[WARNING! DISARANKAN UNTUK MEMBACA BRITTLE TERLEBIH DAHULU]
Keep reading🖤
Kata orang karma itu nyata, karma itu benar adanya. Dan kata orang apa yang sudah menimpanya adalah sebuah karma dari kedua orang tuanya.
Namun Rea tidak pernah memusingkan hal tersebut. Baginya semua yang terjadi padanya adalah kehendak takdir.
Kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya, juga adalah sebuah takdir. Anugerah terindah dari Tuhan yang dihadiahkan padanya. Tapi sayang, hadiah itu datang di waktu yang kurang tepat.
Bisakah Rea selalu menerima semua takdir itu?.
Apakah ia akan bosan di tengah perjalanan yang sangat rumit tersebut?.
Yang sangat penting, mampukah Rea mempertahankan hubungan yang tidak berpondasi itu?
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rilansun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi tapi menyakiti?
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Ketika hati dan fisik tidak berjalan selaras......
...###...
...Area 17+...
Levi menggulung lengan kemeja putihnya sampai ke siku. Langkahnya yang pelan namun pasti terayun menghampiri tubuh lemah yang tak berdaya itu. Netra abu-abu gelapnya masih memancarkan aura yang mencekam. Tajam dan tegas. Siapa pun yang melihatnya akan langsung tunduk dalam sekali pandang.
Matanya melotot tajam melihat kaki mulus Rea yang terpampang jelas. Itulah yang dinikmati oleh para bajing*n tadi. Mengingatnya saja sudah membuat darah Levi terasa mendidih.
Memikirkan bagaimana tangan kotor itu menyentuh kulit mulus Rea . Membelainya, mengusap dan meraba. Ingin rasanya Levi membunuh cowok-cowok tadi detik ini juga.
"Damn", Levi mengumpat bila memikirkan hal laknat itu.
Lalu pandangannya jatuh tepat kearah wajah damai yang indah itu. Amarahnya seketika reda setelah menatapnya. Rearin Kalyca Allandra. Gadis yang selalu bisa membuatnya lupa akan semua hal. Seperti narkotika, yang membuatnya candu ingin selalu menatap wajah tersebut. Walau dari kejauhan sekalipun.
Dengan penuh kelembutan cowok berwajah datar itu menggendong Rea dalam dekapannya. Memperlakukannya seperti berlian yang sangat berharga. Bak porselen yang mudah rapuh dan pecah.
Levi berjalan ke sudut ruangan. Menggeser kursi yang ada dihadapannya menggunakan kaki. Lalu dengan susah payah ia berhasil membuka pintu tersebut. Melangkah masuk ke dalam ruangan yang bersih dan rapi daripada gudang tadi. Siapa yang tau, jika di belakang gudang kumuh seperti itu ada sebuah kamar mewah layaknya kamar hotel bintang lima. Lengkap dengan ranjang, kulkas, lemari pakaian, sofa, serta satu buah televisi LED berukuran 90 inchi.
Sebenarnya itu adalah kamar pribadi Levi disaat dia ingin bolos atau sedang menenangkan diri. Dan hanya anak-anak Ghozi yang diperbolehkan untuk masuk. Tapi untuk Rea, sepertinya itu bisa dipikirkan ulang.
Kemudian Levi meletakkan tubuh Rea ke atas ranjang dengan sangat pelan. Menyingkirkan anak rambut nakal yang menutupi wajah cantik itu.
Jarinya terulur menyentuh garis wajah Rea. Menyapu selembut bulu, seolah takut jika kulit gadisnya akan tergores karena itu. Lalu gumaman pelan yang sarat dengan ketakjuban terlontar keluar dari mulutnya begitu saja.
"Cantik."
Wajah yang kecil dihiasi dengan bulu mata yang lentik. Deretan alisnya yang tertata rapi. Hidung mungilnya yang runcing. Bibirnya yang tipis berisi dan merah alami. Mampu membuat Levi terhipnotis selama enam tahun ini.
Levi mengelus pelan kening Rea yang mulus tanpa satu pun noda yang terlihat. Ingin sekali rasanya Levi menjatuhkan kecupannya disana. Namun ia takut jika gadisnya akan menolaknya seperti enam tahun silam.
Semakin lama Levi menatap kening Rea, semakin besar pula hasratnya untuk mencium. Lalu dengan memejamkan mata, Levi memberanikan diri mencium kening Rea. Membiarkan bibirnya berada lama disana dengan penuh kelembutan.
Beberapa detik berlalu, Levi lalu menjauhkan bibirnya. Menatap lamat wajah dewi Venus nya Angkasa itu. Sepertinya julukan itu memang pantas diperuntukkan untuk Rea. Bahkan kata cantik saja tidak cukup untuk mendefinisikan pesona yang dimiliki oleh seorang Rea.
Ketika matanya tak sengaja menatap bibir tipis yang seksi itu, ada keinginan sama seperti yang tadi. Mengecup lama dengan penuh kelembutan.
Namun Levi langsung menggelengkan kepalanya. Menegakkan tubuhnya dan berdiri jauh dari Rea. Ia tidak ingin merusak sesuatu yang telah lama dijaganya.
Ketika Levi hendak berbalik keluar, sebuah tangan menarik lengannya. Membuat cowok itu menoleh dan menatap Rea yang setengah sadar.
Kaget?, tentu saja Levi kaget. Bagaimana jika cewek itu mengetahui dirinya yang mencium keningnya tadi.
