Di ulang tahunnya yang ke-20, Eriza Ravella mendapat hadiah berupa tiket pesawat liburan ke New Angeles dari bibinya. Bersama sepupunya, Sienna Aeris, keduanya berangkat. Kedua gadis itu menikmati liburan mereka dengan menyenangkan.
Suatu sore, tanpa sengaja mereka bertemu dengan pemandu wisata yang membawa rombongan mahasiswa dari perkumpulan misteri yang menyebut diri mereka Blue Rose. Kedua gadis tersebut diajak sang pemandu mengunjungi lokasi wisata horor terkenal di kota tersebut.
Perjalanan dimulai. Tidak hanya deretan bangunan kosong yang menjadi daya tarik, ternyata dibalik lokasi tempat wisata tersebut menyimpan sebuah kisah kelam di masa lalu yang masih menyisakan misteri hingga saat ini. Terutama dengan kemunculan sosok pemuda yang tidak hanya mencampur-adukkan perasaan Eriza namun keberadaannya juga penuh teka-teki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Informasi
Pandanganku kembali ke teman-temanku di depan. Sebuah ide terlintas begitu saja di kepala. Aku lalu berdiri pamit kepada semuanya.
"Maaf, aku permisi sebentar!"
"Mau ke mana?" tanya Sienna segera.
"Ada sedikit urusan!" jawabku.
Lalu aku pergi meninggalkan mereka. Tatapan Sienna dan Alex mengikuti arah ke mana aku pergi. Tapi aku tidak peduli, aku melangkah mendekati Mr. Mark yang berdiri di depan mini van.
"Mr. Mark!" sapa ku begitu sampai di depannya.
"Oh, Nona Eriza ada yang bisa ku bantu?" tanya Mr. Mark sambil menghisap rokok.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada anda. Masih berhubungan dengan kawasan yang kita kunjungi kemarin. Sebelumnya aku ingin tahu sudah berapa lama anda menjadi seorang pemandu wisata?" tanya ku dengan sopan.
"Emm ... Kurang lebih 15 tahun. Memangnya ada apa, Nona?" jawab Mr. Mark.
"Oh, kalau begitu anda pasti tahu cerita mengenai Lucent Inn di Dixie Holly?!" tebak ku.
"Lucent Inn, ya? Penginapan itu tidak begitu terkenal. Karena letaknya yang berada di ujung jalan. Ditambah lagi penginapan itu dilarang dimasuki oleh turis. Menurut cerita penginapan itu sangat angker, siapapun yang masuk ke sana tidak akan bisa ke luar. Oh, tunggu sebentar!" jelas Mr. Mark yang kemudian masuk ke dalam van mencari sesuatu. Aku memperhatikannya dari belakang.
"Aku rasa pernah melihatnya," gumamnya sambil terus mencari. "Nah, ini dia!"
Ia memberikan sobekan selembar koran lama yang sudah usang padaku. Aku menerimanya dengan bingung. Baru setelah ku perhatikan tulisan di koran itu aku mengerti. Ini sobekan halaman depan koran lama dengan gambar Lucent Inn sebagai berita utama. Gedung Lucent Inn yang terpampang tak berubah bentuknya sampai sekarang.
"Ambil saja! Mungkin ini bisa memberi sedikit penjelasan," kata Mr. Mark.
"Terima kasih!" balasku.
Kemudian melipat koran usang itu dan memasukkannya ke dalam tas kecilku.
"Kamu bisa pergi ke toko Wanted di St. Barbara untuk mencari lebih banyak info mengenai sejarah kota ini. Kalau kamu mau aku juga bisa mengantarmu ke sana!" Mr. Mark menawarkan.
Aku menolak. " Oh, tidak perlu repot-repot. Terima kasih! Untuk infonya juga."
"Tidak masalah. Kalau kamu butuh tumpangan ke sana aku siap mengantar!" katanya.
Aku tersenyum. "Trims. Aku kembali ke dalam dulu!" kataku sambil berlalu meninggalkannya.
Aku kembali ke dalam cafe duduk di tempatku semula.
"Apa yang kamu bicarakan dengannya?" tanya Sienna dengan curiga.
"Tidak ada, hanya sedikit informasi mengenai kota ini!" jawabku santai.
