"Aku memang sanggup untuk menghapus namanya dan menggantikannya dengan nama suamiku di hatiku, tapi apa aku sanggup terus mempertahankan rumah tanggaku tanpa cinta dari suamiku? Yang selalu enggan untuk menyentuhku untuk lebih intim?" batin Suci
"Sampai kapan kamu tidak mencintaiku? Sampai kapan kamu akan terus belajar mencintaiku? Apa perlakuan manisku tidak bisa menggerakan hatimu walau pun sedikit saja Uci?" batin Arkan
"Bunda mohon nak, jadikan kakamu istri ke dua Arkan." ucap Anisa
Akan'kah rumah tangga Arkan dan Suci tetap utuh di saat Bunda dari Suci meminta Suci untuk menyutujui kakaknya menjadi istri ke dua dari suaminya?
Akan'kah Suci merelakan suaminya untuk kakanya sendiri di saat ia sudah mengandung benih dari suaminya karena menikah dengan dua wanita bersaudara kandung adalah haram? Atau Suci tetap mempertahankan rumah tangganya karena kakanya yang membatalkan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 7 Kedatangan Gus Ali
Malam harinya Anisa duduk termenung di ruang keluarga. Walau pun ke dua putrinya mengatakan sama-sama yakin, tapi tidak bisa di pungkiri, kalau Anisa masih memiliki keraguan pada ke dua putrinya, ia tidak ingin kalau putri pertamanya menyesal, dan ia juga tidak ingin kalau putri ke duanya sama menyesalnya. Anisa akui kalau Arkan lelaki yang baik, ia tau kepribadian Arkan yang terjun bebas ke dunia malam, tapi bagi ia Arkan tetap lelaki yang baik, karena dulu putri ke duanya pernah di tolong oleh Arkan, dan itu membuat ia percaya sepenuhnya pada Arkan.
"Apa ini sudah takdir? Suci di pertemukan kembali dengan lelaki yang sudah menolongnya? Apa benar kalau Arkan memang jodoh Suci?" batin Anisa
Anisa bingung, terlebih ia melihat keraguan di ke dua putrinya, tapi ia tidak bisa mengatakan apa-apa selain mendukung ke dua putrinya. Tiba-tiba ada bel rumah berbunyi
Ting-tong.
Anisa langsung berjalan ke arah pintu kerena bi Minah sedang sibuk di dapur, di sana menampilkan sosok ke dua lelaki yang sama sekali tidak Anisa kenal, yang Anisa yakini kalau mereka adalah Ayah dan anak, tapi ia sedikit terkejut, karena lelaki paru baya itu memakai baju koko, sarung dan peci, dan lelaki mudanya yang ia yakini usianya baru saja 23 tahun, memakai celana hitam, baju koko dan peci.
"Assalammualaikum."
Tamu itu uluk salam dengan serempak.
"Wa'alaikumsalam. Bapak dan adeknya cari siapa iya?"
"Apa benar ini rumah bu Anisa? Bundanya Neng Suci?"
Bapak paru baya itu bertanya untuk sekedar basa-basi, sebenarnya ia sudah tau. Bapak paru baya itu bernama Kiai Habibi, dan sebelahnya adalah putranya yang biasa di panggil Gus Ali.
"Iya saya sendiri."
Anisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tidak mengenal ke dua lelaki itu, tapi mereka tau namanya dan nama putrinya.
"Saya dan anak saya Ali, ada perlu dengan ibu dan putri ibu yang bernama Suci."
Belum sempat Anisa mejawab, Sulis datang, ia turun dari mobil, lalu langsung mendekati arah pintu yang ada ke dua orang lelaki dan Bundanya.
"Bun, siapa?"
Pertanyaan itu sontak membuat kiai Habibi dan Gus Ali melihat ke arah sumber suara, mereka langsung menudukan pandanganya sambil berightifar di dalam hati, saat melihat seorang Gadis yang memakai dres sepaha dan lengan pendek.
"Bunda juga tidak tau."
Sulis langsung menyalami Bundanya, lalu ia menatap ke arah dua orang lelaki itu. Sulis sudah yakin kalau mereka akan bertemu dengan adiknya, melihat dari penampilannya seperti dari pesantrenan.
" Tamu untuk adek sepertinya iya Bund?"
"Iya nak, eh pak, dek ayo masuk."
"Iya bu terima kasih."
Kiai Habibi dan Gus Ali masuk mengikuti Anisa dan Sulis yang berjalan di depan mereka. Mereka sedikit tidak percaya kalau kaka dari Suci penamilannya begitu bertolak belakang, jelas-jelas ilmu agama Suci sudah tidak di ragukan lagi oleh mereka, tapi kakanya sangat jauh berbeda.
"Silahkan duduk pak, dek."
"Iya terima kasih bu."
Sedangkan Gus Ali dari setelah uluk salam, ia masih belum mengeluarkan suaranya. Anisa menuangkan air putih di gelas, lalu ia letakan di meja depan Kiai Habibi dan Gus Ali.
"Bund, Sulis ke kamar dulu."