Lalu Levi melepaskan tangan Rea yang memegang lengannya. Ketika ia hendak kembali berbalik, sebuah racauan dari mulut Rea sontak membuatnya berhenti.
"Panas."
Levi menatap Rea yang masih memejamkan matanya sambil terus meracau panas. Lantas Levi meletakkan punggung tangannya ke atas dahi Rea. Lalu cowok itu mengernyit heran saat merasakan suhu tubuh Rea yang normal saja. Tapi cewek itu terus berkeringat dengan kaki yang tak bisa diam.
Sedetik kemudian Levi langsung mengumpat, "Bangs*t", entah apa yang sudah diberikan oleh para bajing*n tadi pada gadisnya. Keinginan untuk membunuh semakin membara dalam dirinya kini.
"Bunda, panas", lirih Rea dan hendak membuka resleting gaunnya yang berada di depan tubuh. Membuat Levi melotot. Apa yang ingin dilakukan cewek tersebut. Sepertinya Rea menganggap Levi sebagai Arinta.
"Jangan", Levi menghentikan pergerakan tangan Rea pada resleting bajunya. Hell, Levi ini cowok tulen. Ia juga punya hasrat yang menggebu layaknya remaja normal lainnya. Ditambah yang berada dihadapannya sekarang adalah cewek yang sudah lama mendiami relung hatinya.
"Bunda, panas", racau Rea dengan keringat dingin yang terus keluar.
Dalam hati tak henti-hentinya Levi mengutuk Celine serta antek-anteknya. Yang membuat ia harus berada dalam posisi yang sangat sulit ini. Ingin keluar, ada banyak orang diluar sana. Tetap di dalam, hasratnya lah yang akan keluar.
Sial, apa yang harus ia lakukan.
Levi juga turut mengutuk dirinya yang tidak membuat kamar mandi di dalam kamar ini. Jika tidak, maka ia bisa merendamkan Rea di dalam air dingin.
"Bunda, hidupin Ac nya. Panas", lagi-lagi Rea berujar lirih yang semakin membuat Levi frustasi.
"Ma-mana yang panas?", sial. Seumur hidupnya hanya dengan Rea lah Levi berbicara gagap. Dirinya yang selalu menjawab guru dengan lantang, malah menjadi ciut saat berhadapan dengan Rea. Rearin benar-benar suatu masalah untuknya.
"Itu saya sakit Bun", jawab Rea yang masih mengira Levi adalah Bunda nya.
Blank
Levi merasa otaknya tidak lagi bisa berpikir. Dunianya terasa berhenti di detik itu juga. Levi paham itu yang dimaksud oleh Rea.
"Bunda, sakit", rengek Rea yang terdengar menggemaskan. Ya Tuhan, mengapa disaat-saat seperti ini cewek itu terlihat sangat menggemaskan.
"Tahan bentar, gue lagi nelpon Morgan", ujar Levi dengan nada yang lebih sedikit bersahabat. Lalu sebelah tangan cowok itu terulur mengelap keringat yang ada di dahi Rea. Dan yang lainnya mencoba untuk menghubungi Morgan. Belum sempat Levi memberikan perintah pada Morgan diseberang sana. Rea lebih dulu menarik tangannya. Membuat bibir keduanya hampir saja menyatu.
"Bun-"
"Sial", Levi refleks mematikan lampu saat melihat mata Rea yang perlahan terbuka sempurna. Lalu dengan mata yang telah tertutupi oleh kabut gairah. Levi langsung membungkam mulut Rea. Tak membiarkan cewek itu untuk protes. Bahkan mengambil nafas sejenak.
"Si-siapa?, kamu siapa?", tanya Rea setelah Levi melepaskan ciumannya. Rea terkejut, ia kira yang duduk di sebelahnya tadi adalah Arinta. Tapi Rea tidak pernah menduga jika tubuh besar yang mengukung tubuhnya kini adalah cowok asing yang tak dikenalnya.
Di antara kegelapan yang ada, Levi menyeringai dan berbisik lirih di telinga Rea, "Gue bakal bantu lo ngeredain rasa sakit itu."
Belum sempat Rea mencerna kata-kata itu. Levi lagi-lagi membungkam mulutnya dengan tangan yang bergerilya ke seluruh tubuhnya. Memegang apa yang dapat di pegang. Menyesap apa yang dapat disesap. Membuat desahan yang bercampur dengan rontaan itu terdengar memenuhi ruangan yang sepi.
Levi gagal, ia telah gagal melindungi gadisnya. Bahkan ia yang merusak mawar yang selama ini ia jaga dari jauh.
"AAAAH", jerit Rea ketika sesuatu yang keras itu menerobos kesuciannya. Rea merasa tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Pikirannya berteriak untuk dilepaskan. Namun tubuhnya meminta sebaliknya. Tubuhnya meminta di sentuh dengan lebih jauh. Sial, mengapa ia terlihat seperti jalang. Ini semua karena Celine.
"Maaf. Jangan nangis", Levi menghentikan pergerakannya dan menghapus air mata Rea. Levi kasihan, namun sudah terlanjur masuk.
...~Rilansun🖤....
😶
selamat datang kembali di dunia perketikan ka author 😘
kangen dengan kata"mutiaranya ka author 😉😘👍
aku juga nunggu Alsyia lho ka othor😘
" ARGAN" Bukan " MORGAN"..