Usia Alexius Calandra memang sudah tidak lagi muda. Dan dia dijodohkan dengan seorang gadis yang pemarah dan arogan. Bagaimana cara dia menghadapi gadis muda itu yang punya sikap sangat menjengkelkan menurutnya.
Beberapa kali Sarah dan Alex berusaha menggagalkan perjodohan tetapi selalu gagal karena Ibu Alex sangat pintar dan berpendirian teguh.
Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka menikah agar tidak dicoret dari daftar warisan keluarga.
Selalu ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga Alex dan Sarah di setiap harinya, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu justru semakin mendekatkan hubungan mereka.
Sebuah rahasia terungkap saat Alex mulai mencintai Sarah begitupun sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba mereka harus bercerai karena anak kandung Adolf Chavali yang hilang telah kembali dan mengambil semua haknya yang dipinjam Sarah selama ini, termasuk perjodohannya dengan Alex.
Bagaimana sikap Alex selanjutnya? Dan akankah kedua orang tua Sarah tetap menyayangi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Cinta akan menemukan jalannya sendiri, dimanapun sang kekasih hati berada, cinta akan semakin mendekat dan segera mendekap. Sekuat apapun penolakan terhadap cinta, itu hanya akan memberi kesengsaraan.
Cobalah untuk mengingkari takdir cinta, maka kesedihan dan penderitaan akan datang dengan senang hati untuk mematahkan semua.
...
"Wah! Ini benar-benar kejutan. Kau akan menikah dengan pria idaman semua gadis di kota!" seru Candy Ellen sambil menatap layar ponsel yang menunjukkan profil Alexius Calandra.
Sarah berdecak malas. "Ck, pria itu sudah tua," ucapnya.
"Hey. Apa kau lupa? Kau pernah bilang tidak keberatan pada pria dewasa yang penting dia seksi," ujar Candy, "dan kurasa Alexius sudah lebih dari itu." lanjutnya.
"Dia kaya, matang, tampan dan dia itu pria paling hot yang cocok denganmu, Sayang!" Candy tertawa gembira.
"Entahlah. Pria itu tidak suka padaku. Dia melihatku seolah aku ini kotoran yang menjijikan," gerutu Sarah.
"Apa? Itu sangat keterlaluan. Dia pasti pria yang bodoh." Candy terlihat kesal mendengar sahabatnya dipandang sebelah mata oleh Alex.
"Kalau begitu kau harus memberinya pelajaran. Aku kesal sekali mendengarmu diperlakukan seperti itu."
"Kita buat taruhan!" seru Candy lagi.
"Apa kau gila? Saat seperti ini kau masih bicara tentang taruhan?" tanya Sarah setengah marah, "memangnya mau taruhan apa?" tambah gadis itu.
"Mm ... setelah menikah nanti buatlah dia jatuh cinta padamu. Jika kau berhasil aku akan berikan satu set perhiasan asli Italia warisan dari nenekku," jawab Candy panjang lebar. "dan jika kau kalah, belikan aku satu set perhiasan Prancis."
"Ya ampun. Kisah cintaku kau hargai dengan begitu murah." Sarah memberengut.
"Entahlah. Jangankan membuatnya jatuh cinta, bicara denganku saja dia selalu emosi," lanjut Sarah.
"Hey. Pikirkan saja kalau kau menang hadiahnya untukmu, tapi jika tidak berhasil kau tidak perlu terlalu banyak membayar padaku."
"Selain itu kau bisa mencampakkan dia nantinya."
Sarah tampak berpikir dan emosinya terasa naik saat mengingat sikap Alex padanya. Pria itu bahkan tidak pernah berkata lembut, dia terlalu dingin dan kaku saat berhadapan dengan Sarah yang punya sikap santai.
"Baiklah, Candy. Aku setuju." Mereka bersalaman dan sekarang wajah Sarah terlihat kembali gembira.
"Jangan khawatir aku selalu mendukungmu."
"Lakukan apa saja untuk menaklukannya. Kau lihat wanita itu? Sepertinya dia juga sedang menggoda teman prianya." Candy berucap sambil melihat ke salah satu sudut restoran dimana mereka berada sekarang.
Seorang wanita dewasa yang elegan tengah bercumbu dengan seorang pria. Sarah dan Candy melihat mereka yang bahkan tidak peduli pada keadaan sekitar.
"Chh ... dasar tidak tahu malu! Kenapa mereka tidak mencari hotel saja jika ingin berbuat mesum," ketus Sarah sambil bergidik.
"Tapi aku merasa pernah bertemu dengan wanita itu. Wajahnya sangat familiar." Sarah menyentuhkan jari telunjuk di dagunya. Gadis itu seperti sedang berpikir.
"Benarkah? Mungkin saja. Wanita seperti itu pasti banyak berkeliaran di mana-mana," ucap Candy dan Sarah mengangguk.
"Ah, aku ingat! Dia yang menumpahkan minuman di kemejaku waktu itu!" seru Sarah seolah baru saja menemukan jawaban untuk teka-teki yang sangat sulit. Candy mengkerutkan alis dan berusaha mengingat kejadian yang Sarah sebutkan.
"Saat itu kau sedang ke toilet," ucap Sarah menjawab rasa penasaran sang sahabat.
"Kalau tidak salah pria yang bersamanya bukan pria yang ini," ucap Sarah lagi.
"Hh ... aku mengerti, entah apa yang mereka cari." Candy mengembuskan napas lelah.
"Sudahlah itu tidak penting. Aku tidak peduli." Candy mengangguk atas ucapan sang sahabat.
Ada banyak orang yang hanya mencari kesenangan dengan yang lainnya. Akan tetapi mereka tidak tahu dampak dari perbuatan mereka untuk kedepannya. Tidak sedikit orang yang saling mencinta juga menjadi korban karena godaan sesaat menuruti hawa nafsu.
...
Di tempat lain ...
Alex menatap cemas gawai pintarnya yang berwarna hitam, rasanya ingin sekali dia membanting benda mahal itu jika tidak mengingat catatan penting yang dia simpan bersama data yang lainnya.
Pria tampan itu kesal karena sang kekasih tidak mengangkat panggilan darinya. Dia hanya khawatir wanita itu sedang bersedih karena dalam hitungan hari dia akan melangsungkan acara pernikahan.
"Kumohon, angkat telponnya, Dilia!" Alex bermonolog sambil menatap layar ponsel dalam mode memanggil.
"Aku sangat merindukanmu," ucapnya lirih.
'Budak cinta.'
Alex semakin marah, kenapa di saat seperti sekarang dia justru mengingat ucapan Sarah. Perkataan gadis itu selalu mengganggunya.
Alex hanya ingin berbicara dengan Dilia, saat ini dia hanya ingin berjanji akan segera kembali pada kekasihnya itu setelah kontrak pernikahan dengan Sarah selesai.
Tok-tok
Alex berpaling saat pintu kantor terbuka, sekretarisnya baru saja mengetuk pintu. Pria itu segera mematikan saluran telpon.
"Tuan. Ada tamu untuk Anda."
"Persilahkan masuk!" perintah Alex yang dituruti bawahannya.
Alex membuang nafas saat tamu yang dimaksud mendatangi ruangannya. "Kupukir tamu penting yang datang," ucapnya sambil menghempaskan kembali tubuhnya di kursi kebesaran.
"Hey. Itu kasar sekali." Orang itu protes pada ucapan Alex. "Aku hanya ingin berkunjung pada calon pengantin baru."
Gerakan tangan Alex yang bermain di keyboard komputer segera berhenti. "Berita cepat sekali menyebar," ucapnya datar.
"Kau curang. Rencana sebesar ini kau rahasiakan? Memangnya kau tidak menganggapku sahabat lagi?" tanya orang itu.
"Maaf, Mavrick. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa." Alex berusaha menjelaskan pada Mavrick yang seperti sedang menuntut jawaban padanya.
"Aku mengerti. Ambil sisi baiknya. Kau akan menikahi Sarah Chavali," jawab Mavrick santai, "jujur saja aku sangat iri, dia itu salah satu gadis incaranku."
"Lalu, bagaimana dengan Dilia?" Mavrick kembali bertanya, Alex menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Apa aku masih bisa berharap? Dia pasti sangat sedih dan tersakiti," ucap Alex sendu. Kedua pria tersebut diam dengan pemikiran mereka masing-masing.
Sudah sejak lama Mavrick Lore mengenal Alex. Mereka bersahabat dan saling memahami satu sama lain. Mavrick senang mendengar sahabatnya akan menikah, akan tetapi dia juga tahu bahwa pernikahan itu hanya sebuah perjodohan.
Mavrick sangat mengerti dengan kesedihan Alex yang sangat mencintai Dilia. Mereka harus berpisah secara paksa karena pernikahan Alex dengan wanita pilihan kedua orang tuanya.
Pria pirang itu hanya berharap Alex akan mendapatkan kebahagiaan untuk ke depannya. Biarkan takdir menentukan segalanya.
"Aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu, Temanku!" ucap Mavrick tulus, pria itu menghampiri Alex kemudian menepuk pundak sang sahabat.
"Percayalah. Tuhan punya rencana yang terbaik untukmu. Semuanya sudah diatur, kau hanya perlu menjalaninya saja." Alex tersenyum sambil mengangguk mendengar ucapan Mavrick.
"Tentu, sepahit apapun itu," jawab Alex.
"Aku pamit. Jangan lupa undangan untukku. Setelahnya aku juga akan menunggu kabar tentang malam pertamamu," ucap Mavrick sambil tersenyum jahil.
"Sialan kau!!" Mavrick tertawa dengan tanggapan Alex pada candaannya. Setidaknya dia bisa menghibur sahabat terbaiknya itu.
To be continue.
See you next chapter ...
Maaf untuk keterlambatan up nya ...
dan lihat 37 bab
ku pikir
berhenti di tengah jalan atau Hiatus atau pindah ke aplikasi lain nya karena ada tulisan end
eh ternyata emang bener di bab 37 tamat
keren bisa tamat
walaupun hanya 37 bab
semoga bisa berkarya lagi ya Thor 🤲 Aamiin 🤲
tetap semangat berkarya yah thor....🤟💪💪💪👍👍👍👍👍🎉🎉🎉🎉