"Aku hamil" Tiara akhirnya mengatakan rahasia yang di tutupinya selama beberapa minggu ini pada atasan sekaligus kekasihnya, Rex Hamilton, setelah kegiatan panas Mereka berdua yang baru selesai beberapa menit lalu.
Rex yang tengah mengenakan kembali pakaian dalamnya, terdiam sejenak.
"Gugurkan" Ucap Pria itu datar, tanpa melirik Tiara sama sekali.
Rex memang seperti itu, sikapnya dingin dan datar pada siapapun, termasuk pada Tiara yang telah menjadi sekretaris sekaligus teman tidurnya selama 3 tahun terakhir.
"Aku ingin melahirkan anak ini"
Rex menatapnya tajam. Pria itu kemudian menghampiri Tiara dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.
"Hanya karena Kamu bisa naik ke ranjangku, bukan berarti Kamu bisa menjadi Nyonya Hamilton. Sadarlah dengan posisimu. Kamu hanyalah simpananku"
"Jika Kamu mau mempertahankan janin sialan itu, maka enyahlah dari hidupku. Tentukan pilihanmu"
"Aku akan mempertahankannya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Tanpa Alasan?
"Jadi Kamu beneran kerja jadi baby sitter disini?" Tanya Rizal dengan tatapan sendu. Melihat Tiara memakai baju seragam seperti ini membuatnya sakit hati. Jika saja Tiara tidak memiliki dendam pada orang-orang jahat itu, Rizal tidak akan membiarkan Tiara sengsara seperti ini meskipun bayarannya mahal, tapi Tiara wanita yang cerdas, dia tidak seharusnya berada di tempat ini dengan pekerjaan seperti ini.
"Iya mas, kamu kenapa ada disini?"
"Aku.... aku kebetulan lagi ada kerjaan di Jakarta, jadi sekalian nyari kamu. Oh iya, aku bawa ini juga buat kamu, bentar."
Rizal setengah berlari menuju ke mobilnya lalu mengambil bungkusan yang berisi makanan kesukaan Tiara, serabi Notosuman dan intip goreng.
"Ya Allah, makasih loh mas..."
"Sama-sama...." Ucap Rizal sambil tersenyum manis. Tiara sangat terharu dengan semua kebaikan Rizal selama ini, bahkan saat Ia mengandung Zayn, Rizal juga sering membelikan makanan yang sedang ingin ia makan.
"Uhuk Uhuk! Ehem!!!" Tiba-tiba muncul suara batuk dari seorang pria yang muncul dari belakang gerbang.
Rizal menatap Pria yang tak lain adalah Rex dengan muka judesnya berjalan menghampirinya dan Tiara.
"Jayden bisa kedinginan, buruan masuk!" Ucapnya galak. Rizal mengerutkan keningnya dengan ekspresi tidak senang.
Bosnya galak begini? Rizal membatin, lalu memindai tatapannya ke wajah Tiara dengan penuh rasa kasihan.
"Ya udah mas, aku masuk dulu ya."
"Aku bisa kesini lagi nggak lain kali."
"Nggak bisa! rumah saya nggak menerima orang asing sembarangan!"
Rex kembali menyambar obrolan Rizal dan Tiara. Tiara membuang nafas lelah sementara Rizal kini memelototi pria itu dengan tajam.
Rex dan Rizal saling menatap. Tinggi mereka berdua hampir sama, hanya saja badan Rex lebih besar dan atletis dibandingkan Rizal yang 'pas' untuk ukuran pria.
Baru beberapa saat lalu mereka bertemu tapi aura permusuhannya sudah aur-auran.
"Mas kamu pulang dulu aja ya, nanti aku telefon" bisik Tiara pada Rizal, lalu masuk ke dalam karena Jayden mulai merengek. Rizal pun mengangguk paham, sementara Rex terlihat sangat muak melihat interaksi 'romantis' antara Tiara dan Rizal.
Tiara sudah masuk ke dalam, jadi Rizal merasa tidak punya alasan lagi untuk berada disana, tanpa memperdulikan Rex, Rizal pun berjalan ke arah mobilnya, namun suara bariton Rex yang menyebalkan menghentikan langkahnya.
"Apa hubunganmu dengan Tia?"
Tia? Rizal merasa tidak senang mendengar Rex memanggil nama panggilan Tiara. Bukankah Pria ini adalah majikan Tiara? Kenapa kepo sekali dengan urusan pribadi baby sitter anaknya?
"Saya rasa, itu bukan urusan anda pak. Tiara kan hanya pekerja di rumah anda, jadi urusan pribadinya bukan wewenang anda untuk ikut campur"
'Brengsek!' Rex memalingkan wajahnya sambil tertawa sinis.
"Anda lupa? Tiara tinggal di rumah saya, jadi saya berhak tahu siapa saja yang berhubungan dengannya apalagi sampai berani mendatangi rumah saya. Siapa tahu anda rampok atau maling yang punya niat jahat?"
"Kheh! yang benar saja pak, bapak bisa lihat sikap Tiara ke saya, mana mungkin saya punya niat jahat sama dia kan?"
"Tinggal bilang saja apa hubunganmu sama Tia, jangan muter-muter nggak jelas"
'Dia sinting apa gimana sih? Udah kepo, malah marah-marah nggak jelas, jangan-jangan....'
