Kisah sebuah balas dendam dari seorang wanita bernama Kiara yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, membawanya bertemu dengan sosok NYAI RONGGENG yang dapat menjanjikan kecantikan, dan digemari banyak pria.
Kisah mistis ini berasal dari daerah Dusun 16, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan-Deli Serdang-Sumutera Utara (Sekitaran Medan).
Bagaimana kisah Kiara selanjutnya? ikuti kisahnya dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liang
"Hoam....," Juleha menggeliatkan tubuhnya ia terbangun saat suara dering panggilan masuk ke ponselnya.
Ia melihat atas nama 'Sugeng'. "Ngapain dia nelpon sepagi ini?" gumamnya dengan lirih. Lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo,"
"Ya, Hallo, Assalammualaikum, Mbak Jule," ucap seorang pria yang biasa bekerja sebagai petani padi disawah.
"Waalaikum salam, Ya, ada apa?" tanyanya dengan suara yang terdengar sangat malas dan berat.
"Ini, Mbak. Kami nemukan si Rama didalam liang galian yang kemarin, tapi sepertinya sudah meninggal dunia, kami sedang menunggu Polisi," ucap pria diseberang telepon.
Juleha membeliakkan kedua matanya. Ia merasa jika ini kabar gembira atau kabar sedih. Ia sendiri bingung untuk mendeskripsikannya.
"Ya, hubungi saja ibunya, kenapa menghubungi saya?!" sahut Juleha dengan nada dingin.
"Oh, karena kami fikir mbak Jule adalah mertuanya, ya tidak mungkin tidak dikabari,"
"Sudah, saya sibuk, dan hubungi saja ibunya," Juleha mulai jengah.
"Baik, Mbak. Tolong kirimkan nomornya, ya," ucap Sugeng dengan cepat.
"Iya, iya," Juleha memutuskan panggilan teleponnya, dan mengirimkan nomor besannya kepada Sugeng, setelah itu, ia menon-aktifkan ponselnya, karena tak ingin terganggu tidurnya.
Ia kembali menarik selimutnya. Tetapi ia teringat akan Reva, sebab sudah dua hari tak melihat puterinya di rumah.
"Kemana si Reva? Kenapa sudah dua haru tidak pulang ke rumah?" gumamnya dengan rasa penasaran.
Ia membuka kembali selimutnya, lalu berjalan keluar dari kamar, dan berniat melihat puterinya, sebab sudah membuatnya cemas.
Langkahnya semakin dipercepat, dan ketika berada didepan pintu kamar, ia membukanya, dan jantungnya berdegub lebih kencang, saat tak menemukannya diruangan yang tampak kosong.
"Kemana si Reva pergi?" ia semakin gelisah.
Sementara itu, suara sirine polisi terdengar sangat kuat dan kencang. Hingga membuat pagi yang tenang menjadi riuh oleh rasa penasaran dan juga tanda tanya tentang kabar penemuan jasad didalam sebuah liang galian.
Mobil Polisi berhenti didepan pos jaga, dan bersama dengan warga lainnya berbondong ke makam Nyai Punden Ronggeng untuk melihat apa yang terjadi.
Saat Polisi tiba disana, warga sudah ramai berdiri disekitaran liang galian yang mereka sendiri tidak tahu siapa yang menggalinya.
Rama dalam posisi telungkup dengan darah yang menggenang disekitar jasadnya.
Tubuhnya sangat pucat dan berubah menjadi kuning. Membuat mereka bertanya siapa yang sudah membunuhnya.
Polisi turun untuk mengevakuasi dengan menggunakan sarung tangan. Saat jenazah dibalik, dan posisi terlentang, semua terkejut dengan kondisi yang sangat miris.
Wajah Rama berlumur darah, dan banyak kembang melati yang menempel diwajahnya.
Jasad itu dinaikkan ke atas, lalu dimasukkan ke dalam kantong jenazah.
Sedangkan sekitaran makam dipasangi garis polisi, dimana warga dilarang melintas, apalagi masuk ke dalamnya, sebab takut merusak barang bukti.
Polisi menyisir lokasi, mencari jejak barang bukti yang dapat dijadikan sebagai petunjuk atas kematian Rama.
Sementara itu, Misnah yang mendapat laporan jika puteranya ditemukan didekat makam Nyai Punden Ronggeng tercengang dengan rasa tak percaya.
Ia bergegas pergi untuk melihat apa yang terjadi, dan berharap jika itu tidak nyata.
Dengan tubuh yang gemetar, ia tiba diarea kejadian, tetapi jasad puteranya sudah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi, sehingga ia harus kembali ke.rumah sakit untuk menandatangani persetujuan autopsi.
****
Kiara sedang berpesta dengan uang yang didapatnya. Ia sedang melakukan perawatan kecantikan disebuah salon mahal dikota. Ia bahkan tidak tahu jika Rama sudah meninggal dunia.
"Mbak cantik banget, saya iri dengan bentuk pinggul dan bokong Mbaknya yang sangat bagus," ucap seorang karyawan salon dan Spa yang saat ini sedang melakukan luluran pada kulit Kiara.
"Ah, masa sih, Mbak." Kiara merasa tersanjung. Sedangkan wanita yang memujinya saja ia sudah sangat bangga, apalagi pria, pasti mereka akan klepek-klepek saat melihatnya.
"Iya, Mbak. Pasti banyak pria yang naksir sama Mbak-nya,"
Ucapan sang karyawan salon semakin membuat Kiara melambung tinggi, dan ini membuat kepercayaan dirinya semakin tinggi.
"Kamu bisa saja," sahut Kiara dengan tersenyum bangga. Dahulu ia sangat diacuhkan, bahkan Rama yang ia anggap mencintainya dengan tulus, ternyata memanfaatkannya dan mengorek hartanya, bahkan mencampakkannya begitu saja, lebih memilih Reva dibanding dirinya.
Akan tetapi, saat ini, ia jauh lebih dipuja, dan semua pria akan tergila-gila dan memberikan hartanya dengan suka rela.
"Tapi saya penasaran, tubuh, Mbak, kenapa beraroma melati, ya? Apakah Mbaknya suka minum air infuser dari bunga melati?"
Kiara terdiam sejenak. Ia juga tidak tahu, mengapa sejak bertemu dengan Nyai Ronggeng ia merasa jika tubuhnya harum bunga melati, tetapi itu justru yang membuat para pria tergila-gila padanya, dan tak dapat lepas.
"Oh, iya, saya suka meminum air infuser dari bunga melati. Saya suka aromanya, menenangkan, bahkan kadang saya makan juga," sahut Kiara berbohong.
Namun, dari perbincangan mereka, ia merasa jadi seperti ingin memakan bunga melati. Dorongan itu datang begitu kuat dari dalam hatinya, setelah Rama menemukan kembang melati dilantai kamar mandi, dan ia memakannya.
Keduanya terlibat obrolan yang dewasa, dan bergurau sepanjang proses luluran.
Hingga perbincangan mereka terhenti, saat sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Ternyata itu adalah seorang petugas KPK yang malam tadi sudah menggarapnya, dan berniat mengajaknya untuk bertemu.
Petugas bernama Rudy itu menyimpan nomor Kiara melalui nomor dompet digitalnya. Sehingga membuatnya dengan mudah menghubungi sang gadis.
"Saya harap kita dapat bertemu malam ini. Entah mengapa saya kangen terus sama kamu," ucap pria itu dengan nada lirih.
Ia seperti merasakan rindu berat yang tak berkesudahan, sehingga merasa tak dapat lepas dari ingatannya terhadap Kiara.
"Saya gak punya waktu, Pak. Saya sangat sibuk," jawab Kiara, lalu bertelentang setelah selesai proses lulurannya, dan tinggal sendirian didalam ruangan.
"Saya mohon, tolonglah, saya akan bayar kamu berapa saja, asalkan kamu mau menemui saya ditempat karaoke malam ini," Rudy memaksa, bahkan ia tak bersama Jhony, sebab ingin menghabiskan malam ini bersama Kiara seorang, tanpa ada yang mengganggu kemesraan mereka malam ini.
"Emm, saya butuh uang seratus juta," sebut Kiara dengan cepat.
"Saya akan bayar dua ratus juta, asalkan kamu mau menemui saya,"
Mendengar uang dua ratus juta, Kiara mengulas senyum termanis. Ini sangat luar biasa, begitu mudah dan cepat dalam mendapatkan uang.
"Jemput saya disimpang 'X', saya tunggu pukul sembilan belas malam, jangan sampai telat," pesan Kiara dengan cepat.
"Saya akan pastikan datang tepat waktu, dan jangan lupa, pakai pakaian yang seksi, sebab saya suka melihat pinggul kamu yang lebar bagaikan gitar Spanyol," ucap Rudy dengan nada menggoda.
"Baiklah, deal."
"Ok,"
Panggilan berakhir, dan mereka kembali pada aktifitasnya masing-masing.