Reza.
Tak banyak yang bisa diceritakan dari dirinya. Hanya lelaki biasa dengan kepintaran yang diluar nalar manusia.
Hanya sosok yang mengetahui wawasan dan pengetahuan yang begitu luasnya, agar bisa bersaing dengan kepintaran Reza.
Namun, kenapa. Dirinya dipilih menjadi lelaki pilihan sesosok Dewi Aphrodite?, sosok dewi cinta, nafsu, dan keindahan.
Reza terbingung.
Akhirnya, ketika dirinya dipindahkan kedunia lain. Mulai saat itu, dia akan mencari alasannya.
++++++÷÷÷÷++++++
Ini cerita campur aduk ngak karuan. Entah nanti di dunia kultivator maupun di isekai bertema fantasi barat. Bahkan kemungkinan akan kembali lagi ke bumi. Nantinya juga, setelah plot utama selesai. Author bakalan nyambung ke dunia anime atau apalah itu. Dan itu kalian para pembaca sendiri yang menentukan.
Terapkan kegiatan tanya jawab dengan author. Agar nantinya pembaca sekalian puas terhadap karya saya.
ikuti ig author: @fjr_894
Author ngak maksa kalian untuk ngak Like atau komen. Namun, tolong!. Setidaknya jangan beri rating jelek pada novel ini. Entah KALIAN mau Toxic atau apa pada novel ini. Author ndak peduli!. Namun, seperti yang saya bilang tadi. Tolong Jangan Beri Rating Rendah Terhadap Novel Ini!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mad Kojer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.
Pertarungan tak terrelakan lagi. Sosok wanita berambut merah ini mulai menyerang Reza dengan elemen dasar cahaya.
''
Beruntung, Reza selalu melatih instingnya. Bila tidak, tidak mungkin dia bisa menghindari tiap tombak yang berniat menusuknya ini.
''Nyo-nyonya, bisakah kau menghen...''
''Aku belum menikah!.'' Teriak sela wanita itu karena dianggap nyonya oleh Reza.
Semakin tajam dan cepat serta semakin banyak tombak yang menghujam Reza. Ini cukup membuat Reza kesulitan dalam menghindar.
Sudah mulai banyak luka lecet bersarang di tubuhnya walau sudah terlindungi perlengkapan Assasint tingkat Elite.
''Nona, bi-bisakah kita menghentikan pertarungan ini?. Bukankah sejak awal kau sendiri yang salah karena masuk rumah orang sembarangan?.'' Ujar Reza dengan nada sedikit bercanda.
Namun, apa didapatnya. Bukan balasan, melainkan hujanan tombak yang semakin banyak dan mengarah ketitik vitalnya.
''Sial!.'' Akhirnya, dengan mengorbankan satu lengan, Reza bisa kabur dari kejaran tombak tombak cahaya itu.
Crrrrssttt.
Darah keluar memuncrat dari siku kanan Reza. Napas Reza mulai memburu dan juga kepala menjadi pusing karena banyak {mana} dan darah yang terbuang sia sia melalui pendarahan di sikunya ini.
'Richa, segera konversikan daun Kiria untuk menyembuhkan aku!.' Perintah dalam batin Reza karena dia mengalami keadaan darurat.
[Ding!. Mengambil 30.000 daun kiria untuk dijadikan potion penyembuh.]
[Ding!. Potion penyembuh tercipta, potion tingkat rendah.]
[Ding!. Melakukan Upgrade. Upgrade selesai, potion tingkat menengah telah tercapai.]
[Ding!. Melakukan Upgrade. Upgrade selesai, potion tingkat tinggi telah tercapai.]
''Segera, pasangkan kedalam tubuh!.'' Ujar Reza pelan sembari kabur melompat kebelakang.
Tanpa disadari Reza sendiri. Sebenarnya, wanita berambut merah darah itu tidak lah memang berniat membunuh dirinya.
