Seorang gadis bernama Vanya Audelia, kini usianya menginjak 18 tahun, yang mana dirinya harus menerima takdir yang tak terduga dari sang aunty nya. apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sherda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditindih orang tak dikenal
Terdapat sebuah kasur nan empuk, hal itu Vanya tersadar di tempat nya dalam keadaan tertidur terlentang. Dirinya terbangun dalam keadaan kantuk berat dan juga pusing di bagian kepalanya.
Vanya berusaha semaksimal mungkin untuk bangkit dari sana, akan tetapi matanya sangat tidak bisa terkontaminasi di tambah kepalanya makin parah yang ia rasakan.
"Awhhh, ini ada apa ya, kok aku pusing banget" gumam nya. Vanya masih belum sadar kejadian ini sebelum nya, hanya fokus pada dirinya mengapa sangat sulit untuk membuka matanya saat ini.
Tak bisa menahan nya lagi, Gadis itu terkapar dan tak tersadarkan diri di atas ranjang.
•
•
Driing.... Driinggg.... Driiingg...
Suara handphone milik Vanya berdering terus sehingga pria misterius itu datang menghampiri kamar tawanan nya.
Perlahan langkah nya masuk sembari memerhatikan gadis itu masih belum sadar saat ini. Matanya mengalihkan ke handphone milik gadis itu terletak di nakas nya. Tanpa lama lagi, pria itu mengambil dan mengecek siapa yang di telpon dari ho milik gadis tersebut, terpampang sebuah nomor dengan nama "Aunty Larenz" di layar handphone nya.
"Halo?" dengan senyuman iblis, mengangkat telpon nya.
"Halo, ini siapa? mana Vanya!?" tegas suara wanita itu di balik telponan itu.
"Hm? siapa ya?"
"Gak usah banyak tanya! mana Vanya anak kuh?!"
"Oh anak mu, Dia baik-baik aja kok, kamu gak perlu khawatir ya, tante manis!" ucap nya.
"Heh, kembalikan Vanya sama aku! Mau kau apa ha?"
"Tante ini kenapa sih? yang kamu maksud itu Vanya ya? dia ga kenapa-napa, hanya saja dia habis tidur setelah bermain sama aku semalaman"
Sontak Larenz terbelalak mendengar ucapan pria itu di telinga nya.
"Apa? kurang ajar, kau sudah mempermainkan dengan saya, Awas aja kamu ya"
"Udah ya manis, nanti Vanya terganggu loh" dengan suara lembut nya.
Tiiit.... tiiit...
"AGRHHH" handphone miliknya dibanting begitu saja tepat di atas kasur, Larenz sangat sangat emosi setelah menelpon nomor Vanya yang di tangani oleh pria tak di kenal.
"Sial, jika benar Vanya sudah gak perawan lagi, bisa-bisa rencana ku gagal selama ini" gumam Larenz, sembari mengacak bedanya yang ada di sekitarnya.
Pria habis ditelpon sama Aunty dari gadis itu, ia pun melempar HP itu ke sembarangan arah, untung saja HP itu tak mudah retak ataupun rusak.
Perlahan dirinya mendekati gadis yang kini masih tertidur di atas ranjang, matanya salah fokus melihat tubuh seksinya terutama di bagian gundukan dada yang cukup terekspos.
Tanpa lama lagi, Pria itu melangsungkan aksi nya untuk memulai menyentuh gadis itu dalam keadaan tidak sadar, memang semalaman mereka belum melakukan apapun di atas ranjang.
"Ohh, Sayang, kau sangat terpesona sekali di saat kau tidur begini, gairah ku gak bisa tertahan dengan body mu ini" sembari menjilat telinga gadis itu dengan lembut.
Baru saja tangan pria itu mendarat ke buah dada Vanya, Gadis itupun akhirnya tersadar dan reflek kaget melihat sosok pria itu sudah berada di dekapan tubuhnya.
"Hah,! kau jangan macam-macam!" reflek mendorong bada pria itu hingga terpental ke samping.
"Oh, sudah bangun ya, mari kita bersenang-senang, baby!"
Vanya sangat ketakutan dan baru kali ini dirinya di culik sekaligus diajak paksa untuk berhubungan intim dengan pria tak di kenal.
"T-tolong, aku mau pulang! lepasin saya!" ucap Vanya bergemeteran.
"Jangan manis, nikmati dulu permainan kita baru kamu boleh pulang" mendekati Vanya sembari mengelus rambut gadis itu.
"Hikss.... saya gak sudi ******!"
"Sial, kenapa aku harus kepergok dalam seperti ini..." batin Vanya.
...•...
...•...
...•...
Sore harinya, Celva dan Tantri baru saja balik ke rumah alias Home Care, Terlihat Via bermain bersama adik-adiknya di area taman. Melihat sohib nya baru saja balik, Via pun berhenti sejenak dan segera menghampiri mereka berdua.
"Celva! Tantri!"
Reflek Celva menoleh ke sumber suara, begitupun Tantri dengan berwajah lelah nya sekaligus sedih setelah balik dari luar.
"Hm, Iya Via." sahut Celva.
