natal mereka datang ke perkebunan untuk berlibur."
Bening terlihat seperti ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi untungnya sang penyaji hidangan datang mengakhiri percakapan mereka. Surya melambaikan tangan ke arah stafnya menyuruh mereka semua untuk meninggalkannya berdua bersama istrinya.
Saat tengah menikmati makan malam, Surya menyadari keresahan yang tergambar di raut wajah istrinya, yang mengorek-ngorek makanan seolah tak berselera. Surya meletakan serbet di atas meja di samping piring dan bertanya. "Apa makanannya tidak enak?"
"Tidak. Makanannya sangat enak," sebetulnya Bening ingin sekali makan banyak karena seharian ia belum makan, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Surya mengerutkan keningnya merasa heran. 'Kalau enak kenapa tidak di habiskan? Sungguh wanita sangat rumit.' batinnya.
"Kalau boleh, aku ingin.... Minta maaf atas apa yang terjadi," ujar Bening. "Kejadian di coffee shopku minggu lalu," ia masih merasa bersalah telah menimbulkan kekacauan di hidup Surya.
Sementara dalam benak Surya tak pernah menganggap itu sebagai kekacauan, meski ia menyesali tak dapat mengendalikan na*sunya. "Permintaan maafmu tak di perlukan," ucap Surya, berharap istinya tak membahas lagi.
Namun sayangnya Bening melanjutkan pembahasan itu. "Tapi aku..."
"Nyonya Magenta," potong Surya kesal dan tak nyaman. "Kau menulis surat untuk Aksara, kau mengira aku adalah dia. Kita melakukan kesalahan dengan konsekuensi besar yang mengikat kita, tanpa bisa di lepas untuk selamanya. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Apa kau sudah selesai makan?"
Alis Bening berkerut, mendengar omelan Surya. "Ya."
"Kalau begitu... Aku pamit undur diri," Surya beranjak dari tempat duduknya, ia melangkah mundur. "Aku tidak akan mendatangimu malam ini, agar kau bisa beradaptasi di rumah ini. Jangan lupa berkonsultasi dengan Toto untuk menentukan siapa yang akan kau jadikan asisten pribadimu," Surya melangkahkan kakinya pergi dari ruang makan.
Mata Bening membelalak melihat suaminya pergi meninggalakannya begitu saja. "Aku ingin tahu apakah kau selalu menjaga jarak dan memerintah pada semua orang atau hanya padaku saja?" ucapan Bening menghentikan langkah Surya. "Kalau kau bermaksud menghukumku karena kejadian itu, kau tidak perlu repot-repot karena aku sudan menghukum diriku sendiri setiap waktu setiap hari."
Surya terkejut, ia sama sekali tak berniat menghukum istrinya.
"Aku mengerti kau marah, aku pun akan marah jika aku jadi kau. Tapi aku sudah minta maaf..."
"Sudah kukatakan, kau tidak perlu minta maaf," tukas Surya kasar.
Mata Bening menyipit. "Baiklah kalau begitu. Sekarang bagaimana kalau kita membicarakan pernikahan kita? Dan bagaiamana kita kedepannya?"
Surya belum siap membicarakan soal pernikahan ini, hidupnya yang terbiasa sendiri belum terbiasa dengan kehadiran Bening. "Maafkan aku Nyonya Magenta, aku tidak terlalu bisa banyak bicara karena menurutku berceloteh merupakan hal yang membosankan."
"Ya aku tahu, kau bukan tipe orang yang suka berbicara, tapi kita butuh komunikasi untuk saling mengenal dan membahas pernikahan kita."
"Kau tak perlu repot-repot mengenalku," ucap Surya terus terang. "Selamat malam," Surya pergi meninggalkan ruang makan.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka