NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 RTJ

Keheningan yang mencekam menyusul hilangnya kabut merah Hua Ling. Di dataran salju yang kini berantakan oleh jejak kaki kuda dan sisa-sisa energi yang meledak, Long Chen berdiri terpaku. Tangannya masih terulur ke udara, seolah mencoba menggapai sisa keharuman bunga Manjusaka yang kian memudar tertiup angin utara yang beku.

Pasukan Garda Langit milik Long Tian kini sibuk menahan gempuran ksatria Suku Nomaden. Suara denting logam dan teriakan perang bergema di latar belakang, namun bagi Long Chen, dunia seolah kehilangan suaranya. Hanya ada detak jantungnya yang berpacu—bukan karena takut, melainkan karena amarah yang dingin.

"Pangeran! Kita harus mundur ke formasi suku nomaden! Posisi kita terlalu terbuka!" Satu berteriak sambil menangkis dua anak panah es yang mengarah ke punggung Long Chen.

Long Chen tidak bergerak. Matanya yang biasanya jernih kini menatap ke arah puncak Gunung Tengkorak yang terlihat samar di kejauhan, tertutup awan hitam yang berputar. Di dalam dadanya, sisa-sisa energi 'Yang' yang ditanamkan melalui Mata Air Kehidupan mulai berdenyut liar. Rasa hangat yang tadi hanya sepercik kecil, kini mulai merambat ke seluruh pembuluh darahnya, mencairkan kebekuan yang ditinggalkan oleh energi Yin Lin Xi.

"Satu," suara Long Chen terdengar sangat rendah, namun anehnya mampu menembus deru badai. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak itu?"

Satu tertegun, ia menjatuhkan lawan yang mencoba mendekat. "Pangeran, itu adalah markas utama Sekte Teratai Merah yang asli. Tanpa persiapan dan pasukan penuh, itu adalah perjalanan bunuh diri!"

"Aku tidak bertanya apakah itu bunuh diri atau tidak," Long Chen menoleh. Sorot matanya membuat Satu bergidik; ada otoritas yang tak terbantahkan di sana, jauh lebih kuat dari sekadar gelar pangeran. "Aku bertanya: berapa lama?"

"Tiga hari... jika kita melewati jalur tikus para pemburu," jawab Satu pelan.

Long Chen mengangguk. Tiba-tiba, tubuhnya limbung. Energi Yang yang baru saja bangkit ternyata terlalu besar untuk wadah fisiknya yang masih rapuh. Sebelum ia menyentuh salju, pria raksasa dari Suku Nomaden—pemimpin yang tadi menghentikan serangan Long Tian—menangkap bahunya.

"Tenanglah, Anak Muda. Kemarahan adalah bumbu yang baik untuk pedang, tapi racun bagi pikiran," ucap pria raksasa itu. Namanya adalah Batu Guntur, kepala klan dari suku nomaden tepi barat.

"Lepaskan aku... aku harus mengejarnya," geram Long Chen.

Batu Guntur tertawa besar, suaranya seperti guntur yang benar-benar membelah langit. "Dengan kaki gemetar begitu? Kau bahkan tidak akan bisa melewati lereng pertama. Ikutlah ke tenda utama kami. Pasukan pangeran emas itu tidak akan berani mengejar lebih jauh ke dalam wilayah badai kami. Kita akan minum teh susu hangat, dan kau akan menceritakan bagaimana seorang pangeran lemah bisa memiliki tatapan seperti serigala lapar."

Dua jam kemudian, di dalam tenda besar yang terbuat dari kulit Yak berlapis-lapis, suasana menjadi jauh lebih ringan. Berbeda dengan ketegangan di medan perang tadi, di sini terdapat bau mentega segar, kulit binatang yang disamak, dan suara tawa para wanita suku yang sedang menyiapkan jamuan.

Long Chen duduk di atas tumpukan permadani tebal. Sebuah cangkir besar berisi teh susu mentega yang panas diletakkan di depannya. Satu duduk di sudut, masih dengan tangan memegang gagang belatinya, matanya terus waspada memperhatikan setiap orang suku yang lewat.

"Minumlah. Ini akan memperkuat fondasi Yang-mu yang sedang kacau," Batu Guntur duduk di depan Long Chen, menyobek sepotong besar daging panggang.

Long Chen menyesap teh tersebut. Rasa gurih dan hangat menjalar ke tenggorokannya, sedikit menenangkan jiwanya yang bergejolak. "Kenapa kau menolong kami? Suku Nomaden biasanya tidak peduli dengan urusan Kekaisaran."

Batu Guntur tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang kuat. "Kami tidak menolong Kekaisaran. Kami menolong 'Gadis Rambut Perak' itu. Tetua Agung kami mengirim pesan melalui burung elang salju. Dia bilang, jika ada seorang wanita yang berani meminum air hitam demi prianya, maka wanita itu adalah kerabat Suku Roh Salju. Dan siapapun kerabat mereka, adalah tamu kami."

Long Chen menatap uap tehnya. "Dia melakukannya untukku... selalu untukku."