Sienna pun diam tak bertanya lagi. Ia kembali sibuk dengan Justin. Sementara Alex masih terus berusaha mencuri perhatianku.
...****...
Begitu masuk ke kamar hotel aku langsung menjatuhkan diri ke atas kasur. Rasanya lelah sekali setelah jalan-jalan seharian ini. Entah bagaimana dengan Sienna, karena ia masih berada di lobby bersama Justin. Aku bangkit mengambil buku harianku di atas meja. Lalu menulis beberapa kalimat di halaman yang baru.
┌──❀*̥˚──◌──────────◌──❀*̥˚─┐
...1 June 2013,...
...Lucent Inn yang menyisakan misteri. Aku sangat penasaran....
└◌───❀*̥˚───────────◌───❀*̥˚┘
Belum selesai dengan kalimat lain saat tiba-tiba ponselku berbunyi.
'Oh, sebuah pesan,' gumamku sambil membuka isi pesan itu.
📨(Halo ... Eriza, kuharap tidak mengganggu waktu istirahatmu. Ini aku Alex. Aku hanya ingin memberitahumu kalau rombonganku akan ke St. Barbara besok, jadi ... kalau kamu tidak ada kegiatan lain maukah ikut bersama kami? Kami berkumpul jam 8 pagi di depan pintu masuk hotel.)
Alex? Darimana dia tahu nomor ponselku? Hmm ... pasti Sienna yang memberitahunya. Aku berpikir sejenak sebelum membalas pesan Alex. St. Barbara?! Baru tadi siang Mr. Mark mengajak ku ke sana. Tapi, yah ... Aku mulai mengetik membalas pesan dari Alex kemudian mengirimnya. Setelah itu aku pergi mandi.
...***...
Jam menunjukkan pukul 06.30. Aku sudah bangun dan sedang bersiap sambil menunggu sarapan yang ku pesan lewat telepon tiba. Sienna baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.
"Kamu ikut juga akhirnya," katanya.
"Ya. Apa kamu yang memberikan nomor ponselku pada Alex?" tanyaku.
Sienna tak menjawab malah menyengir.
"Sudah ku duga!" gumamku. Itu berarti jawabannya iya.
"Dia memintanya padaku. Sepertinya dia sangat tertarik padamu," kata Sienna.
" Ya, Vanessa pasti sangat tidak senang mendengarnya!" Aku berkata dengan sinis.
Sienna kembali tertawa.
"Siapa peduli? Vanessa dan Alex hanya teman biasa," ujar Sienna dengan santai.
"Oh ya .... bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Justin?" tanyaku. Tertarik juga dengan kisah mereka berdua.
"Baik. Ada sinyal positif darinya. Dia memberiku nomor ponselnya," jawab Sienna dengan girang.
"Bagus," tukasku.
"Sayang, mereka sudah harus pulang besok sore," Sienne berkata dengan sedih.
"Tidak apa-apa. Dari Losta ke Jackville kan hanya butuh waktu 3 jam. Sekali-kali kalian juga bisa saling mengunjungi," hiburku pada Sienna.
"Ya memang. Semoga saja dia masih mau bertemu denganku," harap Sienna.
Aku tersenyum padanya.
Pintu kamar diketuk, aku pergi membukakan pintu. Rupanya pelayan yang mengantar sarapan kami. Seusai sarapan baru kami turun ke bawah.
Setiba di depan pintu masuk hotel rombongan Alex sudah menunggu. Alex melihat kedatangan kami dan melambaikan tangan. Vannesa yang tadi nampak bersemangat berbicara pada Alex pun langsung memasang wajah sebal.
" Eriza, akhirnya kamu datang juga," kata Alex penuh semangat.
"Ya, daripada bosan sendiri di kamar hotel. Ngomong-ngomong apa St. Barbara itu tempat yang angker seperti di Dixie Holly?" tanyaku setengah ingin tahu setengah menggoda.
"Oh, tidak. Kamu tenang saja, hari ini kita mau belanja. Jadi, tidak akan ketempat-tempat seram," jawab Alex nyengir.
"Baguslah!"
Van Mr. Mark datang kemudian. Seperti hari kemarin, tanpa Roger. Mr. Mark keluar dari van dan menyambut kami.
