"Dari kepahitan menjadi kebahagiaan. Hidup memang begitu, kalau bahagia terus bukan kehidupan namanya."
.
.
Anastasya di diagnosis sebagai pasien dengan gangguan mental . Dia dirawat di salah satu Rumah Sakit Jiwa yang ada di kota celebes saat ini, dan beberapa bulan kemudian saat Anastasya di nyatakan sembuh oleh dokter, tiba-tiba semuanya berubah saat dia melihat seorang pasien baru masuk ke rumah sakit jiwa tersebut yang merupakan seorang Perwira berpangkat Letda yang bernama Alex.
Seorang pria berbadan tegap dan sangat tampan, sayangnya dia memiliki gangguan mental yang hampir sama dengan yang di alami Anastasya.
Setelah dinyatakan sembuh, Anastasya memutuskan untuk tetap tinggal dan ingin membantu Alex agar dia kembali normal dan selama dirawat mereka menjalin persahabatan yang begitu baik. Namun, diam-diam Anastasya menaruh perasaan lebih dari sekedar persahabatan itu.
Saat Alex dinyatakan sembuh karena drama perang yang terjadi di rumah sakit, akankah Alex mengingat Anastasya? Akankah Alex membalas perasaan Anastasya saat ia tahu kalau Anastasya menyukainya?
Ikuti kisahnya..
Note : Semua cerita, karakter dan pemeran dalam novel ini hanya berupa fiktif. Maaf jika ada kesan dalam cerita ini nampak memasukkan sesuatu yang menghina dan menyinggung 🙏
Saya menceritakan cerita ini dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ig : nurulnull14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 7
Mereka dengan cepat menuju koridor. Matahari sudah mulai terbenam dan Anastasya masih merasa cemas karena ruangan yang akan dia datangi adalah kantor Dokter Jason.
Adapun dokumen rahasia, dia masih tidak tahu apa yang akan mereka cari. Dan soal obat itu, darimana Anastasya harus dapatkan.
"Itu saja?" dia berbisik padanya dengan rasa ingin tahu, menabrakkan punggungnya ke dinding.
"Siap," Anastasya mengangguk.
"Apa yang akan ku katakan padanya, jika dia bertanya bagaimana bentuk dokumen dan obat itu," pikirnya sambil menatapnya.
"Seperti apa dokumen itu? Dan obatnya?" itu pertanyaan pertama yang dia ucapkan saat menyelinap kedalam kantor melalui jendela.
Luar biasa!
"Ini! hmmm hanya selembar kertas! Dan beberpa butir obat oenenang" gadis itu bergumam, melihat sekeliling kantor.
"Aku tidak gila! Aku tahu seperti apa bentuk dokumen itu," dia berbisik marah.
Hahaha, Anastasya hanya bisa tertawa pada saat itu.
"Jujur! jika kau tidak gila, kau tidak akan berada disini sekarang!" Anastasya bergumam pada dirinya sendiri.
"Apa?" dia bertanya dengan marah.
"Tidak ada," mengangkat bahu, pura-pura mencari sesuatu yang memang tidak ada.
"Tunggu!" Anastasya berkata dengan penuh kemenangan saat dia mencari-cari di sakunya, "aku menemukan ini kemarin."
Dalam sesaat, cahaya putih menyilaukan melintas di wajah Anastasya dan dia dengan cepat menyadari kalau Alex melepas sebuah obor.
"Darimana kau dapat itu?" dia berseru.
"Pelankan suaramu," Alex memperingatkannya dengan mata besar, "...dan semuanya akan adil dalam cinta dan perang."
"Jujur! Pepatah ini tidak berlaku, tunggu.. sebutan apa yang kau panggilkan padaku?" dia menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Diam! kita disini untuk sebuah misi." dia memarahi, "darimana kau mendapatkan sertifikat kemiliteranmu?"
Betapa kasarnya Alex dengan mengatakan itu, Uhh... tunggu, aku bahkan tidak punya, pikir Anastasya sambil menyilangkan tangannya.
Alex menghela nafas dan terus melihat-lihat kertas diatas meja.
Anastasya menirunya. Tapi, sampai kapan dia terus melanjutkan drama ini?
Merekapun mencari kemana-mana dan mengubah seluruh ruangan menjadi berantakan, tapi bahkan seseorang tidak tahu apa yang mereka cari dan bagaimana cara mereka menemukan sesuatu yang memang tidak ada sama sekali.
"Hanya itu?" dia mengangkat kertas dan beberapa permen dengan banyak hal yang tertulis disana.
Itu adalah kesekian kalinya dia mengajukan pertanyaan itu.
"tidak!" jawabnya.
"Ya, paling tidak jelaskan apa isinya," ujarnya.
"hmm.. isinya .. yah..," dia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
Alex sangat tidak sabaran dan frustasi sehingga dia mengguncang obor dengan cepat. Cara yang lebih baik untuk membuatnya lebih cemas dan takut padanya.
Anastasya memandang disekelilingnya dengan gugup, menelan kegelisahan dan tiba-tiba cahaya obor itu terjatuh di atas meja samping. Dia melihatnya, nah alasannya adalah....
"Ini dia," dia berlari ke arah meja dan meraih selembar kertas; Sebuah formulir yang berisi data pribadi pasien yang merupakan milik pasien-pasien dokter Jason.
