Ketika Perbedaan status menjadi penghalang hubungan.
"Ethan, bisakah kita hanya akan menjadi Anna & Ethan, tanpa harus nama keluarga mengikuti kita?" tanya Anna berkca-kaca, dia merasa terancam akan kehilangan Ethan setiap saat.
Ethan menyadarkan dagunya, dan memeluk Anna, "aku akan berusaha untuk itu, hanya ada Anna & Ethan...."
"Tetapi Ruan darah dagingmu...."Anna terisak.
"Tetapi kau adalah Jantungku, Anna!"
"...."
Anna Su sadar, kehidupan miskinnya hanyalah debu kotor untuk sepatu Tuan muda Ruan, apalagi kepercayaan Anna Su terhadap cinta Ethan, sangat di uji, berkali-kali Anna dan Ethan harus mengalami tarik ulur kasih sayang.
Ketika, mereka sepakat menjalin hubungan, kembali keluarga besar Ruan, dengan berbagai cara mengakhiri hubungan Anna dan Ethan.
Sanggupkah hubungan perbedaan status ini, tetap berakhir bahagia?
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertuamu telah datang
Stephan duduk tidak sabar di belakang kemudi, mengapa Joe begitu lama? dia sudah sangat penasaran dengan ponsel itu, dia berharap Anna membuangnya, dan Ethan menyerah memberikan untuknya.
Stephan melirik ke Ethan yang duduk di kursi co-driver , wajah Ethan terus tertunduk menatap dengan mata istemewa pada cincin berlian merah yang tersemat di jari kelingkingnya, Stephan tidak tahan untuk mengejek, "tidak ada yang bagus, dari cincin yang di kembalikan."
Ethan mencibir tanpa melihat sahabat baiknya, "kau pasti iri, karena aku sudah menemukan pengantinku—"
"Kau gila! dia menolakmu."
Ethan tersenyum licik, teringat akan sesuatu, dia meraba bibirnya, rasa madu masih membekas ingatannya, "tetapi, aku sudah mendapatkan ciuman pertamanya."
"Kapan itu?" Stephan penasaran.
"Di hari pertama kami bertemu."
"..."
Hening sementara. Stephan menggeleng tidak percaya, Tuan muda Ruan yang dia kenal, bukanlah sosok yang suka bersentuhan dengan seseorang.
Stephan melotot tidak percaya, "di hari pertama bertemu, kau sudah buas?"
Ethan melirik malas, dan menjawab dengan ringan, "itu kulakukan tanpa sadar, aku tidak bisa menahan diri."
"Kau sangat nakal, Ethan." Stephan menggelengkan kepala, dan bergindik takjub akan perubahan Ethan. Tuan muda Ruan terkenal paling enggan bersentuhan, walau hal itu hanya sekadar berjabat tangan.
"Anna pertama." Stephan hampir terbahak, wajah gadis polos itu mendadak tersemat di hatinya, hatinya tidak bisa tidak pergi memuji, 'dia cantik.'
Ethan membawa kelingkingnya ke arah matahari pagi, sinar matahari membuat mata berlian merah menjadi silau dan indah, dia pamer dengan sengaja pada Stephan.
"Aku dan Anna, hmmm...." Ethan sengaja mengarahkan silaunya berlian pada Stephan, agar semua pria dalam lingkarannya, mengetahui Anna adalah miliknya.
"Silau! silau terhadap kelakuanmu yang menjijikan, pantas saja dia lari ketakutan, menyebutmu mesum, dan menolakmu."
"Stop! itu caraku mengejar, aku tidak suka seperti dirimu, bermulut manis sangat banyak, mulut madu di mana-mana, tetapi kepadaku, kau malah menaruh racun—" potong Ethan panjang, baginya Stephan hanya iri dan menyebar racun hingga ke tulang.
"Aku tidak memberi racun, itu kenyataan yang sulit kau terima...," beber Stephan memberi fakta, tetapi Ethan menolak mendengar.
Hening.
Stephan membuka mulut lagi, "eh, aku memiliki foto Anna. Aku tadi menjepretnya dengan sempurna."
Mata Ethan melompat senang, Stephan tersenyum siasat, dan melanjutkan permintaannya, "aku ingin sepatu— air jordan."
Ethan melotot, Stephan Lu lahir ingin memerasnya, "tidak perlu, aku tidak sebodoh itu. Lagipula, aku bisa meminta Joe mengambil foto Anna setiap hari."