"Lalu apa rencanamu sekarang, Pangeran Kecil?" tanya Batu Guntur. "Gunung Tengkorak bukan tempat bagi orang yang hanya punya keberanian. Hua Ling adalah monster yang bermain dengan jiwa manusia."

"Aku akan membangkitkan Pedang Matahari Langit," ucap Long Chen pelan.

Satu yang mendengar itu hampir menjatuhkan cangkirnya. "Pangeran! Pedang itu sudah disegel di kuil leluhur selama tiga ratus tahun karena tidak ada yang sanggup menahan panasnya! Anda bisa terbakar menjadi abu!"

"Maka biarlah aku terbakar," balas Long Chen tenang. "Setidaknya aku akan menjadi abu yang hangat untuk menyelimuti kedinginan Lin Xi."

Dialog itu terhenti ketika seorang gadis kecil suku, mungkin berusia tujuh tahun dengan pipi kemerahan karena hawa dingin, masuk ke tenda membawa piring berisi roti gandum. Ia mendekati Long Chen dan menatapnya dengan rasa ingin tahu.

"Kakak Tampan, kenapa matamu sedih?" tanya gadis itu polos.

Long Chen tertegun. Ia mengambil sepotong roti dan tersenyum tipis—senyum tulus pertama yang muncul setelah sekian lama. "Karena kakak baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga."

"Ibu bilang, jika sesuatu hilang di salju, kita tidak boleh mencarinya sambil menangis. Salju akan menyembunyikannya lebih dalam jika terkena air mata. Kakak harus mencarinya dengan bernyanyi, agar salju mencair karena senang," ucap gadis itu sambil memberikan boneka kayu kecil kepada Long Chen.

Batu Guntur tertawa lagi. "Lihat? Bahkan anak kecil di sini tahu cara menghadapi Utara. Berhentilah bersikap seolah dunia akan kiamat besok. Makanlah, tidur, dan besok kita akan bicara tentang bagaimana cara membelah Gunung Tengkorak."

Malam itu, di saat seluruh tenda mulai sunyi, Long Chen keluar dan berdiri di bawah langit malam yang penuh bintang. Udara sangat dingin, tapi ia tidak lagi menggigil. Di dalam saku jubahnya, ia meremas boneka kayu pemberian gadis kecil tadi.

Tiba-tiba, ia merasakan getaran di dadanya. Cincin Ruang miliknya bersinar redup. Ia mengeluarkan sebuah peti kayu kecil yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari Satu. Peti itu berisi sebuah rahasia yang diberikan ibunya sebelum wafat—sebuah kunci kristal yang katanya bisa membuka jalan menuju 'Warisan Cahaya'.

"Xi'er... tunggu aku. Aku akan datang bukan sebagai pangeran yang perlu dilindungi, tapi sebagai raja yang akan menjemput ratunya," batin Long Chen.

Namun, kedamaian malam itu kembali terusik. Dari kejauhan, Satu mendekat dengan wajah yang lebih gelap dari malam.

"Pangeran, ada kabar buruk dari mata-mata nomaden yang baru kembali dari kaki gunung."

"Katakan," perintah Long Chen.

"Pasukan Long Tian tidak mundur. Sebaliknya, mereka telah bergabung dengan faksi dari Sekte Teratai Merah lainnya. Mereka sedang membangun Formasi Sembilan Penekan Arwah di sekeliling wilayah suku ini. Mereka berniat mengurung kita dan membakar seluruh lembah ini dengan api alkimia untuk memancing keluar Lin Xi yang mereka pikir masih bersembunyi di sini."

Long Chen meremas kunci kristal di tangannya hingga telapak tangannya berdarah. "Jadi, Long Tian ingin membantai ribuan orang suku yang tidak berdosa hanya untuk memancingku keluar?"

"Dan ada satu hal lagi, Pangeran..." Satu ragu sejenak. "Hua Ling mengirimkan pesan melalui salah satu elang kita yang ditangkap. Di dalam pesan itu, terdapat seikat rambut perak... dan setetes darah yang masih segar."

Mata Long Chen berkilat. Energi Yang di dalam tubuhnya meledak secara mendadak, membuat salju di sekitar kakinya menguap seketika dalam radius lima meter. Suasana ringan dan hangat yang tadi sempat ia rasakan di tenda musnah tak berbekas, digantikan oleh aura pembunuh yang murni.

"Satu, siapkan kuda tercepat," suara Long Chen kini dingin, sedingin es abadi di puncak gunung. "Dan Batu Guntur... katakan pada orang-orangmu untuk bersiap. Malam ini, salju tidak akan mencair karena nyanyian, tapi karena darah yang mendidih."

Di kejauhan, di atas Gunung Tengkorak, sebuah tawa merdu terdengar di antara jeritan angin. Hua Ling menatap Lin Xi yang terantai di dinding kristal, sementara rambut perak gadis itu mulai bercahaya dalam kegelapan.

1
echa purin
👍🏻
kriwil
bahasa gueng mu tour di buang
Dian Utami
awal ny bagus Thor tp kesini ny jln cerita ny bingung 🤔
yeti kurniati1003
ceritax menarik
Osie
mampiiirrrt..selalu. suka cerita transmigrasi dan moga cerita ini sp end
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!