Aku akan mengembalikannya nanti, untuk saat ini kita harus keluar dari sini sebelum dokter datang. Pikirnya saat dia melihat kertas itu.
"Lihat! Aku menemukannya," kata gadis itu dengan menunjukkan padanya kertas juga permen yang terbungkus dengan cepat.
"Izinkan aku melihatnya!" Alex menggerakkan tangannya kearahnya tapi dia mundur.
"tidak mungkin, hmm maksudku itu... Formularium 3245019" Anastasya menjawab dengan cepat. Dan akhirnya memberinya nama kode yang bagus juga, pikirnya puas.
"berikan semua itu padaku!" Alex berkata dengan marah dan mengambil kertas dan juga petmen yang Anastasya bungkus itu darinya. Saat berikutnya Alex meraih lengannya dengan kuat dan menariknya ke arahnya.
Apa yang Alex lakukan?
"Ooh! Ada satu hal lagi," Alex meletakkan wajahnya beberapa senti darinya, begitu dekat. Dia bahkan bisa merasakan nafas panas di wajahnya, "Jangan-beri-aku-nama-kode-bodoh. Saya bos disini!"
Matanya menunjukkan amarah murni dan wajahnya berkata, "Jangan main-main denganku!"
"Uhh... huh... hufft." Dia tergagap, "tentu saja dokumen dan obat itu sudah benar.. hmm."
"Bagus," Alex balas menyeringai.
"bagus sekali yah!" suara berat bergema dari belakang mereka.
Saat berikutnya, lampu di ruangan itu tiba-tiba menyala. Semuanya jelas di depan mereka. Oh dan yah Dokter Jason sudah menyalakan lampu.
"Anastasya jika kau benar-benar menginginkan tiket sebanyak itu, kau seharusnya mengatakannya padaku sebelumnya. Bukan bertingkah seperti Penjahat yang tiba-tiba menyeludup kesini." Kata dokter itu, dengan menyilangkan tangannya.
"Lebih tepatnya seperti Joker," dia mengoreksi dan tertawa, "Haha kau berbicara seperti Joker yang ada di film Joker"
"Aku tidak menganggap situasi ini lucu!" dokter menatapnya, tajam.
Aww.. Aku berada dalam situasi masalah yang serius sekarang! Anastasya berpikir dengan tidak nyaman.
"Oke dokter! Maaf." Anastaaya meminta maaf, "bukan seperti itu, itu...."
Dia memandang Alex lalu ke Dokter, bagaimana cara menjelaskan segalanya padanya dengan adanya Alex di sisinya. Jika Alex mengetahui kalau dia sudah berbohong padanya, Alex mungkin saja akan membunuhnya.
"Ceritanya panjang!" dia menghela nafas tampak kecewa, "aku tidak mau tiket itu."
Dia mengambil tiket dan formularium itu kembali dari Alex dan menyerahkannya pada dokter.
"Tidak! Serius. Kau simpanlah itu," dokter berkata dengan sinis, "Aku tidak mau!"
"Oh, tolonglah! Cobalah mengerti!" katanya dengan marah, menyodorkan Tiket ditangannya, "Bukan seperti itu, aku akan menjelaskan semuanya nanti, percayalah padaku."
"Suara ribut apa ini?" sebuah suara menggema dari pintu yang terbuka.
Sesaat kemudian dokter senior masuk dan menatap mereka dengan curiga.
"Apa semuanya baik-baik saja, dok?" dia bertanya pada dokter Jason, tampak tidak yakin.
"Baik!" dokternya mengangguk dengan perasaan tidak bagus, "aku baru saja mau menyuruhnya pergi ke kamar sekarang! Selamat malam teman-teman."
"tapi!" Anastasya protes.
"aku bilang selamat malam!" teriak dokternya.
Dokter melototinya dan berjalan keluar.
"Ayo pergi Alex!"
Alex mengikutinya dan mereka berjalan bersama ke koridor semi-terang.
"Aku merasa misi kita gagal," Alex bernafas, menunduk.
Dia tidak mendengarkannya.
Dia harus pergi dan menemui dokternya besok.
Dia harus memberitahunya, kenapa dia melakukan itu.
Dia harus memberitahunya bahwa semua itu untuk Alex.
Dia harus menceritakan segalanya padanya.
"Jangan khawatir, kita akan berhasil dalam misi ini lain waktu." Ucap Alex dengan nada tegas, "lain kali jangan bertindak seperti burung hantu, dan untuk menghindari ini aku yang akan mengatur semuanya, kau hanya akan mendengar perintahku!"
"Alex," Anastasya memanggilnya dengan nada rendah, menatapnya dan berhenti, "sudah berakhir, lupakan ini, misi ini dibatalkan!"
"Apa?" Alex bertanya denga dahi berkerut.
"ya, misi dibatalkan." Anastasya mengulangi dan mengucapkan selamat malam padanya sebelum pergi ke kamarnya.
Namun, apa yang Anastasya tidak tahu bahwa setelah dia meninggalkan alex, Alex mulai memikirkan hal lain.
"kurasa tidak," kapten berbisik pada dirinya sendiri, " tidak ada misi yang dibatalkan untukku!"
aku vote y Thor
semangat Thor...