"Pagi, teman-teman! Kalian siap belanja hari ini? Oh ... ada Nona Eriza dan Sienna juga rupanya," sapa Mr. Mark dengan hangatnya.
"Pagi, Mr. Mark. Kami masih dapat tumpangan gratis, bukan?" canda ku.
"Tentu saja, untuk dua nona secantik kalian," jawab Mr. Mark.
"Trims," balasku.
"Baiklah. Ay,o semuanya masuk!" suruh Mr. Mark pada rombongan sembari membukakan pintu van.
"Kamu mau duduk di depan bersamaku, Nona Eriza?" Mr. Mark menawarkan.
Aku lihat Sienna sudah duduk di kursi paling belakang bersama Justin. Vanessa di kursi tengah. Alex dan Mandy menunggu giliran masuk.
"Boleh juga."
Aku menerima tawaran Mr. Mark. Alex nampak kecewa.
Mr. Mark mempersilahkan ku masuk. Setelah semua sudah berada dalam van Mr. Mark mulai menjalankannya.
"Berapa lama perjalanan ke St. Barbara, Mister?" tanyaku.
"Kira-kira satu jam. Kuharap kamu tidak bosan, Nona Eriza!" jawabnya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
"Tentu tidak," kataku.
"Mister. mengapa anda sendiri yang menyetir? Bukankah anda tidak boleh membiarkan ada tempat duduk kosong?" tanyaku kemudian.
"Memang. Tapi itu tidak berlaku kalau aku yang menyetirnya sendiri. Lagipula Roger sedang sibuk," jawab Mr. Mark.
"Oh."
"Eriza, mau permen?" Alex menyelonong dari balik kursi sambil menawarkan permen.
"Tidak. Trims," tolak ku.
"Coklat?" tawarnya lagi.
"Tidak."
"Snack?" Alex terus memberi penawaran.
"Tidak," tolak ku lagi. Aku benar tak berniat ingin makan apapun.
Vanessa nampak geram melihat usaha Alex yang sia-sia. Ia berkata dengan ketus.
"Alex, berhentilah menawarkan sesuatu padanya. Dia tidak akan menerima apapun darimu!"
"Maaf Alex, aku benar tidak ingin makan apapun. Pencernaan ku sedikit lebih lamban sehingga perutku masih terasa sangat penuh," jelas ku dengan halus pada Alex. Karena tak ingin membenarkan apa yang dikatakan Vanessa barusan.
"Aku mengerti," ujar Alex akhirnya menyerah.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya kami tiba. Benar seperti yang dikatakan Alex, tidak ada yang nampak angker maupun seram di sini. Semua yang ada di sini nampak normal. Suasana yang ramai, pertokoan di sepanjang jalan, pokoknya seperti kawasan perbelanjaan pada umumnya.
Mr. Mark menepikan van di depan sebuah ruko. Kami semua turun. Alex menghampiriku. Tapi Mr. Mark duluan mengajukan pertanyaan padaku.
"Perlu ku antar ke sebuah tempat, Nona Eriza?"
Aku berpikir sebentar. Sepertinya Mr. Mark tahu tujuan ku kemari. Aku mengangguk menerima tawaran Mr. Mark.
"Boleh," jawabku.
Mr. Mark tersenyum lalu berkata pada semua rombongan.
"Teman-teman, kita berkumpul kembali di sini jam 12 siang untuk makan siang."
"Oke, Mr," balas yang lainnya.
"Mari, Nona Eriza," ajak Mr. Mark.
Aku pun berlalu meninggalkan rombongan. Sebelumnya sempat melihat Alex yang kecewa.
...★━━━━━━PoV2━━━━━━★...
"Sepertinya temanmu lebih tertarik dengan om-om daripada remaja seusianya," kata Vanessa dengan tawa sinis pada Sienna.
"Vanessa, berhenti bicara seperti itu!" tegur Alex sambil berlalu dengan kesal. Vanessa segera mengejarnya.
"Dia pasti sedang merencanakan sesuatu," ujar Mandy tiba-tiba.
"Merencanakan apa?" tanya Sienna penasaran.
"Entah. Kita lihat saja nanti," jawab Mandy dengan santainya. Kemudian pergi meninggalkan Sienna dan Justin.
Kedua remaja itu pun memutuskan pergi.
...★━━━━━━━━━━━━★...
