Mengharuskan menjalani pernikahan disaat istri pertamanya masih hidup? Lebih uniknya harus dijodohkan oleh istrinya sendiri.
Pernikahan yang diawali dengan niat untuk agar dapat merawat suaminya dan bersiap jika operasi yang akan dijalani gagal oleh sang istri pertama.
Akankah Alva dapat bertahan dengan niat itu? Bisakah dia menjadi istri selamanya sosok bernama Adnan dan menjadi satu satunya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fatmass, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 7
'Kak? Memanggilku saja om!' Batin Adnan.
James membungkukkan tubuhnya saat melihat Alva datang dengan membawa rantang dan dapat dipastika itu isinya adalah makanan.
Alva pun menyodorkan rantang itu tepat di wajah Adnan tanpa rasa sungkan.
Adnan mendongakkan kepalanya menatap tajam wanita itu tanpa mengambil rantang itu.
"Ck, Ini ambil jangan buat tangan orang pegal saja!" Gerutu Alva.
"Aku tidak lapar!" Jawab Adnan dengan sekenanya.
"Siapa juga yang mau membuatmu kenyang?" Kesal Alva.
"Aku ini membawakanmu makanan karena tadi aku lihat kau sudah seperti mayat!" Jawab Alva tanpa berdosa dan akhirnya meletakkan rantang itu diatas paha Adnan.
James menahan tertawanya saat bosnya mati kutu dan bahkan wanita baru itu dalat mengatainya mayat.
"Kau bilang apa?" Suasana seakan ingin bertempur pun terjadi.
Alva hanya menatapnya dan kembali melihat lihat keadaan Melanie dari luar pintu yang jelas karena terbuat dari kaca itu.
"Apa operasinya sudah dimulai?" Tanya Alva tanpa menanggapi pertanyaan Adnan.
Adnan terkekeh saat dirinya diabaikan. Ia pun menjatuhkan rantang itu dan membuat kebisingan.
Alva pun langsung berbalik dan menatapnya tajam. Untung saja rantang itu tidak tumpah. Tentu saja karena itu bukan sembarang rantang. Rantang milik orang kaya.
"Kau gila?" Geram Alva.
Namun Adnan tidak peduli dan hanya mengeluarkan ponselnya lalu memainkannya.
"Dasar manusia pluto, apa tidak tau cara menghargai makanan!' Gumam Alva merasa kesal.
Ia pun mengambik rantang yang terjatuh itu dan menarik tangan James untuk duduk di kursi rumah sakit yang berseberangan dan berhadapan dengan posisi Adnan.
"Nyonya!" Pekik James saat dirinya ditarik oleh Alva.
"Diamlah! Apa kau juga tidak tau cara menghargai makanan? Makanan enggak salah apa apa tapi dibuang!" Seru Alva menyindir.
Adnan tetap bersikap acuh tak acuh tidak memperdulikan seorang di depannya yang sudah menjadi istrinya itu.
Srettttt........
Sekias bau tumisan tercium di hidung Adnan. Alva membuka rantangnya yang pertama berisi lauk pauk berupa tumisan kangkung dengan sosis.
Srettttt.........
Bau kedua tercium kembali dihidung Adnan dengan bau telur dadar. Adnan mengintip dan ternyata telur dadar dengan isian daun bawang dan potongan cabe.
Sekilas dia tergoda.
Namun dirinya segera menyangkal bahwa masakan itu pasti tidak enak apalagi dibuat oleh gadis yang tidak tau sopan santun dan yak yak an.
"Apa yang akan nyonya lakukan?" Tanya James karena ia bingung saat Alva menaruh beberaoa lauk itu diatas nasi putih dimana tempat di rantang terakhir.
"Kau saja yang makan ini!" Ucap Alva.
"Tapi---"
"Dari pada mubazir, kau mau membuang makanan? Itu artinya kau membuang buang uang saja!" Tukas Alva.
"Nih!" Ucap Alva yang juga menyodorkan rantang berisi nasi putih, tumis kangkung sosis dan telur dadar.
Dilihat dari luarnya saja itu sudah dapat membuat air liur keluar. James pun menuruti permintaan nyonya nya itu
Toh ia juga belum makan. Di suapan pertama James merasa takjub dengan masakan itu. Membuat ia mengingat negaranya berasal.
"Ini enak nyonya!" Ujar James memuji masakan istri kedua dari bosnya itu.