Dia hanya mengetes seperti apa kepribadian Reza dan mengukur keterampilannya dalam bertarung.
''Kepribadian baik namun sedikit nakal, insting baik, pengalaman bertarung sebagai Assasint juga sangat baik, pemikiran langkah selanjutnya baik, dan yang paling penting. Adalah pengetahuannya sebagai master formasi sihir.
Walau dia masihlah tingkat bronze di umur 18 tahun, dan ini sangat tertinggal bagi murid murid dasar dari universitas Aqulina. Namun, sepertinya. Dia baru saja memulai meningkatkan kekuatannya setahun dua tahun belakangan ini.
Saat ini mungkin aku tak bisa mengangkatnya menjadi murid, tapi. Kalo persoalan guru, itu beda ceritanya.''
Sebuah senyuman penuh makna terlukis diwajah cantiknya wanita ini.
''Nak, kemarilah bila tak ingin benar benar kubunuh!.'' Pelan memang suara wanita ini memanggil Reza.
Sedangkan Reza yang jaraknya sudah 300meter dari wanita itu. Seakan suara wanita itu benar benar berada di samping telinganya.
''Anj*ing!. Lo bener bener buat gua ngeri bang*sat!.'' Umpat Reza merinding seluruh tubuhnya karena suara itu.
Dengan ragu, Reza menghentikan kaburnya dari wanita itu.
'Richa, saranmu?.' Hanya Richael lah yang bisa membantu dirinya saat ini.
[Saran terbaik adalah kabur, itu bila tuan hendak bebas dalam peraturan yang di buat oleh wanita itu. Konskuensinya, anda dalam keadaan bahaya hingga tahap kematian.]
''Matipun sebenarnya aku tak masalah. Kurasa, ini adalah yang terbaik. ''Jangan harap kabur, bocah kurang ajar!.'' Terdengar begitu menyeramkan suara wanita ini. Namun, dengan sekuat tenaga. Reza mengalirkan {mana} ke kedua kakinya dan mencoba kabur secepatnya dari wanita ini. Hanya saja, semua itu terlambat. Semua pandangan Reza, seketika memutih tak bisa melihat apapun dan akhirnya dia terpingsan. Si wanita itu, dia menatap rumit terhadap Reza. Entah bagaimana perasaannya saat ini. ''Baru kali ini aku melihat seseorang tak memikirkan kehidupannya sendiri dan rela mati semudah ini.'' **** Apa yang Reza rasakan saat ini adalah. Kepusingan kepala yang membuatnya muntah muntah. Kesadarannya pun mulai kembali ke dalam tubuhnya. Samar, Reza melihat dia sedang melayang di ketinggian langit dengan cepat. ''Bocah!, kau sudah sadar, kah?.'' Terdengar suara wanita dewasa yang paling ingin dia hindari. ''Kau mau membawa kemana aku?.'' Lemas dan tak berdaya, tanya Reza terhadap wanita yang mengangkat dirinya seakan karung beras. ''Universitas Aqulina, sebuah universitas bergengsi dan paling terbaik diantara terbaik di seluruh dunia. Kau akan menjadi murid disana.'' Tenang dan lembut, balas wanita ini. Reza tak menjawab apapun lagi. Dia lebih memilih untuk menstabilkan kondisi tubuhnya yang berkecampuk amburadul tak karuan sama sekali. ''Kau hebat juga, ya, nak. Bisa sadar setelah 3 hari terkena Reza tak menjawab dan hanya mengabaikannya. Dan terlihat pula, si wanita ini tidak lagi mempermasalahkannya. ''Sebelum itu, perkenalkan. Namaku Qin Shui, siapa namamu nak?.'' Lembut dan tulus, suara wanita ini menanyakan kepada Reza akan namanya. Entah kenapa, pikiran dan hati Reza menjadi tenang dan sejuk terasa olehnya ketika mendengar suara Qin Shui. Secara tak sadar, Reza menjawab. ''Namaku Reza.''
Bekas kaki bapak