Rafael Hutama, sang putra sulung keluarga Hutama terjebak one night stand dengan Milea yang datang untuk mencari sang dosen pembimbing sesuai alamat yang tertera di data kampusnya. Tentu saja Rafa yang berada dibawah pengaruh obat tak bisa berpikir jernih hingga berakhir di tempat tidur bersama Milea. Sebagai pria keluarga terpandang tentu dia berniat menikahi Milea. Tapi anehnya Milea malah menolak. Bagaimana bisa dia menerima pertanggung jawaban Rafael jika yang dia cintai adalah Richard Hutama, sang adik yang juga merupakan dosennya di kampus??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sushanty areta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ya
"Tenanglah, Milly cuma pingsan karena shock." Kata Sofia setelah memeriksa calon menantunya. Semua bernafas lega setelah mendengarnya, termasuk Rafa yang menggendong tubuh semampai itu ke singel sofa besar didepan televisi atas anjuran Leon.
"Bisa kita lanjutkan pembicaraan kita tadi?" tanya Ken karena melihat isyarat yang diberikan Fernando dengan ekor matanya. Serempak semuanya setuju lalu pergi satu persatu kembali ke ruang tamu.
"Raf, mau kemana kamu?" Leon mencekal tangan Rafa yang juga akan beranjak keluar.
"Menyusul mereka." jawab sang tuan muda datar. Terlihat sekali raut kecewa pada wajahnya. Tentu saja dia merasa dibohongi oleh sahabatnya itu.
"Tetap disini karena kau calon suaminya. Tunggu Milly sadar." pinta Leon dengan nada rendah penuh penekanan.
"Kamu kakaknya Lee, kau lebih berhak karena aku bukan mahramnya." tolak Rafa tegas. Leon menggelengkan kepalanya. Bertahun bersahabat dengan Rafa sudah membuatnya tau juga jika Rafa memang dibesarkan dalam ajaran agama yang kuat oleh kedua orang tuanya. Mungkin itu juga alasannya tak pernah dekat dengab wanita selain para sepupunya. Rafael bak rumah mewah yang dipagari terlalu tinggi hingga sama sekali tak bisa dimasuki.
"Baiklah, kita tunggu Mily sadar." putus Leon mencari jalan tengah dari perdebatan kecil mereka.
"Kau marah padaku Raf?" Rafa hanya diam, tak ingin menaggapi pertanyaan sahabatnya itu. Pria itu malah menyingkap gorden jendela dan menatap keluar.
"Apa kau tau rencana perjodohan ini dari awal?" Leon menyusul Rafa, berdiri di dekat jendela sambil bersedekap.
"Ya." Rafa tertawa sumbang. Sudah dia duga. Walau tak diberi taupun logikanya akan secara otomatis berpikir kesana. Perubahan semua orang disekelilingnya adalah alasan utamanya. Dia orang yang amat peka jika menyangkut keluarga dan sahabatnya.
"Jadi kau juga tau jika gadis yang kutiduri adalah adikmu tanpa mau memberitauku yang sebenarnya?" tekan Rafa masih dengan raut dingin yang menusuk.
"Ya." sekali lagi Rafa tertawa sumbang, kali ini dengan senyum sinisnya.
"Dan kalian juga merencanakan jebakan ini untuk melancarkan perjodohan ini?"
"Semua tak seperti yang kau bayangkan Raf. Perjodohan itu memang sudah direncanakan, tapi kejadian antara kau dan Herlina sama sekali diluar rencana kami. Semua terjadi begitu saja hingga kami terpaksa menyuruh Milly menemuimu." Rafa berbalik menatap Leon amat tajam.
"Kami harus menolongmu Raf, tante Sofia bilang efek obat itu bisa merusak syarafmu jika kau tak mendapat pelepasanmu. Dan kami tau kau tak akan bisa menuntaskannya sendirian."
"Dengan mengorbankan Milea?" tanya Rafa dengan rahang mengeras. Andai tak ada orang tua mereka disana...pasti sebuah pukulan akan mendarat telak di wajah ganteng Leon.
"Tak ada yang berkorban atau dikorbankan. Aku tak menganggap tindakanku benar karena sudah membiarkanmu berzina, tapi kami terpaksa. Kami juga tak mungkin memanggil wanita penghibur untukmu karena aku tau itu akan sangat menyakitkan bagimu. Hanya Milea yang bisa kuingat saat keadaan darurat itu. Kalian memang berdosa, tapi kau bisa menebusnya dengan menikahi Milea secepatnya."
"Apa kau pikir menikah akan semudah itu?" desis Rafa kembali dibuat jengkel dengan perkataan Leon yang seolah menyentil egonya dengan memandang rendah masa depan pernikahannya yang abu-abu.
"Apa yang kau permasalahkan Rafael Hutama? bahkan kedua belah pihak sudah setuju. Kami juga sudah mengurus keperluan nikah kalian agar kalian bisa menikah secepatnya."
"Kau...kau menempatkan aku dalam dilema Leonard ibrahim!! kenapa tak membiarkan aku mati saja dari pada kalian bersekongkol menolongku, tapi malah berakhir menginjak harga diriku? kau tau bukan jika yang adikmu inginkan adalah Richard..bukan aku. Bahkan saat pelepasanpun dia meneriakkan nama Richard ditelingaku. Kalian semua salah orang." kali ini Nando sudah tak bisa menguasai amarahnya lagi. Kenangan percintaan panasnya dengan Mily berputar diingatannya.
"Itu bukan masalah besar Raf. Mily hanya mengagumi Richard, bukan mencintainya. Semua yang dia rasakan hanya obsesi. Aku sangat mengenal adikku Raf." tukas Leon meyakinkan.
"Apapun alasannya, aku tetap merasa kami hanyalah korban. Terutama aku! kalian bertindak sendiri tanpa minta persetujuanku tanpa memikirkan masa depanku." pekik Rafa kesal. Lagi-lagi sang tuan muda menjambak rambutnya frustasi.
"Kau bukan korban Rafael Hutama, jangan jadi orang yang tak tau terimakasih. Kau pikir kami senang memutuskan semua ini untukmu? tapi siapa yang bisa melawan takdir? apa kau lupa jika percaya pada ketentuan Tuhan juga termasuk rukun iman dari keyakinanmu pada sang pencipta? harusnya kau berterimakasih pada tuan Ken karena bersedia menolongmu, juga mengijinkan anak gadisnya datang menolong walau belum menikah denganmu. Pikirkan itu Rafael!!" tekan Sofia keras dengan tatapan meradang pada putranya. Tau? tentu saja dia tau karena sedari tadi fokusnya terbelah pad Rafa juga.
"Maafkan aku mom." lirih Rafa setelahnya. Dari kecil dia tak pernah melihat momynya semarah itu. Momynya hanyalah sosok sabar dan penuh cinta. Tapi sekarang....ibu yang dia sayangi sepenuh hati telihat amat murka mendengar perkataannya.
"Besok kalian menikah!" lagi-lagi Rafa dan yang lain tercekat mendengat keputusan Fernando yang tak terbantah.
"Tuan Fernando ..mohon pengertian anda. Setidaknya beri kami waktu untuk bersiap." Tentu saja Ken ibarahim dibuat kelimpungan karena dia belum ada persiapan sama sekali, padahal dia berada pada pihak perempuan yang butuh banyak persiapan.
"Hanya ijab kabul agar mereka sah tuan Ken. Pun jika anda ingin mengelar resepsi, silahkan saja." putus Nando bijak.
iki onok nofel kocak