"Anggap aja, saya calon suaminya, terima kasih. Kalau begitu selamat tinggal"
Rizal berbalik dan langsung masuk ke mobilnya, meninggalkan Rex yang sudah merah padam karena emosi yang membara mendengar ucapan Rizal yang begitu enteng tapi terasa sangat menyakitkan di hatinya.
Calon suami katanya?
Rex tidak ingin mempercayai ucapan Rizal, tapi dia teringat bagaimana cara Tiara berbicara dengan pria itu selama ini, bagaimana Tiara selalu tersenyum setiap memanggil nama Rizal.
"Sialan!!! Tiara, jangan harap kamu bisa bersama pria lain, aku nggak akan membiarkan itu terjadi!" Ucap Rex sebelum melayangkan tinjunya ke udara dengan penuh amarah.
Tiara baru saja selesai memandikan Jayden dan menyusuinya. Anak itu kembali tidur. Setelah meletakkan Jayden di box bayi, Tiara berniat turun untuk membantu bi Surti menyiapkan makan malam, Jayden biasanya akan tidur kurang lebih 1-2 jam di jam seperti ini, lalu akan terbangun jam 8 atau 9 malam, dan baru akan tidur lagi sekitar 2 jam kemudian.
Baru saja membuka pintu kamarnya, Tiara terkejut setengah mati melihat Rex berdiri di depan pintu dengan wajah horornya.
"Astaghfirullahal'adziim, pak! Ngagetin aja sih!" Tiara memarahinya. Tapi Rex tidak merasa bersalah dan malah berkata,
"Apa benar, Rizal itu calon suami kamu?"
"Apa?"
"Rizal, pria yang tadi datang kesini, dia bilang dia adalah calon suamimu apa itu benar?"
Tiara berkedip-kedip bingung. Rizal bilang begitu pada Rex? Tapi-
"Pak Rex, kalau memang dia adalah calon suami saya, saya rasa itu bukan urusan anda"
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa kamu bisa dengan mudah mencintai pria lain Tiara?" Mata Pria itu memerah. Demi Tuhan, setelah Tiara pergi, Rex bahkan hampir membuat dirinya sendiri mati konyol karena wanita ini, tapi Tiara begitu mudahnya menjatuhkan hatinya pada pria lain. Benar-benar tega!
"Pak, Anda lupa? Anda sendiri sudah menikah bahkan punya anak, jangan karena istri Anda sudah meninggal, anda berfikir bahwa anda tidak pernah berpindah kelain hati, anda bahkan menunjukkan kemesraan anda dengan nona Eveline di depan saya dan semua orang di perusahaan anda dulu. Anda bisa pura-pura lupa, tapi saya tidak. Jadi, jangan bertindak terlalu jauh pak. Kita sudah lama berakhir"
Tiara berbicara dengan suara bergetar. Ingatan pahit tentang bagaimana Rex memintanya untuk pergi dari hidupnya jika ingin mempertahankan kehamilannya saat itu terngiang kembali. Sampai saat ini Tiara masih merasa, mungkin karena ayahnya tidak menginginkannya, makanya Zayn tidak berumur panjang. Tapi, nyatanya Rex punya anak dari wanita lain!
Sekarang pria ini bertingkah seperti Pria yang cemburu saat tahu Tiara memiliki pria lain walaupun nyatanya hubungannya dengan Rizal tidak seperti itu?
Kenapa? Apa maksudnya?
"Tiara, Aku dan Eveline-"
"Cukup. Itu sama sekali bukan urusan Saya dan Saya tidak mau tahu. Tolong, berhenti bersikap aneh Pak Rex. Tolong Perlakukan Saya seperti dulu Anda memperlakukan Saya, anggap Saya tidak seperti angin atau perabotan. Itu akan membuat Saya merasa lebih nyaman"
Rex memejamkan matanya sejenak, tapi Dia merasa perlu menjelaskan,
"Tidak! Aku akan menjelaskannya. Aku tidak pernah mencintai Eveline, sedikitpun. Jayden lahir dari hasil inseminasi, aku tidak pernah tidur dengannya Tia, seumur hidupku, aku hanya pernah tidur dengan satu wanita, dan itu adalah kamu."
Ucap Rex, bulir bening mengalir dari kedua matanya, entah kenapa Rex merasa dirinya menjadi cengeng akhir-akhir ini. Tiara tercengang mendengar ucapan itu, tapi hatinya juga sudah terlampau sakit. Pengakuan Rex sudah terlambat baginya.
"Sudah terlambat Rex, semuanya sudah terlambat... " Ucap Tiara, kemudian berbalik dan langsung menutup pintu. Tiara terduduk di balik pintu dan Rex bisa mendengar isak tangisnya.
Rex berjongkok kemudian mengulurkan tangannya, menyentuh lapisan kayu itu dengan lembut.
"Aku sungguh-sungguh memohon maafmu Tia, Aku minta maaf..."
Tiara memejamkan matanya sambil menutup kedua telinganya, ucapan maaf itu tidak membuatnya lega, melainkan mengorek lagi luka batin yang telah lama ia pendam.
aku yg mau tiara sama orang baru kan jadi bimbang
ini baru bab satu z udah seru neh,
apakah ini akan bertemu orang baru lagi, gak balikan kan ya