NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: tamat
Genre:Komedi / Contest / Pengantin Pengganti Konglomerat / Tamat
Popularitas:324.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.

Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.

Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.

Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?

Simak kisahnya hanya di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Heru Diculik

Pagi hari yang cerah, gumpalan awan terbuka. Memperlihatkan sinar matahari, yang begitu cerah. Tasya pergi ke sekolahnya, dengan perasaan gembira. Dia baru saja mengobrol ria, dengan temannya melalui ponsel.

"Tasya, kamu kelihatan senang sekali." Ujar Nadin.

"Iya Ma, karena hari ini mulai menggapai impian kembali." Jawab Tasya.

"Semoga nilai raport mu bagus, supaya orangtuamu bahagia." Sahut Argan.

"Aamiin, terimakasih atas doanya Pa." Jawab Tasya.

"Istri menyebalkan, dia meletakkan handuk basah di atas kasur. Aku tidur menjadi kedinginan." Ucap Devin berbohong.

"Suami tidak tahu diri, dia melempar jas dan dasinya ke lantai. Sungguh pemalas sekali, cuma menang tampan." Ujar Tasya, tidak sesuai kenyataan.

"Masak sih, kamu seperti itu Devin. Mama 'kan sudah mengajari kamu, supaya belajar menjadi anak yang rajin, bersih, dan rapi." Sahut Nadin.

"Anu Ma, ini hanya salah paham. Harap maklum istri masih SMA, jadi dia labil." Jawab Devin, melirik Tasya sambil senyum mengejek.

Tasya menginjak kaki Devin yang ada di bawah meja, suaminya itu berteriak sedikit kuat.

"Kamu kenapa Devin?" Tanya Nadin.

"Anu Ma, dia itu punya kebiasaan suka berteriak." Jawab Tasya.

"Mama nanya ke Devin, kok malah kamu yang menjawab?" Tanya Argan.

"Itulah Pa kelebihan ku, bisa mewakili suami." Jawab Tasya, sambil tersenyum percaya diri.

"Papa malah baru tahu, kalau ternyata Devin punya kebiasaan berteriak. Kamu cepat sekali iya mengenalnya lebih dalam." Puji Argan.

"Papa bisa saja." Jawab Tasya.

Tasya beranjak dari duduknya, begitupula dengan Devin. Mereka bersalaman tangan, dan mencium punggung tangan Argan dan Nadin. Mereka segera pergi setelah berpamitan.

"Kamu memang benar-benar cari masalah iya. Apa kamu mau, gaji mu dipotong untuk bulan ini." Ancam Devin.

"Jangan tuan Devin, kita 'kan berakting. Kita pura-pura bertengkar, biar kelihatan tidak cocok." Jawab Tasya.

"Drama sih drama, tapi tidak perlu sampai menginjak kaki." Protes Devin.

"Maaf tuan Devin, aku sengaja." Jawab Tasya keceplosan.

"Benar-benar ingin dijahit iya kamu, biar tidak bisa bicara lagi." Gerutu Devin.

"Kaki yang menginjak, kenapa bibir yang dijahit." Jawab Tasya.

"Bocah kecut, aku ingin kamu tidak sembarangan bicara. Kamu harus tahu batasannya." Devin memberi peringatan.

"Iya, iya, dasar pria kaku." Tasya berbicara lirih, namun masih bisa terdengar oleh Devin.

Dia mengerem mobilnya secara mendadak, membanting setirnya dengan kuat.

"Cepat turun, sudah sampai." Titah Devin.

"Aku tidak mau." Jawab Tasya, dia mendekapkan tangannya di dada.

Devin memaksanya, dia membukakan sabuk pengaman Tasya. Tidak sengaja bibirnya tercium hidung Tasya. Wajah mereka kini hanya berjarak, beberapa sentimeter saja.

"Apaan sih." Tasya mendorong Devin.

"Makanya cepat turun, aku ingin cepat pergi ke kantor." Devin memberi titah.

Tasya turun dari mobil tersebut, dia tidak bersalaman tangan lagi dengan suaminya. Mobil Devin melaju dengan kencang, meninggalkan jejaknya di sekolah itu.

Dera memasangkan dasi Heru dengan rapi. Heru terus tersenyum, memandang wajah Dera. Setelah selesai, dia memasangkan jasnya.

"Kamu tampan sayang." Puji Dera.

"Terimakasih, sudah repot-repot merayu." Jawab Heru.

Dera memajukan bibirnya, Heru juga memajukan bibirnya. Mereka saling mengucapkan kata muach, dengan suara yang lirih.

"Ayo aku antar sampai ke depan teras." Ajak Dera.

"Iya sayang." Jawab Heru.

"Aku membawakan kamu bekal, biar kamu bisa sarapan di kantor." Ucap Dera.

"Terimakasih sayang, aku pasti menikmati masakan dari istriku ini." Jawab Heru.

Tasya berjalan masuk ke dalam sekolah, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tasya melihatnya ternyata itu pesan masuk, dari orang yang tidak dikenalnya.

Isinya adalah:

"Bila kamu tidak datang sendirian, maka jangan salahkan kami bila Papamu akan kenapa-napa."

Tidak berselang lama, pesan masuk kembali. Ternyata nomor tidak dikenal itu, membagikan lokasi keberadaan Heru. Tasya membaca pesan tersebut, dia langsung menutup layar ponselnya. Tera dan Okta menepuk pundak Tasya, berhasil mengagetkan nya karena cukup kuat.

"Ya ampun, kalian membuatku terkejut saja deh." Tasya mengelus dadanya.

"Maaf Tasya, kamu kenapa sih?" Tanya Tera.

"Papaku diculik, aku tidak tahu siapa orangnya." Jawab Tasya.