"Kau tidak perlu bilang! Masakanku memang enak!" Titahnya membuat James tersenyum.
Adnan menatap kedua orang itu dengan bergidik. Ia tidak percaya jika masakan wanita itu enak. Melihat ekspresi James, membuat Adnan menaikkan salah satu alisnya. Bahkan James memakan makanan itu bersuap suap.
James yang melihat tuannya itu melihatnya pun segera menawarkan makanan itu kepada bosnya.
"Anda mau tuan?" Tanya James.
"Kau mau aku membunuhmu?" Ancam Adnan dengan tajam.
"Kau makan saja sendiri! Manusia pluto itu nggak mau makan ya sudah toh dia terbunuh karena kelaparan sendiri!" Bisik Alva membuat James hampir tersedak.
Bagaimana istrinya sendiri menyumpahi suaminya kelaparan.
"Manusia pluto?" Tanya James yang juga berbisik karena takut tuannya akan mendengarnya.
"Iya karena dia tidak menyambung dengan kita dan pantasnya ia tinggal di planet pluto!" Jawab Alva tanpa berdosanya mengolok olok Adnan.
James pun akhirnya memilih untuk memakan makanan itu sendiri. Alva yang melihatnya merasa senang. Ia tidak pernah dicobain masakannya oleh seseorang.
"Kau itu lapar atau bagaimana? Nasi satu rantang penuh habis?" Tanya Alva membuat James menoleh ke arah tempat makannya.
Dan benar saja semua benar benar bersih dan hanya tersisa dua rantang yang berisi lauk pauk.
"Tadi niatku jika nasiku banyak kalian bisa berbagi, tapi yasudah karena juga om itu tidak mau!" Seru Alva.
"Om benar tidak mau? Ini ada sisa tumis kangkung sama telur nya!" Tawar Alva.
"Kau berani menawarkan makanan sisa kepadaku?" Tukas Adnan.
"Salah om saja tadi dikasih serantang penuh dibuang, ya sudah dong berarti salah siapa?" Ejek Alva.
"James bawa wanita berisik itu pergi dari sini! Membuat telingaku rusak saja!" Seru Adnan menyuruh James agar membawa Alva pergi dari hadapannya.
Alva yang tidak terima pun segera berdiri dan melangkah di dekat Adnan.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!!!!!" Teriak Alva teoat disamping Adnan dengan keras.
Adnan menutup matanya saat suara itu berdengung di telinganya.
"Bagaimana? Sudah rusak beneran apa belum?" Tanya Alva dengan mengejek.
"Kau mau mati?" Ancam Adnan.
"Enggak lah! Ngapain mau mati orang tuhan Alva aja masih buat Alva sehat!" Jawabnya dengan seenanya.
"here is a hospital, so please don't be noisy (Disini rumah sakit, jadi tolong jangan berisik)" Ujar perawat.
Adnan menatap perawat itu membuat perawat itu akhirnya membungkukkan tubuhnya dan pergi karena ia tahu bahwa orang didepannya adalah CEO bernama Ramussen yang banyak mengeluarkan saham dirumah sakit itu.
"Wahh ternyata semua takut denganmu om!" Gumam Alva.
Adnan pun berdiri dan menonyor kepala Alva dengan telunjuknya sampai wanita itu tersungkur ke belakang saking tidak siapnya dan kerasnya Adnan mendorongnya.
"Awww!" Pekik Alva.
"Kau itu bukan siapa siapa yang seenaknya bicara dan berbuat sesukamu!" Tukas Adnan.
"Jika kau disini hanya ingin membuatku kesal, kau salah orang!" Timpal Adnan kembali.
Alva yang tidak terima pun segera bangun dan menaruh tangannya berkacak pinggang seakan ingin menantang pria didepannya.
"Dan aku bukan orang yang seperti di novel novel seenaknya diperlakukan adil oleh suami yang terjadi karena PERNIKAHAN TERPAKSA!" Jelasnya sembari menekankan kata 'pernikahan terpaksa'
James yang melihat kedua manusia yang termasuk majikannya itu merasa bingung apa yang harus dilakukannya.
'Baru kali ini aku melihat tuan Adnan begitu terlalu menanggapi seseorang!' Batin James.
"Kau tenang saja, aku juga bukan seorang pria yang lama kelamaan akan jatuh hati. Cih! Asal kau tau aku saja hanya menganggap memiliki satu istri dan itu Melanie" Ujar Adnan yang membuat Alva menohok.
hihihi...