Si Raja Es yang merupakan Ketua Osis SMA Generasi Bangsa, dipertemukan dengan badgirl kelas mujaer yang belangsak dan petakilan. Berulang kali membuat masalah, berulang kali ngebuat Elang kesal. Benci jadi cinta? Udah biasa.
Apa jadinya kalau cinta menjadi benci,
Lalu harus dipertemukan lagi oleh semesta?
Badgirl vs Ketos started>>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7. Lagi?
Semangat Gabriel untuk kembali ke sekolah mulai padam. Dia tidak takut kalau harus dibully seperti kemarin karena sudah terbiasa di pukul. Di sekolah lamanya bahkan bisa dipukuli oleh guru sendiri dan dikurung di wc seharian.
Namun Gabriel benci jika hanya disuruh diam membiarkan pipinya lebam dipukul sedangkan ia menahan emosi yang sudah hampir meledak, gak banget.
Entah apa yang bisa membuat orang-orang membenci dirinya, setahunya dia hanya akan memukul jika orang memukulnya.
Tapi dia teringat hari pertama masuk sekolah dan hari itu juga langsung dibully oleh teman sebangkunya yang dulu ketika SMP selalu dibantunya ketika kesusahan, menyatat pr, meminjamkannya uang, bahkan membelikannya jus.
Tapi temannya itu bukan benar-benar teman, melainkan seorang pemanfaat atas kepolosan Gabriel yang dulunya kesepian karena tidak memiliki teman, bermain sendiri dan jika ada tugas kelompok selalu sendirian.
"Gue gak butuh teman jadi gak perlu kenalan sama gue," ucapnya ketika hari pertama masuk di SMA Gajah Mada.
Saat itu orang mulai membencinya bahkan baru hari pertama saja sudah mendapat dua tamparan dan buku pelajarannya dicorat-coret.
Parahnya, dulu wali kelasnya saat kelas 10 pernah menamparnya hingga terbentur dinding lalu dibawa ke rumah sakit karena kehabisan banyak darah.
Dia malas menahan diri agar tidak membalas. Papanya, Zaki malah menyalahkannya karena terlibat perkelahian di sekolah.
Seperti tadi malam Gabriel ditampar ketika Zaki pulang dari kantor. Ia tidak boleh membantah apalagi membalas ucapan lelaki tersebut karena sudah seperti itu aturan dalam rumahnya.
Gabriel dididik keras dan kasar, Zaki dan Vanessa sering bertengkar saat ia masih kecil dan hal itu banyak mempengaruhi sifat Gabriel yang ikutan kasar dan brutal.
Sudah hampir jam 7 dan selama itu ia tidak tertidur sama sekali dadanya sangat sesak.
"Apa gue pindah sekolah lagi aja?" pikir Gabriel menatap keluar jendela dan melihat seorang anak kecil bersama ibunya, tersenyum sangat manis.
Dia tersenyum miris, setiap hari tak pernah tersenyum bahagia seperti yang orang lain lakukan. Gabriel heran kenapa orang mudah tersenyum riang sedangkan ia hanya bisa memberikan senyum palsu, selalu.
Rasanya ingin terlahir kembali dari keluarga berbeda atau pindah planet saja, dia sudah benci dengan kehidupan mungkin juga pada dirinya sendiri.
Sedetik kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.
Gimana kalau gue membalik keadaan? Elang yang gelisah dan gue yang tertawa.
Ekspresi iblis menandakan bahwa ia siap bertarung dengan sijangkung sialan itu.
×××
Pembalasan Elang tidak pernah berhenti, sekarang meja dan kursinya dicoret dan dilumuri tinta spidol. Tulisan pada kertas di atas mejanya jelas sangat menghinanya.
B*NGSAT, Membusuk sama sampah sana!! Kita gak perlu sampah masyarakat kayak lo!!!
Sambil menenteng tas, ia merobek tulisan yang menurutnya terlalu kekanakan itu.
"Kalau benci perlu gak lewat tulisan, lo diciptain mulut di depan buat bicara langsung, benarkan Andri?" ucap Gabriel penuh penekanan pada Andri, teman sebangkunya.
"Loh, kok gue sih?"sanggah Andri marah.
"Ini tulisan lo gue tau."
"Lo gak bisa nuduh tanpa bukti gitu!" bentak Andri marah.