.......
.......
.......
"Kamu masih penasaran dengan Lucent Inn, ya?" tanya Mr. Mark disela perjalanan.
Aku mengangguk. Aku memang belum bisa meredam rasa penasaran ku terhadap penginapan misterius itu.
"Memangnya ada hal menarik apa yang membuatmu penasaran dengan tempat itu, Nona?" tanya Mr. Mark yang juga ingin tahu.
"Panggil Riza saja, Mr. Anda pasti ingat malam di mana kita ke sana saat aku memilih meninggalkan Mansion Maera," kataku. Mr. Mark mengangguk.
Aku kembali melanjutkan.
"Tanpa sengaja aku berjalan sampai ke ujung Dixie Street dan melihat penginapan itu. Saat aku mendekat tiba-tiba datang seorang kakek yang entah darimana datangnya mencegahku untuk mendekat ke sana. Yah, aku pun pergi. Tapi sebelumnya aku sempat melihat ke lantai atas jendela. Ada seseorang yang berdiri di lantai atas dalam penginapan itu. Tetapi saat aku berbalik melihat lagi, ia menghilang. Apa anda pikir yang ku lihat itu hantu?"
"Hem .... Cerita yang menarik. Tapi aku salut kamu cukup berani untuk mendekat ke sana. Aku juga tidak berani memastikan yang kamu lihat itu hantu atau bukan, karena selama aku memandu turis ke sana, aku belum pernah sekalipun melihat sosok hantu di sana," ujar Mr. Mark.
"Aku hanya tahu sedikit cerita mengenai Dixie Holly. Di mana kawasan Dixie Holly dulunya merupakan sebuah kerajaan mati yang ditinggal rakyatnya. Tapi banyak yang tidak percaya dan menganggap cerita itu bohong yang hanya untuk menarik minat turis ke kota ini saja. Karena tidak adanya bukti peninggalan dari kerajaan tersebut. Kawasan itu malah terkesan sangat modern meskipun tak berpenghuni," Mr. Mark melanjutkan.
"Kerajaan? Sangat jauh dari kesan sebuah kerajaan. Di mana istananya?" tanya ku yang juga tak percaya.
"Memang benar. Oh ya, bukankah aku berjanji akan membawamu ke toko Wanted. Mari, lewat sini!" ajak Mr. Mark.
Aku mengikutinya memasuki sebuah plaza yang penuh dengan kios-kios yang menjual berbagai macam barang. Sangat ramai dan lengkap, apapun yang kamu cari semua ada di sini. Benar-benar surganya belanja.
Aku dan Mr. Mark sampai di sebuah toko yang cukup besar dengan papan nama besar bertuliskan Wanted. Kami memasukinya. Dari buku, cidera mata, aksesoris, hiasan sampai miniatur semuanya khas kota New Angeles. Kalau mau beli oleh-oleh yang mencirikan kota ini, di sinilah tempatnya. Tapi aku masih bingung mengapa Mr. Mark membawa ku kemari. Aku sendiri belum berpikir untuk membeli oleh-oleh. Karena masih ada waktu seminggu sampai liburanku dan Sienna habis.
"Maaf Mr. Mark, aku tak mengerti mengapa kita ke sini," kataku.
"Cobalah melihat-lihat koleksi buku di sini, mungkin ada buku yang bagus," ujarnya dengan tenang. Sementara ia sendiri sibuk melihat-lihat koleksi miniatur Glosy Tower.
Aku tak mau banyak tanya lagi dan segera menuju rak buku. Membaca setiap judul yang tertera di buku. Perhatianku berhenti saat melihat sebuah buku dengan sampul kuning bertuliskan 'New Angeles: Kota yang Penuh Misteri'. Lalu agak jauh di sebelahnya ada sebuah buku lagi dengan judul 'Rahasia Dibalik Indahnya New Angeles'. Aku memutuskan membeli buku judul kedua. Dan meletakkan buku pertama ke tempatnya semula. Kemudian ke kasir setelah membayar aku kembali menemui Mr. Mark.
"Nah, kamu sudah temukan yang kamu cari!" ujar Mr. Mark melihatku membawa sebuah buku.
"Semoga saja. Terima kasih sudah menemaniku," kataku.
"Sama-sama," balasnya.
bersambung ....
keren thor