Stephan membuang napas, tipuannya tidak berhasil, dan kemudian jemarinya mulai mencari foto Anna dan mengirim ke email Ethan, "karena kasihan, aku memberi gratis ke emailmu."
Ethan merasa miris, kata gratis itu terdengar tidak iklash, "Tuan muda Lu, calon istriku menasehatiku, agar belajar ekonomi yang baik, termasuk tidak menghamburkan uang lagi!"— Ethan mencibir dengan matanya— " tidak ada air jordan."
Stephan ingin muntah, sepertinya mulai hari ini, Tuan muda Ruan akan berubah sangat pelit.
Tak lama, Joe datang dengan peluh keringat yang banjir—dia telah mengerahkan kekuatan terbaiknya, agar tepat waktu menyelesaikan misi dalan sepuluh menit, misi yang sekaligus membakar hatinya.
Ethan membuka kaca hitam mobillnya, dengan jempol yang menjulur ke belakang kepalanya, meminta Joe segera masuk ke kabin belakang.
Blam!
Setelah Joe menutup pintu, mobil segera jalan kembali ke rumah Ethan.
Ethan melirik Joe dari kaca spion, pria berkacamata itu masih bergetar, tetapi Ethan tidak peduli, "apa dia menerima ponselku?"
Joe gugup sebentar, dan memberikan anggukan, "iya, dia menerimanya—"
Bunyi dritttttt...
Stephan tanpa sengaja menginjak pedal rem, dia tidak percaya Anna akan luluh dengan sebuah ponsel sembilan belas juta, dia kehilangan ponsel itu.
"Joe, keluarkan ponsel itu dari tasmu. Kau pasti mencuri." Stephan menuduh dengan wajah gelap yang menakuti.
Joe menggelengkan kepala, hatinya hanya mengutuk, 'bergaul dengan orang kaya, hanya untuk di rendahkan.'
Joe ingin menangis, mengeluarkan isi tasnya dan menjatuhkan tanah, hanya buku-buku miliknya, dan dia menunjukkan tasnya telah kosong.
"Ponsel bersama Anna, Tuan muda Lu."
Stephan mencibir dengan matanya, mendapati Ethan terkekeh pada Stephan yang terlihat shock. Selanjutnya Ethan memindai Joe dan malah menilai Anna hanya menyukai angka yang lebih besar. Mata tajam Ethan kembali menatap tidak senang pada cincin berlian merah miliknya, "rupanya dia menyukai berlian yang harganya lebih besar, menolak yang kecil untuk mendapatkan yang besar."
Joe menjadi merinding mendengar hal itu, segera mengoreksi, "tidak , Tuan muda Ruan."
Joe membela Anna. Anna bukanlah gadis seperti itu.
Ethan terlihat sangat berminat, dan melirik kembali ke kaca spion, menunggu bibir gemetar pria berkacamata itu berbicara.
"Anna bilang ... dia akan ... mengembalikan langsung... pada Tuan muda Ruan, dia tidak berani mengambil ponsel—"
"Dia tidak menerimanya?"
Joe mengangguk berkali-kali lebih dalam.
Stephan meledak dalam satu isi mulut, ingin mengejek. Namun, kembali dia urungkan. Wajah Ethan terlihat seperti awan mendung bewarna gelap, sebentar lagi akan muncul petir. Dia teelihat tidak ingin di singgung.
"Jalan, kita pulang dulu! " pinta Ethan yang merebahkan kepalanya di kursi, dan hanya menetap melihat keluar jendela.
Anna Su, sangat menarik. Tidak suka uang Tuan muda Ruan. Tetapi, setidaknya, kau menyukai wajah ini. Harusnya begitu? Ternyata... pertama kalinya, aku tidak laku.
Sesampai mobil akan masuk halaman rumah yang terlihat lebih mirip istana, banyak pelamar pekerja yang datang mengantri begitu banyak di depan pagar.
Stephan membunyikan klakson.
Titttttt.....tiitttttttt.....
Mengejutkan seorang wanita muda, yang kebetulan berdiri mematung di depan pagar.
Wanita muda itu segera pergi meminggir, dan membungkuk minta maaf berkali-kali. Ethan tidak peduli, tetapi Joe mengenal wanita muda itu.
"Bibi Nana Su," sebut Joe tanpa sengaja.
Daun telinga Ethan berdiri seketika, karena penyebutan nama yang sama - Na dan -Su, dia pun segera bertanya, "siapa itu?"