"Dengar suara lo aja udah kedengaran panik, bilang aja gue gak marah," balas Gabriel menatap Andri berusaha meredam emosi. Semua mata mulai tertuju pada mereka.
"Lo kok malah salahin gue sih!? Gue benci lo!" Andri mendorong dada Gabriel lalu pergi meninggalkan kelas.
Tatapannya beralih pada Elang, yang terlihat puas menyaksikan perkelahian Gabriel dengan teman pertamanya.
Karena sudah muak dengan keadaan Gabriel pergi menuju lapangan basket lagipun sudah tidak tahu harus ke mana yang penting bisa jauh dari cowok sialan itu.
"Kenapa membolos pelajaran, Nak?" sahut seorang guru cantik mengenakan hijab, menyapanya lembut.
"Kepanasan kalau di kelas bu..." balas Gabriel pura-pura mengipas tangannya dengan ekspresi 'sok gerah'.
"Terus duduk di pinggir lapangan jadi adem gitu?" Shifa duduk di samping Gabriel sambil tersenyum hangat.
"Ehehe," Gabriel nyengir kuda, dia kehabisan kata-kata.
"Masih ingat 'kan nasehat Ibu kemarin?" tanyanya menatap Gabriel lembut.
"Gak boleh kelahi lagi, kan? Masih ingat kok bu ehehe."
"Pinter... Ibu ngajar dulu ya, kamu masuk sana gak baik membolos," tambah Shifa sambil mengelus rambut Gabriel.
"Siap buk!" Gabriel menarik tangannya ke atas alis, memberi hormat.
"Ibu bukan tiang loh ya..." Shifa berjalan menjauh dan Gabriel menatapnya diam.
"Coba aja Bunda gue kayak dia," desisnya halus memandangi Guru Agama itu, jilbabnya yang besar membuatnya semakin terlihat indah sebagai wanita terhormat. Berbeda jauh dengannya yang penuh bekas luka lebam dan gaya yang urakan.
"Mungkin bener kata mereka, gue sampah." batin Gabriel bangkit lalu pergi ke kelas.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Andri duduk di bangku taman sendirian, karena merasa bersalah Gabriel mendatangi temannya yang kelihatan murung itu.
"Andri gue minta maaf soal tadi," ucapnya sembari duduk di samping Andri yang terkejut dengan kedatangannya.
"Gak briel, gue khianatin lo," jawab Andri menunduk mengakui perbuatannya.
"Gue cuman takut dikeluarin dari sekolah, lo tahu sendiri Elang penguasa di sini... Dia bisa lakuin apa aja yang dia mau. Gak ada yang boleh nolak perintah dia."
"Gue benar-benar minta maaf, gue gak pantes temenan sama lo... gue munafik," Andri membuang wajahnya takut untuk bertatapan mata dengan Gabriel namun ucapan Gabriel membuatnya diam.
"Gue bakal bicara sama Elang, lo suruh dia pergi ke rooftop pas pulang sekolah," tuturnya sambil ******** senyum.
"Lo gak bakal dikeluarin dari sekolah kok."
"Serius!? Makasih banyak Briel... sayang lo emmuah!" Andri memeluk Gabriel sangat erat.
"Oiiii... Mati gue sesak!" ia merengek karena pelukan Andri terlalu kuat.
"Biar."
"Kalo gue mati lo yang beliin kerenda sama kain kafannya," ucap Gabriel. Andri melepaskan pelukannya.
"Iyaaa gue lepas, tapi boong!" Andri kembali memeluknya, semakin kuat.
"Lepass!!!"
#14.10
Menaiki atap sekolah, Elang melihat seorang gadis cantik yang tengah berkutat dengan jam, lalu tersenyum tipis mengembang di sudut bibirnya.
Dia sengaja telat 10 menit karena ingin melihat gadis itu menunggu sendirian. Elang melangkahkan kaki berdiri di samping cewek yang terlihat menahan kekesalannya itu.
"Mau ngomong apa?" Elang menyahut membuat gadis itu membalikkan badan.
"Gue kalah." ucapan itu sukses membuat Elang speechless.
Apa Elang sudah menang, dan Gabriel mengakui kekalahannya?
***
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️❤️
moga kedepannya Thor lebih teliti 👌🏻👍🏻💪
ceritanya bagus banget🤩