"Gimana, kalian udah dapat info Vanya?" tanya Via.
"Huft... belum, aku gak tau lagi cari dia kemana lagi. Vanya... dia kemana sih" ucap Celva frustasi.
"Apa kita lacak aja kali ya posisi Vanya? dengan begitu bisa membantu keberadaan Vanya dimana" usul Tantri.
"Nah iya bener tuh, kebetulan temen aku ada ahli komputer. siapa tau dia tau melacak data" sangkal Via.
"Bagus deh, kamu hubungin ya secepetnya, aku gak mau Vanya jadi kenapa-napa kalau kita lambat temuin nya" ucap Celva cukup cemas.
"Iyah Cel, kamu tenang dulu ya"
Di saat Celva dan Tantri hendak masuk sementara Via kembali lagi ke taman bersama adik-adiknya di sana, Tiba-tiba Larenz baru saja tiba menggunakan mobil dengan memencet klakson di depan pagar.
"Ah, Onty dah balik" ucap Via, putar balik membantu buka pagar agar Aunty nya bisa masuk lebih mudah.
Setelah sudah turun dari mobil, Larenz baru tahu Celva barusan aja balik dari nya.
"Via, Celva sudah balik?" tanya Larenz.
"Iya Onty, baru aja mereka masuk ke dalam" jawab Via.
"Oh, Bagaimana, apa ada perkembangan?" tanya Larenz.
Hal itu Via terdiam sejenak, apakah menjawab nya langsung atau tidak.
"Jawab aja" sambung nya.
"Kata mereka, belum dapat info tentang Vanya Onty..."
Larenz sedikit kewalahan dan merasa gagal merawat Vanya semalaman.
•••
"Assalamu'alaikum, Cici!" kemunculan suara berat Ikhwan di telinga nya, membuat Cici cukup kaget hal itu, untung saja jantungnya tidak copot.
"Eh, Wa'alaikumussalam... Anta kenapa ngangetin ana?" ucap Cici menghembus nafasnya sembari menggosok dadanya.
"Eh, Hehehehe, 'afwan Ukhty Cici kalau ana ngangetin" ucap nya menggaruk kepalanya.
"Ya udah tak apa, kenapa anta menghampiri ana? ada apa ya?" heran Cici.
"Oh iya, jadi gini Ukhty-"
"Eh, 'afwan! jangan panggil saya Ukhty, panggil nama biasa aja jadi enak di dengar" potong nya, sekilas terkekeh.
"Oh, baiklah Cici. Eee... ana cuman nyamperin ke Anti, pekan besok kan ada acara milad pondok, nah jadi Cici bersedia kan ngisi agenda dakwah?"
"Oh, Boleh-boleh, temanya sesuai prosedur apa dipilih sendiri ya?" tanya Cici.
"Temanya bebas atuh Ci, jadi ana nyamperin jauh-jauh hari biar anti bisa lebih good lagi prepare nya, hehe"
"Baiklah Jorgi, aku sangat bersedia kok, terimakasih ya infonya" ucap Cici tersenyum sekilas.
"Okee, Cici kalah begitu ana kembali lagi ke asrama" ucap Jorgi.
Cici pun mengangguk saja dan kembali fokus ke buku nya, dimana dirinya berduduk santai di tempat halaman asrama nya yang bersedia kursi di tepi-tepi jalan.
Faizul alias paman dari Azhar, beliau kembali lagi ke pondok pesantren, cukup lama juga beliau tak bermampir kesana dan membuat rindu dengan suasana itu.
Faizul sekali-sekali berjalan mengelilingi area pondok sekaligus ingin bertemu dengan Azhar. Akan tetapi, Faizul berpapasan dengan Kyai yang baru saja selesai dari musholla.
"Faizul? kenapa ente tak bilang kalau mau kesini" ucap Kyai Hasyim, sembari memeluk sepupunya sekilas.
"Iya bang, aku kesini pengen jalan-jalan aja, udah lama gak kesini"
ucap Faizul tersenyum.
"Ohh, Alhamdulillah lah, kamu memang suka beradaptasi disini. tapi kenapa gak ngabdi aja Faizul? supaya kamu tidak bersusah lagi bolak balik dari sana, apalagi rumah kamu juga jauh dari sini" ujar Kyai Hasyim.
"Ah, Hehehe, ada kerjaan juga sih bang, aku juga pengen begitu tapi takutnya gak sesuai diri"
"Oh itu ya... terserah kamu saja. Astagfirullah... daritadi kita ngomong malah berdiri terus, yuk masuk dulu ke rumah" ucap Kyai.
"Eh, gak usah buru-buru bang, aku kesini sekalian mau ketemu sama si Azhar, dia lagi sibuk apa enggak ya bang?"
"Ohh, si Azhar masih membimbing adik-adiknya di kelas, tapi kalau memang kamu ingin ketemu sama nak Azhar, kamu tunggu aja ke dalam" tutur Kyai.
"Oke bang, siap" ucap Faizul.
*Bersambung*...
Dosenku Adalah Suamiku
Assalamu'alaikum Suamiku
My Handsome Husband
Perjuangan Cinta Aurelia
dan masih ada yang lainnya 😁🤗