Nikayla Pramusti yang sedang menempuh gelar S1 di salah satu kampus ternama di Yogyakarta, tidak sengaja bertemu dengan Arka Raditya Pratama. Awalnya mereka hanya berteman, tapi waktu terus berlalu dan tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.
Disaat Nikayla dan Arka berniat untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, tiba-tiba ayah Nikayla jatuh sakit dan meminta Nikayla untuk menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya.
Nikayla kini tengah berada di posisi yang sulit untuk menentukan pilihan. Di satu sisi ia sangat mencintai Arka dan di sisi lain ia nggak mau memperburuk keadaan ayahnya yang kini sedang sakit jika ia menolak perjodohan ini.
Disaat ia harus memilih salah satu antara Arka dan ayahnya, manakah yang akan dipilih Nikayla? Apakah dia akan menerima perjodohan itu dan meninggalkan Arka? atau dia akan menolak perjodohan itu dan bersatu dengan Arka, lelaki yang sangat dia cintai.
Ikuti terus ceritanya..selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosshie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Arka bangun pagi-pagi sekali, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya.
"Sayang, nggak seperti biasanya kamu pagi-pagi gini sudah rapi, mau kemana?" Tanya Lina penasaran.
Ini pertama kalinya Lina melihat Arka bangun pagi-pagi sekali, biasanya untuk bangun saja Lina harus membangunkannya terlebih dahulu.
"Arka mau menjemput pacar Arka, Ma. Ini pertama kalinya kita berangkat kuliah bareng," sahut Arka dengan senyuman di wajahnya.
"Ini pukul berapa sayang, ini kan baru pukul 06.30," ucap Lina sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya kan Arka mau siap-siap dulu Ma."
"Kalau gitu kamu bantu Mama untuk menyiapkan sarapan," ucap Lina sambil menyiapkan makanan di atas meja.
"Baik, Ma." Arka mengambil sayur dalam mangkuk lalu dia letakkan di atas meja makan.
Ardi dan Jonny berjalan menuruni tangga, lalu menuju meja makan. Ardi terkejut melihat Arka yang sedang membantu mamanya menyiapkan sarapan.
"Ada angin apa ini si anak manja jam segini sudah bangun?" Goda Ardi sambil menarik salah satu kursi meja makan lalu dia duduki.
"Sayang..kamu nggak boleh menggoda adik kamu, seharusnya kamu mendukungnya supaya dia akan terus seperti ini," ucap Lina.
"Mungkin itu efek karena dia sedang jatuh cinta," goda Jonny.
"Papa tau saja," ucap Arka malu.
Arka berniat untuk merubah sifat buruknya, dia akan berusaha menjadi pria idaman Kay. Dia tidak akan menjadi anak manja lagi.
"Sudah, ayo kita sarapan dulu," ucap Lina sambil meletakkan makanan di depan suaminya.
"Masa hanya gara-gara jatuh cinta, Arka bisa berubah secepat ini," ucap Ardi tidak percaya.
Ardi tau Arka itu anak yang manja, dia sama sekali tidak pernah melakukan apa-apa sendiri, selalu saja dibantu oleh mama dan papanya, bahkan dirinya juga ikut andil untuk mengurusi adiknya yang begitu manja.
"Makanya kakak cepetan cari pacar, dengan begitu kakak bisa merasakan apa yang aku rasakan," ucap Arka sambil memasukan satu suapan ke mulutnya.
"Aku tetap nggak percaya." Ardi tetap teguh pada pendiriannya.
"Nanti jika kakak sudah jatuh cinta, maka kakak akan percaya," ucap Arka lagi.
Setelah setengah jam mereka selesai makan. Ardi dan Jonny berangkat ke kantor, sedangkan Arka sedang melajukan mobilnya menuju rumah Kay.
Sesampainya di rumah Kay Arka merapikan bajunya dan melihat wajahnya sudah tampan atau belum dari kaca spion mobilnya. Arka berjalan menuju pintu rumah Kay lalu mengetuknya.
Tok..tok..tok..
Kay yang mendengar pintu di ketuk, berjalan menuju pintu. Dia sudah tau kalau yang datang adalah Arka, karena sejak tadi Kay sudah menunggu kedatangan Arka. Dia juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arka.
Kay sangat senang saat melihat Arka kini telah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kamu sudah datang?" Tanya Kay gugup.
"Aku sudah nggak sabar ingin bertemu sama kamu, makanya aku datang lebih awal," ucap Arka senang.
"Tapi ini kan masih terlalu pagi, bukannya kita nggak ada kelas pagi?" Tanya Kay dengan wajah malu-malu.
"Nggak apa-apa, aku bisa menunggu di sini, bolehkan?" Kay menganggukkan kepalanya.
Arka ingin menghabiskan waktu bersama Kay, walau selama menjalin persahabatan mereka sering menghabiskan waktu bersama, tapi saat ini situasinya berbeda, mereka sekarang sedang di mabuk asmara.
Kay menyuruh Arka untuk masuk kedalam rumahnya dan membiarkan pintu rumahnya tetap terbuka. Itu dia lakukan agar orang tidak berfikir macam-macam tentang mereka yang hanya berdua di dalam rumah.