"Hubungi polisi saja Sya." Okta mengusulkan idenya.

"Tidak semudah itu, mereka akan mencelakai Papa." Jawab Tasya.

Dia segera berlari sekencang mungkin. Tidak peduli, bila harus pergi sendirian.

'Aku harus kasih tahu keluargaku tidak iya.' Batin Tasya.

Dia menaiki angkutan umum yang sedang melaju. Matanya melihat sekeliling keadaan luar, melalui kaca mobil. Beberapa menit kemudian, Tasya turun dari angkot pada sebuah gang sepi.

'Apa aku masuk ke dalam sendirian iya. Aku yakin, aku tidak apa-apa. Mereka hanya ingin bermain-main, dengan melibatkan Papa.' Batin Tasya.

Tasya melangkahkan kakinya, tepat di depan pintu sebuah rumah besar. Lokasi itu pas, dengan orang yang telah mengirimnya.

Plok! Plok! Plok!

Suara tepukan tangan dari belakang punggungnya. Tasya menoleh ke arah sumber suara.

"Ternyata benar tangguh, seperti informasi yang beredar." Ucap pria, berpenutup kepala itu.

"Tidak perlu basa-basi, cepat katakan di mana Papa." Menjawab, dengan setengah berteriak.

"Ayo masuk ke dalam, bila kamu ingin tahu keadaan Papa kamu." Ajak pria itu.

Tasya mengikuti langkah kaki pria asing, yang sudah duluan masuk ke dalam rumah besar itu. Benar saja, Tasya dapat menyaksikan Heru yang sedang dipukuli.

"Hentikan, jangan sakiti Papa." Pinta Tasya.

"Kami akan terus melakukannya, bahkan sampai kau menangis darah pun kami tidak peduli." Jawab pria, berpenutup kepala.

Tasya mencoba melakukan perlawanan, dia menendang orang itu. Sekelompok kawanan yang lainnya menjadi brutal. Mereka segera menyayat tangan Heru.

Aaa!

Suara teriakan Heru menggema di ruangan tersebut. Harap maklum, jumlah mereka cukup banyak. Wajar saja, sangat mudah untuk menculik Heru.

'Tasya, kamu harus kuat. Kamu tidak boleh sedikit pun menangis. Tasya kamu pasti bisa, meski ini sulit.' Batin Tasya.

Dia berusaha menahan rasa sedihnya yang mendalam. Dia telan pahit-pahit, seperti pil obat.

"Apa kamu masih ingin melawan." Ujar pria itu.

"Aku sudah datang sendirian, kenapa kalian masih menyakiti Papaku. Katakan, apa mau kalian?" Tanya Tasya.

"Mau kami hanya satu, diam lah saat kami menikmati derita Papamu yang terluka." Jawabnya.

"Brengsek!" Umpat Tasya.

Ponsel Tasya sudah didiamkan, jadi tidak berbunyi sama sekali bila ada telepon masuk. Tasya melakukan perlawanan kembali, tiba-tiba ada yang menusuk pundaknya dengan jarum suntik.

"Tasya pergi dari sini!" Teriak Heru.

Firasatnya tidak enak, dia merasa bahwa mereka memang mengincar Tasya. Tubuh Tasya menjadi lemas, pandangan matanya bekabur dan pingsan.

"Bagus, suntikan bius bekerja dengan sangat efektif. Tidak sia-sia aku memintanya pada dokter gadungan." Ucap pria, yang sempat ditendang Tasya tadi.

1
De'Ran7
ngapain buat orang nangis..kek kurang kerjaan aja dah nih orang
De'Ran7
dih udah baik di gantiin..kalo gak yg malu banget kan situ ya.wkwk dikhianati udah gitu pengantinnya lari lagi sama sahabatnya
De'Ran7
hm..lucu sekali ya itu kata²(maaf)..pasti sakit banget dah tuh n malu jga sama orang yg undang
De'Ran7
ini mah udah keliatan kaleus kalo dia cewek gk bener..mudah dirayu
Amanah Amanah
lanjut ahh..
Amanah Amanah
Yana minta adiiik😄😄
Amanah Amanah
satu kawan satu musuh ya...
Amanah Amanah
singkat padat dn jesusu ya thooor
Amanah Amanah
ooooh ..gitu ya...Rumi bls dendam
Amanah Amanah
aneh ah ...Heru dn argan Kya g pernh menghdpi mslh yg lebih besar dri ini,jln pkirannya g mennjukn klo dia seorng yg konglomerat😏😏
Amanah Amanah
msa orng Kya g bisa menyelesaikan mslh Kya gini,g nyruh orng2 utk mnyeldikinya gitu
Amanah Amanah
kenapa sikap Heru sama argan jdi ksar si thooor secara dia itu kndlu asistennya argan,dan ada apa dg Rumi ya ...koq dia dendam SMA Tasya dn devan
Amanah Amanah
siapa ya...dalng di balik semua ini apa dia rumi atau Ferdian?
Amanah Amanah
iiiiih Smpe segitunya ya Ruby...itu kriminal,g mkir nnti dia mendekam di oenjara
Amanah Amanah
sabaaar hdpi ujian dg kepla dingin sya
Amanah Amanah
Tasya si nangis knpa thooor?
Amanah Amanah
kembali ke pelakor2 GJ
Amanah Amanah
ngebalas pesn dri kampus koq SMA mm nya yg nelpon g di bls ya...?
Amanah Amanah
begitulah klo g nrut swami,menyesl setelah kejdian yg menimpanya,semoga Tasya segera di temukn
Amanah Amanah
duuuuh tuh dokter lgi pdkt ya....SMA rubis,sayang jga si dr. tmpn,baik HTI hrus Deket dengn ult kket mcm rubis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!