Joe gugup sebentar, tetapi tidak berani berbohong, "tadi bibi Nana Su, ibu Anna."
"Ibu kandungnya?" Ethan menoleh ke belakang, matanya memindai.
"Tentu. Anna hanya memiliki satu kerabat," jawab Joe.
"Mengejutkan, ibu mertuamu telah datang, " ledek Stephan tidak tahan dengan wajah Ethan yang terlihat terkejut, yang terus menatap wanita muda di luar pagar sana dari kaca spion co-driver.
"Aku harus bersikap baik pada ibu mertuaku," jawab Ethan terdengar bergurau. Padahal, dia sangat serius dengan ucapannya. Dia sangat menyukai Anna.
Setelah Stephan memarkirkan mobil, Ethan langsung cepat melompat keluar. Ethan tidak melepas pandangannya, sepasang matanya menatap mantap seorang wanita muda, yang dia perkirakan usianya belum mencapai tiga puluh lima tahun, tetapi genetika kemiripan wajah tercetak jelas, setidaknya tiga puluh persen di wariskan oleh ibunya, sisanya mungkin wajah ayahnya yang membingkai indah wajah Anna Su, dan Ethan segera memanggil pengurus rumah tangga, dan menanyakan "apa yang terjadi di sana?"
"Mereka melamar pekerjaan Tuan, menjadi asisten rumah tangga."
"Dia melamar menjadi asisten rumah tangga."
Ethan tidak ingin tertawa. Untuk pertama kalinya, dia membuka tangan dan membuka mata untuk seseorang yang berbeda sosial.
Tidak menunggu laporan lainnya. Ethan hanya memberi kejutan semua telinga yang mendengar.
"Nana Su di terima."
Pengurus rumah tangga merasa heran.Joe tercengang. Begitu mudahnya, bibi Nana mendapatkan pekerjaan. Tetapi, rasa terkejutnya itu hanya sebentar, dia kembali menunduk mengikuti kaki panjang dua pangeran emas itu melangkah panjang seakan tengah bertukar pandang, dengan muslihat yang tersirat dalam mata.
Pengurus rumah tangga, wanita paruh baya— Fann Shen hanya mengerut kening sebentar, namun mulut Tuan muda Ruan, memiliki kuasa yang sangat besar, jadi dia hanya mengingat yang bernama Nana Su, telah di terima langsung tanpa tes, 'sangat hebat. Aku jadi penasaran.'
Stephan memegang pundak Ethan Ruan sambil berjalan membisikinya, "pasti Anna sangat berterima kasih padamu kali ini."
Ethan tidak melirik, dia hanya tersenyum pendek, seakan bangga telah memperkejakan ibu Anna dalam rumah tangganya. Stephan menggoda dan membisiknya, "tak bisa aku bayangkan, tiba-tiba Anna mengganti ibunya piket kebersihan."
Ethan berhenti. Kali ini, dia setuju dengan isi mulut Stephan, alangkah baiknya jika Anna tiba-tiba datang membersihkan kamarnya. Seakan ide liar muncul begitu saja, dia kembali menekan tombol lift, agar berhenti mengatup, kemudian satu tangannya kembali melambai memanggil pengurus rumah tangga, Fann.
Fann, segera berlari mencapai pintu lift, membungkuk hormat, "ya, Tuan muda."
"Nana Su khusus membersihkan lantai tiga. Hanya lantai tiga," pinta Ethan yang kemudian menekan lift ke lantai tiga, dan peringatan sangat jelas, 'hanya lantai tiga.'
Fann hanya diam, tidak berani menunjukan rasa terkejutnya. Setelah lift terkatup dan angka lift berubah, baru dia sadar bahwa seorang pelamar pekerja yang bernama Nana Su, mendapatkan perlakuan istemewa Tuan muda Ruan. Bahkan lantai tiga, adalah lantai ruangan khusus Tuan muda Ruan, hanya dirinya yang di ijinkan membersihkan, karena dirinya merupakan pelayan yang telah mengabdi lebih dua puluh lima tahun, bahkan Tuan muda Ruan besar di tangannya, kini pria muda itu meminta seseorang asing untuk membersihkan lantai tiga. Hal ini membuat Fann, sedikit heran dan penasaran dengan sosok bernama Nana Su.
'Aku ingin tau siapa Nana Su.'
***
Ns. Mohon dukungannya untuk vote dan coment, dan like
Eouny Jeje