NovelToon NovelToon
ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE

Status: tamat
Genre:Teen School/College
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Bubu.id

Zivanya Alkaridz siswi cerdas dan populer di Sekolah Menengah Pertama (SMP) memilih berpenampilan jelek saat masuk ke Sekolah SMA unggulan di kotanya.

Diejek tak memupuskan semangatnya, ia mencari persahabatan dan cinta yang tulus di masa peralihannya itu.

Bias Putra Samudra, seorang siswa tampan dan populer menarik perhatiannya. Hingga tanpa di duga sebuah surat yang menyatakan cinta ia terima tertanda Bias sang idola.

Hati Zee tak menentu, "Mungkinkah Kak Bias benar-benar menyukaiku yang jelek?"

Munculnya Surat itu adalah penyebab konflik dalam kisah ini. Yuk ikuti!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAPUHNYA DONNA

..."Aku cinta dan aku akan bertahan! Aku yakin saat kamu letih bermain-main ... kamu akan pulang! Dan tempat pulangmu yang ternyaman adalah aku dan keluarga kita." (Donna)🥀...

..._______________________________________...

"Bilang, Pa! Siapa wanita dalam foto itu! Jahat kamu, Pa, berapa kali kamu menyakitiku dan selalu memohon maaf setelahnya! Aku bertahan, aku memaafkan, tapi nyatanya kamu mengulangi lagi salahmu! Jawab! Siapa dia, Pa!"

"Apa sih, Ma? Wanita apa? Dia cuma rekan kerja Papa, nggak lebih. Apa salah jika Papa berinteraksi dengan karyawan wanita. Dari dulu Mama begini, cemburuan. Sadar, Ma! Aku kerja cuma buat kamu dan anak-anak!"

"Yakin Papa kerja hanya untukku dan anak-anak? Mama nggak bodoh, Pa! Mama masih bisa membedakan interaksi normal atasan dan bawahan atau hubungan spesial!"

Pekikan itu terdengar sangat nyaring. Dua raga dewasa tak menyadari dua buah hati yang berada dalam masa peralihan itu mendengar perseteruan tersebut. Sang Kakak yang genap berusia 18 tahun di bulan depan itu memeluk erat adiknya yang menangis. Bias memeluk Dara. Gadis manis yang duduk di kelas 8 itu takut dan sedih mendengar kedua orang tuanya saling beradu mulut dan merasa paling benar.

Bias menutup matanya, ada kesedihan ia rasa tapi berusaha tak ia perlihatkan di depan sang adik. Dengan lembut bias menuntun Dara ke kamarnya. Bias mengajak Dara duduk di sofa, memberi minum dan meminta adiknya menarik napas guna menenangkan emosinya. Dara menurut.

Melihat kondisi adiknya lebih baik, Bias menangkup rahang Dara. "Tidak ada manusia di dunia tanpa masalah. Dan orang dewasa memiliki cara mereka masing-masing dalam menyelesaikan masalah mereka. Mas tidak membenarkan perilaku kedua orang tua kita, tapi juga tidak bisa menyalahkannya. Ingat Ra, yang kita dengar belum tentu yang terjadi sesungguhnya! Otak kita berkata semua sangat buruk, tapi mungkin saja tidak demikian yang terjadi____

Bias menatap sepasang netra Dara yang serius menatapnya, gadis beranjak dewasa itu jelas sedang berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Bias. Melihat adiknya begitu tenang dan bisa diajak berkomunikasi, Bias melanjutkan lagi kalimatnya.

"Ini bukan perseteruan pertama antara mama dan papa, benar?" tanya itu terlontar dari bibir Bias, Dara mengangguk.

"Kita sering lihat kan, keesokan harinya mama dan papa selalu harmonis lagi?" Walau tampak ragu, Dara mengangguk.

"Itulah yang akan terjadi esok! Begitulah cara mama dan papa menyelesaikan masalah, jadi biarkanlah!"

Dara masih bergeming menatap Bias, hingga beberapa saat setelahnya ia bicara. "Ta-pi ... Da-ra ta-kut, Mas," lirihnya.

"Takut apa? Bukannya kamu punya Mas yang hebat ini?" Bibir Dara seketika memberengut mendengar candaan yang keluar dari bibir Bias. Bias memang sedang menghibur Dara.

Bias berdiri, ia menuju laci dan mengambil sesuatu dari sana. Bias menuju ke arah Dara lagi setelahnya. "Pakai ini!" Dara menggeleng melihat Bias menyodorkan headphone ke arahnya. Memang sudah jadi kebiasaan Bias yang selalu meminta Dara memakai headphone sebelum tidur. Menyalakan music clasic atau murrotal untuk memberi kenyamanan tidur Dara adalah tujuan Bias. Menghindari Dara mendengar teriakan-teriakan yang tidak seharusnya ia dengar.

"Nggak, Mas ... Dara nggak mau pakai itu!"

"Kenapa? Udah nggak mau nurut sama Mas?" ucap Bias sambil memasangkan headphone ke kepala Dara, Dara akhirnya menurut.

"Sekarang kamu tidur, ya!" Bias mengarahkan Dara ke ranjang. Ia duduk di sisi Dara yang sudah merebahkan diri, ia terus mengusap-usap kepala adiknya itu hingga dilihatnya napas Dara teratur dan Dara sudah terlelap. Bias memutuskan ke luar kamar setelahnya.

Bias berharap perseteruan kedua orang tuanya sudah berakhir namun nyatanya nihil. Kedua orang tuanya masih saling beradu argumen, bahkan kata-kata Libra papanya semakin tak terfilter. Libra menyebut Donna istrinya tak pandai mengurus diri dan sibuk dengan aktivitasnya saja. Hal itu sontak membuat otak Bias panas. Bias yang sadar keadaan yang tidak seperti ini tidak baik untuknya dan Dara akhirnya memutuskan membuka papan kayu tebal dengan pahatan berbentuk kotak-kotak di hadapannya itu.

Pintu kayu yang memang tidak terkunci itu dengan mudah dibuka Bias. Kedua sosok matang mematung menatap pancaran tampan bak fotocopy Libra sang papa sedang berdiri memperhatikan mereka.

"Bi ...!" kaget Donna melihat raga putranya itu.

"A-pa ini? Keluar Bias!" teriak Libra.

"Nggak, Pa! Cukup! Bias nggak akan diam lagi! Ma, ayo ikut Bias! Kita tidak perlu tinggal dengan lelaki yang tidak bisa menghargai Mama. Kita pergi dari rumah ini, Ma!" lirih kata itu terucap namun Donna menggeleng sejadinya.

"Ng-gak, Sa-yang! Di sini tempat Ma-ma, di samping Papa!"

"Ma, Papa itu tidak setia. Berhenti membela Papa!" Mendengar ujaran Bias, Libra tersenyum menyeringai.

"Sudah pintar kamu, Bi? Mau kamu bawa ke mana Mamamu? A-nak sekolah sa-ja belum lulus sudah berlagak ingin meninggalkan rumah!"

"Bias punya tabungan, Pa. Bias bisa menghidupi Mama!"

"Tabungan? Uang siapa yang kamu tabung itu? Uang hasil kerja kerasmu ... atau uang Papa?" Libra berdecih.

Bias menggelengkan kepala, tak menyangka Libra akan membahas materi yang telah diberinya. "O-ke, Bias tidak akan menggunakan uang Papa! Bias bisa bekerja sepulang sekolah! Bias akan berusaha membahagiakan Mama dan Dara menggunakan uang hasil kerja keras Bias, bukan meyakiti mereka seperti yang Papa lakukan!"

"Ka-mu?" Baru raga itu hendak mendekat ke arah Bias, Donna berlari mendekat.

"Ja-ngan! Jangan lakukan Pa, please! Maafkan Bias, ingat Bias itu putra Papa! Ma-aff ... Mama yang salah. Papa benar! Mama percaya Papa. Papa tidak mungkin menghianati Ma-ma la-gi! Mama janji akan lebih memperbaiki diri. Ma-af, Pa___" Donna terus menciumi wajah Libra, ia memohon dan berusaha meredakan emosi Libra.

Bias geram, ia kecewa dengan Donna yang selalu luluh pada Libra. Mamanya memang begitu mencintai papanya melebihi apapun, bahkan mengabaikan perasaan anak-anaknya. Bias yang muak melihat Donna terus mengiba pada Libra seketika membalik badan. Merasa tak ada gunanya ia di sana. Ia lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa jika mamanya sendiri memilih memaafkan dan bertahan.

Bias melangkahkan kaki keluar bangunan megah dengan perasaan marah yang membuncah. Ia tak memperdulikan Satyo sang sopir yang terus berteriak memanggilnya. Bias memutar kunci pada motor besar keluaran perusahaan otomotif dengan aset terbesar di Indonesia itu dan mengemudikan motor itu dengan kecepatan cepat, tak sanggup ia berada di tempat yang membuat hatinya sakit.

Mendengar adzan isya berkumandang, Bias menghentikan lajunya di sebuah bangunan Masjid dengan pilar-pilar besar berdominasi hijau di tiap sudutnya. Ia bergegas menjalankan ibadah dan kembali melajukan motor besar lagi setelahnya.

Rintik hujan mulai turun, tapi tak menyurutkan semangat Bias untuk terus melaju membelah jalan bilangan Jakarta itu. Ia terus berputar hingga malam semakin larut dan ia memutuskan berbalik. Melihat lapangan basket yang berada di sekitar perumahannya, Bias memutuskan menepi. Ia masih enggan untuk pulang sebetulnya, tapi bagaimana pun ada adik dan mamanya yang harus ia jaga di sana.

Rintik hujan semakin deras mengguyur Bumi, namun Bias masih enggan beranjak. Di kejauhan ia melihat teman setianya terpaku di kegelapan. Bias memutuskan mendekat dan meraih benda bulat yang banyak mewarnai harinya. Ia merasa tenang bersapa dengan si bola basket. Ia terus memantul-mantulkan bola itu ke lantai dan mengarahkan bola itu ke keranjang. Bias terus terlarut dalam aktivitas itu hingga raganya letih. Bias berhenti dan berteriak mengeluarkan segalanya emosinya yang tertahan. Guyuran hujan tak ia pedulikan walau tubuh berbalut kaos polo itu telah basah, Bias merebahkan diri di sebuah gazebo dan tertidur.

Saat Bias bangun, ia sudah berada di kamarnya. Satyo yang diminta Donna mencarinya menemukan tubuh Bias panas dan terus menggigil hingga tak sadar saat Satyo memapahnya hingga masuk ke dalam mobil dan sampai di rumah. Bias dilarang ke sekolah oleh Donna, tapi ia yang merasa memiliki tanggung jawab pada perlombaan sekolah akhirnya memutuskan berangkat pagi itu walau ia tiba sedikit terlambat.

..._____________________________________...

🥀Happy reading😘

🥀Aku tuh sedih kalau yang komen sedikit, tapi ya sudahlah. Makasih untuk yang selalu rajin komen dan yang silent reader juga❤️❤️🙏🙏

1
Enddless Bettle
teranat susah menyingkirkan seseorang yg sudah terpatri dlm hati
IK
ini satyo supir zee dlu bkn
IK
cewe matre
IK
semoga bias terzee zee cinta nya Zee
IK
emang ruwet masalah rumah tangga.. mnding Bias sabar n nemuin bukti klo papa nya mmg slingkuh
IK
kan duo racun ngerjain Zee
IK
karena dy pinter
IK
gercep yaa Zee
IK
izin baca yaa thor
Mutiara Bocil
oleng si Zee untung sadar zee
Mutiara Bocil
lah iya kan
Mutiara Bocil
sadar zee
Evi
aku suka karna visualnya org Indonesia semua
Rusma Yulida
menurutku sih bias bodoh LBH bodoh lagi Zee🤣🤣🤭
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "ketika suami ku mendua" makasih kak🙏
total 1 replies
Ika Fitri
info karya baru itu judulnya apa Thor?
blarala
klau suami setengah iklas pasti ada aja yg terjadi mendingan nurut aja zee
ellis siti aisyah
emang agak egois sih ..kan dia yang cinta duluan ya....
Nhinicancer
nama sekolahx kadang salah
fa _azzahra
tadinya mau dkung jihan.tp di part ini aq di ingatkan bhwa johan ga jauh bda dg bias.sama2 suka zee setelah tau kecantikan zee
fa _azzahra
satyo kalo ga salah dlu sopir nya ayah zee bukan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!