"Iya, tolong panggilkan adik kamu iya, ada orang yang ingin bertemu dengan adik kamu."
"Iya Bund, mmm maaf nie kira-kira namanya siapa? Biar adik saya langsung tau."
Sulis melirik ke arah Gus Ali.
"Saya Ali."
Sulis yang mendengar jawaban dari Gus Ali, ia sangat terkejut, jantungnya mendadak berhenti berdetak saat mendengar nama Ali. Sulis tau kalau adiknya mencintai Gus Ali saat pandangan pertama, karena saat itu adiknya sudah menceritakan tentang Gus Ali, tapi setelah 3 bulan adiknya di pesantren, adiknya tidak lagi menceritakan tentang Gus Ali, semejak adiknya bilang kalau Ali bukan hanya seorang ketua dewan santri, tapi Ali adalah seorang Gus, putra dari pak kiai tempat adiknya menimba ilmu. Sulis masih diam mematung, pikiranya sudah kalut, ia yakin kalau kedatangan mereka pasti akan melamar adiknya, terlebih saat itu ia juga tau kalau adiknya menyuruh Gus Ali melamar di usia 19 tahun, dan sekarang usia adiknya sudah 19 tahun.
"Nak, ko bengong?"
Sulis masih diam membisu, pikiranya penuh dengan masalah adiknya dan Gus Ali. Anisa memegang tangan kanan putrinya untuk menyadarkan putrinya dari lamunannya.
"Kenapa nak?"
Sulis yang di pegang tangannya, ia sadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa Bunda, kalau begitu Sulis naik dulu."
Anisa hanya mengangguk. Sulis menaiki tangga dengan rasa lelah, memang hari ini pekerjaan ia sangat melelahkan, bukan karena pekerjaannya banyak, tapi karena ia tidak fokus, jadi yang memotretnya berulang kali untuk mendapatkan potretan yang bagus. Sulis memang seorang model yang profesional, tapi ucapan adiknya mampu membuat konsentrasinya berantakan, ia memang belum siap melepaskan Arkan, tapi ia juga tidak mau menikah dengan Arkan, karena ia tidak tau kapan kaki Arkan akan sembuh, dan seolah-olah adiknya itu seperti sedang mengancamnya. Sulis langsung mengetuk pintu kamar adiknya.
Tok-tok.
Tidak lama Suci membuka pintu kamar itu sambil tersenyum.
"Ada apa kak?"
"Di bawah ada Gus Ali, dan bapak paru baya, mungkin itu Ayahnya."
Suci sangat terkejut saat mendengar jawaban dari kakanya, tadinya ia besok pagi akan ke pesantren, untuk mengatakan kalau ia akan menikah dengan Arkan dan sekaligus minta maaf pada Gus Ali tentang ucapanya yang ingin di nikahi oleh Gus Ali, tapi ternyata Gus Ali duluan yang datang ke rumahnya. Suci yakin kedatangan mereka bukan hanya sekedar silaturahmi, ia yakin kalau Gus Ali pasti akan melamarnya, terlebih ia ingat ucapan di masa lalunya yang meminta Gus Ali untuk melamarnya di usianya 19 tahun, dan sekarang usianya memang sudah mengijak 19 tahun.
"Ya Allah, kenapa Gus Ali ke rumah hamba, apa Gus Ali akan melamar hamba? Bagai mana kalau memang iya? Hamba pasti akan membuat kecewa salah satu dari mereka, kalau hamba menerima lamaran Gus Ali, bagai mana dengan kak Arkan? Kalau hamba menerima kak Arkan, bagai mana dengan perasaan Gus Ali?" batin Suci
Suci tidak pernah menyangka kalau masalahnya akan serumit ini, di saat ia berusaha untuk ikhlas dengan hatinya dan mencoba menerima Arkan sebagai calon suaminya, tapi ia sudah di hadapkan dengan masalah baru.
"Dek, ko bengong? Cepat pakai cadarmu dan temui mereka."
Suci masih diam mematung, ia tidak bisa mendengar ucapan dari kakanya. Sulis yang melihat adiknya hanya diam, ia langsung menepuk pelan bahu adiknya.
"Selesaikanlah masalahmu dek, kalau kamu memang ingin mudur dari pernikahanmu bersama Arkan, kaka akan mendukungmu, kaka tau kamu sangat mencintai Gus Ali. Kaka juga bisa melihat kalau sosok Gus Ali itu memang sangat sempurna, dari ilmu agama dan pisiknya tidak di ragukan lagi, itu sangat seimbang dengan kamu dek. Walau pun kaka suka marah-marah, tapi kaka hanya ingin kamu bahagia bersama lelaki yang kamu cintai dek."
"Uci tau kak."
ceritanya bagus kak,,,,,alurnya menarik gak membosankan,, and maafken kak aku gak komen per bab,, aku lebih suka komen setelah tamat baca ceritanya,,, yok kak lebih semangat lagi yokk😉😉😉
umpama,, bertanya, "tempat pendaftarannya dimana ya ? gitu thorr !!
bukan di mana iya ?..🙏🙏🙏