Mereka kini sedang duduk di ruang tamu. Kay dan Arka bingung harus memulai pembicaraan apa, mereka terlihat sangat canggung.
"Em..mau minum apa?" Tawar Kay gugup.
"Nggak usah repot-repot, tadi aku sudah minum kok di rumah," tolak Arka.
"Emm.. boleh aku duduk di samping kamu?" Tanya Arka gugup.
Arka ingin sekali bisa berdekatan dengan Kay, karena dia sangat merindukan gadis itu, tapi dia takut melakukannya, dia takut gadis itu akan marah.
"Kenapa?" Tanya Kay penasaran.
"Aku cuma ingin dekat saja sama kamu."
"Maksud aku, kenapa harus bertanya, kamu bisa langsung duduk di samping aku kalau kamu mau," ucap Kay malu-malu.
"Serius!" Ucap Arka senang.
Kay hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena saat ini jantung Kay berdetak kencang. Dia juga sangat terlihat sangat gugup, karena ini pertama kalinya dia berpacaran, dan ini juga pertama kalinya dia berada di satu atap dengan Arka yang kini sudah menjadi kekasihnya.
Arka berdiri dari duduknya dan berpindah di samping Kay. Arka menatap wajah Kay sambil tersenyum.
"Ada apa? apa ada yang aneh di wajah aku?" Tanya Kay penasaran.
"Enggak, kamu cantik. Aku senang kamu mau menerima perasaan aku."
"Kamu ya nggak usah gombal," ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.
"Siapa juga yang gombal, kamu itu beneran cantik sayang," ucap Arka sambil terus menatap wajah Kay.
"Namanya juga cewek, ya pasti cantik lah."
Arka ingin sekali menggenggam tangan Kay, tapi dia takut Kay akan marah. Dia hanya bisa menahan kerinduannya.
"Oya, Ka. Kamu tau nggak hari ini aku bahagia banget, karena ayah dan bunda aku akan datang," ucap Kay senang, tanpa sadar Kay menggenggam tangan Arka.
"Aku juga ikut senang sayang, akhirnya kamu bisa melepas kerinduan mu selama ini," ucap Arka sambil terus menggenggam erat tangan Kay.
Kay yang baru menyadari kalau tangannya digenggam oleh Arka, sontak ingin melepaskan tangannya dari genggam tangan Arka, tapi Arka langsung menahannya.
"Jangan dilepas, aku ingin tetap seperti ini. Apa kamu tau, aku ingin sekali menggenggam tangan kamu dan memelukmu, karena aku sangat merindukanmu, tapi aku nggak berani melakukanya. Aku nggak mau kamu berfikir jelek tentang aku, karena kita baru saja mulai berpacaran, tapi bolehkan kalau aku hanya menggenggam tangan kamu?" Tanya Kay dengan wajah memelas.
Kay tidak mampu berkata-kata, dia hanya mampu menganggukkan kepalanya.
"Oya sayang, apa perlu aku bertemu dengan kedua orang tua kamu? aku ingin mengenal mereka."
"Jangan sekarang, karena aku nggak mau mengecewakan orang tua aku. Mereka mengizinkan aku kuliah di sini, karena mereka ingin aku menempuh gelar S1 aku. Kalau mereka sampai tau aku mempunyai pacar, aku takutnya mereka akan marah sama aku dan menyuruh aku pulang ke Pekanbaru," larang Kay.
"Apa orang tuamu nggak suka kalau kau punya pacar?" Tanya Arka penasaran.
"Bukan seperti itu, tapi aku kan baru mulai masuk kuliah, kita tunggu waktu yang tepat, kalau kita sudah benar-benar mantap dengan hubungan kita, maka aku akan memperkenalkan kamu sama orang tua aku. Sekarang kita jalani saja apa adanya. Kamu nggak marah kan dengan keputusan aku ini?" Tanya Kay dengan tatapan sayu nya.
"Nggak apa-apa kok, aku juga berfikir seperti itu. Kita kan baru mulai berpacaran, jadi kita jalani dulu seperti ini," ucap Arka dengan menepiskan senyumannya.
"Kalau kita benar-benar mau serius dengan hubungan kita, maka kita akan memperkenalkan diri kita pada keluarga kita masing-masing," usul Kay.
"Ok..aku setuju."
"Jadi kita sudah sepakat?" Tanya Kay memastikan. Arka menganggukkan kepalanya.
Ternyata apa yang ada dipikiran Kay sama dengan apa yang ada dipikiran Arka, mereka sama-sama tak ingin terburu-buru mengenalkan diri pada kedua belah pihak keluarga, karena mereka sama-sama ingin menjalani hubungan ini tanpa diketahui kedua orang tua mereka.
"Sudah siang, ayo kita berangkat," ajak Kay lalu berdiri.
"Baiklah, aku tunggu di luar," ucap Arka lalu berdiri dan melangkah keluar.
Kay berjalan menuju kamar dan mengambil tas dari atas meja. Dia keluar dari kamar dan berjalan keluar rumah. Setelah mengunci pintu, Kay berjalan menuju mobil Arka. Mereka masuk ke dalam mobil, Arka melajukan mobilnya menuju kampus.
🌟🌟🌟🌟
semangat arka 💪💪